
"Opa! Oma!!" seru Robert saat melihat Mami Yeri dan Papi Paul.
Dia yang hendak turun dari sofa segera dibantu oleh Abi Hamdan, tapi Mami Yeri pun buru-buru menghampirinya lalu memeluk tubuh Robert.
"Papi dengar dari si Yohan ... katanya dia disunat bareng sama Robert ya, Joe?" tanya Papi Paul dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Joe di depannya langsung mengangguk. "Kok kamu nggak ngasih tau Papi dan Mami dulu, sih, sebelum kamu ingin sunatin si Robert! Kami 'kan Opa dan Omanya, Joe!" tambahnya yang tiba-tiba berteriak.
"Maafin aku, Pi. Robert disunat juga dadakan kok, dan aku sendiri lupa belum ngasih tau kalian."
"Dadakan apanya? Orang kata si Yohan saja kemarin dia daftar dulu sebelum disunat! Kamu jangan bohong begitu lah sama kami, Joe!" omel Papi Paul marah, lalu melangkah masuk ke dalam rumah dan menghampiri istri serta cucunya. "Bagaimana tongkatmu, apa sakit, Sayang?" tanya Papi Paul sambil mencium kening Robert.
"Sakit mah enggak, Opa." Robert menggeleng cepat. "Cuma kadang perih aja."
"Harusnya kalau perih ... kamu tolak saja, jangan mau disunat," saran Mami Yeri.
Sejujurnya keduanya itu masih tidak ikhlas, jika cucunya pun ikut pindah agama. Dan mereka juga yakin—dengan bocah itu sunat tandanya itu akan menyempurnakannya menjadi hamba Allah.
"Robert sempat—"
"Maaf Bu Yeri ... Pak Paul," potong Abi Hamdan, saat Robert hendak bicara. "Sunat itu kewajiban untuk umat muslim, jadi Robert nggak boleh menolaknya untuk disunat. Dan tentang yang mendaftarkan sunat ... itu juga bukan Jojon. Ah, maksudku Joe. Bukan Joe yang mendaftarnya. Melainkan aku sendiri," jelasnya kemudian.
Mami Yeri hanya menatap Abi Hamdan tanpa menjawab apa-apa. Sedangkan Papi Paul langsung berdecih sebal.
Kalau bukan karena ingin bertemu Robert dan Syifa, dia juga tak mau ke rumah Abi Hamdan lagi. Itu semua lantaran Papi Paul masih kesal lantaran dirinya yang kalah hompipah dan tak berhasil membawa pulang mobil agustusan.
"Kamu malam ini tidur di rumah Opa dan Oma saja ya, Rob?" ajak Papi Paul yang sudah mengangkat tubuh Robert lalu menggendongnya.
"Ih nggak mau, Opa!" tolak Robert. "Robert mau menginap di sini, masih mau tidur bareng Opa Hamdan dan Oma Maryam."
"Kamu 'kan dari kemarin udah menginap di sini, jadi gantian dong sekarang di rumah Opa. Kalau begitu 'kan baru adil namanya."
"Kami juga ada kejutan buat kamu, Sayang. Pasti kamu senang," rayu Mami Yeri kemudian mengusap puncak kepala cucunya.
Sebelum Robert kembali berkomentar, Papi Paul sudah langsung membawanya keluar dari rumah itu.
Mami Yeri ikut menyusul, tapi sebelum itu dia langsung menarik tangan Syifa. "Kamu juga ikut saja, Fa. Mami juga kangen sama kamu."
"Abi, Umi, sepertinya aku, Syifa dan Robert harus pergi ke rumah orang tuaku. Maaf, ya?" pamit Joe yang segera mencium punggung tangan kedua mertuanya dengan perasaan tidak enak. Tapi tak mungkin juga dia membiarkan mereka berdua pergi tanpa dirinya ikut.
__ADS_1
"Nggak apa-apa, Jon. Abi memaklumi hal itu. Orang tuamu pasti juga kangen sama Robert dan Syifa," ucap Abi Hamdan yang terlihat santai.
"Terima kasih, Bi. Assalamualaikum."
"Walaikum salam." Abi Hamdan dan Umi Maryam menjawab secara bersamaan. Keduanya pun keluar rumah lalu menatap mobil Papi Paul yang berlalu pergi dari pekarangan.
"Sepi lagi deh, Bi, rumah kita ...," keluh Umi Maryam sambil menghembuskan napasnya, lalu menyandarkan kepalanya dibahu sang suami.
Kalau ada Syifa, Robert dan Joe datang berkunjung lalu memutuskan untuk menginap—itu adalah hal yang sangat menyenangkan menurutnya.
Bahkan jika saja boleh meminta, Umi Maryam ingin mereka bertiga tinggal bersama-sama di sini. Hanya saja itu tidak mungkin. Apalagi Joe sudah punya rumah sendiri.
"Iya, Mi," sahut Abi Hamdan sambil tersenyum. Tapi raut wajahnya tampak begitu sendu. "Aaahh ... tapi nanti kalau Syifa udah melahirkan, kita juga pasti bisa berkumpul lagi, Mi. Pasti juga tambah seru karena anggota keluarga kita bertambah."
"Nanti Umi mau kita menginap di rumah Joe, Bi. Tapi Joenya sendiri mengizinkan nggak, ya?"
"Pasti dong diizinkan. Masa enggak? Lagian Jojon 'kan menantu kita yang paling baik hati sedunia."
"Iya, ya, Bi."
***
Umi Mae yang baru selesai sholat segera berjalan keluar kamar, lalu menyibak gorden jendela rumah terlebih dahulu sebelum akhirnya dia membuka pintu.
"Selamat pagi, apa ini rumahnya Ustad Yunus?" tanya seorang pria berjaket hijau. Dia memegang kantong merah yang entah apa isinya.
Umi Mae mengangguk. "Benar. Tapi Mas ini siapa, ya?"
"Saya ojek online, Bu. Tapi saya diminta mengantarkan nasi goreng ini kepada Ustad Yunus." Pria itu menunjuk apa yang dia bawa. "Dan apa Ibu ini kerabatnya Ustad Yunus?"
"Aku Uminya," jawab Umi Maryam, lalu memerhatikan kantong merah tersebut tapi enggan untuk mengambilnya, meskipun pria itu sudah menyodorkannya. "Tapi dari siapa nasi goreng ini? Perasaan anakku nggak bilang kalau dia ingin memesan makanan."
"Siapa yang datang, Umi?" Ustad Yunus keluar dari kamarnya, lalu menghampiri mereka.
"Ini, Nak ...." Umi Mae menoleh, menatap anaknya. "Orang ini katanya mau mengirimkan nasi goreng. Memang kamu pesan, ya?"
"Enggak." Ustad Yunus menggeleng.
__ADS_1
"Pengiriman nasi goreng ini bernama Kim Yumna, Bu, Pak. Saya harap Anda bisa menerimanya." Pria itu langsung memberikan kepada Ustad Yunus, lalu memotretnya sebagai bukti.
"Siapa Kim Yumna?" Kening Umi Mae tampak mengerenyit, melihat anaknya mengambil kantong tersebut.
"Kalau begitu saya permisi ... selamat pagi dan mohon maaf jika menganggu."
Setelah kepergian ojek online tersebut, Ustad Yunus pun segera menutup pintu rumah lalu merogoh ke dalam kantong celananya untuk mengambil ponsel. Niatnya ingin menelepon Yumna.
"Kim Yumna siapa, Nak? Apa ada lagi perempuan yang suka sama kamu?" tanya Umi Mae yang masih penasaran dengan pertanyaannya, sebab belum dijawab. Tapi sebenarnya ada rasa senang juga kalau memang anak bujangnya itu banyak yang naksir.
"Kim Yumna itu orang yang ngirim bunga, Mi."
"Bukannya yang kirim bunga itu namanya Dek Yumna, ya?"
"Sama aja, Mi. Sama-sama Yumna."
"Terus itu, kamu telepon siapa?" Umi Mae memerhatikan Ustad Yunus yang sejak tadi menempelkan ponselnya ke pipi.
"Si Yumna. Tapi nggak diangkat-angkat, Mi."
"Mau ngapain telepon dia?"
"Mau tanya ngapain dia kirimin aku nasi goreng, Mi."
Umi Mae pun mengambil kantong merah dari tangan anaknya, lalu merogoh ke dalam yang ternyata nasi goreng itu ada dua dan berada didalam sebuah wadah.
Ting~
Panggilan Ustad Yunus nyatanya tidak dijawab meskipun sudah dua kali, tapi justru Yumna mengirimkan sebuah chat kepadanya.
[Ada apa Mas Boy? Kok telepon? Tumben?]
Ting~
Chat kedua kembali masuk.
[Oh ya, aku juga kirim nasi goreng buatanku lho ... apa sudah sampai ke tangan Mas Boy? Aku sengaja mengirimkannya dua porsi. Karena satunya untuk Umi Mas Boy. Aku dengar dari Roni ... katanya Mas Boy tinggal berdua dengannya, kan?]
__ADS_1
...Baik amat, apa pura-pura baik🤔🙄...