
Seusai makan malam, Joe pun membawa Syifa dan Robert untuk pulang ke rumahnya.
Saat ini, ketiganya berada di dalam kamar. Syifa terlihat tengah sibuk di atas kasur mengajari Robert perkalian, sedangkan Joe sendiri duduk di sofa sambil memainkan tabletnya. Melihat beberapa foto para modelnya yang berfoto dengan produk skincare-nya.
Namun, hanya matanya saja yang menatap tablet. Tidak dengan pikirannya. Sebab sejak tadi dia terus memikirkan Syifa.
Selain mau mengajaknya memadu kasih, Joe juga ingin membicarakan perihal keinginannya berbulan madu. Perempuan itu masih saja seperti kemarin, cuek-cuek bebek.
'Kapan si Robert tidurnya? Aku nggak sabar banget ingin bawa Syifa ke kamar tamu,' batin Joe.
"Mommy minum dulu susunya, nanti keburu dingin dan nggak enak," tegur Robert sembari menatap segelas susu coklat di atas nakas. Itu adalah susu ibu hamil yang dibuat Joe beberapa menit yang lalu, dan memang Syifa belum menyentuhnya sama sekali.
"Iya, Yang, diminum. Kasihan adiknya Robert ... pasti dia haus." Joe menimpali sambil menatap Syifa dengan kedipan satu mata. Terlihat begitu genit sekali.
"Memangnya ... kalau Mommy minum, adik bayi ikut minum juga, ya, Dad? Di dalam sana?" tanya Robert dengan polosnya, menatap sang Daddy. Syifa pun langsung meraih gelas itu, kemudian menenggaknya hingga tandas tak tersisa.
"Pastilah, Sayang. Jangankan minum, makan pun dia juga ikut makan," balas Joe dengan anggukan kepala. "Maka dari itu, perempuan yang sedang hamil musti dijaga makan dan minumnya. Ya karena adik bayinya pun ikut makan dan minum."
"Tapi cara dia makan dan minumnya gimana, Dad? Kan susah. Lagian di dalam perut juga pasti gelap."
"Kalau soal itu sih Daddy kurang tau. Coba nanti kamu tanya guru biologi kamu saja, Rob. Pasti dia tau jawabannya." Joe mencari jalan aman, supaya tidak mumet dengan pertanyaan anaknya.
"Udah diisi dulu, Nak, soalnya," tegur Syifa lalu mengelus puncak kepala anaknya. "Habis ini kamu tidur, kan besok hari Senin. Jadi bangunnya agak pagi. Ada upacara."
"Iya, Mom." Robert mengangguk patuh. Dia pun segera mengerjakan tiga soal perkalian itu dan mulai menghitung.
Setelah selesai dan diberikan nilai oleh Syifa, acara belajarnya pun berakhir.
Keduanya pun sekarang sudah berbaring dengan balutan selimut di atas dada. Syifa langsung mengelus-elus kepala Robert, karena biasanya bocah itu akan cepat tidur jika kepalanya disentuh.
"Mau dengerin cerita nggak, Nak? Sebelum kamu tidur?" tawar Syifa.
"Nggak us ... Hhoooaamm ...." Robert tiba-tiba menguap dan langsung menutup bibir, pertanda kalau dia sudah mulai mengantuk. Kedua matanya itu dengan perlahan terpejam. "Robert ngantuk, Mom. Mau langsung tidur. Ceritanya besok saja, ya?" Dia pun memiringkan tubuh ke hadapan Syifa, lalu memeluk.
"Oke." Syifa mengangguk, kemudian mengecup kening anaknya dengan lembut.
__ADS_1
Beberapa menit melihat Robert sudah tidur, Joe pun langsung mengakhiri tabletnya dan segera naik ke atas kasur di samping Syifa.
Perempuan itu memalingkan wajahnya. Tapi Joe tak menyerah. Dia langsung berbaring dan memeluk tubuh Syifa dari belakang sembari menggesekkan miliknya sebentar pada area bokong.
"Yang ... jangan marah terus dong, ih! Ada yang ingin aku bicarakan padamu," ucap Joe yang berbisik di telinga Syifa.
'Bicara tinggal bicara, pakai izin dan gesek-gesek tongkat segala lagi. Sengaja banget dia mancing,' batin Syifa yang diam seribu bahasa.
"Kita bicaranya di kamar tamu aja, biar leluasa," rengek Joe.
Melihat tak ada respon apa-apa dari Syifa, Joe pun akhirnya nekat mengendongnya. Kemudian membawanya keluar dari kamar utama dan menuju kamar tamu.
Syifa terlihat terkejut, tapi ingin memberontak atau berteriak pun entah mengapa sulit sekali. Apalagi melihat anaknya yang tampak tertidur pulas di atas kasur. Dia tak mau mengganggu waktu tidur yang baru berjalan.
Saat sudah masuk, Joe langsung menidurkan Syifa di atas kasur. Kemudian cepat-cepat dia menutup pintu serta menguncinya.
"Malam ini kita libur dulu bercintanya, aku lagi nggak mood." Syifa berpikir, Joe pasti beralasan saja ingin mengajaknya bicara. Karena yang sebenarnya pasti dia ingin mengajaknya bercinta. Mengingat—sedari siang pria itu terus membahas aktivitas intim kepadanya.
"Dih, Yang. Belum juga aku ajak, kok kamu udah nolak aja?" Wajah Joe seketika kecewa. Dia pun segera naik di atas kasur dan berbaring di samping Syifa, kemudian langsung memeluk tubuhnya. "Lagian nggak boleh tau, nolak permintaan suami. Apalagi dalam urusan ranjang ... dosa, Yang! Kamu juga selalu menikmati, kan, tiap kali kita bercinta?"
"Udah sih, ngapain bahas itu melulu. Cepat ngomong apa yang mau Aa bicarakan! Aku ngantuk, nih! Besok musti berangkat pagi ke sekolah!" titah Syifa tak sabar, dia bicara dengan ketus sekali.
Syifa sedikit membulatkan mata. "Kenapa aku izin seminggu? Mau apa, A?"
"Aku ada rencana ngajak kamu pergi berbulan madu, Yang. Aku juga udah ikut izin nggak masuk kantor seminggu."
"Ngapain bulan madu segala? Nggak usah, A!" tolak Syifa dengan gelengan kepala.
"Kita 'kan setelah menikah belum pernah bulan madu, Yang. Jadi kapan lagi kita bisa bulan madu kalau nggak sekarang? Nanti-nanti 'kan—"
"Daripada mikirin bulan madu, mending mikirin masalah kemarin dulu, A," sela Syifa yang tampaknya tak tertarik dengan ajakan Joe. Terlebih itu semua karena dirinya masih kesal pada sang suami. Ditambah masalah kemarin jauh lebih penting untuk sekarang. "Bagaimana ... katanya kita tinggal tunggu Pak Sandi yang akan ngasih kabar. Apakah sampai sekarang dia belum ngasih kabar?"
"Udah tadi siang, Yang."
Mata Syifa seketika berbinar. Ada harapan jika semuanya berjalan baik. "Apa kata Pak Sandi, A? Dua orang yang mengintip kita berhasil ketemu, kan? Berikut dengan videonya, yang udah musnahkan?"
__ADS_1
"Sandi belum menemukan dua laki-laki itu, Yang. Plat nomor motornya juga ternyata palsu, tapi ...." Joe menjeda sebentar ucapannya, lantaran melihat Syifa sudah bangkit dari kasur dengan wajah yang tampak kembali masam. "Kamu mau ke mana, Yang?"
Joe ikut beranjak dari kasur, kemudian memegang pergelangan tangan istrinya.
"Pokoknya selama dua orang itu belum ditemukan dan video rekamannya belum dimusnahkan ... Aa jangan harap ingin berbulan madu denganku!" tegas Syifa marah, serta menepis kasar tangan Joe. "Jangan juga ajak aku bercinta! Aku sebal sama Aa!" tambahnya berteriak, kemudian berlari keluar dari kamar.
"Yang! Tunggu dulu, Yang!" Joe lantas berlari mengejar istrinya yang kembali masuk ke dalam kamar utama. Namun saat dirinya hendak ikut masuk, pintu itu sudah keburu ditutup rapat. "Yang! Buka pintunya, Yang!" Selain ditutup, pintunya juga ternyata sudah dikunci dari dalam. Diketuk-ketuk pun tak ada jawaban.
"Astaghfirullah ...." Lima menit sudah handle pintu itu dinaik turunkan, sampai akhirnya Joe memilih untuk menghentikannya.
Bukan ingin menyerah, tapi lebih tepatnya mengalah karena demi ketentraman bersama. Melihat Syifa sebegitu marahnya, dia jadi takut. Takut jika perempuan itu mencoba ingin meninggalkannya.
"Ya Allah ... bagaimana caraku membujuk Syifa supaya nggak marah lagi?" Joe menatap nanar pintu dengan frustasi, lalu berbalik badan sambil meremmas ujung bajunya. "Dan tolong aku, supaya masalahku mendapatkan titik temu ya, Allah. Cepat juga pertemukan aku dengan dua laki-laki yang kurang ajar itu," tambah Joe berdoa sembari menyandarkan punggungnya di depan pintu. Perlahan tubuhnya pun beringsut ke bawah hingga akhirnya dia terduduk di lantai.
Ting!
Ting!
Mungkin ada dua jam lebih Joe selonjoran di lantai sambil melamun memikirkan nasib rumah tangganya, hingga akhirnya semua lamunan itu buyar lantaran sebuah notifikasi dua chat masuk.
Joe langsung merogoh kantong celana kolor untuk mengambil ponsel. Setelah dilihat ternyata ada dua chat dari Sandi, yang berisikan foto dan chat biasa .
"Ngirim foto apa si Sandi?" Lantaran penasaran, Joe pun segera membukanya.
Ternyata sebuah foto yang asistennya itu kirim ada sebuah screenshot profil Inst*gram seorang laki-laki yang entah siapa, dia juga tak mengenali wajahnya.
Nama profilnya 'Udin Ganteng Slebew' dan foto profilnya pun seorang laki-laki dengan memakai kacamata hitam dan masker.
"Siapa Udin Ganteng Slebew?" gumam Joe dengan kening yang mengerenyit. Dia pun lantas membaca isi chat dari Sandi.
[Saya berhasil mendapatkan salah satu akun media sosial laki-laki yang mengintip Bapak. Dan ternyata dia anak kuliahan, Pak.]
Ting!
Sandi kembali mengirim chat.
__ADS_1
[Besok ... saya akan mendatangi kampusnya. Mencari keberadaannya. Kebetulan ada alamatnya juga, Pak.]
^^^Bersambung....^^^