Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
103. Kerjasama


__ADS_3

"Aku sama sekali nggak ada pikiran untuk membawa Syifa kabur, Mi," sahut Joe.


"Bagus deh kalau begitu." Mami Yeri langsung mengulum senyum, lalu mengusap bahu kanan anaknya. "Nanti setelah kamu mendaftarkan perceraian, kamu balik lagi ke Korea, ya, Joe?"


"Mau ngapain aku balik lagi ke sini?"


"Kamu dan Robert akan pindah di sini, kamu juga nanti mengelola bisnis Mami dan Papi saja."


"Enggak, Mi," tolak Joe. "Mami sudah cukup memintaku untuk berpisah dengan Syifa, tapi nggak perlu juga dengan memintaku pindah ke Korea. Memang ... ini adalah tanah kelahiranku, tapi perusahaanku butuh aku, Mi."


"Kan ada sekertarismu. Suruh saja dia yang dulu, sambil kamu mencari CEO baru untuk menggantikanmu di sana," saran Mami Yeri.


"Enggak." Joe menolak dengan gelengan kepala. "Aku merintis perusahaan ini dari enol, aku juga menyukai pekerjaanku. Mami nggak bisa melarangnya."


"Tapi nanti yang ada kamu nggak bisa melupakan Syifa, dan berniat menemuinya terus."


"Apa Mami nggak percaya sama aku?" Joe menatap mata Mami Yeri dengan serius.


"Bukan nggak percaya, Mami hanya takut kalau ucapanmu nggak bisa dipegang."

__ADS_1


"Ya itu sama saja nggak percaya," desahh Joe sambil menghela napas dengan gusar. "Tapi bukannya Mami sudah membayar dua bodyguard untuk menemaiku, kan? Suruh saja mereka untuk mengikutiku terus, dan memastikan kalau aku menemui Syifa atau nggak."


"Ya sudah deh." Mami Yeri mengangguk. "Sekarang kamu siap-siap, langsung berangkat. Hati-hati dijalan."


"Iya, Mi." Joe mengangguk pelan.


*


*


Setelah melihat Mami Yeri dan Robert pergi menunggangi mobil, kini giliran Joe yang pergi bersama Aldi dan Ali menaiki sebuah mobil, menuju bandara.


Mami Yeri kebetulan punya pesawat pribadi di sana, jadi pulang pergi kapan pun akan mudah.


Pria tampan bermata sipit itu sedang duduk di kursi belakang seorang diri, sedangkan Aldi di sebelah Ali.


"Bisa. Dan aku sudah tau nama kalian kok," jawab Joe pelan, lalu membuka isi tas yang dia pegang.


"Benerkah, Pak Jonathan? Tapi saya harap ... Bapak nggak merasa risih, kalau semisalnya saya dan teman saya selalu mengikuti Bapak, ya? Karena memang sudah tugas kami."

__ADS_1


"Berapa kalian dibayar Mami?"


"Itu rahasia negara, Pak. Bapak nggak perlu tau." Yang membalas adalah Aldi.


"Bagaimana kalau kita bekerjasama?" tawar Joe, yang tiba-tiba mendapatkan sebuah ide.


"Kerjasama gimana maksudnya?" tanya Aldi bingung.


"Aku akan membayar kalian dua kali lipat dari Mami dan Papi yang membayar kalian, asalkan kalian bisa kuajak kerjasama."


"Serius, Pak? Dua kali lipat?" Ali yang mendengarnya langsung menyeru dengan semangat. Dan juga langsung membayangkan beberapa lembaran uang merah yang berada di depan mata.


Kalau sudah bicara tentang duit, rasanya susah. Sebab begitu menggiurkan.


"Tentu saja. Tiga kali lipat pun aku sanggup," sahut Joe.


"Boleh deh, Pak," jawab Ali dengan enteng, namun langsung mendapatkan sebuah toyoran dari temannya.


"B*go banget sih, Al! Jangan mau!" omel Aldi marah dan juga menegurnya. Dia pun lantas memutar kepalanya ke belakang, lalu menatap Joe dengan tajam. "Bapak nggak perlu sok-sok'an mau bayar tiga kali lipat, ya!"

__ADS_1


"Sorry to say, nih, tapi saya dan Ali sama sekali nggak tertarik, Pak. Karena kami orangnya setia sama bos kami yang bernama Pak Panjul dan Madam Yenny," tambah Aldi sambil menepuk dadanya.


...Itu sih namanya menolak rezeki Om Aldi😀...


__ADS_2