
Syifa perlahan menatap Abi Hamdan, tatapannya terlihat begitu sengit. Dadanya bergemuruh.
"Menyiksa diri apanya? Ini 'kan gara-gara Abi juga!" sahut Syifa dengan ketus. Dan menepis kasar tangan Abi Hamdan yang masih menyentuh puncak rambutnya.
"Lho, kok kamu jadi nyalahin Abi, Fa?" tanya Abi Hamdan yang tampak bingung. "Memang salah Abi apa?"
"Abi menarikku untuk masuk, setelah berhasil menonjok Aa. Terus mengunciku di kamar dan juga mengunci rumah supaya Aa nggak ikut masuk. Jika saja Abi nggak melakukan hal itu ... Aa dan Robert nggak akan ikut bersama Mami ke rumahnya! Sampai akhirnya mereka pergi ke Korea, dan meninggalkanku. Harusnya 'kan mereka tetap di sini! Di sisiku!" Syifa berbicara lantang sambil menepuk dadanya dengan kasar, napasnya terdengar memburu, meluapkan semua kekesalan di dalam hati.
"Abi 'kan nggak tau, Fa, kalau ujungnya akan begini. Yang Abi lakukan kemarin itu karena Abi nggak mau membuat Jojon babak belur, karena sangking kesalnya Abi kepadanya," jelas Abi Hamdan.
Memang tak sepenuhnya salah Abi Hamdan di sini, tapi karena frustasinya Syifa jadi dia menyalahkan.
Padahal, kalau pun pihak orang tua Joe mau berunding—pasti masalahnya tak makin melebar seperti ini.
"Aku nggak mau jadi janda, Bi ...," lirih Syifa terisak. Abi Hamdan pun segera menarik tubuh anaknya untuk duduk, lalu memeluknya dengan erat.
"Kamu nggak akan jadi janda, Fa," kata Abi Hamdan yang mencoba menenangkan, dia mengusap lembut punggung Syifa. "Abi tau, Jojon itu sangat mencintaimu. Jadi dia nggak mungkin setuju untuk bercerai denganmu. Semuanya akan baik-baik saja, kamu nggak perlu khawatir, Fa."
"Bagaimana aku nggak khawatir, sedangkan sampai sekarang Aa belum pulang untuk menemuiku, Bi? Kata Abi ... dia akan pulang kepadaku, tapi mana buktinya? Hiks!"
"Mungkin saja hari ini dia pulang, Fa," sahut Abi Hamdan menebak. "Dan apa nomornya sampai sekarang masih nggak aktif? Kamu sudah coba menghubunginya lagi belum?"
"Enggak tau aku, Bi. Dari semalam aku nggak pegang hape." Syifa menggelengkan kepalanya dengan lemah.
"Mana coba hapemu? Biar Abi telepon Jojon, hape Abi nggak ada pulsa." Abi Hamdan merelai pelukan, lalu mengusap air mata pada kedua pipi anaknya. Juga membereskan rambutnya yang berantakan.
"Dilaci meja rias, Bi." Syifa menunjuk ke arah yang dimaksud.
Abi Hamdan berdiri, lantas melangkah menuju meja rias kemudian membuka laci untuk mengambil ponsel.
Setelah memencet tombol yang ada dipinggir ponsel android itu, terlihat ada 1 chat masuk dari 'Aa Suami' yang berarti itu dari Joe.
__ADS_1
"Joe ngirim SMS, Fa," kata Abi Hamdan dengan mata berbinar.
"Masa, Bi? Coba bawa sini hapenya!" Syifa langsung menggerakkan tangannya. Matanya juga ikut berbinar karena senangnya.
Abi Hamdan segera mendekat ke arah Syifa, kemudian duduk sambil memberikan ponselnya. Cepat-cepat Syifa membuka kunci ponsel itu. Ternyata bukan SMS, tapi sebuah chat masuk dari aplikasi Wh*tsApp yang isinya adalah.
[Aku juga nggak mau kehilanganmu, Yang. Percayalah ... kamu akan menjadi perempuan yang terakhir dalam hidupku. Tetap jaga kesehatan, ya! Aku mencintaimu.]
Abi Hamdan ikut membaca isi chat tersebut. Dan Syifa segera melakukan video call dengan tubuh yang terlihat gemetaran, karena sangking bahagianya mendapatkan balasan, meskipun hanya satu chat.
Namun, ekspresi bahagianya itu seketika pudar, kala panggilan video itu tidak tersambung. Dan saat Syifa menelepon biasa pun nomornya tidak aktif.
"Hiks!" Akhirnya, yang bisa Syifa lakukan adalah menangis lagi. Hatinya terasa begitu hancur, karena belum ada kepastian jika Joe akan datang menemuinya. Kerinduannya pun makin bertambah besar dan membuatnya makin pilu.
"Kenapa kamu justru menangis, Fa? Ada apa?" tanya Abi Hamdan bingung, lalu mengambil ponsel Syifa dan mencoba menelepon Joe.
"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif, mohon ...." Suara operator terdengar dari seberang sana.
'Aa ... Aa di mana sekarang? Apa Aa sama sekali nggak merindukanku? Kapan Aa pulang dan menemuiku, A?' batin Syifa, tangisnya makin dalam hingga tersedu-sedu.
***
Sementara itu di tempat berbeda.
'Aduh ... nggak enak banget ya, Allah,' keluh Joe seraya membolak balikkan tubuhnya dengan gelisah di atas kasur. 'Menahan rindu memang begitu berat. Bagaimana nasibku nanti, kalau sudah benar-benar resmi bercerai dengan Syifa? Apa aku akan gila?'
Sejak sampai Indonesia dan tiba di rumahnya, Joe hampir semalaman tidak bisa tidur.
Selain karena memikirkan Syifa, dia juga merasakan sakit pada tongkatnya yang terus berdiri tegak.
Padahal Joe sudah membaca buku tentang Islam dan sholat tentunya, untuk mengatasi insomnianya itu. Tapi nyatanya, semua itu tak berhasil sampai pagi menjelang.
__ADS_1
"Sepertinya aku harus menemui Syifa sekarang. Iya ... aku benar-benar udah nggak kuat. Aku juga musti menceritakan segalanya tentang masalah ini." Joe gegas beranjak dari tempat tidurnya, lantas menuju kamar mandi untuk mandi sebentar.
Setelah selesai, Joe cepat-cepat memakai pakaian. Stelan jas berwarna magenta dan menyisir rambutnya serta tak lupa menyemprotkan parfum.
Dompet dan ponsel langsung dia kantongi, tapi tidak dengan kunci mobil. Sebab rencananya dia tak akan naik mobil, karena pastinya Ali dan Aldi yang berada di pos satpam akan mengetahuinya, kemudian berniat mengikutinya.
"Semoga saja mereka masih tidur ya, Allah, jadi aku akan aman," gumam Joe sambil mengusap wajahnya.
Sebelum keluar dari kamar, dia mengambil kunci gerbang dulu di dalam laci nakas. Sebab barangkali satpam rumahnya ketiduran,.dan rencananya Joe tak mau membangunkan. Khawatir kalau sampai Ali dan Aldi ikut terbangun nanti.
Ceklek~
Dengan perlahan, pintu utama rumah Joe dibuka sedikit. Pria itu langsung mengintip ke arah pos satpam, memastikan sedang apa tiga pria yang ada di sana.
Dan seketika, bola mata Joe tampak berbinar kala melihat Ali, Aldi serta satpam rumahnya—tengah duduk dikursi depan pos dengan mata terpejam.
Sepertinya mereka tidur, bahkan mulut Ali saja sampai sudah menganga.
'Alhamdulillah ... mereka bertiga tidur.' Joe menghela napasnya dengan lega sambil mengelus dada. Perlahan dia pun melebarkan pintu untuk dirinya keluar. Kemudian menutup pintu itu kembali. 'Semoga saja aku berhasil keluar dari rumah ini dan bertemu Syifa. Tunggu aku, Sayang.'
Joe berjalan cepat, tapi mengendep-ngendap sampai gerbang depan. Dan dengan jantung yang berdebar serta tubuh yang mendadak gemetar, dia pun mencoba membuka kunci gembok gerbang itu. Yang berukuran cukup besar.
Sesekali Joe melirik kepada ketiga pria di sana, sambil berdo'a supaya mereka tak terbangun.
'Bismika allohumma ahyaa wa bismika amuut.’
'Bismika allohumma ahyaa wa bismika amuut.’
'Bismika allohumma ahyaa wa bismika amuut.’
Joe mengulang-ulang do'a tidur dalam hati, karena menurutnya, itu akan membantu mereka makin terlelap dari tidur sehingga membuatnya berhasil keluar tanpa ketahuan.
__ADS_1
...Semoga berhasil Om Joe 🤲 tapi do'anya salah itu🤣...