Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
206. Sudah pernah ketemu sekali


__ADS_3

"Serius, nih?" tantang Joe sambil tertawa. "Tapi tunggu siapa yang lemes nih? Aku apa kamu?"


"Aa lah, aku mana mungkin lemes. Aku 'kan kuat."


"Masa, sih? Ayok kita buktikan sekarang!" Pria itu kembali menantang.


Dan tanpa berlama-lama, percumbuan itu pun langsung dilakukan. Tapi tentu dengan sedikit sentuhan pemanasan.


*


*


*


Keesokan harinya.


Robert dengan perlahan membuka mata. Dia terbangun dari tidur ketika mendengar suara alarm pada jam weker yang menunjukkan waktu Subuh tiba.


"Lho, Mommy dan Daddy ke mana?" Robert mengerutkan keningnya, merasa heran lantaran memerhatikan kasur tak ada Syifa mau pun Joe. "Mommy! Daddy!" teriaknya memanggil.


Dia pun turun dari kasur, kemudian berjalan cepat menuju kamar mandi. Di dalam pikirannya, kedua orang tuanya itu pasti ada di dalam kamar mandi. Pasti sedang mengambil air wudhu.


Namun, nyatanya mereka tak ada di sana.


"Ke mana sih ... Mommy dan Daddy? Kok ngilang?"


Karena tiba-tiba merasa ingin buang air kecil, jadilah Robert kencing terlebih dahulu sambil mencuci muka. Barulah setelah itu dia melangkah keluar dari kamar.


"Eh ... Adek Robert sudah bangun?"


Terlihat ada Bibi pembantu diluar, dia sedang mengepel lantai. Tapi menyempatkan untuk menyapa Robert ketika melihatnya.


"Iya, Bi," jawab Robert sambil tersenyum. "Oh ya, Bibi lihat Mommy dan Daddy nggak? Mereka kok nggak ada dikamar, ya?"


"Bibi kurang tau, Dek." Bibi pembantu menggeleng kepala. "Dari semenjak Bibi bangun ... Bibi nggak lihat orang tua Adek."


"Dari jam berapa memangnya, Bibi bangun?"


"Jam 4."


"Tadi sempat ke dapur nggak? Apa lihat mereka di sana?"

__ADS_1


"Pas bangun Bibi langsung ke dapur, Dek, buat cuci piring. Tapi Bibi nggak lihat mereka."


"Oh ya sudah." Robert melangkah menuju tangga, tapi tiba-tiba Bibi pembantu kembali memanggilnya.


"Sekarang Adek mau ke mana?"


"Robert kepengen cari Mommy dan Daddy diluar rumah. Barang kali mereka lagi jogging."


"Hati-hati, Dek."


"Iya, Bi."


Robert berjalan cepat untuk keluar rumah. Sampainya di sana, dia langsung menoleh ke kanan dan kiri. Mencari keberadaan kedua orang tuanya.


"Ke mana sih mereka? Tapi mobil Daddy ada."


Pandangan mata Robert pun terhenti pada mobil Lamborghini milik sang Daddy tercinta, yang terparkir rapih di halaman rumahnya.


Namun, dia masih bertanya-tanya, sebab keduanya belum terlihat di depan mata.


"Dek Robert ngapain keluar rumah? Cari siapa?" Seorang satpam rumahnya datang menghampiri.


"Om tau Daddy sama Mommy nggak? Kok dikamar mereka nggak ada, ya?" tanya Robert heran.


"Mangkanya itu, Robert juga bingung, Om. Mobilnya ada, tapi mereka nggak ada dikamar." Robert menggaruk kepala botaknya yang mendadak terasa gatal.


"Mungkin mereka lagi mandi, Dek."


"Nggak ada, Om. Robert udah cari ke kamar mandi tadi," jawab Robert lalu menatap jam pada pergelangan tangannya yang tiba-tiba berdering bunyi alarm. "Ya udah deh ... Robert kepengen sholat Subuh dulu. Takut waktunya keburu habis gara-gara nyari Daddy dan Mommy. Nanti kalau udah selesai baru cari lagi."


"Iya, Dek." Satpam itu mengangguk sambil tersenyum, kemudian menatap Robert yang berlalu masuk ke dalam rumah.


*


*


Ceklek~


Sebuah pintu kamar tiba-tiba saja dibuka, saat Robert telah menyelesaikan sholatnya dengan gerakan salam.


Joe yang melakukannya, dia masuk bersama Syifa tapi terlihat dengan pakaian berbeda. Keduanya juga tampak seperti sudah mandi. Selain segar, rambut Syifa juga tampak basah tanpa kerudung.

__ADS_1


Setelah mengusap wajah, Robert pun lantas bertanya, "Mommy dan Daddy habis dari mana? Robert cari-cari lho tadi."


"Daddy sama Mommy tadi ke kamar tamu, Nak," jawab Syifa. Dia tersenyum dengan langkah kaki yang mendekat ke arah sang anak, lalu berjongkok dan mencium keningnya.


"Ngapain ke kamar tamu?" tanya Robert penasaran.


"Mommy bantuin Daddy cari dasi," jawab Joe beralasan, lalu menyentuh dasi yang saat ini sudah melingkar pada kerah kemejanya. "Daddy lupa, pernah nyimpen dasi ini di lemari kamar tamu. Jadi karena mau dipakai ... Daddy minta bantuan Mommy untuk mencarinya. Supaya cepat ketemu."


"Tapi kok bisa, dasi Daddy ada di kamar tamu? Bukannya selama ini Daddy nggak pernah tidur dikamar tamu, ya?" Robert terlihat bingung, lalu mencopot peci di atas kepalanya.


"Daddy pernah kok tidur dikamar tamu, Rob," jawab Joe yang kembali berbohong.


"Udahan dulu ngobrolnya. Mommy sama Daddy mau sholat Subuh dulu, takutnya ketinggalan waktu." Demi terbebas dari pertanyaan, Syifa langsung mengalihkan pembicaraan. Tapi memang dia dan Joe benar-benar belum sholat Subuh.


'Kok aku merasa ... Mommy sama Daddy aneh, ya?' Robert mengerutkan keningnya, sambil memerhatikan kedua orang tuanya yang berlalu masuk ke dalam kamar mandi. Apalagi dia gagal fokus melihat Syifa yang jalannya begitu ngangkang. 'Kenapa dengan jalannya Mommy? Kok begitu? Dan mereka juga terlihat sudah mandi. Apa mungkin sekalian mandi dikamar tamu juga?'


Beberapa rentetan pertanyaan itu berada di dalam benaknya, tapi ada sedikit kelegaan hati—sebab Robert sudah melihat mereka kembali.


***


Sebuah mobil sedan berwarna hitam melintasi jalan raya, Ustad Yunus lah yang berada di dalamnya.


Pagi ini dia ada niat berziarah ke makam Ayahnya. Selain ingin mengirim doa, Ustad Yunus juga merasakan kerinduan.


Namun, tiba-tiba dia melihat ada seorang gadis berhijab hitam yang berdiri di sisi jalan sambil memegang tas dan sebuah map. Dari wajahnya, Ustad Yunus merasa sedikit familiar. Dan akhirnya, dia pun memutuskan untuk menghentikan mobilnya tepat di depan gadis itu.


"Maaf ... Nona sedang apa dan apakah butuh bantuan?" tanya Ustad Yunus yang sudah menurunkan kaca mobilnya. Dia bertanya seperti itu karena sebelumnya gadis tersebut terlihat sibuk mencari sesuatu. Terus menoleh ke kanan dan kiri.


"Oh ... ini aku lagi cari taksi, Pak. Tapi dari tadi perasaan kok nggak lewat-lewat." Gadis itu menatap Ustad Yunus sambil tersenyum.


"Memangnya kalau boleh saya tau ... Nona mau ke mana? Barangkali saya bisa membantu untuk memberikan tumpangan?"


"Aku mau pergi ke sekolah SD terdekat sini, Pak. Dan kalau Bapak nggak keberatan ... aku mau numpang saja ke mobil Bapak biar cepat sampai. Apa boleh?" tanyanya.


"Tentu boleh, Nona. Kan saya yang menawari Anda duluan." Ustad Yunus segera membuka sabuk pengamannya, lalu menggeserkan tubuhnya untuk bisa membukakan pintu di sampingnya. "Silahkan masuk."


"Terima kasih, Pak." Gadis itu langsung masuk, kemudian duduk dan tersenyum manis. "Tapi ngomong-ngomong ... Bapak mau pergi ke mana? Memang nggak apa-apa, nih, kalau aku numpang?"


"Saya mau ke tempat pemakaman umum. Tapi 'kan melewati sekolah SD, Nona, jadi biar sekalian lewat," jawab Ustad Yunus lalu menyalakan kembali mesin mobilnya yang sempat dia matikan. "Nona udah siap belum? Kita berangkat sekarang?"


"Siap, Pak." Gadis itu mengangguk cepat.

__ADS_1


Tak lama, mobil itu pun melaju pergi. Membelah jalan raya. Untuk sebentar—Ustad Yunus menoleh pada gadis di sampingnya. "Sepertinya, kita sudah pernah ketemu sekali, ya? Dan kalau boleh tau ... nama Nona sendiri siapa? Kalau saya Yunus."


^^^Bersambung....^^^


__ADS_2