Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
53. Jadikan ini pengalamanmu yang pertama


__ADS_3

"Eemmm ... ya sudah deh," jawab Syifa meski ragu.


Rupanya tak sulit juga membujuk gadis itu. Apalagi jika dilakukan dengan penuh kelembutan.


"Nah gitu dong. Ini 'kan demi kebaikanmu juga, Sayang." Joe dengan senangnya langsung mengecup singkat bibir ranum istrinya. Dan itu membuka Syifa seketika merona.


Setelah melepaskan selimut ditubuh Syifa, dengan perlahan Joe pun membawanya masuk bersama ke dalam bathtub.


Tubuh keduanya pun seketika terasa hangat, rileks dan menenangkan.


"Bagaimana rasanya, Yang? Enak, kan?" tanya Joe yang berbisik di telinga kiri Syifa dan seketika membuat bulu kuduk gadis itu berdiri.


Posisi Joe saat ini ada di belakang, dan tubuh Syifa berada di atas pangkuannya. Sesekali pria itu juga meniup telinga dan juga tengkuk, semata-mata supaya membuat gadis itu terangsa*ng. Dan jika diajak nanti, tidak akan menolak.


"Yang, bagaimana rasanya? Apa kurang hangat, airnya?" tanya Joe sekali lagi. Kedua tangan besarnya dengan berani menyentuh gunung kembar istrinya.


Hanya baru menyentuh, tapi sudah membuat Syifa salah tingkah.


"Hang-hangat, A," jawab Syifa dengan gugup sambil menelan saliva. Sekujur tubuhnya pun terasa meremmang tak karuan. "Ta-tapi ...."


"Tapi kenapa?"


"Eemm itu ...."


"Itu apa?"


Syifa kembali menelan saliva, sambil merasakan benda keras yang tertindih di bawah bokongnya. Juga dengan tangan Joe yang mulai beratraksi pada padanya.


"Ada yang ganjel, A."


"Apaan yang ganjel, Yang?" tanya Joe berpura-pura. Aslinya dia memang sengaja. Meski rasanya cukup sakit akibat tertindih, tapi itu cukup membuat birahinya makin memuncak. 'Ini bahkan belum pemanasan, Yang. Tapi kamu udah gugup duluan,' batin Joe terkekeh. Rasanya senang menggoda istrinya yang masih polos itu.


"Di bawah, A." Syifa perlahan menggeserkan boko*ngnya, hendak turun dari pangkuan Joe, tapi pinggangnya itu langsung Joe tahan.


"Jangan bergerak, Yang," larang cepat.


"Tapi, A. Aku merasa agak ... Aaahh!" Satu desaahan tiba-tiba saja lolos, ketika Joe baru saja menji*lat tengkuknya. Dan hanya dalam waktu beberapa detik saja, Joe dengan nakalnya sudah melakukan penyatuan di bawah sana tanpa izin. Bersiap untuk membuat ronde kedua.

__ADS_1


"Jadikan ini pengalamanmu yang pertama, Yang. Bercinta di kamar mandi dan di dalam bathtub bersamaku," kata Joe sebelum akhirnya dia mulai bergoyang.


***


Ceklek~


Pintu kamar hotel Papi Paul perlahan dibuka dan keluarlah Robert. Bocah itu terbangun dari tidurnya dan berencana melaksanakan sholat Subuh bersama Joe dan Syifa.


Namun, dia sendiri tidak tahu keberadaan Mommy dan Daddynya di mana. Papi Paul dan Mami Yeri pun masih bermimpi indah, jadi tidak bisa Robert tanyakan. Mau dibangunkan pun rasanya tidak tega.


Niatnya sekarang ingin mencari, barangkali pas keluar kamar dia bertemu dengan orang tuanya.


"Lho, itu 'kan Oma Maryam dan Opa Hamdan?"


Bukannya berhasil menemukan keberadaan Syifa dan Joe, yang Robert temukan justru Opa dan Omanya.


Dia pun sontak terkejut dengan kedua mata yang membulat sempurna, sebab mendapati kedua orang tua itu tertidur di lantai.


Umi Maryam tidur sambil duduk selonjoran dan menyandar pada pintu kamarnya, sedangkan Abi Hamdan berbaring dengan kepala yang berada di atas paha istrinya.


"Ya ampun Oma ... Opa!" Robert langsung berlari menghampiri, lalu berjongkok dan menggoyangkan kedua bahu Abi Hamdan. "Opa bangun! Kenapa Opa dan Oma tidur di lantai?!" tanyanya sedikit keras dan kembali menggoyangkan bahu.


Tak ingin hilang akal, Robert pun beralih kepada Umi Maryam. Lalu menangkup kedua pipinya dan menggoyangkannya dengan pelan.


"Oma! Bangun, Oma!"


"Eeughhh ...."


Tidak seperti Abi Hamdan, ternyata membangunkan Umi Maryam jauh lebih gampang. Wanita berkerudung itu bahkan langsung menggeliat dan membuka matanya secara perlahan.


"Oma," panggil Robert sambil tersenyum, lalu mencium pipi kanan Umi Maryam.


"Eh, Nak, kok kamu ada di sini?" tanya Umi Maryam heran sambil mengucek kedua matanya sebab terasa buram dalam memandang.


"Harusnya Robert yang nanya, kenapa Oma dan Opa ada di sini dan tidur di lantai?"


"Tidur di lantai?!" Umi Maryam langsung menurunkan pandangan, dan menatap suaminya yang tidur dengan mulut yang menganga. Sontak dia pun terkejut dan langsung mengusap kasar wajah suaminya.

__ADS_1


Tapi dia terkejut bukan karena melihat suami yang tidur, melainkan baru ingat jika karena tidak bisa membuka kunci—keduanya memutuskan untuk beristirahat di bawah. Tapi tidak sadar kalau mereka sampai ketiduran.


"Sekarang jam berapa, Nak?"


"Jam 7. Ayok kita sholat Subuh, Oma, Opa," jawab Robert dengan polosnya.


"Astaghfirullahallazim!" Umi Maryam terbelalak. Kembali dia merasa terkejut. Cepat-cepat dia pun membangunkan suaminya, menggoyangkan tubuhnya. "Abi bangun! Kita ketinggalan sholat Subuh, Bi! Bangun!"


"Ketinggalan?!" Abi Hamdan langsung membuka matanya secara paksa dan langsung berdiri. Padahal sebetulnya nyawanya saja belum sepenuhnya kumpul.


"Aduh, gimana ini, Bi? Kita ketinggalan sholat Subuh gara-gara nggak bisa masuk kamar," keluh Umi Maryam sedih, dengan perlahan dia pun berdiri.


"Kita bisa mengqodonya, Mi," jawab Abi Hamdan yang berusaha menenangkan suasana. Kemudian dia melangkah cepat menuju ke arah lorong. "Abi cari orang dulu buat bantu kita, atau setidaknya mengantar kita turun lift."


"Kok bisa, Oma nggak bisa masuk kamar? Kenapa memangnya? Apa kuncinya hilang?" tanya Robert penasaran, lalu mengenggam tangan kanan sang Oma.


Umi Maryam menatap ke arahnya, lalu menggelengkan kepala. "Bukan hilang, tapi Oma sama Opa nggak bisa buka kuncinya, Nak."


"Lho, hanya buka kunci? Nggak bisa?" Robert tampak bingung dan tak percaya. Umi Maryam pun mengangguk. "Coba bawa sini, kuncinya, biar Robert yang bukain," tawarnya dengan tangan yang terulur.


"Ini, Nak." Umi Maryam yang kebetulan masih memegang kunci langsung menyerahkannya kepada sang cucu, dan hanya sekali tempelan yang Robert lakukan pada kunci itu terhadap handle pintu—ajaibnya pintu itu dapat terbuka.


"Ini bisa, Oma," ucap Robert.


"Masya Allah, alhamdulilah. Terima kasih, Nak." Umi Maryam tampak senang dan langsung menggendong cucunya, tak lupa dia cium juga kedua pipinya dengan gemas.


"Ini, Mi. Biar dia saja yang membukakan kun ... lho, kok udah bisa kebuka?" Abi Hamdan kembali dengan seorang pria yang ditarik-tarik tangannya. Pria berseragam tersebut bahkan masih memegang alat pellan. Dan menurut Abi Hamdan, pria itu dapat membantu, eh tapi justru pintu itu sudah bisa terbuka sekarang.


"Iya, Bi, Robert yang membukakannya," jawab Umi Maryam dengan bangganya. Sangking senangnya, Robert dia ajak berputar-putar dalam gendongannya.


"Ya ampun, Abi sampai lupa kalau punya cucu pintar. Terima kasih, sayang, kamu memang yang terbaik." Abi Hamdan langsung memeluk tubuh Umi Maryam supaya dapat memeluk cucunya, kemudian setelah itu mengajaknya bersama-sama untuk masuk ke dalam. "Ayok kita qodho sholat, mumpung masih bisa."


"Lho, jadi buat apa aku di sini?" gumam pria yang sudah ditinggalkan diluar kamar. Dia pun menghela napas, lantas berlalu pergi dari sana. "Ada-ada saja, cuma buka kunci saja nggak bisa. Dasar katro," cicitnya menggerutu.


"Qodho itu apa, Opa?" tanya Robert yang kini sudah berada di kamar mandi. Kedua lengan bajunya tengah digulung oleh Abi Hamdan, mereka berniat ingin mengambil air wudhu.


"Qodho itu mengganti sholat yang terlewat. Kan waktu Subuh sudah terlewat, Nak," jawab Abi Hamdan.

__ADS_1


"Oh gitu." Robert mengangguk-ngangguk paham. "Tapi ngomong-ngomong ... Daddy dan Mommy ada di mana, ya, Opa? Mereka kok dari semalam nggak kelihatan? Dan kenapa Robert tidurnya bareng Opa Paul dan Oma Yeri?" Sebuah tanda tanya besar masih terngiang di dalam otak, selain itu dia juga sangat merindukan Syifa.


...Mereka ngumpet, Rob, biar sukses bikin adik bayi buat kamu🤣...


__ADS_2