
"Aa mesum, ih! Nanti saja, orang ada tamu." Syifa tak memerdulikan Joe, dia langsung melangkah pergi keluar dari kamarnya.
"Siapa sih yang datang? Ganggu aja orang yang mau bercinta. Padahal 'kan mumpung Syifanya nurut tadi." Joe menggerutu kesal sambil memakai kembali pakaiannya, kemudian langkah menuju jendela dan membuka gordennya.
Terlihat di halaman rumah, ada tiga orang bocah laki-laki sebaya Robert yang memakai baju koko. Sedang berdiri di sana dan Syifa langsung datang menghampirinya.
"Mau ngapain tiga bocil itu? Ah nyebelin sih, gagal lagi deh!" kesal Joe. Dia pun langsung melangkah lesu keluar dari kamar, kemudian menghampiri Syifa diluar. "Mereka siapa, Yang? Dan mau ngapain?" tanya Joe sambil menatap tiga bocah yang berdiri di depan Syifa.
"Ini, katanya ada hafalan surat Yasin. Tapi Abi sendiri nggak ngajar ngaji," jawab Syifa seraya menoleh pada sang suami.
"Hafalan gimana maksudnya? Aku nggak ngerti?" Alis mata Joe tampak bertaut. Dia terlihat bingung dengan apa yang dikatakan Syifa.
"Jadi Abi itu mengajar ngaji anak-anak setiap sore atau malam di masjid. Tapi akhir-akhir ini karena sibuk menemaniku di rumah sakit ... jadi Abi nggak pernah mengajar. Padahal kata anak-anak ... hafalan surat Yasinnya hari ini," jelas Syifa panjang lebar.
"Oh, bilang saja Abinya pergi. Kan memang Abi lagi nggak ada, Yang." Joe mendekat dan meraih tangan kanan Syifa, lalu menggenggamnya seraya berbisik, "Terus kita lanjutkan yang tadi, ya?"
Syifa sontak terbelalak. Namun belum sempat dia menanggapi, tiba-tiba datanglah dua orang pria menghampiri.
"Assalamualaikum Syifa, Pak Joe."
Syifa dan Joe langsung menoleh pada sumber suara dan itu membuat Joe menghela napas, sebab melihat orang yang datang adalah Pak RT dan Ustad Yunus.
Tidak ada masalah sebenarnya, hanya saja itu berarti, aktivitas tadi bisa-bisa tak jadi dilanjutkan.
'Tiga bocil belum pulang dari sini, terus sudah ada Pak RT dan Ustad Yunus yang datang. Bener-bener sih ini ... alamat gagal lagi. Padahal 'kan, momennya pas. Si Robert juga mumpung lagi main,' gerutu Joe dalam hati dan seketika dia pun mengingat ucapan Abi Hamdan yang menyarankannya untuk bersenang-senang. Sedih rasanya sekarang, sebab sarannya tak berhasil dia jalankan. 'Abi ... aku dan Syifa gagal bersenang-senang. Kapan aku dan Syifa bisa bercinta kalau begini ceritanya? Tongkatku sudah berkarat.'
"Walaikum salam," jawab Syifa kemudian mengulas senyum. "Bapak dan Ustad mau apa ke mari? Silahkan duduk." Syifa menawari, sambil menunjuk kedua kursi kosong diteras rumahnya.
"Mana Abimu, Fa?" tanya Pak RT, lalu melangkah menuju kursi plastik dan duduk di sana. Ustad Yunus pun ikut duduk di sampingnya. "Bapak dan Ustad Yunus mau mengobrol masalah kurban, kan sebentar lagi kita mau Idul Adha," tambahnya kemudian.
Abi Hamdan menjadi salah satu panitia kurban setiap tahunnya, dan itu adalah alasan Pak RT serta Ustad Yunus datang menemuinya sekarang.
__ADS_1
"Pak Joe 'kan sudah jadi orang Islam, jadi Bapak juga boleh berkurban, apalagi Bapak orang mampu," ujar Ustad Yunus saat melihat Joe mendekat ke arahnya.
Sedangkan Syifa mengobrol dulu sebentar kepada anak-anak tadi, meminta maaf serta menyuruhnya untuk pulang karena Abi tidak dapat mengajar.
"Berkurban?" Kening Joe tampak mengernyit. Dia sepertinya tak paham dengan apa yang dimaksud Ustad Yunus. "Berkurban bagaimana maksudnya, Tad? Berkurban cinta?"
"Bukan, Pak," sahut Pak RT sambil terkekeh. Dia merasa lucu "Kurban itu kita menyembelih hewan ternak, dihari raya haji, Pak," tambahnya kemudian.
"Hari haji itu apa? Dan kapan?" tanya Joe bingung.
"Maksudnya, Idul Adha. Lebaran Idul Adha," jelas Ustad Yunus. "Bapak pasti merasa familiar dengan lebaran Idul Adha, kan?"
"Enggak." Joe menggeleng. "Aku malah baru tau, ada dua lebaran. Nanti kita puasa lagi apa gimana?"
"Bisa, kalau Bapak memang ingin berpuasa. Tapi itu bukan puasa wajib, Pak," jawab Ustad Yunus, kemudian kembali menjelaskan. "Namanya puasa Dzulhijjah. Dan dilakukan di bulan Dzulhijjah. Waktu pelaksanaannya dimulai sejak tanggal 1 hingga 7 Dzulhijjah. Ibadah ini merupakan amalan yang dapat dilakukan dari awal bulan Dzulhijjah hingga sebelum Hari Raya Idul Adha."
"Oh ... Terus kapan bulan Dzulhijjahnya? Aku sama Robert mau memulai puasa pertama sebagai orang Islam, Tad," tanya Joe.
"Kalau nggak salah sih, tanggal 19 Juni kalau di kalender pemerintahnya, Pak," jawab Ustad Yunus.
"Iya, A?"
"Nanti ingatkan aku sama Robert pas tanggal 19 Juni, ya, Yang?"
"Ingatkan untuk apa?"
"Puasa Dzulhijjah, Yang. Aku dan Robert 'kan mau ikut lebaran Idul Adha juga."
"Oh." Syifa menganggukkan kepalanya, lalu tersenyum. "Aa tenang saja. Aku, Abi dan Umi sering puasa Dzulhijjah setiap tahunnya. Jadi nanti Aa dan Robert bisa ikut."
Joe tersenyum senang, lalu menatap kembali kepada Ustad Yunus. "Oh ya, Tad, boleh aku bertanya mengenai kurban?"
__ADS_1
"Tanya apa, ya, Pak?"
"Aa duduk di sini," ucap Syifa yang baru saja keluar dari rumah dengan membawa kursi plastik. Sebelumnya dia sempat masuk ke dalam rumah dan memang sengaja ingin mengambilnya untuk Joe duduk.
"Terima kasih, Yang." Joe mengambil benda tersebut. Kemudian meletakkannya di dekat Ustad Yunus lalu duduk di sana.
"Sama-sama. Sebentar, ya, A, aku akan kembali dengan membawa kopi," pamit Syifa yang kembali masuk ke dalam rumah.
"Kopinya tiga, ya, Fa! Bapak juga mau!" pekik Pak RT.
"Iya!" seru Syifa yang menyahut dari dalam.
"Kurban itu katanya menyembelih hewan ternak, Tad, tapi 'kan kita juga bisa menyembelih hewan ternak nggak dihari kurban juga. Gimana itu maksudnya?" tanya Joe penasaran. Informasi ini tentunya sebuah ilmu, yang harus dia tahu.
"Memang iya, Pak. Tapi ... kenapa kita harus melakukan kurban di hari Idul Adha? Ya itu karena di hari Idul Adha adalah untuk peringatan akan peristiwa kurban, yakni ketika Nabi Ibrahim bersedia untuk mengorbankan puteranya, Nabi Ismail. Hal tersebut dilakukan oleh Beliau sebagai bentuk kepatuhannya terhadap perintah Allah SWT," jelas Ustad Yunus panjang lebar.
"Nabi Ibrahim mengorbankan putranya, Nabi Ismail? Untuk dikurbankan?" Joe membelalakkan matanya dengan mulut yang menganga, dia merasa terkejut sekaligus syok mendengarnya.
Orang tua mana yang tega menyembelih anaknya? Apalagi itu seorang Nabi? Itulah hal yang terlintas dalam benak Joe. Tapi untuk membayangkannya saja, rasanya begitu mengerikan.
"Iya, dan Nabi Ibrahim melakukannya karena dia begitu patuh kepada menciptanya, Pak," balas Ustad Yunus.
"Nabi Ismail itu anak kandungnya Nabi Ibrahim bukan, Tad? Apa mungkin anak angkatnya?" Ya, mungkin kalau tak ada hubungan darah—Joe masih bisa menerima itu. Meskipun sebenarnya dia sendiri masih merasa itu aneh.
"Anak kandung, malah dia anak semata wayangnya, Pak."
Degh!
Jantung Joe sontak berdebar kencang, dan dadanya terasa berdenyut. Sakit sekali rasanya, mendengar hal itu.
"Jadi menurut Ustad ... apa aku juga musti mengorbankan Robert untuk dikurbankan? Robert aku sembelih dihari raya haji?" tanya Joe.
__ADS_1
"Apa?? Robert mau disembelih?!" Seorang bocah menyeru saat baru saja turun dari sebuah mobil. Kedua matanya sontak terbelalak dan dia langsung menyentuh lehernya sendiri. "Kok Daddy tega?! Daddy pikir Robert hewan, mau disembelih?" Dia adalah Robert, yang baru saja datang bersama Sandi yang masih berada di dalam mobil.
...Ga gitu konsepnya, Om Joe 🤣...