
"Lho, ternyata ada Bu Yeri juga?" Umi Maryam yang baru saja keluar rumah langsung menghampiri besannya, sebelum mobil Sandi melaju pergi.
"Iya, Bu." Mami Yeri lantas turun lagi dari mobil itu, untuk menyapa Umi Maryam.
Dia sendiri tadi memang lupa, untuk meminta izin terlebih dahulu ingin membawa Syifa. Mungkin karena sangking tidak sabarnya membawa menantunya mengecek kandungan. Melihat kondisi cucu keduanya.
"Lho, tapi Syifa kok ikut?" Umi Maryam menatap heran anaknya yang sudah duduk di dalam mobil bersama Robert yang berada di atas pangkuan. "Oh. Kamu mau ikut mengantar Robert juga?"
"Syifa mau ikut bersamaku, Bu. Boleh, kan, aku izin membawa Syifa untuk bertemu temanku?" pinta Mami Yeri.
"Oh ketemu teman Ibu. Tentu boleh." Umi Maryam mengangguk. "Tapi apa Ibu sudah meminta izin sama Joe? Takutnya dia mencarinya, karena Joe lagi pergi jemput Abinya Syifa."
"Nanti dijalan aku telepon Joe, Bu."
'Umi, bagaimana ini? Umi harus membantuku.' Syifa tampak begitu bimbang dan takut untuk ikut. Ingin sekali dia meminta bantuan Umi Maryam, supaya membantunya menolak ajakan Mami Yeri. Tapi sayangnya, dia bingung caranya bagaimana. Dan Syifa sendiri tak mau jika nanti alasannya akan membuat wanita yang melahirkan Joe itu marah kepadanya.
"Oh ya sudah, kalian hati-hati dijalan." Umi Maryam mengangguk setuju, sambil mengulum senyum.
"Iya, Bu." Mami Yeri pun masuk kembali ke dalam mobil Sandi, dan kemudian mobil itu melaju pergi dari pekarangan rumah Abi Hamdan.
Di tengah perjalanan, Syifa masih sibuk dengan pikiran di dalam otaknya untuk mencari cara memberikan alasan supaya tak jadi ikut.
Sedangkan Mami Yeri, wanita itu mencoba menghubungi Joe. Untuk meminta izin membawa istrinya periksa kandungan.
"Nomor yang Anda tuju sedang sibuk, mohon ...." Suara operator yang terdengar, mengatakan jika nomor pria itu sibuk.
"Sedang telepon siapa si Joe ini? Ah ada-ada saja," gumam Mami Yeri lalu menarik ponselnya yang semula menempel pada telinga kanan.
Dia pun kembali mengetik-ngetik benda pipihnya lagi, mencoba menelepon ulang anaknya. Namun sayang, nomor itu kembali sibuk.
'Ah ya sudahlah, toh aku pergi sama Syifa juga untuk ke dokter kandungan, bukan untuk mengajaknya keluyuran. Aku juga 'kan nggak pernah pergi berdua dengan menantu baruku, jadi sesekali pergi berdua nggak masalah, kan?' Mami Yeri membatin dalam hati, lalu menoleh ke arah Syifa di sampingnya dan perlahan menyentuh punggung tangan kanan menantunya.
Namun sontak, perempuan itu tersentak sebab sejak tadi memang sedang melamun.
"Lho kenapa, Fa? Kok sampai kaget gitu?" tanya Mami Yeri heran, kedua alis matanya tampak bertaut.
"Ah nggak, Mi." Syifa menggelengkan kepalanya. "Aku nggak apa-apa. Cuma deg-degan aja."
"Deg-degan kenapa?"
"Karena mau periksa kandungan," jawab Syifa sambil tersenyum canggung. "Eemm ... padahal, harusnya nanti saja, Mi, periksanya. Perutku 'kan belum besar dan pasti janinnya masih sangat kecil." Syifa menyentuh perutnya, dia berkata demikian supaya ada alasan untuk tidak jadi pergi ke dokter.
"Periksa kandungan itu malah lebih bagus pas usia kandungannya masih dini, Fa. Jadi kita tau perkembangan bayi seperti apa di dalam sana. Mami saja pas hamil Joe ... hampir seminggu sekali bolak balik periksa kandungan, itulah sebabnya Joe jadi pria yang sempurna pas sudah lahir ke dunia," tuturnya memuji anak semata wayangnya.
__ADS_1
"Kalau Robert dulu gimana, Oma?" tanya Robert yang ikut menyahut, dia menatap Mami Yeri sambil tersenyum. "Dulu Mommy Sonya sering periksakan Robert ke dokter kandungan, nggak? Pas Robert masih ada di dalam perut?"
"Tentu saja, Sayang," jawab Mami Yeri lalu mendekat untuk mencium keningnya.
"Robert mau ikut Mommy periksa kandungan, ya, Oma? Robert juga kepengen lihat adik bayi di dalam perut Mommy," pintanya setengah merengek, lalu memeluk Syifa.
"Tapi kamu 'kan musti sekolah, Nak, nanti telat dong," tegur Syifa yang tampak tak setuju.
"Oma akan minta izin dulu ke wali kelasmu, ya, Rob. Berarti kita ke sekolah dulu," usul Mami Yeri.
"Aku wali kelasnya Robert, Mi," sahut Syifa.
"Oh ya?" Mami Yeri terlihat terkejut dengan mata yang agak membulat. "Wah ... enak banget dong. Berarti kamu bisa langsung mengizinkan Robert 'kan, Fa? Eh tapi kalau kamu periksa kandungan ... berarti nggak ngajar juga, ya?" Dia jadi terlihat bingung sendiri seraya mengusap tengkuknya.
"Minta izinnya sama Pak Bambang saja, Oma." Robert memberikan saran. "Lewat telepon saja, nggak perlu ke sekolah. Nanti lama kita sampai rumah sakit. Soalnya Robert udah nggak sabar banget ... ingin melihat adik bayi."
"Tapi Oma nggak punya nomor Pak Bambang. Dan Pak Bambang itu memangnya siapa, Rob?"
"Dia kepala sekolah Robert, Om Sandi punya nomornya," jawab Robert. "Oma minta saja sama Om Sandi, nomornya."
Sandi yang tengah menyetir di depan langsung merogoh kantong celananya untuk mengambil ponsel. Setelah itu, dia memutar tubuhnya ke belakang untuk memberikan ponselnya ke tangan Mami Yeri.
"Ini, Bu, cari saja kontak nama 'Pak Bambang'," kata Sandi memberitahu.
"Iya, San." Mami Yeri mengangguk kemudian mengambil ponsel Sandi. Kemudian mencatat nomor itu ke ponselnya sendiri, barulah setelah itu mencoba menghubungi.
"Yeri!" seru seorang wanita yang memanggil, ketika Mami Yeri, Syifa dan Robert melangkah masuk ke dalam rumah sakit.
Mami Yeri menoleh, berikut dengan Syifa dan Robert.
"Eh, Bu Yenny." Mami Yeri langsung tersenyum dan memeluk wanita tua yang memakai pakaian modis sepertinya. Setelah pelukan itu merelai, mereka pun cipika-cipiki.
Yenny ini adalah salah satu teman arisannya di Indonesia, dan Mami Yeri sendiri cukup banyak memiliki teman di tanah kelahiran suaminya.
"Kamu ngapain di rumah sakit? Siapa yang sakit? Apa menantumu?" tanya Yenny sambil menatap Syifa, dan perempuan itu langsung tersenyum kepadanya.
"Enggak." Mami Yeri menggeleng, lalu menyentuh perut rata Syifa dan seketika membuat Syifa menjadi salah tingkah. "Tapi mau periksa kandungannya, Bu."
"Oh ... Syifa sudah hamil?" Yenny tampak terkejut, tapi dia langsung tersenyum dan mengulurkan tangannya ke arah Syifa. "Selamat ya, Fa. Semoga sehat-sehat bayinya."
Syifa langsung menyambut uluran tangan itu, kemudian menggenggamnya. "Terima kasih, Bu."
"Panggil Tante saja. Tante 'kan teman Mamimu," sahut Yenny menatap Mami Yeri.
__ADS_1
"Benar, Fa. Dia teman Mami. Pas kamu dan Joe mengadakan pesta juga datang bersama suaminya," kata Mami Yeri memberitahu.
"Oh maaf, iya, Tante." Syifa mengangguk dan menatap Yenny.
"Bu Yenny sendiri ngapain ada di rumah sakit? Siapa yang sakit?" tanya Mami Yeri.
Yenny menggelengkan kepalanya. "Enggak ada yang sakit, Yer. Aku hanya habis suntik KB. Ya sudah, ya, aku pamit pulang. Semoga semuanya berjalan sukses, aku tunggu foto cucu keduamu di dalam kandungan," katanya sambil mengusap punggung temannya.
"Iya, Bu. Ibu hati-hati dijalan."
"Iya."
Mereka berdua kembali saling memeluk lalu bercipika-cipiki, setelah akhirnya berpisah dan Mami Yeri mengajak Syifa dan Robert menuju ruangan dokter kandungan.
Sebenarnya banyak sekali yang pasien yang mengantre menunggu giliran, tapi berhubung Mami Yeri sendiri sudah membuat janji dengan dokter yang merupakan temannya—jadi mereka diperbolehkan masuk lebih dulu, diantar oleh Suster yang berdiri di depan pintu ruangan.
"Pagi, Ay," sapa Mami Yeri melihat temannya yang bernama Dokter Ayya, yang tengah duduk di kursi kerjanya di dalam ruang kandungan.
"Eh Yeri." Dokter Ayya langsung menatap ke arah sumber suara. Dia pun langsung berdiri seraya melangkah menghampiri Mami Yeri, Syifa dan Robert. "Pagi juga. Kalian sudah datang? Oh ini yang namanya Syifa?" Dia memerhatikan Syifa, dari ujung kaki hingga kepala. "Cantik sekali. Dan mirip sekali sama istri Joe yang dulu."
Mendengar itu, ada rasa tak suka sebenarnya. Tapi Syifa sendiri memilih diam dan tersenyum saja.
"Namanya juga duplikatnya, Ay," sahut Mami Yeri terkekeh kecil, lalu merangkul bahu menantunya. "Ayok sekarang periksa menantuku. Aku udah nggak sabar banget ingin melihat perkembangan bayinya."
"Ayok. Silahkan berbaring." Dokter Ayya menyentuh lengan kanan Syifa, kemudian menuntunnya untuk berbaring di atas tempat tidur pemeriksaan. "Dibuka dulu sedikit baju, ya, Fa, maaf ...." Tangannya sudah meraih kemeja merah yang dikenakan Syifa, tapi perempuan itu langsung menahannya.
"Maaf, Dok, tapi pemeriksaan apa yang mau Dokter lakukan?" tanya Syifa dengan gugup.
Padahal sebenarnya pertanyaan itu tak perlu dia lontarkan, sebab harusnya sudah tahu jawabannya karena di dekat tempat tidur itu juga ada layar monitor USG.
Tapi yang dilakukan Syifa memang sengaja, demi mengulur waktu saja.
"USG, Fa." Yang menjawab Mami Yeri. "Kan Mami mau melihat cucu kedua Mami. Jadi dengan USG," tambahnya menjelaskan, barangkali Syifa tak paham.
"Oh begitu. Tapi boleh nggak, aku izin ke toilet dulu?" tanya Syifa beralasan.
"Mau ngapain ke toilet?"
"Ada mules perutku, Mi. Tapi hanya sebentar kok." Tanpa menunggu persetujuan, Syifa pun segera bangkit, lalu turun dari tempat dirinya berbaring.
'Aku harus gunakan waktu ini untuk menghubungi Aa. Barangkali Aa memiliki solusi.' Syifa melangkah cepat setengah berlari keluar dari sana. Tapi tanpa sepengetahuannya, Mami Yeri dan Robert sendiri berjalan mengikutinya dari belakang. 'Aku harus pinjam hapenya Pak Sandi berarti, karena aku sendiri nggak bawa hape. Pokonya aku nggak mau Mami sampai tau ... kalau aku nggak beneran hamil. Bisa-bisa dia memintaku dan Aa berpisah, terus Aa malah menikahi sekertarisnya.' Tubuh Syifa seketika menegang, merasa takut sendiri padahal hanya baru menerka-nerka.
......................
__ADS_1
...Kebiasaan kamu, Fa🤣 periksa aja belum udah ketakutan sendiri 🤭...