
Di sebuah gedung hotel berbintang lima yang berada di pusat kota Jakarta, hari ini, Joe dan Syifa melangsungkan acara resepsi pernikahan mereka.
Pesta itu dibuka pada jam 9 pagi dan langsung diserbu beberapa tamu undangan.
Bukan hanya kerabat, teman serta rekan kerja dari pihak pria. Tapi juga pihak dari wanita pun semuanya diundang dan datang.
Acaranya cukup meriah dan mewah. Selain mengundang para tamu, Papi Paul dan Abi Hamdan sepakat ingin mengadakan hiburannya juga.
Siang acara dangdut dan malamnya mengundang salah satu ustad kondang di Jakarta untuk berceramah, tidak lupa dengan beberapa santri yang akan mengaji nantinya.
Acara dangdutnya pun tidak akan vu*lgar, dalam arti pakaian atau goyangan. Hanya menyanyi dan dari segi penampilan pun cukup tertutup meskipun tak memakai hijab.
Awalnya Papi Paul tidak setuju untuk mengundang penceramah. Karena keluarga dan beberapa rekannya pun ada sebagian yang non muslim. Akan tetapi, dia mencoba untuk memaklumi. Karena Abi Hamdan sendiri seorang ustad. Pastinya, akan banyak pula teman sesama profesinya yang datang.
Seluruh acara pada resepsi itu semuanya dari dana Joe. Tadinya ingin dari dana Papi Paul, sebab dia sendiri yang awalnya ingin mengadakan pesta. Tetapi Joe sendiri menolak, sebab dia masih mampu. Jadi tak perlu memakai campur tangan dari orang tua.
Orang tuanya sudah berikut serta saja itu sudah sangat cukup baginya. Sebab memang restu dari orang tua itu sangatlah penting.
"Selamat ya, Pak Bos. Akhirnya Bapak nggak main sabun lagi," ucap seorang pria yang datang dengan beberapa temannya di belakang. Dia berbaris menyalami Joe dan Syifa pada tempat pelaminan. Tetapi Syifa sendiri bersalaman tanpa menyentuh tangan, sebab memang harusnya begitu.
'Kok dia memanggil Aa dengan sebutan Pak Bos?' batin Syifa bingung. Terdengar aneh memang, apalagi pria itu asing di matanya.
"Bicara apa kamu ini, sejak kapan aku main sabun?" bantah Joe sambil geleng-geleng kepala.
"Saya becanda, Pak," balasnya sambil terkekeh. "Ini, saya bawakan Bapak kado. Semoga Bapak dan istri Bapak tetap langgeng sampai akhir hayat." Pria itu memberikan sekotak kado berukuran besar ke tangannya.
"Amin ... terima kasih." Joe mengambilnya dengan senang hati sambil tersenyum manis. Dan bukan hanya pria itu saja yang memberikannya kado serta mengucapkan selamat, tetapi beberapa orang di belakangnya juga yang mungkin totalnya ada 20 orang. Semuanya adalah karyawan, karyawati serta model di perusahaan Joe.
"Sama-sama."
"Ibu cantik sekali dan sangat mirip dengan Bu Sonya, kalian terlihat serasi," ucap seorang wanita berpakaian seksi yang memuji penampilan Syifa.
Sepasang pengantin itu memakai hanbok berwarna sage putih, Syifa begitu cantik apalagi dengan balutan hijab di atas kepalanya.
Make up-nya tidak terlalu tebal, tapi meski begitu dia terlihat sangat cantik dan menjadi ratu di hari ini.
__ADS_1
"Terima kasih atas pujiannya, Mbak." Syifa tersenyum dan membungkukkan badannya sedikit.
"Sama-sama."
"Iya, Ibu sangat mirip dengan Bu Sonya." Salah satu wanita yang lain membuka suara dan memerhatikan wajah Syifa.
"Tapi Bu Syifa jauh lebih muda, dari almarhumah Bu Sonya, Sal," jawab temannya yang berada di samping, sambil bersalaman dengan Syifa.
"Tapi Bu Sonya pas meninggal juga masih muda. Seperti seumuran sama Bu Syifa deh."
Temannya itu langsung mengangguk, lalu tersenyum kepada Syifa yang sejak tadi diam saja dan hanya memerhatikan mereka. "Selamat ya, Bu. Semoga sakinah mawadah warahmah sama Pak Bos."
"Amin. Terima kasih," ucap Syifa.
Mereka pun bersalaman, berfoto sampai akhirnya turun dari pelaminan. Tetapi, Syifa sendiri masih mampu mendengar percakapan yang terdengar bisik-bisik dari beberapa wanita tadi dan temannya yang lain ikutan.
Kebetulan, posisi mereka duduk juga cukup dekat dengan posisi pelaminan di arah Syifa berdiri.
"Jadi kayak pinang dibelah dua, ya? Mereka seperti kembar."
"Ada bedanya kok, kan Bu Syifa pakai hijab."
"Ya anggap saja kalau Bu Sonya sudah berhijrah."
"Tapi kira-kira ... sifatnya juga mirip nggak, ya? Bu Sonya 'kan sangat perhatian sama Pak Bos."
"Beda orang ya beda sifat lah."
"Dengar-dengar Bu Syifa juga anaknya ustad, ya, terus ... dia guru SD juga."
"Iya. Katanya Pak Bos juga sampai ngalah lho."
"Ngalah? Ngalah gimana?"
"Ngalah untuk pindah agama. Ya demi menikahi Bu Syifa."
"Berarti cinta banget, ya, Pak Bos kita ini sama istri barunya."
__ADS_1
"Ah tapi kayaknya sih ... cinta pertama Pak Bos tetap Bu Sonya. Mungkin ... kalau Bu Syifa nggak mirip Bu Sonya, nggak bakal juga Pak Bos mau sama dia. Iya, kan?"
"Iya juga, sih. Tau juga 'kan kalian gimana status dia di media sosial yang mencari jodoh," balasnya dan mereka yang jumlahnya empat orang itu langsung terkekeh.
Mendengar salah satu dari apa yang mereka ucapkan, sontak membuat dada Syifa berdenyut. Rasa sakit hati.
Bukan dia tidak suka memiliki wajah yang mirip dengan Sonya, hanya saja dia tak pernah suka yang namanya dibanding-bandingkan. Semua orang di dunia ini juga pasti sama, apalagi dia adalah perempuan.
'Kok sakit, ya, aku dengarnya. Tapi memang apa yang mereka ucapkan ada benarnya. Kalau aku nggak mirip istri pertamanya Aa ... dia dan Robert nggak mungkin menyukaiku. Dan bagaimana kalau suatu saat nanti wajahku berubah? Apa hati mereka untukku juga akan berubah? Aa Joe nggak mencintaiku lagi, seperti dia yang selalu mencintai almarhumah Mbak Sonya?' batin Syifa yang mendadak jadi sendu.
"Kamu kenapa, Yang? Kok cemberut terus?" tanya Joe yang baru saja duduk di sofa pengantin. Di sebelah Syifa yang duduk lebih dulu sambil memegangi buket bunga.
"Nggak apa-apa," jawab Syifa sambil menggelengkan kepalanya.
"Nggak apa-apa kok cemberut? Kamu nggak seneng, ya, sama pesta kita?" tanya Joe penasaran. Dia mendekat dan mengelus pipi kanan istrinya dengan lembut.
"Seneng kok. Banget malah. Ini sangat meriah." Syifa tersenyum kecil, lalu menatap sekitar.
Orang tua Syifa dan orang tua Joe berada di depan pintu masuk gedung hotel tersebut. Untuk menyambut para tamu undangan. Keempatnya memakai baju seragam berwarna sage dengan dipadukan batik. Papi Paul dan Abi Hamdan memakai sarung batik, sedangkan Mami Yeri dan Umi Maryam rok batik. Tema pernikahan mereka adalah berwarna sage. Dan beberapa tamu pun banyak pula yang memakai warna senada.
"Tapi kamu kelihatan seperti sedih, aku tau itu, Yang." Dilihat dari mata Syifa yang berkaca-kaca, Joe seolah mengerti jika ada kesedihan di dalam sana. Hanya saja dia tak tahu itu karena apa. "Bicara padaku. Ada apa? Apa ada yang menganggu pikiranmu?"
"Apa Aa mencintaiku?" Bukannya menjawab, Syifa justru berbalik tanya.
"Lho, ya pasti iya, dong. Aku sangat mencintaimu, Yang," balas Joe sambil tersenyum dan memandangi wajah cantik istrinya.
"Apa Aa juga masih mencintai istri pertama Aa?"
"Kok ke situ-situ nanyanya?" Joe tampak bingung.
"Apa susah, ya, buat jawab?"
Joe menggeleng cepat. "Nggak susah, cuma heran aja."
"Ya sudah jawab, masih cinta atau nggak? Dan apakah selama ini Aa melihatku sebagai Mbak Sonya, bukan Syifa?" tanya penasaran.
...Udah pada ngambil rendang belum, nih? 🤣 ayok pada ngambil sebelum pestanya selesai ðŸ¤...
__ADS_1