
"Tapi rasanya sakit nggak sih, Boy? Eh kamu sendiri sudah sunat belum? Kalau belum kita sunatnya bareng saja, biar sekalian mabar."
Papi Yohan sempat membaca buku tentang Islam yang Ustad Yunus pinjamkan. Disana tertera apa saja syarat menjadi mualaf, yakni salah satunya ada berkhitan atau sunat.
Dan setelah dipikir-pikir, ternyata dia sendiri memang belum sunat. Jadi itulah sebabnya, dia langsung mengajukan diri ingin disunat. Meskipun dalam hati ada rasa takut tersendiri.
"Saya sudah disunat, Om," jawab Ustad Yunus.
"Kapan, Boy?" tanyanya lagi. Tapi wajahnya tampak sedikit kecewa, sebab tidak bisa disunat bareng. Lumayan juga menurutnya kalau bareng, karena bisa sambil mengintip aset calon menantu idamannya itu. Sebesar apa dan jika dibanding miliknya, lebih unggul siapa.
"Saya nggak tau, Om. Nggak ingat. Yang ingat Umi saya."
"Umi itu siapa?"
"Maksudnya Mama saya, Om. Saya memang memanggil Mama saya dengan sebutan Umi."
"Oh gituuu ...." Papi Yohan mendesaah pelan. "Ya sudah deh kalau kamu udah sunat, nggak apa-apa. Om sunatnya sendirian saja."
"Banyak temen kok nanti, Om. Kan namanya juga sunat massal. Tapi nanti saya tanyakan dulu ke Pak RT, ya, boleh nggaknya kalau Om ikut sunat. Soalnya acara ini dibuat untuk anak-anak."
"Oke, Boy." Papi Yohan mengangguk.
"Ya sudah deh, Ustad ... kalau kami nggak boleh sunat dua kali. Kami mau pamit saja." Bocah laki-laki yang masih ada di sana langsung meraih tangan Ustad Yunus kembali untuk dia cium. Berikut dengan temannya. Tapi wajah keduanya tampak lesu sekali.
"Iya." Ustad Yunus mengusap kepala kedua bocah itu bergantian sambil tersenyum.
"Assalamualaikum."
"Walaikum salam," jawab Ustad Yunus, lalu menatap ke arah masjid. "Oh ya, ini Om mau sekalian lihat ke dalam masjid apa hanya diluarnya saja?" tanyanya.
"Kalau masuk ke dalam memangnya boleh? Kan Om belum resmi jadi mualaf, Boy." Papi Yohan tampak ragu. Tapi jujur saja—setelah melihat bangunan besar itu, ada rasa keinginannya untuk masuk ke dalam. Melihat isi keseluruhannya.
"Boleh dong, Om. Nggak masalah. Tapi mohon dilepas alas kakinya dulu, ya, karena ini tempat suci." Ustad Yunus sudah melepaskan sandalnya, kemudian melangkah pada lantai masjid.
"Oke, Boy." Papi Yohan mengangguk, lalu membungkukkan badan dan membuka tali sepatunya. Setelah itu dia melangkah naik ke lantai masjid.
"Kita ambil wudhu dulu sebelum masuk ke dalam masjid, ya, Om. Sekalian juga Om saya ajari cara berwudhu yang baik dan benar."
"Siap Boy!" Papi Yohan mengangguk semangat. Mereka pun berjalan ke arah samping, tempat dimana pengambilan air wudhu dan toilet.
"Om nggak ada hadas besar, kan?"
"Hadas besar itu apa, Boy?" tanya Papi Yohan tak mengerti.
"Seperti kita habis berhubungan badan tapi belum mandi, Om."
"Ooohh ... ya nggaklah, Boy." Papi Yohan terkekeh. "Setiap berhubungan badan Om pasti selalu mandi. Gerah juga kayaknya."
"Ya sudah ... ayok gulung dulu lengan bajunya, Om. Kita langsung wudhu," titah Ustad Yunus. Dia juga ikut membantu Papi Yohan membuka jas serta menggulung lengan kemejanya. Setelah itu mulai mengajari wudhu dan do'a niatnya.
"Tunggu dulu, Boy!" Baru hendak menuju pintu, tapi Papi Yohan sudah menghentikan langkah diikuti oleh tangannya yang memegang lengan Ustad Yunus.
"Kenapa, Om?" Ustad Yunus menoleh, lalu membenarkan posisi pecinya yang sempat melorot.
__ADS_1
"Itu kotak apaan, Boy? Apa isinya?" Papi Yohan menunjuk dua kotak besar di dekat pintu sebelah kanan dan kiri. Kedua kotak tersebut berada di atas meja besi yang menancap di lantai. Dirantai serta digembok dengan kuat.
"Itu kotak amal masjid, Om. Isinya uang."
"Ooohh ... nanti uangnya buat apa?"
"Buat kebutuhan masjid. Atau acara-acara yang diadakan masjid."
"Ooohhh ...." Papi Yohan langsung merogoh kantong celananya untuk mengambil dompet. Ada lima lembar seratus ribuan dan dua lembar lima puluh ribuan. Papi Yohan pun mengambil lima lembar yang seratus ribuan, lalu memasukkan ke dalam kotak amal tersebut.
"Terima kasih, Om. Sudah mau beramal, semoga rezeki Om makin lancar." Ustad Yunus tersenyum, senang melihat apa yang dilakukan pria itu.
"Amiiiin ... do'akan juga biar kamu luluh dan berubah pikiran, ya, Boy."
"Berubah pikiran buat apa?"
"Buat jadi menantu Om."
Ustad Yunus hanya terkekeh dan geleng-geleng kepala. Kemudian tiba-tiba ponselnya berdering di dalam kantong celana jens yang dia pakai.
Saat dilihat, ternyata ada sebuah panggilan masuk dari Naya. Untuk sekilas, Papi Yohan pun melihatnya.
"Saya angkat telepon dulu sebentar ya, Om." Ustad Yunus meminta izin. Dan setelah Papi Yohan mengangguki, dia pun langsung menjauh untuk menerima telepon itu.
'Si Boy ngangkat telepon doang sampai menjaga jarak gitu. Memang kalau di sini kenapa, sih? Kan aku juga penasaran... apa yang calonnya itu bicarakan.' Papi Yohan mendengkus. Kesal karena tak bisa ikut mendengarkan percakapan mereka. Mungkin kalau bisa menguping dan tak takut ketahuan, dia akan melakukannya.
Tak berselang lama, Ustad Yunus pun menghampirinya, kemudian mengajaknya untuk masuk bersama ke dalam masjid.
"Tadi siapa yang telepon?" tanya Papi Yohan berpura-pura tidak tahu.
"Ooohh ... mau apa dia? Ada perlu sama kamu?" tanyanya lagi yang terlihat kepo.
"Dia minta ketemu, sekalian minta antar untuk beli kado katanya."
"Kapan? Sekarang?" Papi Yohan terlihat cemberut. "Tapi Om 'kan lagi ke sini, Boy. Mau menemui kamu. Masa kamu ninggalin Om begitu saja? Apa nggak tega namanya, ya?" Aslinya dia tak rela, jika pria itu pergi menemui calonnya. Ada rasa cemburu juga.
"Dia ngajak ketemunya sejam lagi kok. Jadi kita masih ada waktu untuk bertemu."
'Meskipun sejam lagi juga Om nggak mau, Boy, kalau kamu ketemu calonmu itu,' batinnya.
Manik mata Papi Yohan langsung berkeliling, menatap sekitar ruangan masjid yang cukup luas itu. Dan ternyata masjid itu memiliki dua lantai.
"Kok itu ada gordennya, Boy? Buat apa?" Papi Yohan menunjuk tempat shaf sholat untuk wanita, yang memang memiliki pembatas gorden panjang.
"Itu shaf sholat buat wanita, Om. Jadi ada pembatasnya, antara laki-laki dan perempuan."
"Yang laki-laki di depan, ya?" Papi Yohan menatap shaf sholat laki-laki.
"Yang paling depan imamnya, Om." Ustad Yunus mengajak Papi Yohan ke depan, dekat mihrab. "Di belakang imam laki-laki dan yang paling belakang perempuan."
"Kalau ditutup gorden begitu, laki-laki sama perempuan nggak bisa liat-liat dong, Boy."
"Ngapain liat-liatan, Om? Kan niatnya mau sholat, bukan mau liat-liatan."
__ADS_1
"Memang sholat sambil liat-liatan nggak boleh, ya?"
"Ya nggak boleh, Om. Nggak fokus dong namanya." Ustad Yunus terkekeh.
"Terus ruangan itu ...." Papi Yohan menunjuk sebuah ruangan yang mirip kamar, yang berada dipojok. "Tempat apa, Boy?"
"Oh itu kamar saya, Om. Buat istirahat."
"Jadi kamu tinggal di masjid?"
"Iya." Ustad Yunus mengangguk.
"Kata Roni kamu punya rumah, kok tinggal di masjid, Boy?"
"Saya 'kan marbot masjid, Om. Jadi kadang tidur di sini. Tapi nggak setiap hari kok."
"Marbot itu tugasnya ngapain, Boy?"
"Mengepel, nyapu, dan intinya merawat masjid supaya bersih, Om."
"Ooohh ... jadi selain Ustad, kamu juga jadi marbot? Mulia sekali kamu, Boy." Papi Yohan mengusap bahu Ustad Yunus dengan raut bangga. "Calon penghuni surga sih ini."
"Amin, Om. Tapi saya masih banyak dosa."
Setelah melihat-lihat keseluruhan isi masjid dan mengobrol masalah keislaman, waktu pun akhirnya memaksa untuk memisahkan mereka.
Sebetulnya Papi Yohan tidak ingin cepat pulang, apalagi mereka bertemu cuma sejam. Baginya itu sangat singkat. Mungkin kalau boleh jujur, Papi Yohan bahkan sanggup mendengar ceramah Ustad Yunus sampai seharian full.
Hanya saja, pria itu terus mengatakan kalau dia tak enak kepada Naya. Yang ingin bertemu juga dengannya. Jadi mau tidak mau dia pamit untuk menyudahi pertemuan.
"Langsung pulang apa ke mana dulu, Pak?" tanya Roni, saat melihat bosnya duduk dikursi belakang. Sejak tadi mata Papi Yohan tak lepas pada Ustad Yunus yang baru saja masuk ke dalam mobilnya.
"Kita ikuti si Boy, Ron. Tapi jangan sampai ketahuan."
"Mau ngapain ngikutin Ustad Boy, Pak? Eh maksudnya, Ustad Yunus." Roni jadi ketularan Papi Yohan, yang salah sebut nama.
"Aku mau lihat dia, katanya si Boy bilang mau ketemu calonnya. Aku nggak rela, Ron."
"Enggak rela gimana maksudnya?" Roni menggaruk rambut kepalanya yang tidak gatal dengan wajah bingung. Tapi mobil yang sudah dia lajukan kini sudah mengikuti mobil Ustad Yunus dari belakang.
"Ya nggak rela. Si Boy harusnya menghabiskan waktunya sama aku, kan aku udah bela-belain datang ke sini. Eh tapi dia malah setuju, diajak ketemu sama calonnya. Kan nggak adil namanya, Ron." Papi Yohan mendengkus dengan dada bergemuruh. "Lagian, ngapain juga sih ketemu dan minta anter beli kado. Memang sendiri nggak bisa apa, ya?"
"Jadi Ustad Boy mau ketemu calonnya, karena si calonnya ini minta anter beli kado, Pak?"
"Iya." Papi Yohan mengangguk dengan bibir yang mengerucut. "Kamu ada cara nggak sih, Ron."
"Cara apa, Pak?" Roni menatap sang bos dari kaca depan mobilnya.
"Buat si Boy dan calonnya itu nggak jadi meneruskan ta'arufnya. Aku juga takut nanti mereka ketemu sekalian bahas tentang pernikahan. Kasihan Yumnanya dong, ditinggal nikah nanti. Gagal juga aku jadiin si Boy menantu, Ron." Papi Yohan merengut lesu.
"Maksudnya Bapak ingin misahin Ustad Yunus sama calonnya gitu? Apa gimana?" Roni lama-lama pusing dengan apa yang Papi Yohan ucapkan. Tapi sebisa mungkin dia mencerna semuanya.
Papi Yohan mengangguk. "Iya, kamu ada ide nggak? Kalau bisa sekalian buat si Boy jatuh cinta sama Yumna, Ron."
__ADS_1
...Om nggak boleh jahat, lho... nanti Ustad Yunusnya marah 🙈...