
"Lho, sejak kapan Pak Jonathan pulang?" Seseorang tiba-tiba saja berucap demikian, yang mana membuat Joe tersentak kaget sehingga menjatuhkan gembok di tangannya.
Bruk!
Benda itu sudah berhasil dibuka, namun sayangnya—rencana Joe untuk keluar tanpa ketahuan sudah gagal, lantaran Aldi terbangun dari tidurnya dan langsung menatap ke arah Joe.
"Ish Bibi!" Joe berdecak kesal, ketika melihat orang yang membuat rencananya gagal adalah pembantu rumah tangganya.
Wanita yang memakai daster itu membawa sekantong sampah, hendak membuangnya menuju tong yang ada di depan. Tapi tak sengaja dia melihat Joe dan maka dari itu bertanya demikian.
"Kenapa, Pak? Dan kapan Bapak pulang? Bibi kok baru tau?" tanya Bibi lagi.
"Bapak mau ngapain di depan gerbang? Dan mau ke mana?" tanya Aldi yang sudah melangkah menghampiri Joe.
"Terserah aku mau ke mana, itu bukan urusanmu!" teriak Joe, segera dia pun membuka gerbang dan melangkah menuju sisi jalan.
Namun saat tangannya melambai ke arah taksi, lengannya tiba-tiba saja dicekal oleh Aldi. Pria itu menahannya untuk pergi.
"Biar saya antar, Bapak mau ke mana? Asal jangan ketemu Nona Syifa," ucap Aldi.
'Orang tujuanmu mau ketemu Syifa.' Joe menggerutu dalam hati, sambil menatap tajam Bibi pembantu yang masih berdiri ditempat dengan raut bingung. Ingin rasanya Joe memakinya, tapi rasanya itu semua tak ada gunanya. "Aku mau pergi ke rumah Sandi."
"Sandi itu siapa?"
"Kenapa kamu begitu kepo? Cepat keluarkan mobilmu, kalau memang ingin mengantarku!" berang Joe seraya menepis kasar tangan Aldi, sehingga membuat tangan pria berbadan besar itu terlepas dari lengannya.
"Ali! Bangun, Al!" teriak Aldi memanggil temannya, tapi pria itu justru masih tertidur pulas dengan mulut menganga. Dan yang terbangun justru seorang satpam. "Pak! Tolong bangunkan temanku!" perintahnya berbicara kepada sang satpam.
"Lancang sekali kamu nyuruh-nyuruh satpam rumahku!" gerutu Joe yang tampak tak terima. "Dia itu yang bayar aku dan kenapa bukan kamu saja yang mengambil mobilmu, sih?" tambahnya menggomel.
"Nanti kalau saya mengambil mobil, yang ada Bapak kabur lagi. Lebih baik si Ali saja yang mengambilkannya."
'Kok bisa, dia membaca pikiranku?' batin Joe tak menyangka. Memang dia sempat punya pikiran seperti itu tadi.
Setelah satpam itu berhasil membangunkan Ali dari tidurnya, kini mereka berdua mengantar Joe dengan menunggangi mobil mereka. Menuju rumah Sandi yang Joe beritahu.
__ADS_1
Sejujurnya tak ada urusan apa-apa untuk menemui Sandi, tapi karena bingung mencari alasan, jadilah Joe berkata seperti itu.
'Ayok Joe berpikirlah. Bagaimana caranya supaya dua orang menyebalkan ini tak mengikutiku,' batin Joe berpikir keras. Dia pun segera merogoh kantong celananya untuk mengambil ponsel dan langsung memencetnya.
Namun sungguh sayang, ponsel itu tidak menyala. Dan ketika diaktifkan justru mati lagi disebabkan habisnya daya baterai.
'Bisa-bisanya aku lupa ngecas. Ah menyebalkan sekali!' Kembali, yang dapat Joe lakukan adalah memaki dalam hati.
"Apa Sandi ada hubungannya dengan Nona Syifa, Pak?" tanya Aldi yang masih penasaran siapa itu Sandi, yang mau ditemui oleh Joe.
"Kubilang jangan kepo, ya, jangan kepo!" balas Joe marah. "Tugas kalian itu hanya mengikutiku ke mana aku pergi, kan? Jadi nggak perlu kalian ingin tau urusanku!" tambahnya dengan ketus, lalu memalingkan wajahnya ke arah jendela.
"Dih, Pak ... Pak, judes amat. Nanti bisa-bisa cepat tua, lho," ledek Aldi.
"Bodo amat!" Joe mencebik bibir, lalu bersedekap.
*
*
*
Melihat Joe turun dari mobil lebih dulu, Aldi dan Ali bergegas turun dan mengikutinya menuju rumah tersebut yang kebetulan pintunya sedikit terbuka.
"Assalamu'alaikum, Sandi," ucap Joe yang berdiri di depan, lalu mengetuk-ngetuk pintunya.
"Walaikum salam," sahut seseorang yang datang dan melebarkan pintu. Tapi bukan Sandi, melainkan Mamanya yang bernama Sari. Usianya seperti seumuran dengan Umi Maryam, dan dia juga memakai hijab. "Eh, Bapak ini Pak Jonathan bosnya Sandi, kan?"
Pertanyaan dari Bu Sari berhasil menghilangkan rasa penasaran Aldi, akan siapakah Sandi.
"Iya, Bu." Joe mengangguk. "Di mana Sandi? Aku ingin bertemu dengannya."
"Dia masih ada dikamar, Pak. Nanti saya panggilkan. Bapak masuk saja dulu," ajak Bu Sari sambil tersenyum.
Joe melangkah, tapi saat melihat dua bodyguard-nya itu ikut melangkah masuk, dia langsung mencegahnya, sambil menoleh kepadanya. "Mau ngapain kalian? Kalian tunggu diluar saja!"
__ADS_1
"Baik kalau begitu." Aldi mengangguk dan langsung mundur beberapa langkah.
"Tapi Bu, bolehkah saya dan teman saya minta dibuatkan kopi?" pinta Ali tanpa malu. "Kebetulan kami agak mengantuk."
"Dih, nggak tau malu banget kalian. Kalian ini 'kan hanya mengantarku. Untuk apa minta kopi segala!" cibir Joe yang tampak kesal.
"Meskipun hanya mengantar, kami juga 'kan tamu juga, Pak," balas Ali.
"Ali benar, Pak." Aldi ikut-ikutan. Jujur memang, saat ini dia masih mengantuk. Bahkan sejak tadi saja dia terus menerus menguap. "Kalau kami mengantuk 'kan menyetirnya bahaya. Keselamatan Bapak juga yang utama untuk kami," tambahnya.
"Kalau masih ngantuk ngapain juga ikut! Lebih baik kalian tidur saja dipos sampai siang!" sungut Joe, kemudian melangkah masuk ke dalam rumah itu lebih dulu.
"Kalian akan saya buatkan kopi. Silahkan duduk di teras saja, Pak," ucap Bu Sari sambil menunjuk dua kursi plastik yang berada di teras rumahnya.
"Terima kasih, Bu. Kopi hitam, ya, Bu," kata Ali sambil tersenyum.
"Baik, Pak." Bu Sari mengangguk. Setelah melihat dua pria berbadan besar itu duduk, dia pun lantas masuk ke dalam rumahnya dan menutup pintu.
"Bu Sari, tunggu sebentar, Bu!" panggil Joe yang melihat wanita berhijab itu hendak mengetuk sebuah pintu kamar. Mungkin, itu kamar Sandi.
"Kenapa, Pak?" Bu Sari berbalik badan, lalu menatap Joe yang duduk di sofa pada ruang tamunya.
Joe berdiri, dengan perlahan dia pun mendekat. "Apa Ibu punya obat tidur?" tanyanya berbicara pelan.
"Ada. Tapi buat apa, ya, Pak?" tanya Bu Sari bingung.
"Tolong Ibu campurkan obat tidur itu ke dalam kopi yang akan diseduh untuk kedua pria di depan," pinta Joe yang tiba-tiba mendapatkan sebuah ide. Mungkin dengan membuat kedua pria itu tertidur pulas, dia akan mudah pergi tanpa mereka.
Bu Sari tampak membulatkan matanya, terkejut dengan permintaan Joe yang menurutnya aneh. "Lho, kok begitu? Kenapa memangnya, Pak?"
"Aku ada urusan penting, Bu, yang mereka nggak perlu tau. Tolong Ibu bantu aku, ya," pinta Joe memohon, sembari menangkup kedua tangannya di depan dada.
"Tapi ini sama saja melakukan kejahatan, kan, Pak? Saya nggak mau." Entah apa masalah Joe, Bu Sari sendiri tak tahu dan dia tak mau ikut-ikutan.
"Enggak, Bu," bantah Joe seraya menggelengkan kepalanya. "Membuat orang tertidur lebih lama nggak akan membuat seseorang melakukan kejahatan. Aku mohon banget ... hanya Ibu yang bisa membantuku sekarang. Ini tentang hidup dan matiku, tolong kasihanilah orang yang sedang butuh belaian kasih sayang dari seorang istri ini. Tolong bantu, Bu," tambahnya yang masih memohon. Bahkan sekarang Joe memasang wajah memelas guna meluluhkan hati ibu dari sopirnya itu.
__ADS_1
...Bantuin, Bu, kasihan 🤧...