
"Kamu ada rencana nambah istri nggak, Jon? Kebetulan anak Bapak janda muda, lho, dia tiga hari lagi mau pulang dari Arab. Kerja jadi TKW dia awalnya, kalau mau nanti Bapak kenalkan," ucap Pak Dudung yang seolah menawarkan anaknya. Tapi dia tidak sadar, kalau itu akan membuat dada Abi Hamdan menjadi panas.
"Nggak boleh!" tegas Abi Hamdan yang langsung menyahut, sebelum Joe menjawabnya. Segera dia pun menatap wajah sang menantu dengan tajam. "Pokoknya kamu nggak boleh nambah istri! Nggak boleh poligami! Abi nggak rela!" tekannya.
"Ustad nggak boleh, lho ngomong kayak gitu," sahut Pak Damar, yang duduk di dekat Pak Dudung.
"Iya, nggak boleh maksa-maksa. Suami poligami 'kan dibolehkan dalam Islam. Aku juga lihat Jojon tipe suami yang pasti adil kok. Iya, kan, Jon?" balas Pak Dudung seraya berdiri, kemudian mengelus pundak Joe. Tapi segera, tangannya itu ditepis kasar oleh Abi Hamdan. Pria itu juga terlihat sudah mulai tersulut emosi.
"Apa pun itu tetap nggak boleh!" teriak Abi Hamdan dengan penuh penekanan. "Meskipun memang Islam memperbolehkan, tapi itu harus mendapatkan izin dari istrinya! Dan Syifa nggak mungkin mau dimadu, begitu pun denganku yang nggak mau melihat Syifa dimadu!" tambahnya dengan napas memburu, dadanya sampai naik turun. Terlihat jelas jika Abi Hamdan benar-benar terbakar emosi.
"Udah Pak Ustad, nggak perlu diteruskan," ucap Pak RT seraya mengelus punggung Abi Hamdan. Dia akan mencoba menjadi penengah. "Pak Dudung juga harusnya jangan ngomong kayak gitu, nggak boleh, kalau Syifa dengar pasti dia sakit hati," tegurnya menatap Pak Dudung.
"Maaf, Pak RT. Tapi aku hanya tanya kok, kalau pun Jojon nggak mau ... aku juga nggak akan memaksanya," sahut Pak Dudung dengan gelengan kepala.
"Jawab dulu, Jon, kamu mau apa nggak?" tanya Pak Damar memastikan.
"Enggak, Pak." Joe menggelengkan kepalanya, lalu tersenyum menatap ke arah mertuanya. "Abi tenang saja ... aku pria yang setia dan sangat mencintai Syifa. Dia akan menjadi perempuan satu-satunya dihatiku dan akan jadi perempuan terakhir di hidupku."
Mendengar jawaban yang keluar dari mulut Joe, serta tatapan matanya yang tampak begitu tulus—dalam sekejap bisa melunturkan rasa emosi di dada Abi Hamdan. Padahal ibarat api, tadi itu sudah sangat berkobar.
Dia pun bahkan bisa menghela napasnya, karena terasa sangat plong.
"Syukurlah kalau begitu ...." Pak RT menanggapi ucapan Joe dengan senyuman. "Saya ikut senang mendengarnya, Pak. Bapak memang bukan hanya menantu idaman. Tapi juga suami idaman."
"Terima kasih, Pak RT. Tapi itu terdengar berlebihan," ujar Joe sambil tersenyum. Manik matanya pun memusat pada beberapa unta-unta di depannya, yang tengah minum. Memerhatikan dengan seksama sambil tersenyum.
"Kamu mau foto bareng unta, Jon?" tanya Abi Hamdan, nada suaranya kembali stabil. Tidak tinggi seperti tadi.
"Enggak, Bi," tolak Joe sambil menggelengkan kepalanya. "Kita pulang yuk, Bi, ini sudah jam 10 lho. Besok 'kan kita sholat Idul Adha."
__ADS_1
"Kamu saja duluan, Abi mah mau tidur di sini malem ini."
"Lho, kok tidur di sini?" Joe menatap heran Abi Hamdan. Kedua alis matanya tampak bertaut. "Memangnya mau tidur di mana? Dan kenapa juga tidur di sini?"
Joe pun menatap sekitar. Bahkan tak ada tempat untuk tidur di sana. Alat duduk pun hanya bale kayu. Rasanya tak mungin, jika Abi Hamdan tidur di tempat itu. Terlebih jumlah orangnya ada empat, terhitung dengannya. Pasti tak akan muat.
"Abi mau jagain unta-untanya, Jon," jawab Abi Hamdan.
"Ngapain dijagain? Kan nggak mungkin kabur, Bi, orang diikat."
"Betul kata Pak Joe, Tad." Pak RT menimpali, kemudian menatap beberapa bapak-bapak yang kembali duduk sambil menyesap segelas kopi hitam di tangannya. "Ada Bapak-bapak di sini juga kok, yang sudah ditugaskan menjaga hewan kurban, Tad. Jadi Ustad nggak perlu khawatir," tambahnya kemudian.
"Enggak ah, Pak." Abi Hamdan menggelengkan kepalanya. Entah mengapa dia merasa sangat berat untuk meninggalkan unta-untanya, padahal sudah ada yang jaga.
Mungkin bisa jadi, itu adalah sebuah firasat. Dan sebenarnya, sejak tadi ada seorang pria yang mengawasi.
Dia berdiri dibalik pohon kelapa besar yang jaraknya cukup dekat dengan dua sapi di sana.
Pria itu adalah suami dari ibu berdaster yang meminjam uang kepada Pak Haji Samsul. Dia diminta oleh istrinya untuk meracun semua unta-unta itu, tapi menunggu semua orang di sana lengah. Supaya tak ada yang mengetahui.
"Aku mau sekalian menjaga unta-untaku juga, Pak RT," tambah Abi Hamdan.
"Eemm ... ya sudah deh, aku pulang duluan, ya, Abi," ucap Joe yang tak mau memaksa. Dia pun langsung mencium punggung tangan mertuanya, kemudian berlalu pergi sambil mengucapkan salam.
*
*
Beberapa jam berlalu, Abi Hamdan pun sudah mulai menguap karena rasa kantuknya mulai melanda. Tapi sekuat tenaga dia mencoba membuka matanya lebar-lebar sambil menepuk-nepuk kedua pipi, supaya tak ketiduran.
__ADS_1
"Ngantuk mah tidur aja, Tad," ucap Pak Damar yang baru saja datang sambil membawa termos air panas dan papan catur, kemudian menaruhnya ke atas bale kayu di dekat Abi Hamdan yang memang sedang duduk di sana.
"Nggak ngantuk kok, Pak." Abi Hamdan menggelengkan kepalanya.
'Duh... kapan mereka lengahnya? Aku sudah cukup lama berdiri di sini. Kaki pun kesemutan,' batin pria yang masih berdiri di belakang pohon kepala.
Dia pun menggerak-gerakkan kakinya naik turun. Terasa sangat kebas dan kesemutan sekali seluruh otot-ototnya, tapi manik matanya kini menatap sekitar sembari memikirkan sebuah ide.
Dalam hitungan detik, pandangan matanya pun seketika terhenti pada sebuah jerigen besar yang baru saja ditaruh oleh Pak Tejo—salah satu orang yang jaga.
Pria itu tadi sempat menuangkan air ke dalam ember kecil untuk kambing. Dan entah mengapa, sekarang ada sebuah ide yang muncul di dalam otak.
'Daripada lama ... mending aku campurkan racun itu didalam sana saja,' batinnya.
Apalagi dia melihat—beberapa ember milik unta-unta di sana sudah mulai kosong. Otomatis, selanjutnya mereka-mereka lah yang akan diberikan minum.
Tak ingin membuang waktu, dia pun memutuskan untuk meraih jerigen tersebut dengan cepat, kemudian berjongkok sambil merogoh kantong celana kolornya untuk mengambil sebotol obat.
Segera, dia tuangkan semua isi obat itu ke dalam sana. Dan menggoyang-goyangkan jerigen sebentar supaya obat berupa serbuk itu cepat larut dalam air.
Barulah setelahnya, dia taruh kembali benda itu ke tempat semula.
Dan hanya dalam hitungan 5 menit, Pak Tejo pun sudah kembali untuk mengambil jerigen, kemudian melangkah menuju beberapa unta-unta.
'Bagus ... sebentar lagi pasti akan dituangkan. Semoga saja semua unta itu kebagian minum racun,' batinnya sambil tersenyum lebar.
Ternyata tebakannya benar sekali, Pak Tejo pun menuangkan jerigen yang berisi air racun itu pada ember-ember beberapa unta sedikit demi sedikit. Tapi 6 unta-unta itu akhirnya berhasil mendapatkan bagiannya masing-masing.
Sekarang, rencananya sudah beres. Tinggal tunggu unta-unta itu meminumnya dan keracunan hingga tewas.
__ADS_1
...Semoga si 🐫🐫🐫🐫🐫🐫 pada puasa minum malam ini🥺...