
Setelah masuk ke dalam kamar, Abi Hamdan langsung duduk di atas kasur, lalu membuka selimut dan terlihat ada sebuah buket bunga mawar merah di sana.
Mungkin tidak sebagus dengan buket yang dibelikan Joe kemarin untuk Syifa, tapi tidak apa menurutnya, sebab Abi Hamdan mampunya segitu. Harganya juga terbilang mahal bagi Abi yang tak pernah membeli buket bunga, dia sampai memakai uang tabungan untuk umroh.
'Nggak apa-apa deh dipakai dikit duit tabungannya, namanya buat nyenengin istri, kan? Daripada Umi minta sama si Jojon. Kan kesel aku nantinya,' batin Abi Hamdan sambil tersenyum tenang. Tangannya pun perlahan menyentuh miliknya yang sejak tadi mengeras dibalik celana. 'Setelah ngasih bunga, nanti akan kutunjukkan si Joni kepadanya. Pasti Umi terkagum-kagum ... dan bilang kalau dia juga gantengan, sama kayak yang punyanya.' Abi Hamdan pun lantas terkekeh. Merasa senang sambil membayangkan ekspresi wajah istrinya nanti yang melihat tongkatnya habis luluran.
*
*
Di kamar Syifa.
"Sayang ... kamu lagi gambar apa?" tanya Joe seraya duduk di atas kasur di samping Robert. Bocah kecil itu sekarang sedang tengkurap sambil menggambar sesuatu yang mirip seperti orang.
Masalah kesalahan pahaman tadi sudah selesai, dan Robert memahami kalau itu karena Joe salah menangkap informasi.
"Robert gambar Daddy, Mommy, Adik bayi sama Robert, Dad," jawab Robert sambil menunjuk gambar-gambar yang dia maksud.
Gambarnya cukup bagus menurut Joe, meskipun lehernya tampak panjang-panjang seperti jerapah.
"Gambarmu bagus, Sayang. Oh ya ... boleh nggak, Daddy minta sesuatu padamu?" pinta Joe seraya menoleh ke arah kamar mandi. Di sana terdengar suara gemericik air, sebab ada Syifa di dalamnya sedang menggosok gigi.
__ADS_1
"Minta sesuatu apa, Dad? Bicara saja."
"Malam ini, kamu tidur sama Opa Hamdan dan Oma Maryam, ya? Mau nggak? Tapi sebelum itu ... izin dulu pada mereka, minta tidur bareng. Mau apa nggak, gitu."
"Lho, memangnya kenapa kalau Robert tidur di sini?" Robert menatap ke arah Joe hingga menghentikan aksinya yang tengah mewarnai. Sorotan matanya itu tampak seperti orang yang bingung. "Kata Mommy, ini juga kamar Robert dan Robert selamanya mau tidur sama Mommy, Dad."
"Hanya malam ini saja, soalnya ini darurat, Rob," pinta Joe.
Aslinya, dia ingin mencoba lagi dengan Syifa. Tetap akan berusaha, sampai akhirnya berhasil.
"Darurat apa memangnya, Dad? Robert nggak ngerti." Kedua alis mata bocah itu tampak bertaut.
"Daddy mau ngasih vitamin buat adikmu. Kamu pasti mau, kan, adikmu sehat di dalam perut Mommy sampai dia lahir?" Hanya alasan itu, yang ada di otak Joe. Yang pastinya akan mudah dimengerti oleh bocah seusia Robert.
"Suntikan."
"Suntik?" Kedua mata Robert langsung melebar sempurna. "Adik bayi mau disuntik? Tapi dia 'kan masih ada di dalam perut. Memang bisa?"
"Bukan adik bayinya yang disuntik. Tapi Mommynya, dan Daddy yang menyuntiknya nanti."
"Memangnya Daddy bisa?" Robert tampak tak percaya. "Bukannya nyuntik menyuntik itu harus dilakukan oleh ahlinya, ya, nggak boleh sembarangan?"
__ADS_1
"Boleh kok, asal sama istri sendiri. Dan tata cara penyuntikkannya juga sudah diajari oleh dokternya, Rob." Joe kembali menjelaskan, sekaligus merayunya. "Mau, ya? Malam ini saja kok. Kasihan dong kamu sama Daddy, Daddy sudah menduda 7 tahun lho, Rob."
"Kok ke duda-duda? Katanya tadi tentang adik bayi, Dad?" Robert tampak makin bingung, dan ucapan Joe makin ngelantur saja rasanya.
"Ya 'kan Daddy sudah lama menduda. Baru sekarang punya istri," jawab Joe beralasan. "Kamu tau nggak, Rob. Dulu pas kamu masih ada di dalam kandungan Mommy Sonya ... kamu juga sering disuntik vitamin sama Daddy. Masa kamu sendiri tega, membiarkan adik bayimu nggak disuntik?"
"Adik bayi boleh disuntik. Tapi Robert mau melihatnya, boleh, kan?"
"Ih nggak boleh," larang Joe dengan gelengan kepala.
"Kenapa?"
"Kata dokternya memang nggak boleh. Kalau mau menyuntik bayi di dalam kandungan ... orang lain nggak boleh melihat, hanya kedua orang tuanya saja."
"Alasannya apa?"
"Itu tentang ilmu medis, Rob. Jangan tanya soal itu sama Daddy. Karena Daddy nggak ngerti."
Robert tampak terdiam dan melamun. Sepertinya dia mulai memikirkan apa yang Joe katakan.
"Mau, ya, Rob. Nggak tiap hari ini kok. Minimal sehari dua kali deh, kalau hari ini sudah berhasil disuntik," kata Joe yang masih sabar membujuk.
__ADS_1
...Bohong Robert... jangan percaya, Daddymu tukang kibul sekarang lho 🤣...