Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
102. Pengganti Syifa


__ADS_3

Mami Yeri memerhatikan manik mata anaknya, disana terlihat jelas sebuah ketulusan. Wajahnya yang begitu teduh, benar-benar membuat hati Mami Yeri yang semula tertutup itu kini terketuk.


'Bagaimana ini? Aku bingung,' batin Mami Yeri yang menjadi dilema.


Sebenarnya ingin mengiyakan, tapi balik lagi—dia dan suaminya sudah sepakat untuk memisahkan Joe dan Syifa. Pastinya, Papi Paul pun tak akan setuju dengan keputusan itu.


"Mi ... kok diem?" tegur Joe seraya menggoyangkan tangan Mami Yeri, dan membuat wanita tua itu tersentak kaget, karena dia memang sempat melamun. "Aku nunggu jawaban Mami daritadi."


"Maafin, Mami, Joe. Mami nggak bisa," jawabnya lalu menipis tangan sang anak.


"Enggak bisa?" Wajah teduh Joe seketika menjadi sendu, bola matanya tampak berkaca-kaca. "Maksudnya, Mami nggak mau memberikanku satu kali kesempatan? Mami tetap ingin aku dan Syifa berpisah, begitu?"


"Ya ..." Mami Yeri berdiri, lalu membelakangi Joe sambil menganggukkan kepalanya. "Tolong mulai sekarang ... berusahalah untuk melupakan Syifa. Dan setelah kalian resmi bercerai, Mami dan Papi akan memberikanmu istri baru. Pengganti Syifa, yang jauh lebih baik tentunya."


Pengganti Syifa katanya?


Mencari pengganti Sonya saja dari dulu Joe kesusahan, tapi disaat dia mendapatkan Syifa, justru orang tuanya memilih untuk menggantinya lagi.


"Syifa bukan barang, Mi. Enggak seharusnya Mami mengatakan hal itu. Ini bukan hanya menyakitiku, tapi Robert juga. Dia sangat menyayangi Syifa." Dada Joe sontak berdenyut, ngilu sekali rasanya. Air matanya pun seketika meleleh, membasahi pipi.


"Robert menyayangi Syifa karena dia mirip almarhumah Sonya, Joe. Kalau Syifa nggak mirip dengannya, Robert juga nggak akan menyayangi Syifa!" tegas Mami Yeri yang terlihat begitu egois. "Hargai keputusan Mami dan Papi, karena orang tua pasti memberikan yang terbaik kepada anaknya. Tapi sebagai anak, dia harus menuruti apa yang orang tuanya inginkan."


"Tapi aku sudah dewasa, Mi!" bantah Joe dengan tegas. "Aku juga sudah punya anak. Tentu aku tau mana yang baik dan nggak, untuk diriku dan anakku."


"Mami ingat sekali, Joe, sejak dulu kamu selalu menolak saat Mami memintamu untuk menikah lagi. Kamu mengatakan kalau kamu masih mencintai Sonya, tapi setelah kamu bertemu dengan Syifa ... semuanya berubah."


"Jadi maksudnya, Mami ingin aku menjadi duda seumur hidup, begitu? Dan seumur hidup Robert juga nggak memiliki Mommy?"


"Bukan!" bantah Mami Yeri sambil menggelengkan kepalanya.


"Terus apa? Memang itu, kan, yang Mami mau?" Meskipun sudah mulai emosi, tapi nyatanya Joe masih mengontrol nada suaranya. Supaya tak lebih tinggi dari Maminya.


"Mami ingin, kamu menikah dengan perempuan pilihan Mami dan Papi. Yang sesuai dengan keinginan kami, Joe."


Joe langsung menyentuh dadanya, yang terasa makin sakit. Perlahan dia pun berdiri, sambil menyeka air matanya. "Oke, sekarang ayok kita pulang ke Indonesia, Mi."

__ADS_1


"Kok pulang ke Indonesia?" Mami Yeri berbalik badan, lalu menatap Joe dengan raut bingung. Wajah tampan anaknya itu terlihat begitu merah, seperti menahan kesedihan serta air mata yang hendak kembali keluar.


"Bukankah Mami bilang aku harus berpisah dengan Syifa? Jadi aku harus pulang ke Indonesia untuk pergi ke pengadilan. Mendaftarkan perceraian. Iya, kan?"


"Serius, kamu ingin menceraikan Syifa, Joe? Menuruti permintaan Mami dan Papi?" tanya Mami Yeri memastikan, tapi bola matanya sudah berbinar karena merasa senang.


"Iya." Joe mengangguk lemah.


"Terima kasih, Joe!" Mami Yeri langsung menghamburkan pelukan, memeluk Joe dengan erat sambil mengusap rambutnya. "Mami sayang kamu, Joe."


"Aku juga sayang, Mami," jawab Joe lirih. Kelopak matanya perlahan tertutup, dan disaat itu—air matanya kembali jatuh. 'Apa Mami pikir ... aku bisa semudah itu, melupakan Syifa? Dia cinta terakhirku, yang berarti tak akan ada lagi perempuan selain dia di hatiku.'


'Papi pasti senang, mendengar berita ini. Kupikir ... akan susah membujuk Joe, tapi nyatanya enggak. Dia memang Joe yang dulu, anakku. Yang selalu menyayangi orang tuanya,' batin Mami Yeri yang berbahagia.


*


*


Setelah beberapa menit....


Pintu ruangan itu dibuka, keluarlah Mami Yeri yang menggandeng tangan Joe.


Robert yang tengah berbaring menunggu sambil bermain ponsel itu langsung berdiri, turun dari sofa. Setelahnya melangkah mendekat ke arah Joe dan Mami Yeri sambil memberikan ponselnya dengan wajah cemberut.


"Kalian lama banget sih, ngobrolnya. Robert nggak bisa telepon Mommy tau!" gerutunya kesal.


"Kok nggak bisa? Kenapa, Sayang?" tanya Mami Yeri dengan lembut. Segera dia meraih tubuh cucunya untuk digendong, lalu mencium pipinya dengan lembut.


"Enggak tau. Entah koutanya habis atau sinyalnya, yang pasti ... nggak nyambung-nyambung dari tadi, Oma," keluh Robert dengan wajah sedih.


"Oh gitu." Mami Yeri mengambil benda pipih itu, kemudian mengetik-ngetiknya. Sebenarnya alasan Robert tak bisa menghubungi Syifa memang akal-akalan darinya. "Lebih baik, kita pergi ke mall saja, gimana, Sayang? Nanti dijalan Oma sekalian mampir beli kouta, supaya kamu bisa menelepon Mommy Syifa," rayunya.


"Bukannya lewat aplikasi juga bisa, beli kouta, Oma?"


"Bisa. Tapi saldo Oma tipis banget," jawab Mami Yeri berbohong. "Dan kita juga udah lama nggak jalan-jalan, berdua, apalagi di Korea. Memangnya kamu nggak kangen, ya, sama Oma?"

__ADS_1


"Kangen. Tapi kalau hanya berdua ... berarti Daddy nggak ikut, dong?" Robert menatap Joe, dan keningnya seketika mengernyit kala memerhatikan wajah serta matanya yang memerah. "Mata sama wajah Daddy kenapa merah? Sepertinya habis nangis."


"Daddy memang habis nangis, Rob," jawab Joe dengan sedih.


"Nangis kenapa?"


"Karena Oma dan Opa meminta—"


"Biar Mami saja yang bicara langsung sama Robert, Joe," sela Mami Yeri cepat, sehingga membuat Joe tak jadi meneruskan ucapannya. "Oma ambil jaket dulu, ya, sebelum ke mall. Takutnya cuacanya mendadak dingin, jadi kamu tunggu di mobil saja dulu, oke?" katanya berbicara kepada sang cucu.


"Oke." Robert mengangguk cepat dengan patuh. Setelah tubuhnya diturunkan oleh Mami Yeri, dia pun melangkah keluar dari rumah tersebut lewat pintu depan.


"Mi, bukannya aku udah bilang, ya, kalau kita harus pulang? Kok Mami malah mengajak Robert pergi dengan alih-alih ingin menghubungi Syifa, sih?" Joe tampak bingung, kedua kakinya itu melangkah cepat mengejar Mami Yeri yang sudah hampir masuk ke dalam lift.


"Setelah Mami pikir-pikir ... lebih baik Robert nggak perlu ikut pulang. Biar dia di sini sama Mami saja untuk sementara waktu." Mami Yeri tak mau mengambil resiko jika cucunya itu ngamuk, kalau sampai tahu Syifa dan Daddynya akan berpisah. Lebih aman dia berada jauh dari Syifa, saat dimana nanti Mami Yeri akan menceritakan segalanya.


"Oh, ya sudah."


"Tapi kamu pulang enggak sendiri, Joe. Akan ada Ali dan Aldi yang selalu mendampingimu."


"Ali dan Aldi itu siapa?" tanya Joe dengan bingung.


Mereka sudah sampai di lantai atas, kemudian masuk ke dalam kamar utama. Yakni kamar milik Papi Paul dan Mami Yeri.


Setelah mengambil jaket baru untuk Robert di dalam lemari, Mami Yeri juga memberikan sebuah tas kecil berwarna hitam ke tangan Joe. Yang dia ambil di dalam laci nakas.


"Anggap saja mereka seperti bodyguard-mu. Yang akan selalu menjagamu," jawab Mami Yeri. "Dan tas itu isinya semua milikmu, Joe. Ada hape serta dompetmu juga."


'Jadi benar, barang-barangku diambil sama Mami,' batin Joe kesal sambil menatap tas yang dia pegang. Perlahan dia pun mengangkat wajahnya, lalu menatap kembali kepada Mami Yeri. "Tapi untuk apa aku ditemani bodyguard segala? Aku juga bisa bela diri, kalau ada orang jahat yang mau menggangguku, Mi."


"Mereka bukan hanya untuk menemanimu supaya terhindar dari orang jahat, tapi juga menemanimu supaya kamu nggak berbuat nekat."


"Maksudnya?" tanya Joe bingung.


"Bisa saja kamu pas sudah sampai Indonesia berubah pikiran untuk nggak jadi menceraikan Syifa. Terus mempunyai ide gila untuk mengajak Syifa kabur karena nggak mau dipisahkan. Jadi Mami mengantisipasinya saja, Joe."

__ADS_1


^^^Bersambung....^^^


__ADS_2