Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
131. Ngompol dicelana


__ADS_3

...Sebelumnya Author mau minta maaf, kalau misalkan ada bahasa Korea atas Inggris yang pas dibaca ngaco. Mohon dimaklumi saja, karena itu dari google translate šŸ™šŸ˜‚...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kaget aku, Yang, lampunya tiba-tiba mati," jawab Joe dengan suara yang ikut bergetar.


"Lho, bukannya itu wajar, A? Kan filmnya udah mau dimulai."


"Oh, iya, ya?"


"Nggak usah lebay deh, Dad, masa baru juga mulai udah ketakutan? Cemen amat!" cibir Robert dengan bibir yang menggeriting, menatap Joe dengan sinis.


"Enak saja kamu, Rob, siapa juga yang cemen? Nggak, ya!" bantah Joe sambil mencebik bibir.


"Kalau nggak cemen udah dong jangan peluk Mommy mulu, kasihan Mommy ... dia juga pasti mau nonton film." Robert menarik lengan Joe, sehingga melepaskan pelukannya kepada Syifa.


"Pelit amat. Orang peluk doang kok nggak boleh? Mommy juga 'kan istri Daddy, Rob."


"Bukan pelit, tapi 'kan Robert sudah katakan ... kalau Mommy juga mau nonton. Tubuh Daddy 'kan besar, jadi menghalangi!"


"Ah alasan kamu saja itu, bilang saja emang nggak boleh."


"Ih apaan sih, Daddy! Kok jadi ngeselin?!" Robert mulai meninggikan nada suaranya, terlihat dia sudah terpancing emosi.


"Aa ... Robert ... kalian nggak perlu berantem," tegur Syifa menasehati. Selain itu dia juga merasa tak enak karena mereka menjadi pusat perhatian penonton yang lain. Mungkin, mereka merasa terganggu oleh ocehan keduanya. "Mending kita fokus nonton saja, ya?"


"Iya, Mommy," sahut Robert sambil tersenyum, kemudian mengenggam tangan Syifa.


Syifa pun menaruh minumannya dan minuman Robert pada lengan kursi masing-masing. Supaya enak mengambilnya. Tak lupa dia juga langsung mencicipi popcorn dan menyuapi ke mulut Robert.


Joe sudah duduk dengan sempurna di tempatnya, tapi kedua matanya itu langsung tertutup rapat.


Entah apa yang dia lakukan, tapi jujur saja—suara dari film itu benar-benar membuat bulu kuduknya berdiri. Apalagi dengan suara cekikikannya.


"Hihihi!"


'Padahal udah merem, tapi tetap aja kok aku merasa takut, ya?' batin Joe yang terdiam sambil merasakan jantungnya berdebar kencang.

__ADS_1


Awal cerita film itu langsung memunculkan tokoh seorang perempuan cantik, dia berambut panjang hitam legam dan tengah berbaring di atas kasur dengan mata terpejam.


Namun, dengan perlahan kepalanya itu tertarik sendiri hingga menjauh dari tubuhnya. Dan ternyata tak hanya kepala, tapi juga dengan usus-ususnya yang berceceran darah.


Seketika, wajahnya pun menjadi seram dan keriput seperti nenek-nenek. Berikut dengan rambutnya yang menjadi putih.


"Astaghfirullah!" Robert sontak membulatkan matanya dan menyentuh dada yang berdebar. Dia merasa kaget sebab wajah si tokoh utama itu tiba-tiba memenuhi isi layar bioskop.


"Kamu nggak apa-apa, Nak? Apa kamu takut?" tanya Syifa yang terlihat khawatir. Dia juga ikut menyentuh dada anaknya.


"Enggak takut, Mom. Cuma Robert kaget," jawab Robert sambil menggelengkan kepalanya. Tapi matanya itu masih fokus menatap ke depan.


"Hati-hati lho, Rob ... jangan sampai kamu kencing dicelana," ucap Joe menakut-nakuti. Padahal dia sendiri juga takut bahkan tak berani membuka mata. Tapi masih sempat-sempatnya meledek anaknya.


"Enak saja. Daddy kali yang bakal kencing dicelana," balas Robert.


Syifa hanya tersenyum dan ikut menonton. Tapi dia terlihat santai, sebab dirinya memang bukan tipe orang yang penakut.


"Aaaakkhh!!"


Tiba-tiba terdengar seorang pria yang menjerit-jerit. Kemudian disusul suara derap langkah yang begitu cepat.


"Tolong! Tolong! Jangan ganggu aku! Aaaakkhh!"


"Kuyang berhenti menganggu temanku!"


"Aku butuh jantungnya! Aku butuh!"


"Tidak, jangan! Aakkhh ... tolong! Sakittttt ...!!"


Joe menelan ludahnya dengan susah payah, telinganya terasa berdengung dan panas sekali mendengar suara-suara dari film itu. Ditambah jantungnya pun ikut berdebar makin tak karuan dan seluruh tubuhnya nyaris menegang.


'Duh ... aku nggak tau lagi bacaan do'a takut. Apakah aku musti menghubungi Ustad Yunus?' batinnya.


Joe teringat, jika suatu do'a akan bisa mengatasi masalahnya. Tapi disini—dia benar-benar tak tahu bacaan do'a takut.


'Allahumma barik lana fi ma razaqtana waqina 'adhaban-nar,' batin Joe yang mengucapkan do'a makan. 'E-eh ... tapi itu 'kan do'a makan. Mana bisa untuk mengusir rasa takut?'

__ADS_1


Joe pun menggesek-gesekkan bokongnya, kala tiba-tiba rasa ingin buat air kecil itu melanda. Bisa saja dia bangkit dan pergi ke toilet sekarang juga, tapi rasa takut membuatnya berdiam diri di tempat.


'Ah segala pengen kencing lagi, mana takut. Aku juga nggak tau do'a nahan kencing itu apa? Dan apakah ada ... do'a nahan kencing?'


Tidak ada do'a nahan kencing sebenarnya. Dan kencing itu memang tidak boleh ditahan karena tidak baik untuk kesehatan.


Wajar, ucapan Joe ngaco. Mungkin pengaruh dia gelisah karena ketakutan.


Setelah beberapa menit, akhirnya Joe pun memberanikan diri untuk membuka matanya, tapi tidak menatap ke arah depan. Alias menunduk ke arah paha.


Lantas, dengan segera dia merogoh kantong celananya untuk mengambil ponsel, berniat ingin menghubungi Ustad Yunus. Bertanya tentang do'a takut, supaya nantinya kalau sudah bisa—dia akan langsung lari ke toilet. Syukur-syukur sampai filmnya selesai, jadi akan aman nantinya.


Namun, saat dirinya hendak menyalakan ponsel—seorang pria plontos di sampingnya langsung menahannya. Memegang tangan Joe.


Niat pria itu adalah mencegah Joe untuk bermain ponsel, sebab di peraturannya memang tidak dibolehkan bermain ponsel selama film itu dimulai. Tapi belum sempat dia berbicara, Joe sudah menjerit ketakutan duluan sambil menepis tangannya dengan kasar.


"Aaakkhhh! Setaaannnn!!"


Tak hanya itu, Joe juga sampai melompat ke tempat duduk Syifa. Duduk di atas pangkuannya dan tak lupa untuk memeluk tubuh istrinya dengan erat.


"Why?" Pria berkepala pelontos itu mengerutkan keningnya, heran dengan tingkah Joe yang menurutnya konyol itu.


"Aa kenapa, sih, A?" tanya Syifa bingung sembari mendorong dada Joe. Pahanya juga ikut terasa sakit akibat tertindih paha Joe.


"Ada setan, Yang, disampingku! Dia mau ngambil hapeku!" jawab Joe dengan lantang dan suara bergetar.


"Mana ada setan sih, A?" Syifa menoleh ke samping tempat duduk Joe, kemudian tersenyum pada pria pelontos yang kebetulan menatapnya.


"Your husband wants to play on his cell phone, but it's not allowed here, Miss," ucap pria itu yang artinya. ("Suami Anda ingin bermain ponsel, tapi disini tidak diperbolehkan, Nona.")


"Oh ... I'm sorry, Sir," jawab Syifa sambil menganggukkan kepalanya.


"Okay."


"Aa, nggak ada setan di samping Aa. Dan katanya ... Aa nggak boleh main hape," jelas Syifa berbicara pada Joe. Kepala suaminya itu bahkan sudah bersembunyi dibalik kerudung pashminanya.


"Masa sih? Orang ada kok, di sampingku. Dia tadi pegang tanganku, Yang ...." Joe masih terlihat ketakutan, dia juga mempererat pelukannya sambil merasakan area selangka*ngannya menegang.

__ADS_1


"Enggak ada, A, disamping Aa cuma ada seorang pria dan tadi dia ...." Ucapan Syifa seketika terhenti diujung bibirnya, kala rok gamisnya tiba-tiba terasa hangat bercampur basah. Keningnya seketika mengerenyit. "Aa ... jangan bilang kalau Aa ngompol dicelana?" tebaknya penuh curiga.


...Parah Om Joe 🤣...


__ADS_2