
"Kita langsung ngambil obat saja yuk, Yang," ucap Joe kembali. Kemudian mengajak Syifa dan Robert untuk melangkah bersama pergi dari mereka semua.
Dalam sekejap, para orang tua itu pun langsung terdiam, dan saling memandang pasangannya masing-masing.
"Bi ... harusnya tadi Abi jangan ngomong kayak tadi," tegur Umi Maryam dengan perasaan tidak enak. Apalagi mengingat ekspresi wajah anaknya tadi
Sepertinya hanya Umi Maryam disini, yang sebagai orang tua yang mengerti akan perasaan Syifa.
"Ngomong kayak gitu gimana, Mi? Memang Abi ada salah ngomong, ya?" Abi Hamdan tampak bingung. Jujur, dia merasa tak ada salah kata, malah sempat meluruskan hal yang salah dari ucapan kedua besannya.
"Yang tentang pertanyaan ke Joe bisa nggak bikin anak atau nggak, Bi," jawab Umi Maryam. "Tapi harusnya jangan ditanyakan hal seperti itu, karena nggak pantes. Dan Umi juga melihat Syifa tadi sepertinya sedih. Kasihan dia, Bi."
"Sedihnya kenapa, Mi?" Abi Hamdan bahkan sama sekali tak melihat wajah Syifa tadi. Hanya berpokus pada Joe saja.
"Iiihhh ...!" Umi Maryam merasa gemas sendiri. Jujur dia juga ikut kesal, dan dia sendiri memang tak ikut-ikutan berdebat karena mengerti akan perasaan Syifa. "Abi masa nggak peka? Jelas Syifa sedih karena dia belum hamil. Apalagi Abi dan mertuanya tadi sempat berdebat."
"Maafin Abi deh, Mi. Abi nggak tau kalau tadi Syifa sedih."
"Jangan minta maaf ke Umi. Ke Syifa lah." Umi Maryam mendengkus, lalu bersedekap dan memutar bola matanya dengan malas.
*
"Mommy kenapa? Kok matanya becek?" Robert mendongakkan wajahnya, lalu menatap bola mata Syifa yang memang sejak tadi berkaca-kaca. Dan seketika itu meluruh, jatuh membasahi pipi.
"Enggak kenapa-kenapa kok, Nak." Cepat-cepat Syifa mengusap air mata itu, kemudian tersenyum.
"Lho, Yang, kamu nangis?" tanya Joe yang baru saja menatap wajah Syifa.
Langkah kakinya seketika terhenti, begitu pun dengan langkah kaki Robert dan Syifa. Perlahan dia menangkup kedua pipi Syifa, lalu memerhatikan wajahnya.
__ADS_1
Sekarang wajah cantik istrinya itu tampak memerah, berikut dengan bola matanya.
"Enggak kok," bantah Syifa dengan gelengan kepala. Dan lagi-lagi mengusap pipinya saat air matanya kembali mengalir.
"Enggak tapi keluar air mata. Ada apa, sih, Yang? Coba cerita sama aku."
Syifa menelan saliva, lalu berkata, "Ya aku sedih aja melihat Abi berdebat sama Mami dan Papi, A. Semuanya gara-gara aku."
"Masa gara-gara kamu? Ya nggaklah, Yang. Aneh deh kamu." Joe perlahan memeluk tubuh Syifa, lalu menciumi puncak hijabnya. "Mereka memang sering kok berdebat, bukan hanya tadi. Apalagi Papi dan Abi. Hampir setiap ketemu kayaknya ... mereka berdebat. Tapi bukan berarti salahmu. Itu hanya karakter mereka saja yang sama-sama egois, Yang." Joe menjelaskan dengan tangan yang perlahan mengelus punggung Syifa.
"Tapi aku takut, A."
"Takut kenapa lagi? Udah nggak perlu mikir yang macem-macem ah. Pikiran hal yang positif aja." Joe pun melepaskan pelukan, kemudian mengajak Syifa kembali menuju farmasi untuk mengambil obat.
'Aku takut nggak bisa hamil. Terus orang tua Aa minta kita cerai lagi. Aku nggak mau, A ... kalau sampai itu terjadi. Aku nggak mau kehilangan Aa,' batin Syifa dengan pilu.
Ceklek~
Kedua pintu ruangan UGD dibuka lebar-lebar, kemudian keluarlah beberapa perawat yang mendorong brankar berisikan Papi Yohan di sana. Tengah berbaring tak sadarkan diri dengan dibantu ventilator oksigen yang terpasang pada wajah dan mulutnya.
"Papiku mau dibawa ke mana?"
Yumna yang tengah duduk langsung berdiri. Tadinya dia ingin berlari mengejar Papinya. Namun, lantaran dia melihat seorang dokter yang baru saja keluar dan seperti ingin mengikuti beberapa perawat—jadilah dia menghampiri dokter tersebut.
"Dokter ... apa Dokter yang menangani Papiku?"
"Benar, Nona." Dokter itu mengangguk. "Kondisi Papi Anda cukup serius. Rencana akan dipindahkan ke ruang operasi. Tapi apa boleh saya tau, apa golongan darah Anda sama dengan Papi Anda?"
"Enggak, Dok." Yumna menggelengkan kepalanya. "Aku A. Sama seperti Mamiku. Sedangkan Papi O."
__ADS_1
"Kebetulan di rumah sakit ini sedang kesulitan sekali, mencari golongan darah O. Saya sarankan Anda hubungi keluarga Anda saja yang lain, barangkali ada yang memiliki golongan darah O. Tapi secepatnya harus segera datang."
"Keluargaku ada di Korea semua, Dok. Tapi coba aku minta bantuan sama Tante Yeri sa—"
"Darah saya O, Dok," ucap Ustad Yunus tiba-tiba.
Sejak tadi dia memang masih ada di sana, dan kebetulan mendengarkan percakapan di antara Yumna dengan dokter itu.
Hatinya pun langsung bergerak ingin menolong, apalagi itu tantang nyawa seseorang.
"Apa Bapak bersedia mendonorkan darah Bapak?" tanya Dokter itu yang langsung menatap kepada Ustad Yunus. "Eh tapi ... Bapak ini siapanya Pak Yohanes?"
"Saya bukan siapa-siapanya, hanya mau menolong saja, Dok."
"Wah ... mulia sekali hati Bapak." Mata Dokter itu sontak berbinar. Dia menatap takjub kepada Ustad Yunus sambil tersenyum. "Ya sudah, ayok sekarang kita ke ruang operasi dan Bapak harus langsung masuk," ajaknya kemudian merangkul pundak Ustad Yunus.
"Iya, Dok." Ustad Yunus mengangguk, kemudian melangkah bersama Dokter itu.
"Tapi Bapak musti dicek kesehatan dulu, ya, Pak, siapa tau Bapak sedang sakit. Kan nggak boleh orang sakit mendonorkan darahnya."
"Silahkan cek, Dok. Tapi jujur saya sendiri merasa dalam keadaan sehat walafiat ... walafiat."
Yumna sejak tadi membeku diposisinya sambil menatap punggung dua pria di depannya yang berlalu pergi.
Jujur—dia merasa heran sekali pada Ustad Yunus, karena rasanya aneh saja melihat dia yang menjadi orang asing tiba-tiba ingin mendonorkan darah dengan alih-alih menolong. Dan rasanya sama sekali tak membuatnya percaya, malah ada pikiran negatif yang tiba-tiba bersemayam.
'Jangan bilang pria itu mendonorkan darah karena ada maunya. Dan bisa jadi ... niatnya nanti akan memeras Papi. Sampai-sampai hartanya dikuras,' batinnya menerka-nerka. Dan didetik selanjutnya dia pun menggelengkan kepalanya, kemudian berlari mengejar mereka. 'Enggak! Aku harus cegah dia untuk mendonorkan darah. Lebih baik aku minta bantuan sama Tante Yeri saja, karena barangkali Kak Joe memiliki golongan darah O juga. Jadi mending dia saja yang mendonorkannya.'
^^^Bersambung.....^^^
__ADS_1