
Keesokan harinya.
"Allahu Akbar, Allahu Akbar, la ilaha illa Allah wa Allahu Akbar, Allahu Akbar wa lillahil-hamd."
Takbir kembali berkumandang, dan sebentar lagi akan tiba waktunya sholat Sunnah Idul Adha dimulai.
Joe dan Robert sudah bersiap ingin pergi ke masjid, keduanya bahkan memakai pakaian yang serupa. Dari mulai peci sampai sarung.
Tak hanya mereka, Syifa juga sudah bersiap. Dia memakai gamis berwarna navy, yang juga berwarna senada dengan suami dan anaknya.
Tapi memang pakaian ketiganya adalah satu set seragam.
Pakaian yang mereka pakai adalah pakaian baru, tapi sebetulnya bukan dadakan beli karena menyambut hari raya.
Belinya sudah lama dan Joe yang membelikannya. Hanya saja baru sekarang mereka memakainya.
Joe juga sekarang ingin mengoleksi pakaian seragam dengan Syifa, karena sekarang dia sudah punya istri. Dan pastinya Robert sangat senang, memakai pakaian samaan.
"Mommy ... Robert ke masjidnya duluan sama Daddy boleh, kan?" tanya Robert yang baru saja membuka pintu kamarnya, kemudian menghampiri Syifa yang sibuk memakai kerudung pasmina di depan meja rias.
Joe sendiri sudah ada diluar rumah, tengah mengobrol dengan Sandi.
"Boleh, Sayang." Syifa mengangguk dan mengulas senyum dari pantulan cermin.
"Assalamu'alaikum, Mommy," ucap Robert lalu mencium punggung tangan Syifa.
"Walaikum salam," jawabnya. Lantas menatap tubuh sang anak yang sudah menghilang dari balik pintu. "Oh ya ngomong-ngomong ... semalam Aa pulang jam berapa, ya? Kok aku nggak tau. Dan tumben ... semalam bolong lagi Aa nggak ngajak aku bercinta. Apa mungkin karena dia kecapekan?" gumamnya.
Entah mengapa, seperti ada yang beda dengan sikap Joe. Tidak seperti biasanya.
Bahkan saat pagi bangun Subuh, Joe hampir tak mengatakan sepatah kata pun kepada Syifa.
"Apa Aa ada masalah, ya? Nanti aku coba tanyain deh."
Setelah selesai, Syifa pun akhirnya keluar kamar dengan membawa mukenah dan sajadah di tangannya.
Keluarnya dia dari kamar bertepatan dengan keluarnya Umi Maryam dari kamar.
"Udah, Fa? Mau ke masjid sekarang?" tanya Umi Maryam.
"Udah, Mi." Syifa menganggukkan kepalanya. "Ayok kita berangkat sekarang, tapi Abi sendiri apa udah berangkat?"
Umi Maryam merangkul bahu anaknya, lantas bersama-sama melangkah keluar dari rumahnya kemudian mengunci pintu.
"Abi udah di masjid dari pas Subuh, Fa," jawab Umi Maryam. "Dia bilang sih mau jadi imam juga pas sholat raya."
"Oh gitu." Syifa menganggukkan kepalanya. "Terus, Mi, Umi rencananya mau masak apa kalau untanya udah disembelih? Nanti biar aku bantuin."
"Abi sendiri sih kepengen dibakar katanya, dibikin sate. Tapi Joe sama Robert sendiri udah kamu tanyain belum ... mereka mau dimasakin apa? Kan Umi nggak tau selera mereka."
"Aku lupa nanya, nanti deh pas selesai sholat ... aku tanyain, Umi."
***
Sementara itu ditempat berbeda.
__ADS_1
Pak Haji Samsul dan istrinya juga bersiap-siap akan melaksanakan sholat Sunnah Idul Adha. Tetapi mereka memilih untuk melaksanakannya di masjid dekat rumah Abi Hamdan.
Bukan karena di rumahnya tak ada masjid terdekat, tentu ada masjid juga. Malah lebih besar.
Namun, sengaja mereka ke sana karena ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri, jika unta-unta itu mati dengan mengenaskan.
"Beneran udah diracun, kan, Pa? Semalam itu berhasil, kan?" tanya Bu Hajah Dijah yang duduk di samping Pak Haji Samsul.
Sekarang, keduanya sudah menaiki mobil dan menunju masjid.
"Kata Pak Leman sih udah, Ma," jawab Pak Haji Samsul sambil tersenyum. Sedari bangun tidur, wajahnya sudah sangat berseri sekali.
Dia bahkan sudah berandai-andai, menyaksikan air mata dari seluruh keluarga Abi Hamdan. Dan pastinya—dia akan jadi orang pertama yang bersorak gembira, mungkin orang keduanya adalah Bu Hajah Dijah.
"Nanti Mama akan videokan, ah ... pas satu keluarga itu nangisin unta. Kayaknya seru deh, Pa." Bu Hajah Dijah terkikik, ikut senang juga sambil membayangkan.
Berhubung saat sampai masjid sudah masuk iqomah, jadi mereka berdua memutuskan untuk langsung ikut sholat dulu. Biar selesai sholat saja, baru keduanya melihat.
"Daddy ... Robert udah nggak sabar banget ingin mencicipi daging unta," lirih Robert yang berdiri di samping Joe. Mereka ada dideretan saf kedua.
"Iya, Daddy juga." Joe menganggukkan kepalanya.
Tiba-tiba, ada bocah sebayanya yang menepuk pundak kiri Robert. Dia berdiri di belakangnya.
Robert pun menoleh, dan kedua matanya sontak berbinar ketika bocah itu ternyata Baim—temannya. "Eh, kok kamu sholat di sini juga, Im?"
"Iya." Baim menganggukkan kepalanya. "Sengaja, biar ketemu Bu Syifa. Aku kangen sama dia."
"Oh ... terus udah ketemu? Oh ya, kamu kurban nggak? Aku kurban un ...." Robert belum selesai bicara, tapi kepalanya sudah digeserkan kepada Joe untuk menghadap ke arah depan. Sebab waktu sholat itu sudah dimulai.
"Ushallii sunnatan 'iidil adha rok'ataini mustaqbilal qiblati makmuman lillahi ta'alaa," ucap Robert membaca niat sambil takbiratul ihram, lalu melanjutkan untuk berkata, "Allahu Akbar."
*
*
Setelah sholat Sunnah dua rakaat selesai, seluruh makmum di masjid itu mendengarkan cemarah dari Abi Hamdan, yang menceritakan kisah nabi Ibrahim yang mendapat perintah dari Allah SWT untuk menyembelih anak laki-laki yang sudah sangat lama dinantikan, yang bernama Nabi Ismail.
"Ternyata, namamu nama Nabi ya, Im, baru sadar lho aku," ucap Robert kepada Baim, yang baru saja menggeserkan posisi duduknya untuk dekat dengannya.
"Iya, bagus, kan? Papaku yang ngasih nama lho." Baim menepuk dadanya dengan bangga, lalu memutar kepalanya sebentar ke belakang, dan tersenyum kepada Papanya. Yang duduk di sana.
"Nama Papamu Burhan, kan? Itu nama Nabi bukan?" tanya Robert dengan polosnya.
"Bukan." Baim menggelengkan kepalanya.
"Kalau Robert, nama Nabi bukan, Im?"
"Apalagi Robert. Bukanlah," kekeh Baim. "Kamu memangnya nggak tau, ya, nama-nama Nabi di Islam itu apa saja? Apa belum belajar ke arah sana?"
"Belum." Robert menggelengkan kepalanya. "Memang ... siapa-siapa aja namanya? Terus bagus-bagus nggak?"
"Ya baguslah. Namanya juga nama Nabi."
"Terus siapa saja namanya?" tanya Robert penasaran.
__ADS_1
"Rob ... dengerin Opa ceramah. Jangan ngobrol mulu," tegur Joe sambil menepuk pelan paha anaknya.
"Sebentar, Dad, Robert kepengen tau nama-nama Nabi dulu," jawabnya tanpa menoleh. Masih fokus menatap ke arah Baim.
"Tapi nggak sopan tau, nanti disembur sama Opa lho. Bahas nama-nama nabinya nanti saja, kalau udah keluar masjid." Joe berusaha menasehati, meski dari suara yang masih terdengar pelan.
"Daddymu bener, Rob. Nanti saja bahasnya. Nanti kamu diomelin," ujar Baim yang terlihat menuruti apa yang Joe katakan. Dia juga tak mau, jika Robert dimarahi.
Robert menganggukkan kepalanya. "Ya sudah, tapi habis ini kamu jangan langsung pulang, ya? Main dulu ke rumah Opaku. Soalnya Oma dan Mommy pasti mau masak daging kurban, kita nanti makan sama-sama."
"Oke." Baim menganggukkan kepalanya.
*
Sebelum ceramah itu selesai, Pak Haji Samsul dan Bu Hajah Dijah memilih untuk keluar dari masjid lebih dulu. Sebab mereka sudah sangat tidak sabar ingin menyaksikan unta-unta yang keracunan.
Bu Hajah Dijah pun sudah melakukan rekaman video pada ponsel bagusnya. Tapi dia tidak melakukan siaran langsung, lantaran takut jika dicurigai oleh orang-orang sekitar.
Dia hanya ingin mengabadikannya terlebih dahulu. Dan kalau momennya sudah tepat—barulah video itu dia publikasikan. Tentu dengan tangisan dari satu keluarga Abi Hamdan.
Kedatangan mereka ke lapangan berbarengan dengan Pak RT dan tiga bapak-bapak yang menjaga hewan kurban. Tapi mereka sudah berjalan di depan keduanya.
"Astaghfirullahallazim! Kenapa dengan hewan-hewan itu?!"
Tiba-tiba, Pak RT menyeru dengan lantang dan langsung berlari menghampiri beberapa hewan yang terlihat celeng, serta ada sebagian yang sudah bergeletak di tanah tak sadarkan diri dengan mulut yang berbusa.
Ketiga bapak-bapak disampingnya pun ikut berlari menghampiri dengan tergesa-gesa.
Pak Haji Samsul dan Bu Hajah Dijah sudah menerbitkan sebuah senyuman kebahagiaan, tapi senyuman itu seketika luntur kala pandangan matanya tertuju pada unta-unta yang terlihat masih berdiri dengan gagahnya.
"Lho, Pa, kenapa mereka masih hidup?" tanya Bu Hajah Dijah seraya menghentikan langkah dengan raut bingung bercampur rasa kaget.
Tapi yang lebih kagetnya di sini—justru yang terlihat keracunan adalah hewan lain yang ada di sana.
Beberapa sapi, kambing dan domba. Bahkan hanya 6 unta-unta yang terlihat masih hidup dan sehat.
"Lho iya, Ma? Kok bisa?" Mulut Pak Haji Samsul sampai sudah menganga, dengan kedua mata yang membulat sempurna.
Drrrttt ... Drrrttt ... Drrrtt.
Tiba-tiba, ponsel yang berada dalam genggaman Bu Hajah Dijah bergetar hebat.
Wanita tua itu pun langsung menatap ke arah layar, dan ternyata dia mendapatkan sebuah panggilan masuk yang bertuliskan nama 'Kantor Polisi'
Tanpa banyak berpikir, segera Bu Hajah Dijah mengangkatnya. Karena pastinya, ini berhubungan dengan Fahmi.
"Halo," ucap Bu Hajah Dijah.
"Halo, Bu, selamat pagi. Maaf saya mengganggu dihari raya. Tapi ini sangat penting sekali," ucap seorang perwira polisi di seberang sana.
"Ada apa ya, Pak?"
"Saudara Fahmi anak Ibu keracunan, dia sekarang sedang dibawa ke rumah sakit."
"APA?! KERACUNAN?!" Bu Hajah Dijah sontak berteriak kencang, lantaran begitu terkejut mendapatkan kabar itu. Sampai-sampai ponsel yang ada di tangannya terlepas hingga jatuh.
__ADS_1
...Nah, kan, kata Author juga apa, jangan jahat🤣...