
'Bagaiman bisa aku melupakan kejadian itu. Bahkan itu adalah kejadian yang paling terburuk dalam hidupku,' batin Syifa. Bukannya tenang, dia malah menangis tersedu-sedu. 'Kalau tau begini, aku menyesal karena sudah pernah mencintai dan menjadi kekasih Kak Beni. Harusnya ... aku mendengar apa kata Abi, yang mengatakan untuk tidak pacaran.'
***
Syifa perlahan membuka matanya, saat merasakan sentuhan pada bibirnya yang terasa begitu menekan. Juga dengan tubuhnya yang terasa sesak seperti ada yang menindih.
Sontak saja, kedua matanya itu terbelalak. Sebab mendapati Beni sang mantan kekasih berada di atas tubuhnya yang bermandikan keringat.
Merasa panik, segera Syifa pun mengerahkan seluruh tenaganya demi melepaskan ciuman yang sudah menjadi lumattan itu. Mendorongnya dengan kasar hingga membuat tubuh pria itu terjungkal dari tubuhnya.
Bruk!
"Apa yang Kakak lakukan?! Kakak mau apa?" teriak Syifa ketakutan. Saat matanya itu berhasil menangkap tubuh Beni yang tak berbusana. "Aaww!" ringisnya tiba-tiba seraya menyentuh sela*ngkangan. Dia merasakan inti tubuhnya ngilu sekali dan ketika meraba, ternyata dia sudah tak memakai cellana dalam.
"Ternyata kamu sudah bangun, Fa? Bagus deh." Beni bangun sambil menyeka keringat di dahi. Perlahan dia merangkak menghampiri, dengan senyuman menyeringai yang terlihat begitu menyeramkan.
"Kakak! Jangan mendekat!" jerit Syifa. Tubuhnya beringsut ke belakang, guna menghindar. Sebab ingin bangkit pun rasanya sulit, tubuhnya terasa sangat kaku.
"Kita akan bersenang-senang, Fa! Hari ini kamu akan menjadi milikku seutuhnya!" Beni langsung menubruk tubuh Syifa dari atas, lalu menarik gamis ditubuh gadis itu hingga sobek beberapa bagian.
'Apa Kak Beni akan mempe*rkosaku? Atau jangan-jangan ini sudah terjadi?' batin Syifa. Seluruh tubuhnya seketika menegang, saat merasakan milik Beni dengan kasar menekan-nekan miliknya dan membuatnya menahan rasa sakit.
Secepatnya, kembali Syifa mendorong tubuh pria itu. Kemudian menampar pipinya dengan sekali kibasan tangan.
Plak!
Berusaha, dia berdiri dan melangkah menjauh dari pria itu. Tetapi sayangnya, rok gamisnya itu ditarik kasar oleh Beni. Sampai-sampai robek dan membuat tubuhnya oleng hingga jatuh.
__ADS_1
Bruk!
"Aku mohon jangan mendekat! Jangan perkosa aku! Jangan, Kak!" pekiknya.
Syifa sudah histeris saat melihat Beni berusaha menghampirinya lagi. Dengan penuh ketakutan, dia bahkan sudah menangis tersedu-sedu. "Kakak b*rengsek, hiks!"
"Syifa!"
"Syifa!"
Tiba-tiba, Syifa mendengar suara seseorang memanggil namanya. Kedua pundaknya juga terasa ditepuk-tepuk oleh seseorang itu hingga membuatnya membuka kedua mata dengan lebar.
"Hah ... hah ... hah!" Deru napas Syifa terdengar tersengal-sengal, keringat diwajah cantiknya itu bercucuran. Mengalir deras.
Ternyata, yang dia alami tadi hanyalah mimpi, sepenggal ingatan ketika insiden pemerkosaan.
Tampaknya, Syifa berpikir jika pria yang membangunkannya tadi adalah Abi Hamdan. Tapi sebenernya adalah Joe.
Pria itu baru saja masuk ke dalam kamar inap sekitar jam 12 malam. Berniat ingin tidur di sofa, sebab di atas ranjang ada Robert dan dibawah ranjang ada Umi Maryam dan Abi Hamdan.
Mereka tidur dengan beralaskan kasur busa, ditambah bantal dan selimut. Semuanya itu dari Joe, yang menyuruh Sandi untuk membawakan. Supaya kedua mertuanya itu dapat tertidur nyenyak meskipun berada di rumah sakit.
Kalau untuk dirinya sendiri, Joe bisa tidur di sofa atau di dalam mobil. Tidak masalah, walaupun sebenarnya tidak terbiasa.
'Kasihan sekali Syifa. Pasti dia mimpi buruk tentang kejadian itu,' batin Joe. Dia hanya menebak saja, tapi memang semua benar adanya.
"Abi harus selalu di sampingku. Dan Abi harus menghajar Kak Beni kalau sampai dia berani mendekatiku lagi," lirih Syifa. Dia mengeratkan pelukannya dan menutupi wajahnya pada kemeja bagian perut Joe.
__ADS_1
"Beni sudah mati, Fa. Dia nggak akan mengganggumu lagi," jawab Joe. Lantas membungkukkan badannya dan membalas pelukan itu. Dia juga mencium pelan puncak kerudung Syifa dengan penuh kasih sayang.
Sama sekali Syifa tak ada tanggapan. Malah yang Joe dengar hanya suara dengkuran halus. Sepertinya, dia sudah kembali tidur.
"Cepet banget tidurnya? Perasaan baru tadi dia minta tolong," gumam Joe.
Tangan Syifa yang melingkar pada perutnya perlahan dia lepaskan, niatnya ingin membantunya untuk kembali berbaring. Tetapi sayangnya, gadis itu justru kembali memeluknya dengan erat. Seperti tak ingin lepas darinya.
"Duh, sampai nggak mau lepas begini kamu, Yang. Kangen sama aku, ya?"
Tak dipungkiri, meskipun Syifa dalam keadaan tidak sadar memeluknya. Tapi perasaan Joe senang bukan kepalang.
Dan tentunya dia tak akan melewatkan kesempatan emas ini, supaya bisa berdekatan dengan Syifa.
Dengan hati-hati, lengan Joe meraih bokong Syifa. Kemudian mengangkatnya. Setelah itu barulah dia naik ke atas ranjang sambil duduk selonjoran, dan tubuh Syifa kini dia taruh di atas pangkuan. Supaya bisa leluasa saling memeluk.
"Tidur sambil duduk nggak masalah kali, ya? Yang pening bersamamu," bisik Joe dengan wajah merona. Dia menyandarkan punggungnya pada penyangga ranjang, lalu mengecup kembali puncak kerudung Syifa.
Perlahan matanya mulai terpejam. Tetapi secara tiba-tiba dia merasakan ngilu pada miliknya. Itu disebabkan si Bisbol yang masih lembab tertindih oleh bokong Syifa, ditambah juga menegang karena sentuhannya.
"Ternyata kamu berat juga ya, Yang." Joe berbicara sendiri bak orang gila. Kedua pipinya itu tambah merona saja seperti orang yang sedang kasmaran. "Tongkat bisbolku sampai sakit. Tapi nggak apa-apa deh, biarkan saja, supaya dia terbiasa, karena suatu hari nanti ... kamu akan menindihku lagi seperti ini. Hanya bedanya dengan goyangan."
Kotor! Benar-benar sangat kotor otak Joe sekarang. Namun spertinya, butuh sekali perjuangan untuk dirinya berhasil buka puasa.
...Parah banget Om Joe otaknya π€£...
...Mumpung hari Senin nih, yuk kasih vote dan hadiahnya. ini novel masih sepi banget, jadi butuh sekali dukungan dari kalian biar banyak yang baca ππ...
__ADS_1