Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
195. Perkara sarapan


__ADS_3

Keesokan harinya.


Seusai sholat Subuh, Syifa langsung mandi kemudian keluar dari kamar berniat ingin membuat sarapan untuk anak dan suaminya, serta kedua mertuanya.


Namun, saat setibanya di ruang makan. Syifa dibuat heran sebab terlihat ada Umi Maryam di sana, sedang sibuk menata sebuah masakan di atas meja makan.


"Umi ... Umi kok ada di sini? Dari kapan?" tanya Syifa seraya mendekat.


Wanita bergamis ungu itu pun langsung menoleh kepadanya, lalu memeluk dengan erat. "Umi rindu sama kamu, Fa. Bagaimana kabarmu? Apa kamu juga merindukan Umi?"


"Kabarku baik, Umi. Aku juga rindu sama Umi." Syifa merelai pelukan, lalu mencium punggung tangan Umi Maryam. "Tapi dari kapan Umi ada di sini? Apa semalam? Dan ke sini sama siapa?"


Syifa langsung menatap sekitar, mencari-cari keberadaan Abinya. Karena dia sangat yakin—jika Uminya itu pasti datang bersama Abi Hamdan.


"Abi lagi nonton tivi, Fa. Dan Umi sama Abi baru saja sampai kok. Tapi pas pencet bel dibukain sama pembantunya Joe."


"Oh gitu. Tapi kenapa datang-datang Umi malah masak?" Syifa menatap heran sarapan di atas meja. Sebuah nasi uduk dan beberapa lauk pendukungnya Tak lupa dengan gorengan bakwan, tempe dan tahu juga. Sudah mirip seperti Umi Maryam yang berpindah jualan di sini. "Umi 'kan tamu. Nggak perlu masak, Umi. Apalagi masak nasi uduk begini. Pasti ribet."


"Umi masak pas di rumah kok, Fa. Terus sengaja dibawa ke sini karena barangkali kamu kangen sama nasi uduk buatan Umi," jawab Umi Maryam seraya tersenyum, lalu mendekat untuk mencium kening anaknya. "Oh ya, Umi dengar dari Sandi katanya kamu hamil. Serius, kan, Fa? Kamu beneran hamil?" Tangan Umi perlahan turun pada perut rata Syifa.


Perempuan itu mengangguk dengan wajah merona. "Iya, Umi. Alhamdulillah ... Umi akan segera punya cucu."


"Alhamdulillah ...." Tiba-tiba, seseorang datang dan berucap syukur. Saat keduanya menoleh ternyata dia adalah Abi Hamdan.


"Abi ... bagaimana kabar Abi? Sehat, kan?" tanya Syifa yang langsung mencium punggung tangan Abinya saat pria itu telah mendekat.


"Abi sehat." Abi Hamdan mencium kening Syifa sebentar, lalu merangkul bahunya. "Kamu juga harus selalu sehat. Kan sekarang ada cucu Abi di dalam sini," tambahnya dengan gemas mengusap perut Syifa.


"Iya, Bi. Abi sama Umi ke sini naik apa? Mobil taksi apa angkot?"


"Naik motor baru, Fa." Yang menjawab Umi Maryam, lalu menarik sebuah kursi dan mengajak anaknya untuk duduk di sana.


"Wih ... hebatnya, Abi udah kebeli motor baru. Kukira Abi akan susah move on dari si Kuning Jelek."


"Enak saja si Kuning Jelek, orang motor Abi bagus kok!" sanggahnya.


"Bagus apanya? Orang udah jadul gitu." Syifa terkekeh. "Terus, motor seperti apa yang Abi beli? Apa mirip seperti motor yang kemarin?"

__ADS_1


"Enggak, ini malah jauh lebih bagus. Motornya gede. Tapi bukan Abi yang belikan." Abi Hamdan ikut duduk di samping Syifa, ketika melihat Umi Maryam telah duduk disebelah kanan Syifa.


"Kalau bukan Abi terus siapa?" tanya Syifa yang tak tahu menahu.


"Suamimu, Fa," sahut Umi Maryam. "Joe baik banget. Dia juga belikan Umi hape model taik kambing. Bagus banget, dan bisa buat fac*bookkan."


"Memangnya ada, ya? Hape model taik kambing?" Syifa tampak mengerutkan keningnya.


"Ada, Fa." Umi Maryam meraih dompetnya yang berada di atas meja, lalu membuka resleting untuk mengambil ponsel barunya. "Ini lho ... kayak taik kambing, kan, kameranya?" Dia pun memperlihatkannya kepada sang anak, supaya Syifa tahu.


"Oh ... tapi itu mereknya ipon, Mi, bukan taik kambing."


"Tapi kameranya lebih mirip taik kambing, Fa."


"Ngomong-ngomong di mana si Joe dan Robert?" tanya Abi Hamdan lalu mengambil satu piring di atas meja. "Nggak mungkin mereka belum bangun, kan?"


"Aa lagi teleponan sama Pak Sandi di balkon, Bi. Kalau Robert sendiri lagi mandi."


"Oh gitu. Ya sudah ... nanti juga mereka turun sendiri, kan? Sekarang kamu sarapan dulu saja, ya? Biar Abi suapi."


Umi Maryam lantas berdiri, kemudian mengambil nasi uduk ke atas piring suaminya dan menaruh beberapa perlengkapan lauknya.


"Tumben gimana? Kamu kalau sakit 'kan biasanya minta disuapi sama Abi dan Umi. Kalau nggak diusapi nggak bakal mau makan."


"Iya. Tapi itu 'kan lagi sakit, sekarang aku 'kan nggak lagi sakit. Oh ... apa pengaruh aku lagi hamil, ya, Bi?" tebaknya sambil menyentuh perut.


"Ya nggaklah. Hamil nggak hamil pun kamu tetap anaknya Abi, nggak ada alasan juga kenapa orang tua menyuapi anaknya. Udah cepat buka mulutmu!" titah Abi Hamdan yang sudah menyodorkan sendok ke bibir Syifa.


Namun, sebelum perempuan itu membuka mulut, tiba-tiba dua orang datang dengan tergesa-gesa menghampiri meja makan.


"Pak Hamdan kok ada di sini? Dan kenapa suapi Syifa?"


Abi Hamdan, Umi Maryam dan Syifa langsung menoleh ke sumber suara. Ternyata yang datang adalah Papi Paul dan Mami Yeri. Dan yang bertanya tadi adalah Mami Yeri.


"Eh, Besan. Kalian juga ada di sini rupanya?" sapa Umi Maryam dengan ramah menatap dua orang di depannya. Mereka terlihat seperti belum mandi itu, bahkan masih memakai baju tidur.


"Iya, Bu, aku dan suamiku menginap semalam," jawab Mami Yeri. Dia pun melangkah mendekati menantunya, kemudian menarik tangannya hingga membuat Syifa berdiri.

__ADS_1


"Kenapa, Mi?" tanya Syifa heran.


"Kamu kalau mau sarapan bareng sama Mami aja, Fa. Dan biar Mami yang suapi, jangan Abimu." Entah ini sebuah perintah atau permintaan. Tapi yang jelas, Mami Yeri berbicara dengan tegas.


"Semalam 'kan Mami sudah suapi Syifa dengan buah, jadi hari ini giliran Papi dong, yang suapi Syifa sarapan, Mi," pinta Papi Paul yang langsung memegang tangan kanan Syifa.


"Tapi Papi belum mandi. Kan jorok, masa suapi Syifa? Yang ada Syifa mual nanti, Pi. Wanita hamil 'kan bawaan mual, apalagi kalau hamil muda begini," ujar Mami Yeri yang seolah-olah tak memperbolehkan, karena memang ingin dia saja yang menyuapi Syifa.


"Tapi Mami juga belum mandi." Papi Paul mengerutkan keningnya menatap sang istri. "Terus kenapa Mami mau suapi Syifa juga?"


"Kalau Mami beda," sanggah Mami Yeri sambil mengusap dada.


"Bedanya apa?"


"Mami meskipun belum mandi tapi masih wangi, Pi. Beda kayak Papi. Papi 'kan kalau tidur suka ngiler."


"Mana ada Papi ngiler? Mami noh yang ngiler! Lihat saja bekasnya." Papi Paul menunjuk sudut bibir sebelah kanan istrinya, yang terlihat ada bekas iler berkerak.


"Papi juga ada tuh!" Mami Yeri menimpali, serta menunjuk sudut bibir suaminya yang ternyata memang berkerak juga. Memang keduanya sama-sama ngiler kalau tidur.


"Kalian berdua sama-sama berkerak, jadi nggak perlu saling membela diri," tegur Abi Hamdan seraya berdiri, kemudian melangkah mendekati mereka. "Udah ... mending kalian mandi saja dulu. Habis itu baru sarapan. Biar Syifa aku yang suapi."


"Ih nggak boleh!" larang Mami Yeri dengan gelengan kepala. "Aku maunya aku aja yang suapi Syifa. Syifa 'kan menantuku, Pak."


"Syifa juga menantunya Papi, Mi!" timpal Papi Paul.


"Tapi Syifa anakku!" tegas Abi Hamdan.


"Tapi Bapak 'kan dari kecil udah sering suapi Syifa, jadi ngalah dong, Pak ... biar aku yang menyuapinya," balas Mami Yeri bersikukuh.


"Mami juga semalam udah suapi Syifa," ucap Papi Paul. "Jadi sekarang Mami yang harusnya ngalah, biar Papi yang suapi Syifa."


"Mami nggak mau!" bantah Mami Yeri dengan sedikit keras.


"Jangan begitu dong, Mi. Yang adil, Papi 'kan suami Mami."


"Mau dari kecil atau pun gede ... Syifa tetap anakku! Jadi biar aku saja yang suapi Syifa sarapan!" tegas Abi Hamdan yang juga tak mau mengalah.

__ADS_1


'Ada apa dengan mereka?' Umi Maryam yang sejak tadi masih duduk tampak terheran-heran, melihat tiga orang yang berdebat hanya karena masing-masing ingin menyuapi Syifa. 'Kalau kumpul pasti aja berdebat. Padahal 'kan cuma nyuapi, kok nggak ada yang ngalah, sih?' batinnya sambil mendengkus.


...Harusnya Umi juga ikutan dong, biar tambah rame 🤣...


__ADS_2