Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
115. Kita akhiri semua masalah ini


__ADS_3

Ceklek~


Setelah Abi Hamdan dan Sandi menunggu hampir jamuran, akhirnya pintu kamar itu dibuka. Keluarlah dua insan yang terlihat sedang mabuk kepayang itu, dengan wajah keduanya yang sama-sama terlihat ceria dan merah merekah.


"Ngomong-ngomong ... di mana Robert, A? Kok nggak ada suaranya?" tanya Syifa seraya menatap sekeliling ruangan rumah Abi Hamdan, mencari keberadaan anak sambungnya.


"Robert masih ada di Korea sama Mami, Yang," jawab Joe yang merangkul bahu Syifa.


Dia memakai stelan jas yang sama seperti tadi pagi, sedangkan Syifa menggenakan gamis merah maroon dengan model tali dibelakang punggang dan kerudung pasmina berwarna lemon.


"Akhirnya kalian sudah kenyang bercinta, ya?" celetuk Abi Hamdan yang langsung mengalihkan atensi anak dan menantunya. Dia pun lantas menepuk sofa panjang dimana dirinya duduk saat ini. "Ayok sekarang duduk, waktunya kita berbincang," pintanya.


Joe dan Syifa mengangguk dengan wajah malu-malu. Segera mereka pun duduk bersama Abi Hamdan, dan Syifa yang di tengah.


Sandi sendiri sekarang duduk di sofa single.


"Kata Sandi, Pak Paul mencarimu, Jon. Terus memintamu untuk datang ke rumahnya. Ada apa sebenarnya?" tanya Abi Hamdan penasaran.


Mendengar pertanyaan itu, sontak Joe membulatkan matanya. Kemudian menatap ke arah Sandi.


"Benar itu, San, Papi mencariku?" tanya Joe memastikan.

__ADS_1


"Benar, Pak." Sandi mengangguk. Dia terlihat masih dalam keadaan gelisah. "Sudah setengah jam yang lalu bahkan lebih. Beliau juga sampai terus menerus menelepon saya dari tadi."


"Kalau begitu ...." Ucapan Joe seketika terhenti kala tiba-tiba ada seseorang yang datang dengan mendorong pintu rumah sedikit kasar, sehingga membuat pintu tersebut terbuka lebar.


Brak!!


"Pintar kamu ya, Joe, dua kali membohongi Papi dan Mami gara-gara Syifa!" teriak Papi Paul yang datang dengan penuh kemurkaan. Tatapan matanya begitu nyalang disertai wajahnya yang memerah.


Bukan hanya Joe saja yang tampak terkejut di sini, tapi Sandi juga. Mereka pun refleks berdiri dan sama-sama menelan salivanya.


"Papi sejak pagi menunggumu, Joe! Ingin mengantarmu ke pengadilan. Tapi bisa-bisanya kamu masih menemui Syifa!!" geramnya emosi.


Papi Paul pun berjalan cepat dengan kedua tangan yang mengepal kuat, mendekat ke arah Joe. Tapi tiba-tiba saja, pria itu langsung berlutut di kakinya.


Meskipun Joe tak yakin jika apa yang dilakukannya akan membuat Papi Paul berubah pikiran, tapi tidak ada salahnya dia mencoba. Barangkali ada keajaiban.


"Nggak usah lebay kamu, Joe!" berang Papi Paul. Sama sekali tak memerdulikan apa yang Joe katakan. Segera, dia pun menghentakkan kakinya supaya sang anak tak lagi memeluk lututnya. Barulah setelah itu dia tarik lengannya dengan kasar hingga membuat tubuhnya berdiri tegak.


"Sandi! Bantu aku untuk menarik Joe ke dalam mobil!" perintah Papi Paul sambil melotot ke arah Sandi.


Pria itu langsung mengangguk, kemudian memegang lengan Joe dan ikut menariknya keluar dari rumah Abi Hamdan.

__ADS_1


"Papi! Papi nggak bisa seperti ini kepadaku, Pi!" teriak Joe memberontak, ketika tubuhnya seakan terseret-seret. Tak terbayangkan jika Papi Paul begitu nekatnya melakukan hal ini padanya.


Syifa yang melihatnya pun gegas berlari mengejar. Tentu, dia sama sekali tak ingin dipisahkan dengan Joe. Apalagi baru saja mereka selesai memadu kasih dan ada ucapan Joe yang mengatakan ingin mengajaknya gaya kepiting.


"Papi! Jangan lakukan ini, jangan pisahkan kami, Pi!" pinta Syifa memohon dan sudah memeluk erat tubuh Joe. Dia juga sekuat tenaganya menahan kakinya, supaya Papi Paul kesulitan untuk membawa Joe.


Abi Hamdan dan Umi Maryam hanya berjalan mendekat, tapi mereka diam saja sebab bingung musti bagaimana.


"Papi, aku dan Syifa saling mencintai. Ini nggak adil bagi kami, yang ada nanti aku akan menjadi duda gila, Pi! Memangnya Papi mau ... aku jadi duda gila?! Kan nggak lucu, Pi!" teriak Joe.


"Joe, Syifa ... berhentilah untuk ...." Padahal Papi Paul akan mengeluarkan sebuah bentakkan, demi meluapkan emosi di dalam dada. Tapi semuanya itu urung dilakukan lantaran ponselnya berdering kencang di dalam kantong celana.


Karena takut penting, apalagi dari Mami Yeri—Papi Paul pun akhirnya merogoh ponsel tersebut. Dan saat melihat pada layar, ternyata itu adalah panggilan masuk dari salah satu satpamnya yang ada di Korea. Yang berkemungkinan ada hubungannya dengan Mami Yeri dan Robert.


"Halo," ucap Papi Paul saat mengangkat panggilan.


"Halo, Pi! Mami nyerah deh, Pi! Lebih baik kita akhiri saja semua ini, Pi! Jangan pisahkan Joe dan Syifa!" Suara Mami Yeri terdengar dari seberang sana. Seperti tengah cemas dengan napas yang tersengal-sengal.


Emosi Papi Paul seketika memuncak naik ke ubun-ubun, dan matanya pun terasa memanas. "Kenapa?"


"Mami sudah merayu Robert supaya mau mengganti Syifa dengan Yumna. Tapi bukannya setuju ... dia justru ngamuk ingin pulang dan terus menerus menangis. Sampai akhirnya dia pingsan dan Mami bawa ke rumah sakit, Pi," jawab Mami Yeri dengan suara bergetar. Napasnya juga terdengar memburu. "Dan sudah hampir dua jam lebih, Robert pingsan ... tapi dia belum sadarkan diri. Tapi mulutnya terus mengigau nama Syifa dan mengatakan kangen. Mami khawatir, Pi. Mami nggak bisa melihat Robert begini, Mami merasa sakit hati. Lebih baik Mami pulang bersama Robert atau Papi yang ke sini bersama Joe dan Syifa? Ayok kita akhiri semua masalah ini dengan memberikan mereka satu kali kesempatan, Pi."

__ADS_1


...Bingung bingung dah tuh si Papi 🤣...


__ADS_2