
Grep!
Baru saja Syifa mengenggam tongkat bisbol milik suaminya, memang terasa sudah sangat mengeras, tapi secara tiba-tiba sang pemiliknya itu terbangun dari tidurnya. Membuka matanya secara perlahan.
"Yang ...," panggil Joe dan sontak saja membuat Syifa terkejut. Buru-buru dia melepaskan tongkat, lalu menarik tangannya dari dalam celana Joe.
"E-eh, Aa ...," cicit Syifa yang tampak panik sendiri, sampai-sampai bicara dengan gagap. "Aa be-belum ti-tidur, ya?"
"Kamu ngapain? Kepengen bercinta, ya?" tebak Joe yang langsung tepat sasaran.
"Enggak kok," jawab Syifa berbohong disertai gelengan kepala. Bagaimana mungkin dia jujur kalau memang senang birahi, pastilah malu.
"Kalau nggak kenapa pegang tongkatku?" Mata Joe memicing, menatap Syifa dengan curiga.
"Siapa yang pegang? Orang nggak," kilah Syifa, tapi wajahnya sudah memerah sekarang. Bahkan tubuhnya pun berbalik ke arah Robert, supaya Joe tak melihat betapa malunya dia sekarang.
"Masa? Tapi kok sampai masuk ke dalam celanaku segala?" Joe mendekatkan miliknya pada bokong sang istri, lalu menggesek-geseknya dengan sengaja karena supaya istrinya itu mengakui, kalau memang dia ingin bercinta.
Memang Syifa ini memiliki gengsi yang tinggi, jadi Joe begitu hafal dengan karakter istrinya.
__ADS_1
"Eng ... enggak masuk ke dalam celana, A. Aku cu-cuma benerin celana Aa yang melotot ... iya, bener." Syifa menelan ludahnya dengan kasar. Aliran darah ditubuhnya seketika berdesir dengan cepat, sesuatu dibawah sana pun ikut berkedut merasakan sentuhan yang dilakukan sang suami.
"Ah bohong aja kamu, Yang. Dasar gengsian. Sejak kapan juga celana ada matanya, sampai bisa melotot." Joe terkikik, melihat Syifa yang seperti salah tingkah juga dengan salah bicara.
Tapi seketika saja, rasa kesalnya kepada orang tuanya tadi sore langsung lenyap begitu saja, setelah melihat apa yang istrinya itu lakukan.
'Aku suka kamu nakal begini, Yang,' batin Joe.
Syifa hanya melipat bibirnya, lalu memejamkan mata. Tapi sungguh dalam hati, dia ingin sekali digendong oleh Joe. Atau setidaknya suaminya itu mengatakan jika ingin mengajaknya bercinta.
'Ayok dong, A, gendong aku. Atau ngomong kalau Aa juga kepengen bercinta sekarang. Malu dong ... masa cuma aku yang kepengen, sedangkan Aa nggak.'
Melihat suaminya itu beranjak, Syifa yang begitu penasaran langsung menoleh ke arahnya. "Mau ke mana, A? Pipis?"
"Aku mau ke kamar sebelah," jawab Joe pelan sambil mengigit bibir bawahnya. Nakal sekali dia, kembali dengan sengaja menggoda Syifa yang terlihat sudah kepanasan. Bahkan wajahnya kini tampak berkeringat banyak. "Kalau memang kamu beneran kepengen bercinta denganku ... aku tunggu di sana. Aku punya gaya lalat terbang, Yang."
'Lalat terbang? Seperti apa gaya lalat terbang?' Syifa tentu langsung memikirkannya, juga membuatnya penasaran bercampur tak kuat.
Setelah melihat Joe menghilang dari balik pintu kamar, Syifa pun buru-buru beranjak dari kasur lalu menyusulnya.
__ADS_1
Tidak sabar sekali dia untuk terbang tinggi dengan lalat.
'Yang Aa katakan tadi artinya mengajak, kan? Jadi nggak apa-apa dong kalau aku samperin dia. Tapi harusnya sih dia gendong aku, biar kelihatan romantis dan buat aku makin meleleh.' Syifa membatin dalam hati.
Langkahnya kini sudah berada di depan kamar tamu. Perlahan tangannya itu menurunkan gagang pintu, lalu mendorongnya dan masuk ke dalam.
"Tuh 'kan bener, kamu mau. Buktinya kamu udah samperin aku, Yang." Joe berbicara dengan tawa renyahnya.
Pria itu sudah berada di atas kasur dan tanpa busana. Pemandangan seperti itu benar-benar membuat Syifa makin panas dingin.
Tanpa menjawab gurauan dari sang suami, Syifa pun segera menutup pintu kamar, lalu menguncinya dengan rapat.
"Ayok cepat naik. Kita pemanasan dulu sebentar," titah Joe sambil menepuk kasur.
Bagai kerbau yang dicucuk hidungnya, Syifa pun dengan patuh naik ke atas kasur. Kemudian berbaring terlentang di samping Joe.
"Mau request berapa ronde kamu, Yang?" Joe perlahan naik ke atas tubuh Syifa, lalu menarik kerudungnya hingga terlepas.
"Pokoknya sampai lemes, A."
__ADS_1
...Gassss lah Om ðŸ¤ðŸ¤£...