
"Boleh, Pak, nggak masalah itu." Sandi menganggukkan kepalanya. "Bapak jadi jamaahnya saja nanti, jadi bisa langsung datang ke masjid. Tapi harus ganti baju dulu, ya, dengan baju koko, sarung dan peci," tambahnya kemudian.
"Jamaah itu kayak orang yang hadir doang, terus dengerin Ustad ceramah, ya?" tebak Joe sambil mengangkat tangannya untuk memencet bel rumah sang mertua.
"Betul, Pak." Sandi menganggukkan kepalanya.
Ceklek~
Tak lama, pintu rumah Abi Hamdan pun akhirnya dibuka dan keluarlah Umi Maryam yang sontak berbinar, menatap anak, menantu serta cucunya sudah datang di depannya.
"Wah ... kalian ternyata sudah pulang? Syukurlah. Umi kangen banget sama kalian." Umi Maryam merentangkan kedua tangannya ke arah Syifa, lalu memeluknya dengan erat sambil mencium puncak kerudungnya.
"Assalamu'alaikum, Umi," ucap Joe dan Syifa berbarengan yang lupa akan salamnya. Segera mereka pun mencium punggung tangannya bergantian, ketika wanita berhijab panjang itu merelai pelukan.
"Walaikum salam," jawab Umi Maryam, lalu mengelus pipi Robert yang tampak bocah itu masih terlelap tidur dalam gendongan Joe. "Duh ... cucu Oma pasti kecapekan, ya? Mangkanya dia ketiduran."
"Iya, Mi, dari pas dimobil taksi dia udah ketiduran," jawab Joe sambil tersenyum.
"Aku dan Aa bawa oleh-oleh buat Umi dan Abi, semuanya ada di sini." Syifa menunjuk koper yang berada ditangan Sandi.
Koper itu adalah koper baru, yang dibeli Joe sengaja untuk beberapa oleh-oleh mereka dari Korea. Tadi memang sempat mampir ke pusat perbelanjaan sebelum pulang.
"Repot-repot banget, pakai bawa oleh-oleh segala. Tapi terima kasih, ya udah ayok masuk ...," ajak Umi Maryam seraya melebarkan pintu, kemudian mengajak mereka masuk bersama.
Sandi juga ikut masuk untuk sekedar mendorong koper dan membawanya ke ruang tengah.
"Bagaimana di Korea? Ada apa saja di sana? Dan bagaimana kondisi Robert sekarang? Udah sehat dia? Dan apa kalian sempat jalan-jalan bertiga?" Begitu banyak pertanyaan yang Umi Maryam lontarkan, saat dimana dia dan Syifa duduk bersama di sofa panjang.
"Robert alhamdulillah udah sehat, Umi," jawab Syifa, kemudian melanjutkan. "Di sana cuacanya cukup sejuk, terus kami juga sempat jalan-jalan."
"Jalan-jalan ke mana saja kalian? Dan apa di Korea juga ada tempat wisata seperti air terjun dan Monas?"
"Sama kok, Umi, di sana juga ada tempat wisatanya." Syifa menganggukkan kepalanya.
"Jadi kalian jalan-jalannya ke mana?"
"Aku, Aa dan Robert kemarin nonton ke bioskop, Umi."
__ADS_1
"Lho, kok jauh-jauh ke Korea hanya nonton bioskop? Kenapa nggak ke tempat wisatanya? Katamu tadi ada tempat wisatanya?"
"Itu karena ...."
"Umi ... Abi ngomong-ngomong ke mana, ya?" sela Joe saat baru saja keluar kamar. Dia tadi sempat membawa Robert masuk ke sana, dan sekarang penampilan Joe sudah berubah. Dia memakai baju koko lengan pendek berwarna merah maroon, sarung hitam dan peci hitam.
Terlihat begitu tampan sekali, terlebih dia juga begitu wangi dan tampak sudah mandi karena wajahnya sedikit basah.
Tapi agak heran juga Syifa melihatnya, masa iya, dia mandi secepat kilat? Bahkan masuk kamarnya saja Syifa tak tahu sejak kapan.
"Abi di lapangan, Joe. Dari siang dia nggak mau pulang," jawab Umi Maryam menatap menantunya.
"Di lapangan mana? Dan ngapain? Nonton bola?"
"Bukan nonton bola." Umi Maryam menggelengkan kepalanya. "Tapi dia lagi ngelus-ngelus unta. Eh kamu sudah tau, kan, kalau unta-unta kita sudah datang?"
Joe mengangguk. "Udah, dari Sandi. Syukurlah kalau sudah datang, Umi."
"Terima kasih ya, Joe, kamu sudah sangat baik sama kami semua disini. Harga unta-untanya juga ternyata mahal banget, ya? Apa dompetmu nggak jebol?"
"Walaikum salam," jawab Umi Maryam sambil mengelus singkat rambut Joe.
Setelah mencium punggung tangan sang mertua, Syifa pun langsung meraih tangannya. Kini berganti, dialah yang dicium tangannya oleh sang istri.
"Nanti kalau Aa udah ngantuk ... langsung pulang, ya?"
"Iya." Joe mengangguk. Setelah tangan keduanya terlepas, dia pun lantas melangkah keluar rumah.
"Ngomong-ngomong kamu, Robert dan Joe udah makan belum, Fa? Mau Umi buatkan nasi goreng, nggak? Soalnya Umi hari ini nggak masak lauk, cuma nasi aja yang masih sisa banyak."
"Kami semua udah makan tadi dijalan, Umi," jawab Syifa, lantas berdiri sambil membereskan gamisnya yang terlipat. "Aku mau bersih-bersih terus istirahat, ya, Umi. Kayaknya aku capek." Dia pun menyentuh tengkuknya sendiri yang terasa sakit.
"Ya sudah, sana istirahat. Besok kita semua pasti sangat sibuk." Umi Maryam tersenyum sambil menatap punggung sang anak yang menjauh dan menghilang dibalik pintu kamar.
*
*
__ADS_1
*
Seusai mendengarkan cemarah dari Ustad Yunus dan acara di masjid itu selesai, semua jamaah pun bubar pulang. Begitu pun dengan Joe.
Tapi dia memutuskan untuk tidak pulang ke rumah dulu, melainkan ingin mampir ke lapangan. Karena kata Pak RT—beberapa unta dan hewan kurban yang lain ada di sana. Jadi Joe mau melihatnya.
Selian itu Joe juga mau bertemu dengan Abi Hamdan, barangkali pria itu masih ada disana. Karena selama ada di masjid—dia sama sekali tak menemukan kehadiran Abi Mertuanya.
"Assalamu'alaikum," ucap Joe yang telah sampai bersama Pak RT, kemudian menghampiri empat orang pria di depannya. Yang sedang duduk di bale kayu sambil ngopi.
Salah satu dari mereka adalah Abi Hamdan. Dan tiga lainnya adalah orang yang ditugaskan oleh Pak RT untuk menjaga hewan kurban, sebab kalau tidak dijaga—khawatir hilang. Soalnya sudah pernah ada kejadiannya.
"Walaikum salam." Abi Hamdan langsung menoleh dan seketika bola matanya itu berbinar. "Masya Allah ... menantuku yang paling ganteng sejagat raya udah pulang ternyata?" Dia terlihat begitu sumringah. Lantas, segera berdiri dan langsung memeluk tubuh Joe, mencoba mengobati rasa rindunya juga.
"Katanya kamu habis pulang kampung ya, Jon?" tanya salah satu Bapak-bapak berkumis tebal yang duduk di bale kayu, menatap ke arah Joe. Dia adalah Pak Dudung, suami dari Bu Nining, rumahnya pun persis di samping rumah Abi Hamdan.
"Pulang kampung?" Joe tampak mengerutkan keningnya heran.
"Kamu bukannya orang Korea asli, kan? Lahir di sana juga?"
"Iya, Pak." Joe mengangguk.
"Ya berarti memang pulang kampung dong namanya, apalagi Ibumu juga asli orang sana."
"Oh ... iya juga, sih, hehehe ...," kekeh Joe.
"Enak nih Ustad Hamdan ... pasti sebentar lagi diajak jalan-jalan ke Korea," ujar Bapak-bapak yang lain, menggoda Abi Hamdan.
"Menantuku memang sempat ngomong seperti itu, Pak," jawab Abi Hamdan. Dia merelai pelukan dan merangkul bahu sang menantu.
"Iya, nanti Abi dan Umi aku ajak liburan ke Korea," sahut Joe sambil menganggukkan kepalanya.
"Tuh 'kan bener ... menantuku memang yang terbaik," puji Abi Hamdan yang begitu bangga. Kemudian menepuk-nepuk pundak Joe.
"Kamu ada rencana nambah istri nggak, Jon? Kebetulan anak Bapak janda muda, lho, dia tiga hari lagi mau pulang dari Arab. Kerja jadi TKW dia awalnya, kalau mau nanti Bapak kenalkan," ucap Pak Dudung yang seolah menawarkan anaknya. Tapi dia tidak sadar, kalau itu akan membuat dada Abi Hamdan menjadi panas.
...Alamat setres dong si Syifanya, kalau suaminya nambah bini🤣🤣...
__ADS_1