Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
229. Harga diriku


__ADS_3

"Ayok memanjat sesuai kesepakatan yang kita buat," ucap Joe memberikan instruksi.


"Siap, Pak!" seru yang lain.


Saat diumumkan lomba panjat pinang dan mereka sepakat untuk bergabung dalam satu grup, semuanya sudah menyalurkan ide bagaimana tata cara memanjat yang baik dan benar.


Selain Joe, Tian juga baru pertama kali ikut serta lomba panjat pinang dan mereka menurut saja apa yang diucapkan oleh anggota yang lain. Yang menurutnya lebih pengalaman.


Dilihat dari postur tubuh, dari kelima pria dewasa itu yang memiliki tubuh jauh lebih tinggi dan besar adalah Jaccob. Jadi dialah orang yang menjadi pondasi untuk lomba mereka.


Setelah pria itu memeluk bambu, kini Burhan dengan perlahan naik ke atas tubuh Jaccob dan berhasil menginjak kedua pundaknya.


Sekarang giliran Joe. Dengan hati-hati dia juga memanjat tubuh anggota grupnya. Meskipun awalnya terlihat sulit, nyatanya dia bisa naik ke atas pundak Burhan.


"Pak Joe!"


"Pak Joe!"


"Pak Joe!"


Suporter bayaran sudah mulai meneriakkan namanya. Begitu pun dengan kedua orang tua dan mertuanya.


"Semangat, Jon!"


"Semangat Joe! Kamu pasti bisa!"


Tidak hanya para orang tua, anak-anak dari mereka juga ikut menyemangati. Kelima bocah itu sudah melompat-lompat di sisi lapangan.


"Daddy! Semangat Daddy!" seru Robert.


"Papi! Papi!" seru Juna.

__ADS_1


"Papa! Semangat!" seru Baim.


"Daddy pasti menang!" seru Leon.


"Papa yang keren pasti juara!" seru Atta.


"Astaghfirullahallazim!" Joe sontak membulatkan matanya, kala terkejut menatap ke bawah.


Padahal dia berada diurutan ketiga, tapi nyatanya menurutnya itu sudah sangat tinggi. Dan benar apa yang dikatakan Papi Paul, dia memang takut ketinggian.


'Ya Allah ... kuatkan hamba.' Demi mengatasi rasa takutnya, Joe pun memilih untuk menutup kedua mata. Meskipun dapat merasakan jika kedua dengkulnya sudah bergetar.


'Lho, Pak Joe kok gemetaran begitu?' Burhan tentu dapat merasakannya, sebab kedua kaki Joe tepat pada pundaknya.


"Pak Joe aku mau naik! Bapak yang fokus dan jangan grogi!" seru Tian, dan kini gilirannya untuk naik ke pundak Joe.


"Iya, Pak!" sahut Joe cepat tanpa membuka mata. Lalu kembali berdoa dalam hati. Mencoba meyakinkan diri jika dia adalah pria pemberani. 'Jangan takut, Joe! Buktikan kepada semua orang bahwa aku nggak takut ketinggian. Apalagi ada Syifa yang lihat, pasti dia bangga kalau aku mampu bertahan sampai mendapatkan juara,' batinnya dalam hati.


"Bismika allahumma ahyaa wa bismika amuut."


"Asyhadu an laa ilaaha illallah wahdahu laa syariikalah. Wa asyhadu anna muhammadan 'abduhuu warasuuluh. Allaahummaj'alnii mina-t-tawwaabiina waj'alnii minal mutathahhiriin."


"Nawaitul ghusla li raf'il hadatsil akbari fardhol lillahi ta'ala."


Segala macam do'a yang Joe tau sudah dia panjatkan. Itu semua dilakukan untuk mengatasi rasa takutnya.


"Sudah siap ya, Pak Tian. Aku mau naik nih!" Ammar mendongakkan wajahnya, dan menatap Tian yang sudah berdiri di atas pundak Joe.


Seperti apa yang dikatakan oleh Ammar diawal, kalau dia pintar dalam urusan manjat memanjat. Jadi dialah orang yang akan berada dipuncak nantinya.


"Siap, Pak! Cepat naik!" sahut Tian.

__ADS_1


Ammar pun mengangguk, kemudian dia mulai memanjat tubuh teman-temannya.


Sayangnya saat hendak naik ke atas tubuh Joe, dia justru terlihat kesulitan lantaran kakinya licin terkena oli bambu.


Sedikit lagi dia hampir jatuh, kalau tidak berpegangan pada bokong pria itu. Hanya saja sialnya, Ammar justru memegang pada bagian kolor celananya. Dan alhasil benda itu melorot sehingga bokong Joe terekspos dengan jelas di depan para penonton.


"Astaghfirullah Aa!" seru Syifa yang sontak melotot. Refleks dia langsung menutup mata Gisel di sampingnya, karena tak mau perempuan itu melihat bokong putih suaminya.


Tapi, apa kabar dengan penonton wanita yang lain? Tentu ikut menyaksikan juga.


Dan parahnya, ada yang diam-diam mengabadikan juga. Memotret dengan ponselnya.


"Ya Allah! Harga diriku, Pak!" seru Joe dengan keterkejutan yang terjadi. Cepat-cepat dia menarik celananya ke atas dan seketika membuat Ammar terjatuh, karena tangannya berhasil terlepas dari kolor yang Joe kenakan.


Bruk!!


"Aawww!!"


"Eh, eh, Pak Joe!" Tian berdiri tidak seimbang dan mulai oleng, lantaran tubuh Joe terus bergerak-gerak. Alhasil dia pun ikut terjatuh menyusul Ammar.


Bruk!!


Teeett ... Teeeettt ....Teeett.


Bel pun berbunyi, yang menandakan jika sesi panjat pinang mereka telah berakhir.


"Kalian gagal!" seru Gisel.


"Ih Papa payah! Nggak keren!" gerutu Atta yang kesal kepada Ammar, melihatnya sudah terlentang di lapangan sambil menyentuh bokong.


...Jangan lupa vote sama hadiahnya, ya, Guys 🙏 biar Authornya semangat update ☺️...

__ADS_1


__ADS_2