Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
169. Biar adil


__ADS_3

"Aa pakai wig, Pi!" sahut Syifa.


"Wig?" Papi Paul mengerutkan keningnya.


"Iya, aku pakai wig, Pi." Joe ikut menyahut.


"Coba buka!" tantang Papi Paul lantang.


Joe langsung menatap ke arah Syifa, lalu menggelengkan kepalanya.


Tidak! Dia tidak mungkin melepaskan wig itu. Apalagi di depan khalayak banyak.


"Cepat buka!" teriak Papi Paul tak sabar.


"Pi ... sebaiknya kita masuk ke dalam mobil saja. Biar bukanya dimobil," saran Syifa yang begitu mengerti kondisi suaminya.


"Memangnya kenapa kalau di sini?"


"Aku malu, Pi," ucap Joe.


"Ngapain malu? Memangnya kau pikir kau nggak pakai celana, hah?" bentaknya. Papi Paul pun langsung menghentakkan kedua lengannya, sehingga membuat beberapa pria yang memegangnya itu terlepas.


"Papi! Apa yang mau Papi lakukan?!" Joe sontak membelalakkan mata, ketika baru saja Papinya itu menyentuh puncak rambutnya. Meremmas hingga hendak dia tarik.


"Cepat lepaskan!" tekan Papi Paul yang masih berusaha menarik, tapi dia terlihat kesusahan karena Joe sendiri ikut menahan rambut pada kepala.


"Nggak, Pi! Jangan!" tolak Joe tak mau.


"Cepat lepaskan!"


Mereka berdua seperti adu kekuatan. Yang satu menarik, yang satu menahan.


Berbeda dengan tadi, saat orang-orang itu menahan Papi Paul. Tapi kali ini, mereka semua di sana justru diam seperti penonton.


Saat datang tadi, semua orang hampir bertanya tentang rambut kribo Joe. Dan pria itu menjawab karena dia memang memakai wig dengan alasan ingin terlihat keren. Sebab saat berkaca, wajahnya terlihat lebih tampak menurutnya. Ketimbang berkepala plontos tentunya.


"Jangannn ... aku mohoooon ... Pi..," pinta Joe memelas dan wajah ketakutan.


"Papi ... jangan laku ...." Ucapan Syifa seketika terhenti, saat dimana Papi Paul telah berhasil menarik rambut Joe.


Memang—kalau orang yang sedang marah, pasti kekuatannya jauh lebih besar. Karena terbukti sekarang, Joe kalah dari Papi Paul.


"Lho ... kok gundul?"


Tentu saja, pria paruh baya itu ternganga karena Joe berkepala plontos. Dan bukannya dia saja yang tampak tercengang melihatnya, tapi hampir semua tamu undangan yang lain berikut dengan sang pemilik restoran.


"Wah ... ternyata alasan kuat Pak Joe pakai wig adalah gundul?!" Salah satu orang di sana menyeru, dan didetik selanjutnya dia tertawa. "Hahaha!"

__ADS_1


"Pak Joe ya ampun ... Hahahaha!" Yang lainnya pun ikut tertawa terbahak-bahak.


"Hahahaha ...."


"Licin bener, Pak, Pak."


"Ngirit shampoo ya, Pak."


"Mirip biksu, ya?"


"Iya, biksunya Sun Go Kong. Hahahaha ...."


Jangan tanyakan lagi bagaimana perasaan Joe, tentu dia sudah tidak karuan. Wajahnya pun memerah karena malu.


Lantaran tak mau terus menjadi pusat perhatian dan bullyan, pria itu pun memilih berlari pergi keluar dari restoran sambil menarik tangan Syifa untuk ikut bersamanya.


"Joe! Tunggu!" teriak Papi Paul yang berlari mengejar dengan masih memegang wig. Rupanya dia lebih mengenali Joe tanpa rambut, ketimbang berambut kribo.


Melihat Joe dan Syifa masuk ke salah satu mobil, yakni mobil milik Joe sendiri—Papi Paul pun langsung ikut masuk juga, duduk pada kursi belakang.


"Papi keterlaluan, hiks ..!!" Joe langsung menangis dalam pelukan Syifa, merasakan hatinya kacau dan terlihat menyedihkan.


Syifa yang berada di samping segera mengeratkan pelukan, lalu mengusap kepala plontos sang suami.


"Harusnya Papi jangan buka wignya, kan aku juga udah bilang tadi," tegur Syifa yang ikut sedih, melihat hati Joe teriris.


Joe sama sekali tak menjawab, dia malah sudah tersedu-sedu.


"Alasan Aa pakai wig ya karena malu, Pi." Akhirnya Syifa yang menjawab, mewakilkan. "Kalau nggak malu, nggak mungkin juga Aa pakai wig. Biarkan saja tampil di depan publik tanpa rambut."


"Ya kalau malu, kenapa harus digundul? Memangnya banyak kutunya? Nggak mungkin, kan?"


"Itu memang bukan karena kutu, tapi karena hukuman dari Abi, Pi." Syifa berkata jujur, tapi jawabannya kembali membuat Papi Paul penasaran.


"Hukuman?! Hukuman apa dan kenapa Joe dihukum?"


"Yang ... apa nggak apa-apa, kalau Papi tau?" Joe tampak ragu, kalau sampai Syifa berterus terang. Bukan apa-apa, tapi dia hanya takut nantinya Papi Paul justru marah kepada Abi. Karena rasa tidak terima.


"Papi harus tau dong, alasannya!" sergah Papi Paul cepat. "Kamu juga udah pernah berjanji kepada Papi, kalau kedepannya kalian harus saling terbuka tentang apa pun. Jadi sekarang ceritakan yang sebenarnya!" tekannya kemudian.


Joe merelai pelukan, lalu mengusap kedua pipinya yang basah. "Oke, aku akan cerita. Tapi janji Papi jangan marah padaku, atau pada Abi."


"Apa dulu itunya? Kalau keterlaluan pasti Papi marahlah."


"Tapi itu kesalahan aku, Pi, aku dan Syifa khilaf."


"Cepat ceritakan dulu! Papi penasaran, Joe!" Papi Paul terlihat sudah tidak sabar dan begitu geregetan.

__ADS_1


"Itu berawal aku dan Syifa sedang bercumbu, Pi." Joe akan mengutarakannya dengan jelas. "Pasti Papi mengerti ... hal-hal apa saja yang dilakukan seorang suami istri saat ingin bercinta. Dan kami melakukannya. Tapi kami sendiri nggak sadar ... kalau ternyata posisi ada Robert dikamar, sedangkan Robert sudah memergoki."


"Kalian bercinta di dalam kamar yang ada Robertnya juga? Begitu?" tebak Papi Paul yang kembali mulai emosi, kedua tangannya bahkan terlihat sudah mengepal kuat.


"Kami belum bercinta, baru pemanasan. Dan Robert tadinya udah tidur, Pi ... cuma kebangun," jelas Joe.


"Pemanasannya sampai sudah buka-bukaan?"


"Aku posisi cuma pakai handuk, karena habis mandi. Sedangkan Syifa baru kulepas beberapa kancing bajunya."


"Udah gesek-gesekannya?"


"Beluuumm!!" Joe menggelengkan kepalanya. "Cuma nyusu doang," tambahnya keceplosan, tapi dia langsung menutup bibirnya.


"Ya ampun!!" Papi Paul tepok jidat, lalu geleng-geleng kepala. "Keterlaluan kalian ini!! Nggak lihat tempat!" omelnya marah.


"Kan aku sudah bilang, khilaf, Pi. Namanya orang khilaf gimana? Posisi juga lagi enak-enaknya. Jadi mana inget?" Joe berbicara dengan enteng dan mencoba sesantai mungkin, supaya rasa emosi yang terlihat diwajah Papi Paul meluntur.


"Tapi kenapa sampai dihukum segala? Dan kenapa harus dengan cara digundul si Joe? Harusnya tolak saja, itu hukuman mertuamu sudah sangat keterlaluan!!" geram Papi Paul tak terima.


"Mungkin Abi ingin memberikanku efek jera, Pi. Dan sebetulnya ... ada banyak hukuman yang sempat Robert usulkan. Karena dia mendukung sekali ... ketika aku dihukum. Tapi Abi Hamdan pilih mengunduliku."


"Apa saja?"


"Lari keliling kompleks tanpa celana, berjemur di halaman rumah seharian, tidur terpisah dengan Syifa selama seminggu dan—"


"Lho, kenapa mertuamu ngga milih kamu dan Syifa tidur terpisah saja? Mending itu daripada digundul, Joe," sela Papi Paul cepat.


"Itu sama saja seperti pisah ranjang, dalam Islam nggak boleh, Pi. Dosa. Lagian aku juga nggak mau, tidur berpisah sama Syifa, apa lagi seminggu." Joe pun meraih tubuh Syifa kembali, kemudian mengecup singkat bibir ranumnya. Terlihat jelas memang, jika Joe begitu mencintai istrinya.


"Ya sudah ... begini saja ...." Papi Paul mendesaah, sambil berusaha untuk melepaskan rasa kesal di dadanya. "Supaya adil, Syifa juga digundul."


Joe dan Syifa sontak terbelalak. Keduanya terkejut mendengar apa yang Papi Paul ucapkan.


"Jangan, Pi! Nggak usah!" tolak Joe sambil menggelengkan kepalanya.


"Kenapa nggak usah? Ya biar adil dong!"


"Masalahnya sudah selesai, Pi. Dan aku juga sudah digundul. Jadi buat apa Syifa ikutan digundul?"


"Kan Papi bilang biar adil! Kamu denger nggak, sih?" Papi Paul berteriak, kembali meninggikan nada suaranya. "Kesalahan itu bukan hanya kamu. Tapi Syifa juga salah." Menunjuk pada sang menantu dengan tatapan tajam. "Intinya kalian berdua salah ... jadi kenapa harus kamu sendiri yang menanggungnya?"


"Kan aku suaminya." Joe menepuk dada. "Dan aku yang memang nafsu duluan, Pi!"


"Nggak bisa!" Papi Paul terlihat kekeh. Tidak! Dia tidak terima akan hal itu. Kalau pun Joe sudah mendapatkan hukuman, Syifa juga harus mendapatkannya. Karena kesalahan itu dilakukan secara bersama dan Papi Paul yakin—jika Syifa tidak mungkin terpaksa saat Joe menyesap buah dadanya. "Pokoknya Papi mau Syifa juga ikut digundul! Pokoknya harus!"


...Waduhhhhh 🤦🏻‍♀️🤦🏻‍♀️...

__ADS_1


__ADS_2