
"Oh ... jadi kamu mengunci Om Fahmi karena kesal sama kelakuannya, ya, Dek?" tebak Pak Polisi yang kembali ke topik utama dan bocah itu langsung mengangguk. "Tapi Dek Robert, walau bagaimanapun tindakan kamu itu tetap salah. Dan nggak bisa dibenarkan."
"Robert tau itu, Om." Robert mengangguk cepat. Dia mengakui, memang dia salah di sini. Dan seperti apa yang sudah dia katakan—sama sekali tak ada niat untuk mencelakai. Diawal mengetahui Fahmi pingsan dibawa ke rumah sakit saja Robert sudah merasa sangat ketakutan. "Tapi Atta sempat mengatakan ... kalau bisa saja apa yang kami lakukan membuat Om Fahmi sadar, dengan kelakuannya selama ini. Ya intinya supaya berubah saja, menjadi orang yang lebih baik, Om," tambahnya kemudian.
"Membuat seseorang berubah itu tidak perlu mengerjainya, Dek, tapi cukup dengan nasehatinya," jelas Pak Polisi yang memang ada benarnya.
"Kayaknya kalau untuk menasehatinya ... nggak mungkin bisa dia dengar, Om. Apalagi Robert anak kecil," jawabnya dengan ragu. jangankan untuk menasehati, berbicara saja dia selalu memakai urat. Jadi bagaimana bisa, nasehat itu masuk ke dalam otak dan pikirannya?
"Ya sudah, biarkan orang tuanya atau Tuhannya saja yang akan menegurnya. Om yakin ... semua orang nggak mungkin selamanya jahat."
"Semoga saja, Om." Robert tersenyum dengan anggukan kepala.
"Tapi Adek bersedia 'kan ... kalau Om Polisi memintamu dan temanmu yang bernama Atta untuk minta maaf sama Om Fahmi? Supaya masalah ini selesai, soalnya mau bagaimana pun ... tindakanmu dan Atta sama sekali tak dibenarkan."
Polisi di sini bersikap secara netral. Dan mungkin memang jalur perdamaian jauh lebih baik dari kasus ini. Sebab pelakunya adalah anak kecil dan dia juga tentu sudah menelaahnya.
Diperhatikan sejak tadi Joe bersikap biasa saja, malah cenderung pada menasehati dengan apa yang dilakukan oleh sang anak. Otomatis—pria itu tak mungkin ada sangkut pautnya dalam masalah ini.
"Robert bersedia, Om, untuk meminta maaf. Tapi sebaliknya, bolehkah Robert meminta Om Fahmi untuk meminta maaf juga? Tapi kepada Daddy, karena dia juga punya salah."
"Meminta maaf atas dasar karena dia selalu berkata kasar dan sombong, apakah itu maksudnya?" tanya Pak Polisi.
"Bukan hanya itu, Robert juga mau dia meminta maaf karena telah makan banyak dihari resepsi Daddy dan Mommy. Sedangkan dia hanya memberikan amplop berisi 5 ribu. Bukankah Daddy sangat dirugikan di sini?"
"APA? 5 ribu?!" Abi Hamdan menjerit dengan penuh keterkejutan. Sumpah demi apapun, rasanya dia tak percaya dan tak habis pikir.
__ADS_1
"Sayang ... darimana kamu tau Om Fahmi memberikan amplop berisi 5 ribu?" tanya Joe.
Sebenarnya tak masalah, dengan berapa pun uang yang diberikan pria itu untuk mengisi amplop. Tapi dia hanya berpikir ini seperti diluar nalar saja.
Apakah Fahmi sepelit itu? Sampai-sampai hanya memberi 5 ribu? Atau mungkin hanya uang 5 ribu saja yang tersisa di dalam dompetnya?
Entahlah, mungkin hanya Fahmi dan Allah saja yang tahu.
"Kamu nggak boleh memfitnah Om Fahmi, Sayang, meskipun kamu membencinya," tambah Joe menasehati.
"Siapa juga yang fitnah, Dad?" Robert menatap Joe lalu menggelengkan kepalanya. "Nggak sama sekali. Orang Robert melihatnya sendiri, pas Om Fahmi memasukkan uangnya ke amplop. Coba cek saja CCTV kalau nggak percaya, pas bagian dia berdiri untuk menulis buku tamu," sarannya, kemudian melanjutkan. "Tapi kayaknya sih nggak akan kelihatan jelas kalau di kamera CCTV, soalnya dia pas masukkin uang ke dalam amplop hampir ke kolong meja. Eh, tapi nanti akan kelihatan juga, berapa kali Om Fahmi mengambil makanannya. Dan ada satu rahasia lagi ... yang Daddy, Om Polisi dan Opa nggak tau. Tentang Om Fahmi."
Bocah itu tampaknya tahu segalanya, saat di mana Fahmi ada di pesta. Manik matanya itu kini menatap tiga pria yang dia sebutkan tadi, dan seketika membuat mereka semua penasaran.
"Rahasia? Rahasia apa, Dek?" tanya Pak Polisi menatap lekat Robert.
"Mencuri?!" Sudah masalah amplop berisi 5 ribu yang membuat jantung Abi Hamdan berdebar karena sangking terkejutnya. Dan sekarang, dia kembali dikejutkan karena laki-laki yang menurutnya memiliki kelebihan yang begitu banyak itu telah mencuri.
Detik ini juga, Abi Hamdan pun menjadi hilang respect. Dan ada setitik kekecewaan di dalam hatinya.
"Nak ... kamu nggak berbohong, kan?" tanya Abi Hamdan memastikan. Meskipun sebenarnya dia sudah sangat percaya sekali kepada bocah itu.
"Robert nggak bohong, Opa. Kata Robert juga periksa saja di CCTV, kalau Opa, Daddy atau Om Polisi nggak percaya," jelas Robert apa adanya.
"Perempuan yang dicuri isi dalam tasnya itu siapa , Rob? Apa kamu tau?" tanya Joe penasaran. "Tapi kayaknya Daddy nggak dengar dari Om Sandi ... kalau ada tamu yang kehilangan barang."
__ADS_1
"Jangan tanya Om Sandi, tapi tanyanya ke Ustad Yunus, Dad," jawab Robert memberitahu.
"Ustad Yunus tau?" tanya Abi Hamdan.
"Iya." Robert mengangguk.
"Apakah saya boleh meminta waktu Pak Joe sebentar, untuk ikut ke hotel di mana Anda mengadakan pesta?" tanya Pak Polisi menatap Joe.
"Mau ngapain, Pak? Apakah ingin melihat rekaman CCTV?" tebak Joe.
"Benar, Pak." Pak Polisi mengangguk cepat. "Kalau memang apa yang Adek Robert katakan terbukti, kasus ini akan berbalik kepadanya."
"Maksudnya, gimana?" tanya Joe bingung.
"Pak Fahmi yang akan terjerat hukum. Karena telah mencuri. Tapi kita juga harus pastikan dulu apakah korbannya benar-benar ingin mengkasuskannya atau tidak," terang Pak Polisi yang mana membuat bola mata Robert berbinar.
"Jadi, Om Fahmi yang akan di penjara, Om?" tanyanya sambil tersenyum.
"Iya, Dek." Pak Polisi mengangguk. "Tapi balik lagi, kita harus mencari tahu korbannya dulu dan apakah ingin mengkasuskan Om Fahmi atau tidak. Kalau tidak ... ya berarti tidak jadi. Tapi Om bisa pastikan ... masalah Adek dan dia akan selesai dalam jalur perdamaian dan permintaan maaf."
"Yah ... kok gitu, sih?" Robert terlihat tidak senang. Bukan masalah kasusnya beres, tapi karena Fahmi yang belum jelas akan di penjara. Sepertinya memang ada bagusnya, jika pria itu masuk buih. Supaya menjadi pelajaran untuknya.
"Eemm ... bagaimana kalau aku sekalian membuat laporan, Pak," ucap Joe tiba-tiba.
"Laporan apa, ya, Pak?" Pak Polisi menatap ke arah Joe.
__ADS_1
"Pencemaran nama baik," jawab Joe. "Dia dari awal sudah menuduhku menguncinya di toilet, meski tak ada bukti. Dan lebih parahnya, dia sampai sejauh ini sampai melaporkan aku dan Robert ke polisi. Apa maksudnya coba, kalau bukan ingin aku masuk penjara? Padahal sebelumnya ... Abi Hamdan sudah bertanya, kalau Fahmi dan Pak Haji Samsul menuduhku yang bukan-bukan. Tapi sepertinya ... meskipun aku sudah menjelaskan jika bukan aku pelakunya, dia masih penasaran. Dan sekarang saatnya aku yang mengembalikan semua tuduhan itu kepadanya. Karena jika dibiarkan ... orang seperti Fahmi akan makin menjadi. Aku juga nggak tau dikemudian hari apa lagi yang dia lakukan selanjutnya, demi bisa memfitnahku. Jadi lebih baik ... dia kupenjarakan saja!" tambahnya dengan penuh ketegasan.
...Apakah ini yang dinamakan senjata makan Tuan, Guys? 😆...