Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
47. Kita bermalam di sini


__ADS_3

"Eemmm ... jadi gini, aku 'kan ada rencana ingin menghabiskan malam bersama Syifa malam ini. Dan yang ingin aku tanyakan apakah ada ... do'a supaya rencana itu berhasil? Soalnya selama ini aku sering gagal, Tad. Ada aja gangguan. Gitu maksudnya," jelas Joe. Sebenarnya agak malu, tapi kalau tidak dijelaskan takut Ustad Yunusnya tak mengerti.


"Ooh ...." Ustad Yunus langsung terkekeh, merasa lucu dengan apa yang dia dengar. Apalagi melihat wajah Joe yang mendadak muram. "Tapi maaf, Pak, setahu saya ... nggak ada do'a semacam itu."


"Nggak ada?" Wajah Joe tampak sendu bercampur kecewa.


"Iya, Pak. Setahu saya nggak ada. Tapi Bapak bisa membaca do'a ini; "Bismillah, Allahumma jannibnaassyyaithaana wa jannibi syaithoona maarazaqtanaa”


"Itu do'a apa, Tad?" tanya Joe bingung.


"Niat ingin berhubungan badan. Mungkin dengan membaca do'a itu ... bisa membantu mengatasi masalah Bapak."


"Tapi artinya apa, ya, Tad?"


"Dengan menyebut nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari (gangguan) setan dan jauhkanlah setan dari rezeki yang Engkau anugerahkan kepada kami," jelas Ustad Yunus.


"Aku coba deh. Tadi apa bacaannya, Tad? Mau aku khafalin." Joe cepat-cepat merogoh kantong celana bahannya untuk mengambil ponsel, lalu memberikan kepada Ustad Yunus.


Pria berpeci hitam itu mengangguk, kemudian menuliskan bacaan latin tersebut ke ponsel Joe dan langsung memberikannya kembali.


"Kalau do'a ingin berhubungan badannya sendiri Bapak sudah tau?" tanya Ustad Yunus.


"Memangnya tadi beda, Tad? Kan katanya buat berhubungan badan."

__ADS_1


"Tadi itu niatnya. Tapi kalau yang ini adalah untuk dimana Bapak dan Syifa akan melakukan."


"Oh, pas mau eksekusi, ya, maksudnya," tebak Joe dengan mengangguk-anggukan kepalanya. "Coba ditulis lagi saja, Tad. Biar nanti aku khafalin juga." Dia kembali memberikan ponselnya kepada Ustad Yunus dan pria itu pun menuliskannya lagi pada aplikasi note.


"Jangan lupa juga untuk berwudhu dulu, ya, Pak, sebelum bercinta. Tapi akan lebih bagus lagi kalau mandi. Karena supaya kalian sama-sama wangi dan makin lengket pastinya," saran Ustad Yunus.


"Lho, wudhu itu 'kan kalau kita mau sholat, Tad. Masa mau bercinta juga wudhu?"


"Berwudhu itu nggak harus mau sholat saja, Pak. Ada banyak aktivitas yang kita lakukan untuk diharuskan berwudhu."


"Contohnya apa saja, Tad?" Niat awal ingin bertanya mengenai do'a, sekarang pembahasan mereka justru panjang. Tapi tentu ini juga akan menjadi ilmu untuk Joe.


"Cukup banyak. Tapi koreksi kalau saya salah, karena manusia tempatnya khilaf. Yang pertama setelah menyalami orang musyrik, setelah mengusung mayit, untuk mengulangi persetubuhan, ketika marah, setelah menyentuh orang yang berpenyakit kusta, ketika mengalirkan (mengeluarkan) darah, setiap kali hendak shalat, hendak membaca Al-Qur'an, setiap kali berhadats, sebelum makan dan sebelum tidur ketika junub, ketika hendak menyebut nama Allah SWT dan ketika hendak tidur," jelas Ustad Yunus panjang lebar. "Kalau ada yang kurang, Bapak bisa mencari informasinya lebih lengkap lewat ke buku fiqih. Atau bertanya langsung pada Ustad Hamdan yang menurut saya pribadi ilmunya jauh diatas saya."


"Terima kasih atas penjelasannya, Tad. Ini sangat membantu. Tapi, Tad ... kalau misalkan kita lupa gimana? Kayak tadi yang ternyata kalau ingin mengulang persetubuhan itu musti wudhu lagi. Maksudnya itu kalau mau nambah ronde, kan, ya?"


"Iya, Pak." Ustad Yunus mengangguk. "Kalau semisalkan Bapak sendiri lupa tidak berwudhu dengan apa yang sudah saya sebutkan tadi ... itu nggak masalah. Karena manusia tempatnya lupa, tapi tidak ada salahnya jika kita membiasakannya. Karena insya Allah ... kalau kita terbiasa, itu seperti hal wajib untuk diri sendiri. Sama halnya seperti kita sholat lima waktu."


"Iya, Ustad benar." Joe mengangguk setuju. Rasanya senang sekali mendengar penjelasan dari Ustad Yunus, dan sedikit menghilangkan rasa keresahan di hati Joe. Sebab merasa takut jika dia kembali gagal. "Terima kasih atas ilmunya, Tad. Ustad selalu membantuku. Nanti kalau malam ini aku berhasil ... aku akan memberikan satu ekor unta untuk kurban Ustad pas hari raya haji."


"Nggak perlu, Pak," tolak Ustad Yunus sambil menggeleng dan tersenyum tipis. Bukan menolak rezeki, hanya saja dia sendiri sudah menyiapkan kurban. Meskipun hanya seekor domba. "Saya malah senang, kalau bisa membantu Bapak. Dan saya juga 'kan dapat pahala dari Allah."


"Mulia sekali Ustad ini. Tapi ngomong-ngomong ... Ustad kondangan hanya sama Pak RT saja, ya? Di mana istri atau pacar Ustad?" Joe menatap sekitar, dan terhenti pada tempat duduk yang sempat Ustad Yunus duduki. Dan di sana kosong, tak ada siapa-siapa.

__ADS_1


"Saya belum punya istri dan nggak berniat pacaran, Pak," jawab Ustad Yunus. "Karena dalam Islam 'kan berpacaran itu haram."


"Benar juga, sih, tapi ini berarti Ustad jomblo dong?"


"Iya."


"Maaf ya, Tad, aku jadi nggak enak membahas masalah berhubungan badan. Sedangkan Ustad sendiri belum menikah." Joe tersenyum canggung. Dia jadi merasa tak enak hati, takut pembahasan tadi menyinggung perasaan Ustad Yunus. Kebanyakan orang jomblo 'kan sangat sensitif, mudah sekali marah jikalau membahas hal berbau cinta.


"Nggak masalah, Pak." Ustad Yunus tersenyum dengan santai. "Saya akan ikut mendo'akan juga, semoga setiap apa yang dilakukan Pak Joe ... selalu diberikan kelancaran."


"Amin ya, Allah." Joe langsung mengusap wajahnya dengan kedua tangan. "Saya juga akan mendo'akan Ustad supaya secepatnya mendapatkan jodoh."


"Amin juga, Pak," jawab Ustad lalu menyentuh perutnya. "Oh ya, apa ada lagi? Saya kebetulan mules, nih, Pak. Pengen ke toilet."


"Udah cukup kok, Tad. Sekali lagi terima kasih, ya?"


"Sama-sama." Ustad Yunus mengangguk, lantas melangkah pergi meninggalkan Joe.


Sedangkan Joe langsung menghampiri Syifa, yang sudah duduk di sofa pelaminan bersama Umi Maryam. Terlihat pria itu tengah menyuapi anaknya dengan buah buah naga yang sudah dipotong-potong menjadi dadu di atas piring.


"Yang ... kamu ngerasa capek, nggak?" tanya Joe penuh perhatian, lalu mengusap punggung istrinya dengan lembut. Syifa langsung menoleh dan sedikit mendongak untuk menatap sang suami yang berdiri di sampingnya. "Kalau capek, kita istirahat saja ke kamar, yuk, aku pesan kamar hotel untuk kita bermalam di sini, lho."


"Pestanya belum selesai, masa udah masuk kamar, A?"

__ADS_1


"Ya nggak apa-apa. Memangnya kenapa? Kan ini pesta kita, suka-suka kita mau gimana. Yang terpenting 'kan foto nikahan sudah, makan malam sudah, jadi mau nunggu apa lagi? Iya, kan?" Joe tampak berseri dengan kedua pipi yang merona.


...Orang mah langsung jujur aja kalau emang udah kebelet banget 🤣...


__ADS_2