Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
82. Kelaparan


__ADS_3

Ceklek~


Joe membuka pintu kamar pribadi pada ruangannya, kemudian masuk ke dalam. Satpam di belakangnya pun mengikutinya, hanya saja dia berdiri di depan pintu. Tak berani masuk sebab menurutnya itu tidak sopan.


"Abi!" panggil Joe kencang, lantaran di ruangan itu tak menemukan sosok mertuanya. Matanya berkeliling mencari, sampai pada kolong tempat tidur. "Kenapa kamu diam saja?" Joe menatap tajam satpam yang berdiri diam di depan pintu.


"Saya harus apa memangnya, Pak?" tanya satpam itu bingung.


"Bantu cari dong! Terus gunanya aku memintamu menemaniku itu apa?" omel Joe marah. Dia terlihat sudah emosi karena begitu khawatir dengan keadaan mertuanya.


"Baik, Pak."


Satpam itu mengangguk cepat. Dia pun langsung berbalik badan dan menuju kursi kerja Joe, kemudian berjongkok untuk mencari mertua dari bosnya itu di dalam kolong meja kerjanya.


Dia melakukan hal yang sama, seperti apa yang dilakukan Joe. Sampai akhirnya melihat pada kolong sofa juga, barangkali memang pria yang mereka cari ada di sana.


"Abi! Abi di mana?" teriak Joe.


Setelah beberapa menit mencari di dalam kamar dan tak membuahkan hasil, Joe pun memutuskan untuk keluar. Kemudian menurunkan handle pintu kamar mandi dan membukanya.

__ADS_1


Ceklek~


"Astaghfirullah Abi!" pekik Joe terbelalak dengan keterkejutannya, saat melihat Abi Hamdan tengah berendam di dalam bathtub kamar mandinya dengan mata terpejam dan tanpa sehelai pakaian.


Dia berpikir jika mertuanya itu jatuh pingsan, tapi sebenarnya tidak. Pria tua itu hanya tertidur sebab merasakan tubuhnya begitu rileks akibat rendaman air hangat disekujur tubuhnya.


Sebab jujur saja, selama hidupnya dia baru pertama kali berendam air hangat pada seluruh tubuh. Hanya pernah pada kaki saja.


"Abi! Bangun, Bi!" Joe mengguncang kencang tubuh mertuanya, hingga membuat beberapa air yang berada di dalam bathtub itu terciprat keluar.


Abi Hamdan pun perlahan membuka matanya, lalu menepis tangan Joe supaya menghentikan aksinya. "Kamu ini ngapain, sih, Jon? Menganggu orang saja!" omelnya marah.


"Iyalah ganggu! Memangnya kamu nggak lihat, Abi sedang berendam?" Abi Hamdan langsung menutupi miliknya dengan kedua tangan. Khawatir kalau sampai Joe melihat kemudian memikirkan untuk membandingkan lebih putih milik siapa.


"Tapi kenapa—"


"Udah tau lagi berendam," sela Abi Hamdan cepat. "Sekarang kamu keluar dulu, tunggu Abi selesai! Abi malu tau!" teriaknya mengusir.


Joe hanya mengangguk sambil menggaruk rambut kepalanya yang tidak gatal, kemudian berjalan keluar dan menutup pintu.

__ADS_1


"Sudah ketemu Pak Bos, mertua Pak Bosnya?" tanya sang satpam.


"Sudah." Joe mengangguk sambil menatapnya. "Bapak sekarang sudah boleh keluar dari ruanganku."


"Baik, Pak." Pria itu membungkukkan badannya dengan sopan, kemudian berjalan keluar dan menutup pintu.


Sedangkan Joe memilih untuk duduk di sofa, sambil mengelus dadanya sebab merasa lega sudah menemukan Abi Hamdan dalam keadaan sehat walafiat.


Ceklek~


Beberapa menit kemudian, Abi Hamdan pun keluar kamar mandi dengan memakai lilitan handuk di atas pinggang dan baju Koko tadi malam.


Seluruh wajah dan tubuhnya terlihat masih basah, tapi raut wajahnya itu tampak begitu asam dan memerah.


"Syukurlah Abi baik-baik saja, aku sama Syifa sempat khawatir dengan keadaan Abi," ucap Joe sambil tersenyum manis menatap mertuanya.


"Baik-baik saja apanya? Orang Abi kelaparan!" Abi Hamdan menggerutu sambil menyentuh perutnya, dan tak lama cacing di dalamnya itu langsung berdemo. Rasanya sangat kesal bercampur emosi. "Dari semalam tau, Jon, Abi belum makan, gara-gara mengantar Syifa yang ingin bertemu denganmu! Di ruanganmu juga, masa ada kulkas tapi isinya air doang!" tambahnya sambil menunjuk kulkas satu pintu yang berada di pojok ruangan. Bahkan perut Abi Hamdan terasa kembung akibat banyaknya minum air dingin dari sana.


...Bawa ke restoran cepet, Om, orang lapar mah emang kadang suka emosi tingkat tinggi 🤣...

__ADS_1


__ADS_2