
"Selamat malam, ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya seorang wanita penjaga resepsionis hotel kepada Pak Haji Samsul, saat pria itu datang menghampirinya.
"Apa aku boleh melihat rekaman CCTV pada toilet pria, Mbak? Saat hari dimana Jojon dan Syifa menikah," tanya Pak Haji Samsul.
"Jojon dan Syifa?" Wanita berambut pendek itu tampak mengerutkan keningnya. Nama Jojon terdengar asing di telinga.
"Iya." Pak Haji Samsul mengangguk. "Pesta pernikahan mereka diadakan di sini, kemarin. Dan kebetulan ... anakku menjadi tamu undangannya," tambahnya menjelaskan.
"Terus, hubungannya sama rekaman CCTV itu apa, ya, Pak?" Wanita itu terlihat masih bingung dan tak mengerti dengan arah pembicaraan pria tua di depannya. "Tapi maaf sebelumnya, kami dari pihak hotel nggak bisa sembarangan memperlihatkan rekaman CCTV ke orang asing. Karena ini ranah pribadi, Pak."
"Masalahnya, anakku Fahmi ada yang menguncinya di dalam toilet, Mbak!" teriak Pak Haji Samsul. Sekarang dia berbicara menggunakan urat, itu disebabkan dirinya merasa kesal dan tak puas dengan tanggap dari karyawan hotel tersebut. "Dan apa Mbak tau, karena anakku terkunci ... dia jadi dirawat di rumah sakit! Aku ingin melihat rekamannya karena penasaran dengan pelakunya! Jangan sampai pihak hotel ini didatangi oleh polisi, karena telah menyembunyikan kasus kejahatan!" tambahnya berteriak dengan sebuah ancaman.
"Tapi, Pak, setau saya ... tidak ada nama Jojon dan Syifa yang mengadakan pesta pernikahan disini. Mungkin Bapak salah orang."
"Nggak mungkin aku salah orang. Jelas Jojon menikah di sini kemarin," geram Pak Haji Samsul dengan kedua tangan yang mengepal.
Wanita berambut pendek itu langsung menatap layar monitor komputernya, mencari tahu lebih jelas nama Jojon. "Ada juga Jonathan dan Syifa, Pak. Kemarin mengadakan pesta," ucapnya lalu menatap kembali Pak Haji Samsul.
"Ya mungkin itu nama lengkap si Jojon," tebak Pak Haji Samsul yang memang tidak tahu nama asli Joe. Dia menyebut nama Jojon saja berawal dari Ustad Hamdan. "Dan Syifa itu anaknya Ustad Hamdan. Dia dulunya calon besanku, sebelum akhirnya membatalkan perjodohan," tambahnya menggerutu.
"Oh begitu. Baiklah, Pak. Tapi sebelumnya apa saya boleh melihat kartu identitas Bapak?"
"KTP?"
"Iya." Wanita itu mengangguk.
Pak Haji Samsul segera merogoh kantong celananya, kemudian mengambil dompet kulitnya untuk mengambil KTP yang terselip di sana. Setelah itu, barulah dia memberikan benda persegi tersebut ke tangan penjaga resepsionis.
Ketika sudah melihat serta mencatat nama dan nomor nik untuk dimasukkan ke daftar tamu pada komputernya—wanita tersebut langsung mengajak Pak Haji Samsul menuju pos satpam yang berada diluar. Sebab data-data rekaman di hotel berada di sana.
"Pak, tolong perlihatkan rekaman CCTV kemarin saat pesta pernikahan Pak Jonathan dan Bu Syifa," pinta wanita berambut pendek kepada seorang satpam yang tengah duduk di kursi, di dalam pos satpam itu sambil mengopi.
"Memangnya mau buat apa, ya, Mbak?" tanya pria itu menatap wanita berambut pendek, dan kemudian ke arah Pak Haji Samsul dengan kening yang mengernyit.
"Anakku—"
"Kebetulan anaknya kemarin terkunci di dalam toilet pria. Dan penyebabnya sampai masuk rumah sakit." Wanita itu menyela cepat jawaban dari Pak Haji Samsul. "Dia ingin tau siapa pelakunya," tambahnya memberitahu.
"Oh begitu. Baiklah." Pria berseragam hitam itu mengangguk. Kemudian menggeserkan sebuah kursi kosong di dekatnya. "Silahkan duduk, Pak. Akan saya perlihatkan."
"Iya." Pak Haji Samsul mengangguk, kemudian duduk di sana. Satpam itu pun langsung mengetik-ngetik keyboard komputernya, yang terhubung oleh beberapa kamera CCTV di hotel berbintang lima itu.
"Saat terkunci di dalam toilet, sekitar jam berapa kira-kira, Pak?" tanya satpam menatap pria tua di sampingnya.
"Aku nggak tau jelas jamnya. Tapi pas si Fahmi dibawa ke rumah sakit ... itu sudah malam, Pak. Mungkin sekitar jam 10 atau 11," jawabnya.
__ADS_1
"Apa anak Bapak nggak cerita, kira-kira jam berapa dia masuk ke toilet?"
"Dia juga lupa. Tapi kita cek dari habis Isya saja, Pak. Pas setengah 8," usul Pak Haji Samsul.
"Oke." Pria berseragam hitam itu mengangguk, kemudian berfokus menatap ke layar monitor.
Tak berselang lama, rekaman CCTV jam 19.30 WIB itu diputar. Posisi karena itu tepat pada lima bilik toilet pria yang berjejer. Dan akan terlihat jelas nanti, siapakah pelakunya.
"Kita langsung perhatikan dengan seksama, ya, Pak," ucap satpam itu.
"Iya. Tapi bisakah Bapak memberikanku kopi terlebih dahulu? Biar enak aku melihat rekamannya sambil ngopi," pintanya tanpa malu. Sejak tadi indera penciuman Pak Haji Samsul memang terusik pada gempulan uap dari kopi luwak di atas meja. Dan rasanya dia menginginkannya.
"Bapak mau kopi saya? Tapi ini sudah saya minum, Pak." Satpam itu menggeserkan cangkir kopi miliknya di dekat Pak Haji Samsul.
"Dih. Masa iya, aku minum bekasmu? Ya kamu buatkan lah. Nggak ada otak amat, jadi orang," omel Pak Haji Samsul marah.
Satpam itu menoleh ke arah wanita berambut pendek yang masih ada di sana. Keduanya sama-sama mengerutkan kening, sebab bingung dengan sikap dari Pak Haji Samsul yang begitu arogan. Sudah macam seperti bos di hotel itu, sebab berani menyuruh.
"Cepat buatkan! Aku ingin lebih menikmati menonton rekaman CCTV ini!" teriaknya memerintahkan.
'Dih, apa-apaan sih, dia? Kan cuma mau lihat rekaman CCTV. Bukan mau nonton drakor. Bisa-bisanya dia minta kopi, benar-benar nggak tau malu,' batin satpam itu dengan kesal. Tapi dia nyatanya menuruti permintaan Pak Haji Samsul, yakni membuatkan kopi luwak dan memberikan padanya.
"Nah! Ini dia si Fahmi! Dia anakku!" seru Pak Haji Samsul yang begitu antusias melihat layar monitor, yang memperlihatkan Fahmi berlari terbirit-birit masuk ke dalam salah satu toilet. Namun, seketika alis matanya bertaut saat dimana ada kedua bocah berdiri di depan toilet pria yang sudah ada Fahmi di dalamnya. "Lho, siapa kedua bocah itu? Dan mau apa mereka?" gumamnya bertanya-tanya, lalu meraih secangkir kopi luwak miliknya dan menyesapnya secara perlahan.
"Mungkin mereka mau mengantre kali, Pak, kepengen kencing atau buang hajat juga," tebak satpam itu yang kemudian duduk kembali di samping Pak Haji Samsul.
"Ternyata pelakunya anak kecil, Pak," ujar satpam itu dengan wajah tak menyangka. Dia gelang-gelang kepala.
"Coba jeda pas bagian dia mengunci pintu. Aku mau perhatian wajahnya lagi!" perintah Pak Haji Samsul. Satpam itu pun mengangguk dan langsung menurutinya.
Setelah beberapa saat dia memandangi serta memerhatikan, kembali—Pak Haji Samsul terbelalak. Lantaran sudah tahu siapakah salah satu dari mereka yang pasti adalah pelaku yang mengunci.
"Bagaimana, Pak? Apa Bapak kenal anak-anak ini?" tanya Satpam itu penasaran.
Namun, bukannya menjawab, Pak Haji Samsul malah menghubungi Fahmi. Ingin memberitahukan siapakah pelaku sebenarnya yang mereka menduga adalah Joe.
"Halo, Fahmi. Ternyata pelakunya bukan si Jojon," ucap Pak Haji Samsul saat panggilan itu diangkat dari seberang sana.
"Benarkah?" Suara Fahmi terdengar nyaring dan tampak seperti orang yang kaget. "Lalu siapa, Pa?"
"Anaknya."
"Anaknya siapa?"
"Anaknya si Jojon."
__ADS_1
"APA?!" Fahmi memekik dengan keterkejutannya. "Apa Papa yakin?" tanyanya memastikan.
"Yakin. Papa belum sepikun itu, Mi. Papa juga masih ingat wajah anaknya si Jojon."
"Sekarang Papa ambil rekaman itu, terus bawa ke kantor polisi," perintah Fahmi.
"Lho, mau buat apa? Nggak mungkin juga anak kecil dipenjara, Mi."
"Dia anaknya Jojon, Pa. Yang pastinya apa yang dilakukan bocah itu atas dasar perintah dari Bapaknya. Aku yakin itu."
"Tapi tetap saja, Mi, dia nggak akan bisa dipenjara."
"Yang akan dipenjara Bapaknya lah, Pa, nggak mungkin dia. Malah akan berat nanti, kalau sampai terbukti dia mencuci otak anaknya untuk melakukan kejahatan." Tambah rusak saja otak Fahmi yang terus bersu'uzan kepada Joe. Padahal di sini dialah yang akan mencari penyakitnya sendiri.
"Oke. Papa akan ke kantor polisi untuk melapornya," sahut Pak Haji Samsul dengan anggukan tanda setuju.
***
Beberapa menit kemudian, akhirnya mobil yang ditunggangi Joe, Syifa dan Robert telah sampai di rumah Abi Hamdan setelah habis Isya.
Padahal sebelumnya, Joe ingin menghabiskan semalam lagi bersama Syifa di hotel. Namun karena anaknya terus merengek meminta pulang dengan Syifa, jadilah dia terpaksa pulang.
"Mommy! Nanti sebelum tidur ... Robert ingin Mommy berdongeng, ya?" pinta Robert dengan manja, dia bergelayut pada leher Syifa yang saat ini tengah menggendongnya. Tak lupa sesekali dia mencium pipi kananya.
"Iya, Sayang. Kamu mau Mommy dongengin apa kira-kira?" Syifa melangkah menuju pintu utama rumah orang tuanya, lalu memencet bel.
"Apa saja. Terserah Mommy."
"Oke deh." Syifa mengangguk, lalu mencium kening anaknya.
Joe hanya bisa menghela napas dengan gusar, dia pun lantas turun dari mobil dengan langkah lesu menghampiri anak dan istrinya.
"Selamat malam, apa benar ini rumahnya Pak Ustad Hamdan Sonjaya?"
Tiba-tiba, terdengar seseorang yang bertanya. Arah suaranya dari belakang dan seketika membuat Joe, Syifa serta Robert berbalik badan lalu menatapnya.
Dan ternyata orang yang bertanya itu memakai seragam polisi, dan dia datang tidak sendiri. Melainkan bersama rekan seprofesinya yang baru saja turun dari mobil polisi.
Joe juga baru sadar, jika sudah ada mobil yang terparkir di samping mobilnya.
"Lho, kok, ada Om Polisi datang? Ada apa?" tanya Robert bingung. Kedua alis matanya tampak bertaut.
"Ini benar rumah Ustad Hamdan, Pak." Joe menyahuti pertanyaan polisi tadi. "Ada perlu apa, ya?"
"Saya ingin bertemu dengan orang yang bernama Jojon, menantu dari Pak Ustad Hamdan. Apa bisa, Bapak memanggilkannya?" tanya Pak Polisi.
__ADS_1
...Orangnya di depan Bapak tuh 🤣 yang lagi galau ga bisa melakukan gaya helikopter 😆...