
"Pak Joe kalau takut ketinggian jangan ikut," ucap Burhan yang terlihat meragukan Joe, karena terhasut oleh ucapan Papi Paul.
"Iya, nanti kami kalah," tambah Ammar menimpali.
"Aku nggak takut ketinggian kok, Pak. Dan aku pemberani! Aku pria sejati!" sangkal Joe yang terlihat kekeh ingin ikut, juga ingin sekali bergabung dengan grup mereka.
"Joe ... udah, mending kamu nggak perlu ikut, biar Papi saja." Mami Yeri menghampiri dan ikut-ikutan melarang anaknya. "Kamu juga 'kan lagi ngidam, nanti pas manjat kepengen sesuatu gimana, coba?"
"Ih Mami apaan, sih! Kenapa Mami juga ikut-ikutan dan membela Papa segala?" Joe terlihat makin jengkel. "Pokoknya aku mau ikut panjat pinang! Dan gabung digrup ini!" tambahnya menegaskan.
Sementara Joe dan kedua orang tuanya berdebat, Abi Hamdan justru memilih menuju kursi para juri untuk bertanya perihal pendaftaran lomba. Dia ingin ikut dan mengajak istrinya, supaya Umi Maryam pun tak terlihat sedih di sini.
"Pak Bambang ... aku ingin bertanya sesuatu," ucap Abi Hamdan yang terlihat begitu sopan dalam bicara.
"Tanya apa, Pak? Bicara saja."
"Masih buka pendaftaran nggak, ya, Pak? Aku sama istriku mau ikut lomba soalnya."
"Bapak ini Bapaknya Bu Syifa, kan, ya?" Pak Bambang menatap lekat Abi Hamdan dengan kening yang mengerenyit.
"Benar, Pak." Abi Hamdan mengangguk. "Tapi Syifa sama Daddynya Robert 'kan sudah menikah, jadi otomatis aku dan Uminya Syifa adalah Kakek dan Neneknya Robert. Berarti bisa, kan, kalau semisalnya kami ikut lomba?"
"Pak Bambang, masih boleh daftar ikut lomba panjat pinang, nggak?" tanya seorang pria berumur 40 tahunan, yang datang menghampiri meja juri.
"Bapak mau daftar juga?" Pak Bambang langsung beralih menatap pria tersebut.
"Iya." Dia mengangguk. "Namaku Sofyan, Pak. Pakdenya Arjuna. Aku mau ikut lomba panjat pinang kayaknya."
Ternyata Abi Hamdan punya teman, yang ikut mendaftar dadakan.
"Berhubung pendaftarannya kemarin dan sekarang sudah ditutup, jadi tidak bisa, Pak," ucap Pak Bambang dan seketika membuat Abi Hamdan kecewa bercampur sedih. "Tapi saya akan lihat beberapa pesertanya dulu. Kalau misalkan pas lomba ada yang gugur, nanti nama Bapak akan dicantumkan."
"Namaku dan istriku gimana, Pak? Aku Hamdan, dan istriku Maryam," sahut Abi Hamdan dengan antusias.
"Iya. Bapak dan istri Bapak akan dicantumkan. Ibarat kalian bertiga adalah pemain cadangan." Pak Bambang membuka buku di dekatnya, lalu mencatat nama kedua pria di depannya dan juga nama Umi Maryam.
"Apa ada lagi yang ingin ditanyakan, Bapak Ibu?" tanya Syifa sambil menatap beberapa orang tua muridnya. "Soalnya masih ada yang musti saya dan Bu Gisel jelaskan mengenai lomba."
"Nggak ada, Bu! Lanjutkan saja!" seru Maria—Mommynya Leon, menimpali.
"Baik. Sekarang saya akan mengizinkan Bapak dan Ibu untuk mengganti pakaian. Pakailah pakaian yang menurut kalian nyaman, supaya memudahkan dalam bergerak. Saya juga menyarankan kalian jangan mengantongi benda berharga, karena kalau hilang ... pihak juri nggak akan bertanggung jawab. Selain itu jangan pakai perhiasan juga ya, Ibu-ibu." Syifa menjelaskan secara rinci.
__ADS_1
"Iya, Bu!" Beberapa orang tua itu saling menyahut.
"Besan, Besan ikut lomba tarik tambang nggak? Dan apa udah daftar dari kemarin?" tanya Umi Maryam kepada Mami Yeri.
"Dari kemarin aku udah daftar, Bu. Tapi kayaknya sih aku nggak jadi ikutan lomba."
"Kenapa nggak jadi, Bu?" Umi Maryam terlihat penasaran.
"Males sama hadiahnya. Masa cuma motor? Aku kepengennya mobil, Bu."
"Motor juga udah mewah, Bu. Aku saja—"
"Kalau Bu Yeri nggak jadi ikut ... berarti bisa diganti sama Umi," potong Abi Hamdan yang baru saja datang menghampiri bersama Joe.
"Maksudnya?" Umi Maryam menoleh dan menatap suaminya dengan raut bingung.
"Tadi Abi udah ngomong sama Pak Bambang, buat daftarin diri kita ikut lomba. Terus beliau mengatakan kita bisa ikut ... kalau ada peserta lain yang sudah daftar gugur, Umi. Ibarat kita jadi pemain cadangan," jelas Abi Hamdan.
"Serius, Bi?" Bola mata Umi Maryam seketika berbinar. "Jadi Umi bisa ikutan? Bisa dapat motor lipat juga kalau menang?!"
"Tentu saja bisa, Mi." Abi Hamdan menganggukkan kepalanya. "Tapi kayaknya Umi musti ganti baju. Jangan pakai gamis. Pakainya celana saja, karena biar bisa leluasa beraktivitas."
"Oh bagus deh kalau begitu. Jadi Umi bisa langsung ikut lomba."
Umi Maryam langsung memeluk Abi Hamdan, karena merasa sangat senang. "Terima kasih ya, Bi. Akhirnya Umi bisa ikut lomba."
"Sama-sama." Abi Hamdan bisa bernapas lega sekarang, lalu mengelus puncak kerudung istrinya. "Tapi Umi yang semangat nanti tarik tambangnya. Biar dapat juara dan bisa mendapatkan motor listrik."
"Itu pasti. Abi do'akan Umi saja."
"Pasti Abi do'akan, Mi."
*
*
Panitia lomba memberikan waktu 30 menit, untuk para Ibu-ibu dan Bapak-bapak bersiap-siap sebelum memulai lomba.
Meskipun segrup berisikan lima orang dari hasil keinginan masing-masing, tapi para panitia pun ikut andil untuk menyeleksi.
Dilihat dari ukuran tubuh, supaya bisa sebanding dan dengan begitu mereka semua jadi seimbang. Supaya nantinya saat salah satu grup itu menjadi juara—tidak akan ada yang protes.
__ADS_1
"Baik ... berhubung panjat pinang adalah hadiah dompres, jadi panjat pinang adalah lomba terakhir ya, Bapak-bapak," ucap Syifa.
"Sekarang kita pada lomba Ibu-ibu dulu," ucap Gisel lalu menatap kertas ditangannya. "Grup tarik tambang ada empat, masing-masing memiliki ketua nama regu supaya mempermudahkan dalam kita semua memberikan semangat. Nama ketuanya digrup satu ada Bu Olla, yang merupakan grup dari guru. Yang kedua adalah Bu Dinda, ketiga Umi Maryam dan keempat Bu Santi."
"Grup satu akan melawan grup dua, dan grup tiga akan melawan grup empat. Setelah mendapatkan kemenangan ... masing-masing akan diadu kembali dan kita sama-sama akan menyaksikan siapa yang berhak mendapatkan hadiah," jelas Syifa.
"Apakah Ibu-ibu sudah siap semuanya?" tanya Gisel. "Karena lomba ini akan dimulai berbarengan. Supaya cepat diadu lagi."
"Siap, Bu!!" Beberapa Ibu-ibu itu menyahut secara bersamaan dan terlihat sama-sama semangat.
Empat grup itu sudah masing-masing memegang tali. Dan yang menjadi ketua adalah orang yang berada di depannya.
"Harus semangat ya, Ibu-ibu! Kita pasti menang!" seru Maria—Mommynya Leon, yang merupakan anggota grup Umi Maryam.
Selain dia, ada juga Dea—Mamanya Baim, Laila—Mamanya Atta dan yang terakhir adalah Noni—Maminya Maira.
"Semangat!!" jawab anggota yang lain, apalagi Umi Maryam yang terlihat sangat bersemangat.
"Oke ... tanpa berlama-lama ...," ucap Syifa yang memberikan instruksi akan memulainya lomba. "Saya akan hitung dari ... tiga ... dua ... satu ... Mulai!"
"Umi Maryam!"
"Umi Maryam!"
"Juara! Juara!"
"Dapat motor! Dapat motor!"
Para suporter Robert tentu langsung beralih meneriakkan nama wanita itu. Sebab sebelumnya Robert sudah memintanya.
Sementara perlombaan itu dimulai, Joe justru sibuk memerhatikan Syifa dari kejauhan.
Tidak ada yang salah sebenarnya, hanya saja entah mengapa tiba-tiba hasratnya menjadi tinggi. Dan membuat miliknya di dalam celana kolor mengeras sempurna. Joe dapat merasakannya, karena refleks tangannya itu ikut menyentuhnya.
Tadinya Joe memakai stelan jas berwarna biru navy, tapi berhubung akhirnya jadi ikut lomba panjat pinang—jadilah dia berganti dengan mengenakan kaos hitam dan kolor pendek berwarna hitam juga.
'Bener-bener nggak ingat tempat ini tongkat! Bisa-bisanya dia bangun dan buat aku kepengen bercinta. Mana sebentar lagi aku musti lomba panjat pinang, ditambah Syifa juga masih ngehost,' keluh Joe dalam hati sambil menyentuh kepala botaknya, lalu mengusap-usapnya berulang kali dengan frustasi. 'Tapi kayaknya enak juga kali, ya, kalau bercinta di toilet sekolah. Bagaimana sensasinya kira-kira?'
Otak messum Joe seketika bekerja, dan sudah melayang sembari membayangkan tubuh Syifa yang tanpa sehelai benang.
...Wis angel, Om 🤣🤣...
__ADS_1