Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
186. Nyebelin


__ADS_3

Berhubung bab 185 lama lolos padahal udah kurevisi, jadi aku up ulang dibab ini aja ya, Guys. Habis kesel aku nunggunya lama banget sampai berjam-jam 😤 sedangkan ada bab lain yang musti aku up lagi. jadi biar nggak acak"n nantinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Juna: "Ini aku baru mau izin. Do'ain ya, temen-temen🄺."


"Iya, aku do'ain." Leon membalas.


Atta: "Iya, Junn ...."


Robert: "Semangat, JunšŸ’Ŗ. Eh tapi ngomong-ngomong di mana Baim? Kok nggak nongol dia šŸ¤”?"


Atta: "Iya, nih, di mana si Baim? Apa jangan-jangan dia lagi nangis ... gara-gara nggak diizinin buat gundul šŸ˜‚?"


Juna: "Iiihh ... jangan ngomong begitu dong, Ta! Bukannya ikut dido'ain 😠!"


Atta: "Iya, iya, aku do'ain, Jun 😁🤲."


*


*


"Huuhh ... dasar Atta nyebelin!" gumam Juna sambil mendesaah berat. Kemudian dia meletakkan ponselnya ke dalam kantong celana.


"Dedek Silvi Sayang ... Kakak Juna tinggal dulu sebentar, ya?"


Juna berbicara pada adik tirinya yang tengah tertidur lelap di atas kasur. Tapi sebelum dirinya turun, dia lebih dulu mengecupi seluruh wajahnya.


Ceklek~


Pintu kamarnya dibuka secara perlahan, kemudian dia turun dari anak tangga dan menuju dapur. Sebab samar-samar dia mendengar suara Maminya di sana.


"Mami lagi apa? Bukannya istirahat. Nanti kalau capek gimana?" Dia mendekat ke arah Nissa yang tengah memblender jus mangga, lalu menyentuh perut buncitnya.


"Mami kepengen minum jus, Jun. Kamu mau nggak? Nanti Mami sekalian buatkan," tawar Nissa.


"Enggak." Juna menggelengkan kepalanya. "Juna cuma mau ngobrol sama Mami. Tapi Papi ke mana, ya, Mi? Kok nggak kelihatan dari tadi?"


Lantaran perut Maminya sudah memasuki fase akan melahirkan, jadi Papi tiri Juna mengurangi aktivitasnya di kantor dan lebih sering ada di rumah.


"Papi keluar sebentar buat beli bolu brownies ke toko langganan Mami. Soalnya Mami lagi kepengen," jawab Nissa.


Setelah jusnya jadi, Nissa menuangkannya ke dalam gelas.


"Kenapa nggak pesan lewat online saja, Mi? Terus diantar lewat kurir?"


"Mami maunya Papi yang beli, Jun."


"Oh gitu."


"Kamu mau bicara apa? Apa cuma nanyain Papi?"

__ADS_1


"Bicaranya di ruang keluarga aja, Mi. Sambil duduk."


"Ayok."


Juna meraih tangan Nissa, kemudian mengajaknya melangkah bersama dengan pelan-pelan menuju ruang keluarga dan duduk disalah satu sofa.


"Mi ... Juna kayaknya pengen ganti gaya rambut deh. Boleh nggak, kira-kira?" tanya Juna.


Berbeda dengan Atta dan Leon yang langsung to the poin, Juna justru memilih untuk basa-basi.


"Mau ganti kayak gimana? Kamu udah ganteng kok, Sayang, dengan model rambut begini." Tangan Nissa terulur, lalu mengusap puncak rambut anaknya dengan lembut.


"Juna nggak betah kayaknya, kadang suka gerah juga. Juna pengen digundul saja, ya, Mi?"


"Kok digundul? Ya jangan atuh, Sayang." Nissa menggeleng tak setuju.


"Kebetulan di sekolah lagi nge-trend, Mi, model rambut gundul. Si Robert bahkan duluan yang digundul. Jadi Juna kepengen ikutan juga."


"Kalau digundul ya namanya gundul aja, Jun, bukan model rambut. Kan nggak ada rambutnya itu."


"Ya apa pun itu, intinya aku mau digundul, Mi. Boleh ya, Mi?"


"Jangan deh. Kayaknya nanti kamu nggak akan pantes kalau digundul, Jun. Aneh juga."


"Masa nggak pantes? Orang ganteng mah mau berpenampilan apa aja tetap aja ganteng, Mi. Nggak ngaruh karena gundul atau—"


"Assalamualaikum," ucap Tian yang baru saja datang dengan menenteng kantong plastik putih ditangannya.


"Papi udah pulang? Kebetulan banget kalau begitu!" Juna segera turun dari sofa, lantas berlari mendekati Tian dan menarik tangannya untuk ikut bersamanya duduk di sofa.


Mungkin kalau meminta izin kepadanya, dia akan langsung setuju dan tentu bisa membujuk Nissa untuk ikut setuju.


"Kebetulan gimana maksudnya?" Tian tampak heran. Plastik putih yang dia bawa perlahan ditaruh di atas meja, lalu menatap ke arah istrinya. "Ini bolu browniesnya, Yang. Mau aku suapi nggak sekalian?" tawarnya.


"Nanti dulu, Pi, Juna ingin bicara," pinta Juna sedikit merengek, dan langsung duduk di atas pangkuan Papinya.


"Bicara apa, Sayang?" tanya Tian dengan nada lembut dan usapan pada rambut kepala anaknya.


"Juna kepengen digundul. Tapi Mami melarang. Gimana dong, Pi."


"Lho ... ngapain kamu mau digundul? Bukannya serem, ya, orang yang botak itu kelihatannya?"


"Ih serem apanya, sih? Orang lucu. Pokoknya Juna kepengen digundul! Titik!" tegas Juna dengan nada memaksa.


"Kasih Papi alasannya dulu, kenapa kamu kepengen digundul?"


"Lagi nge-trend katanya, Yang, di sekolah." Nissa menyahuti.


"Aneh ... ada-ada saja nge-trend gundul begitu."


"Entahlah ...." Nissa mengedikkan bahunya naik turun sambil menghela napas.

__ADS_1


"Jadi setuju nggak, nih, Juna digundul? Kalau nggak setuju juga Juna tetap digundul sih. Masa yang lain digundul Juna nggak? Kalau kata si Atta sih nggak keren namanya!" Juna berdecih sebal sambil bersedekap. Dia juga memasang wajah cemberut.


"Tapi masalahnya, Papi nggak mau ikutan digundul juga, Jun. Papi malu dong ... masa digundul?"


"Dih ... memangnya disini ada yang nyuruh Papi digundul, ya?" Juna tampak heran dengan apa yang Tian katakan. "Perasaan cuma Juna yang bilang kepengen digundul. Nggak ada hubungannya sama Papi deh?"


"Kan dari dulu kamu udah minta ... kalau apa yang kita lakukan musti harus bersama-sama. Jadi Papi kira ... Papi juga ikut digundul, kalau kamu digundul."


Tian selalu ingat tentang janji konyol dengan anak sambungan itu. Yang mengatakan jika semua aktivitas yang mereka lakukan harus dilakukan secara bersama-sama, tentu dengan keadaan mereka yang sedang bersama juga. Terkecuali, mereka dalam keadaan jarak jauh.


"Oh ... kalau tentang itu sih terserah Papi." Juna menganggukkan kepalanya ketika sudah paham dengan maksud Tian. "Kalau Papi mau ikut digundul juga tentu boleh, malah banget. Tapi kalau nggak mau ya nggak apa-apa. Nggak masalah."


"Oh gitu. Ya sudah boleh digundul. Kamu mau digundulinnya di salon mana? Biar Papi antar."


"Hore!!" Juna berlonjak dari tempat duduknya, kemudian langsung loncat-loncat karena sangking senangnya. "Juna maunya digundul di tukang cukurnya Robert, Pi. Biar licinnya juga samaan."


"Oke. Nggak masalah." Tian mengangguk setuju.


"Kamu, ya, Yang ... setiap permintaan Juna selalu saja dituruti. Orang mah sesekali ditolak terus dikasih pemahaman dulu kek," keluh Nissa yang tampaknya masih tak setuju.


"Nggak apa-apa, Yang." Tian tersenyum manis sambil mengusap lembut pipi kanan istrinya. "Selagi permintaannya nggak melanggar norma dan dosa. Jadi turuti saja."


***


Berpindah pada Baim.


Bocah itu tengah melangkah pelan masuk ke dalam kamar orang tuanya, dengan membawa segelas susu hangat di atas nampan.


"Ini susu hangatnya, Pa," ucapnya kepada Burhan—Papanya.


Pria berumur 30 tahun itu tengah duduk selonjoran di atas kasur sambil memainkan laptopnya, memeriksa pekerjaan.


"Lho, kok kamu yang bawa susunya, Im?" Dia menoleh ke arah anaknya, yang baru saja meletakkan segelas susu itu di atas nakas. "Bukannya Papa nyuruhnya Bibi, ya?"


"Nggak apa-apa. Memang Baim kok yang mau bawa sendiri."


Baim naik ke atas kasur, lalu duduk didekat kaki Burhan. Lantas dengan perlahan—tangan kecilnya itu memijat betis serta paha Papanya dan sontak membuat pria itu terkejut, lantaran heran dengan apa yang anaknya lakukan. Karena tidak biasanya dia seperti itu.


"Kok tiba-tiba kamu pijitin kaki Papa, Im? Kenapa?"


"Nggak usah lebay gitu kenapa, sih, Pa? Memangnya salah, ya, seorang anak mijitin kaki Papanya?" Baim menjelaskan dengan santai, sambil menggerakkan tangannya dengan naik turun pada kaki Burhan.


"Bukan lebay. Tapi nggak biasa kamu kayak gini lho ... aneh aja Papa lihatnya."


"Aku juga merasa aneh, Yang." Seorang perempuan berhijab seumur Syifa tiba-tiba keluar dari kamar mandi, kemudian menghampiri mereka berdua. "Tadi pas pulang sekolah Baim juga tiba-tiba bantuin aku nyuci piring. Padahal nggak biasanya dia kayak gitu. Malah kalau disuruh taroh piring kotor aja banyak alasan."


"Papa dan Mama ini kenapa, sih?" Baim mendengkus sambil menatap wajah orang tuanya secara bergantian. "Orang anaknya berbakti kok disangka aneh? Lagian Mama juga ... ngapain nyuci piring?" Dia memegang tangan Mamanya, lalu mencium pada telapaknya. "Kan udah ada Bibi. Nanti kala Mama capek terus sakit, siapa coba nanti yang repot dan sedih? Pasti Baim dan Papa juga, kan, Ma?" tambahnya dengan tatapan penuh kasih sayang.


Burhan dan Dea langsung saling memandang, kemudian terkekeh bersama. Mereka tampaknya mengerti dengan maksud dan tujuan apa yang anaknya itu lakukan.


"Udah ngomong aja, Im. Kamu lagi kepengen apa sekarang?" tanya Burhan seraya menyentuh punggung tangan anaknya, dan seketika membuat tangan kecil itu menghentikan gerakannya juga langsung menatap kepadanya.

__ADS_1


'Ih nyebeliiiinn ... Papa selalu aja tau isi pikiranku!' serunya dam hati.


__ADS_2