
"Cepat hompipah, Pak!" desak Pak Bambang yang terlihat tak sabar.
Para penonton yang berada di pinggir lapangan pun langsung masuk ke area. Berkumpul menjadi satu karena masing-masing dari mereka begitu penasaran, siapakah orang yang beruntung mendapatkan hadiah mobil.
"Iya, iya." Meskipun sebenarnya tidak mau, tapi akhirnya Papi Paul menurut. 'Tuhan Yesus ... semoga dompres itu menjadi milikku. Aku ingin punya mobil baru, apalagi hasil dari lomba,' batinnya berdoa.
"Hompipah!"
"Hompipah!"
"Alhamdulillah! Aku menang!" Abi Hamdan sontak terkejut sendiri, saat ternyata dirinya lah yang berhasil menang dalam hompipah.
"Hompipahnya tiga kali aja, Pak! Biar adil!" pinta Papi Paul yang terlihat tidak ikhlas, kalau hadiah itu direnggut dengan enteng oleh besannya.
Abi Hamdan lantas menoleh ke arah Pak Bambang. Ingin tahu pendapat darinya.
"Benar tuh, Pak. Tiga kali saja," sahut salah satu Bapak-bapak yang setuju. Karena dengan begitu, dia masih ada kesempatan untuk bisa mendapatkan dompres.
"Bagaimana Pak, Bu?" Pak Bambang menatap dua juri lainnya, meminta mendapat darinya. "Kalau saya sih oke-oke saja."
"Nggak masalah, Pak. Tiga kali saja." Pak Zaka mengangguk setuju.
"Iya, Pak." Kepala sekolah TK pun demikian.
"Baiklah, tiga kali hompipah ya, Bapak-bapak," ucap Syifa. "Berarti Pak Hamdan sudah masuk satu, tersisa dua kali lagi untuk menang."
"Oke. Kita lanjutkan lagi hompipahnya," tambah Gisel menyeru.
Kelima Bapak-bapak itu mengangguk. Kemudian mereka pun mulai berhompipah lagi dengan semangat dan berharap-harap cemas.
"Hompipah!"
"Hompipah!"
"Hompipah!"
"Hompipah!"
"Hompipah!"
"Hompipah!"
Sementara itu, Robert juga ikut mendoakan. Demi kemenangan kedua Opanya. 'Mau Opa Hamdan atau Opa Paul, nggak apa-apa ya, Allah ... asalkan salah satu dari mereka yang dapat,' batinnya.
__ADS_1
"Alhamdulillah! Aku menang!" Abi Hamdan menyeru, saat untuk ketiga kalinya dia menang hompipah.
Memang rezeki takkan kemana, itulah perumpamaannya.
"Ah sial! Kenapa harus dia yang dapat mobil!" Papi Paul mengerang dengan emosi. Sungguh dia kesal dan ingin menjambak rambutnya sendiri, hanya saja tak ada rambut yang dia miliki.
Akhirnya Papi Paul pun memutuskan untuk langsung pergi dari sana, ketika Pak Bambang sudah mengambil paksa kunci mobil dari tangannya. Tidak lupa dengan menarik tangan Mami Yeri juga, untuk ikut pergi dengannya.
"Lho, Pi! Kok pergi?" tanya Mami Yeri dengan bingung. Terlebih suaminya itu tak membawa apa-apa ditangannya.
"Kan Mami juga tau, Papi kalah hompipah! Yang dapat dompres itu si Botak Hamdan!" gerutunya kesal.
"Papi sama Mami mau ke mana? Siapa yang dapat mobil?"
Sampainya diparkir, mereka bertemu dengan Joe yang berbicara dari dalam dalam mobil. Pria tampan bermata sipit itu menatap kedua orang tuanya dari pintu mobil yang terbuka.
"Mertuamu yang botak itu, Joe!" jawab Papi Paul marah.
Langkahnya yang sempat terhenti bersama sang istri itu kini dia lanjutkan, tapi dia memilih untuk tidak masuk ke dalam mobil anaknya.
Sebab mereka datang ke sekolah pagi tadi dengan satu mobil, karena diawal berharap jika pulangnya nanti Papi Paul akan mendapatkan mobil baru.
Namun, karena sekarang tak berhasil mendapatkan mobil, Papi Paul pun jadi enggan ikut pulang bersama Joe. Karena pasti pria itu pulangnya nanti, menunggu istrinya yang selesai ngehost. Jadi dia memutuskan untuk pulang saja duluan, naik taksi dengan Mami Yeri.
Mobil berwarna biru telor asin itu sudah melaju pergi meninggalkan sekolahan.
"Maksud Mami kaos sama smartphone?"
"Iya." Mami Yeri mengangguk.
"Papi tinggalin."
"Lho, kenapa ditinggalin?"
"Ya buat apa? Papi nggak butuh dua barang itu, Mi!"
"Tapi 'kan Papi udah dapat, Pi. Harusnya diambil. Sayang soalnya."
"Yang Papi inginkan mobil! Hanya mobil, Mi! Tapi justru Papi kalah hompipah! Padahal Papi yang capek manjat ke atas!" Napas Papi Paul sampai terengah-engah. Emosinya meluap-luap dan terasa panas sekali dadanya sekarang.
"Ya udah, Pi, mungkin itu bukan rezeki Papi." Mami Yeri perlahan menyentuh dada suaminya, lalu mengelusnya dengan lembut.
"Ya udah gimana? Akh ... Papi nggak suka sih, Mi! Ini nggak adil namanya! Kan Papi yang jadi ketua, sedangkan si Hamdan Botak itu cuma pemain cadangan! Masa dia yang dapat dompres?!"
__ADS_1
"Ya mau gimana, Pi? Itu 'kan udah takdir."
Jujur, Mami Yeri juga kecewa. Sudah cukup dirinya yang memilih untuk tak ikut lomba lantaran tak minat dengan hadiahnya.
Sekarang, giliran suaminya itu sudah berjuang dan menang—tapi justru keberuntungan seolah tak memihak kepadanya.
Namun, disini dia pun tidak bisa apa-apa. Karena tak mungkin juga dia ngamuk, untuk memaksa supaya mobil itu menjadi milik mereka.
"Si Syifa juga, bukannya belain Papi. Padahal kalau dia belain ... Papi bisa dapat mobil, Mi!" Papi Paul masih terus menggerutu, meluapkan semua kekesalan di dada. Mami Yeri sendiri memilih untuk diam, karena bingung untuk berbuat apa.
"Sekarang kita sama-sama akan lihat sendiri, penyerahan hadiah utama yang berupa sebuah mobil. Dan diserahkan secara langsung oleh donatur kita yang bernama Mr. X," ucap Pak Bambang menggunakan mic.
Nama donatur itu bukan benar-benar Mr. X. Itu hanya nama samaran, karena orang tersebut memang tak ingin semua orang tau namanya.
Tak lama kemudian, sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam mengkilap masuk ke dalam area lapangan volly dan membuat semua orang terpana.
Jika dilihat-lihat, harga kisaran benda itu mungkin bisa ratusan juta atau lebih.
Sungguh fantastis bukan? Apalagi untuk dijadikan sebuah lomba agustusan.
Seorang pria pun turun dari dalam sana, sambil memegang sebuah piala dan tas berwarna hitam.
Dia memakai stelan jas berwarna hitam. Kacamata hitam serta masker hitam. Wajahnya yang cukup tertutup itu membuat semua orang tak dapat mengenali. Jadi terlihat asing.
"Wih ... mobilnya bagus banget, Opa!" seru Robert dengan mata berbinar, lalu memeluk tubuh Abi Hamdan erat.
Dia terlihat begitu antusias sekali, dan ikut senang juga atas kemenangan yang berhasil diraih oleh Opanya.
"Iya, Nak. Alhamdulillah ...." Abi Hamdan langsung membungkukkan badan, dengan air mata yang sudah meleleh karena terharu sekaligus tak menyangka dengan apa yang dia dapatkan.
Niat awal Abi Hamdan adalah untuk menggendong Robert, tapi sayangnya—baru juga hendak meraih tubuh bocah itu, Abi Hamdan mendadak merasakan dadanya sesak ditambah kepalanya berkunang-kunang.
"Akkhh!" ringis Abi Hamdan yang langsung menyentuh dada, napasnya pun sudah tersendat-sendat.
"Abi, Abi kenapa, Bi?" Syifa mendekat dan langsung menyentuh tangan Abi Hamdan. Namun didetik selanjutnya, tubuh pria itu justru sudah ambruk.
Bruk!!
Dia jatuh terlentang dengan tak sadarkan diri.
"Astaghfirullah! Abi!" jerit Syifa dan Umi secara bersamaan. Berikut dengan Robert yang langsung berjongkok dan menyentuh tubuh Opanya.
"Opa!!"
__ADS_1
...Yaahhh kok pingsan, Bi? 😣...