Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
68. Akun face*book


__ADS_3

"Lho, Pak! Bapak nggak bisa melakukan hal ini terhadap anakku!" teriak Pak Haji Samsul tak terima, melihat anak bungsunya itu kini diseret dan dimasukkan ke dalam sel tahanan secara paksa.


Fahmi juga terlihat memberontak, mencoba melepaskan tangannya, namun nyatanya borgol itu sulit untuk dibuka.


"Papa! Aku nggak mau masuk penjara! Apalagi 4 tahun. Aku nggak mau, Pa!" seru Fahmi yang sudah menangis.


Baru masuk ke dalam saja rasanya sudah tak nyaman, apalagi selama 4 tahun?


Tidak bisa terbayangkan hidup Fahmi selanjutnya, dan apakah dia bisa meneruskan hidupnya di penjara? Yang kata sebagian orang seperti hidup di neraka?


Tidak! Dia tidak mau. Ditambah di dalam sana juga ada 3 orang tahanan. Tengah duduk selonjoran di lantai sambil menyesap kopi di gelas plastik.


Kulit mereka terlihat hitam-hitam, ditambah aromanya juga bau seperti belum mandi. Fahmi ingin muntah rasanya, merasa mual plus jijik.


"Bapak dan Ibu sebaiknya pergi dari sini. Biarkan anak Bapak menyesuaikan diri pada tempat tinggal barunya," kata Pak Polisi yang berbicara kepada orang tua Fahmi. Kemudian menunjuk ke arah depan, tempat di mana arah pintu keluar.


"Nggak, Pak!" Pak Haji Samsul menggelengkan kepalanya. Dia tampak enggan untuk pergi, ditambah juga tak tega meninggalkan anaknya. "Fahmi itu anak baik dan dia seorang Ustad. Masa iya, Ustad yang lulusan kairo masuk penjara? Kan nggak keren, Pak."


"Tolong maafkan Fahmi, Pak." Bu Hajah Dijah ikut-ikutan berbicara, juga membela anaknya supaya dilepaskan dari sana. "Fahmi mungkin khilaf, tapi dia sebenarnya anak yang baik dan nggak neko-neko."


"Terserah Bapak dan Ibu mau mengatakan apa. Semuanya sudah tidak ada gunanya." Pak Polisi itu hanya menanggapi sekedarnya. Kemudian berlalu pergi meninggalkan mereka.


"Mungkin dengan begini ... anak Bapak akan berubah menjadi lebih baik. Dan harusnya, dari awal Bapak berpikir terlebih dahulu untuk melaporkan seseorang. Kalau belum ada bukti yang kuat, jangan coba-coba," tegur Pak Polisi yang satunya. Dia menatap tajam mata Pak Haji Samsul sebelum akhirnya menyusul temannya pergi dari sana.


"Papa! Mama nggak mau Fahmi masuk penjara! Lakukan sesuatu, Pa!" seru Bu Hajah Dijah yang tampak histeris, dia juga langsung menggenggam tangan Fahmi dari celah jeruji besi. Dan memasukkan ponselnya ke dalam tas tanpa melihatnya terlebih dahulu. Padahal livestream-nya itu belum usai. Tapi sepertinya dia memang lupa.


"Papa ... aaarrrgghh!" Pak Haji Samsul tiba-tiba saja mengerang kesakitan sambil menyentuh dadanya yang berdenyut. Sakit sekali di dalam sana dan napasnya pun terasa tersendat-sendat. "Mama ... dada Pa ...." Belum sempat ucapan pria itu selesai, tapi tubuhnya sudah keburu tumbang dan tak sadarkan diri.


Bruk!!


"Astaghfirullah! Papa!" teriak Fahmi dan Bu Hajah Dijah bersamaan, saat melihat pria itu sudah terkapar di lantai dengan posisi terlentang.

__ADS_1


"Pak Polisi! Tolong suamiku, Pak!" jerit Bu Hajah Dijah yang langsung berlari, meminta pertolongan.


*


*


*


Sebelumnya, di rumah Abi Hamdan.


Umi Maryam kembali berjualan nasi uduk, setelah sebelumnya dia sudah lama tidak berjualan.


Selain untuk membantu perekonomian suaminya, nasi uduk milik Umi Maryam juga cukup terkenal di sana dan memiliki banyak pelanggan. Jadi itu membuatnya makin semangat untuk kembali berjualan.


"Eh, coba lihat deh Ibu-ibu." Bu Nining, salah satu orang yang tengah membeli nasi uduk langsung menunjukkan layar ponselnya ke para tetangga, yang berkumpul tengah mengantre mendapatkan giliran. Dibuatkan nasi uduk oleh Umi Maryam.


"Apaan sih?" tanya Bu Sulis yang menatap layar ponsel tetangganya.


Dan sontak dia pun terbelalak, sebab apa yang ditunjukkan Bu Nining itu adalah sebuah siaran langsung dari akun face*book pribadi milik Bu Hajah Dijah. Perempuan yang tak kalah tersohor seperti suaminya.


"Lho, iya, nih! Di hapeku juga ada siaran langsungnya," sahut Bu Ningsih yang ikut menanggapi.


Ibu-ibu berjumlah sepuluh orang itu menjadi meriung menjadi satu, menonton bareng apa yang dia lihat pada salah satu ponsel milik tetangganya.


"Bu Nining nasi uduknya mau pakai apa gorengnya, nih?" tanya Umi Maryam yang masih pokus pada dagangannya. "Bu Nining! Mau gorengan apa, Bu?" tanyanya sekali lagi.


"Bu Maryam musti melihat siaran langsung milik Bu Hajah Dijah." Bukannya menanggapi masalah pesanannya, Bu Nining justru sibuk memperlihatkan ponselnya ke depan wajah Umi Maryam. "Ternyata ... Fahmi masuk penjara, karena dilaporkan oleh menantu Ibu yang ganteng itu. Tapi kok tega banget, ya, Bu Hajah ... sampai memvideokannya segala."


"Iya, tega banget." Bu Dora ikut menyahut menanggapi. Memang kalau sudah berbau-bau tentang viral dan gosip, Ibu-ibu yang paling cepat tanggap. "Itu mah kayak sengaja nggak, sih, malu-maluin anak sendiri," tambahnya.


"Iya, pasti. Si Fahmi juga ternyata tangan panjang, ya?" ujar Bu Ningsih. "Nggak nyangka sih, aku, padahal aku dulu berharap banget punya menantu yang sempurna kayak dia. Eh nggak taunya tukang copet."

__ADS_1


"Makannya rakus ya, Ibu-ibu. Kayak orang yang kelaparan," tambah Bu Sulis mencibir.


"Ngakunya doang orang kaya, tapi nyatanya dikasih makan gratis kayak orang nggak pernah makan," sahut yang lain.


"Enggak gratis kali. Itu 'kan kondangan dia, berarti bayar dari amplop." Ibu-ibu yang lain menanggapi.


"Kondangan apa? Cuma goceng kok ngasih amplopnya. Itu sih besannya Ustad Hamdan yang tekor. Mana makanannya banyak dan suvenirnya mewah."


"Iya. Pasti si Fahmi juga sekalian minta bungkus, tuh, buat dibawa pulang. Dikasih orang tuanya."


"Kayaknya."


"Siaran langsung apa itu, Bu? Gimana maksudnya?" Umi Maryam terlihat bingung tak mengerti. Dia sendiri tidak memiliki akun face*book dan tak pernah bermain media sosial. Ponselnya saja ponsel jadul, hanya bisa buat SMS dan telepon. Jadi wajar jika dirinya tak tahu menahu.


"Di face*book, Bu." Yang menjawab Bu Sulis. "Memangnya Bu Maryam nggak berteman sama Bu Hajah, ya?"


"Face*book itu apaan, sih? Wajah buku bukan, artinya?" tanya Umi Maryam yang terdengar begitu katro.


"Face*book itu media sosial, Bu," sahut Bu Ningsih. "Kita bisa buat status, meng-upload video serta foto. Dan melakukan siaran langsung juga bisa. Ini contohnya." Dia kembali memperlihatkan ponselnya saat dimana Fahmi sudah dimasukkan ke dalam penjara.


Umi Maryam sendiri sudah tahu kasus Fahmi, sebab suaminya sudah bercerita. Hanya saja sekarang, yang dia bingungkan adalah tentang siaran langsung yang ibu-ibu gosipkan itu. Dia tak mengerti maksudnya.


"Itu 'kan video, Bu, kok Ibu ngomongnya siaran langsung? Memangnya kayak di tivi?" tanya Umi Maryam dengan kening yang mengernyit.


"Dihape juga bisa, Bu. Nggak cuma di tivi," sahut Bu Ningsih. "Sekarang 'kan zaman canggih. Hapeku juga ini bisa buat siaran langsung di face*book, Bu," tambahnya sambil memperlihatkan ponselnya secara bolak-balik dengan kamera 3 di belakangnya.


"Apa semua hape bisa, Bu?" tanyanya penasaran.


"Bisa. Asalkan ada kamera dan akun face*book," jawab Bu Ningsih. "Pasti Ibu baru tau, ya? Terus nggak punya akun face*book? Iya, kan?" tebaknya yang memang benar.


"Iya." Umi Maryam mengangguk. "Bisa nggak, ya, Bu, kalau daftar? Tapi hapeku sendiri nggak ada kamera. Gimana itu?"

__ADS_1


^^^bersambung....^^^


... ...


__ADS_2