
"Jadi nama fac*booknya apa nih, Bu? Maryam Yang Imut atau Maryam Kesayangan Abi Hamdan?" tanya Sandi yang terlihat bingung.
"Pakai nanya lagi kamu, San. Kan aku sudah jelaskan tadi. Kalau bukan nama Maryam Kesayangan Abi Hamdan ... mending nggak usah punya fac*book," balas Abi Hamdan dengan tegas.
"Baiklah, Tad." Karena tak mau pria itu marah, Sandi pun langsung menurutinya. "Kata sandinya apa Bu?" tanyanya lagi kepada Umi Maryam.
"Tanggal lahir Syifa lagi saja, San. Bisa, nggak?"
"Bisa, Bu." Sandi mengangguk. Selang beberapa menit setelah mendaftar, akhirnya akun media sosial itu telah jadi dan bisa dipakai.
***
Sementara itu di rumah Joe.
Sehabis makan malam, Mami Yeri dan Papi Paul tampak sibuk sekali di ruang makan.
Papi Paul mengupas buah apel dan memotongnya kecil-kecil, sedangkan Mami Yeri sendiri sedang menyuapi Syifa.
Apa yang dua orang itu lakukan atas dasar rasa sayangnya, karena menantunya sedang hamil. Tapi terlihat jelas, Syifa seperti tertekan. Sebab sesungguhnya dia kenyang. Hanya saja mereka masih memaksa untuk buka mulut.
"Mi ... udah cukup. Aku kenyang sekali, Mi."
Syifa melahap buah apel dari Mami Yeri yang entah keberapa kali, karena sangking banyaknya. Perlahan dia pun menyentuh perutnya yang terasa begitu begah, lalu menggerakkan bokongnya untuk menyamankan posisi duduk.
"Kenyang gimana sih, Fa? Orang tadi kamu makan hanya dua sendok. Siangnya makan bubur juga nggak habis, kan?"
__ADS_1
"Iya, Fa." Papi Paul yang masih bersemangat mengupas buah apel merah ikut menimpali. "Oh ... atau kamu kepengen makanan yang lain? Coba bilang sama Papi. Nanti Papi belikan."
Ajaib sekali memang, dalam sekejap dua orang itu begitu baik dan perhatian kepada Syifa. Jelas sekali, semuanya terjadi lantaran menantunya sedang hamil. Jadi mereka seolah-olah mengistimewakan Syifa di sini.
Namun, meskipun kebaikan keduanya memiliki sebab, Syifa sendiri tak masalah akan hal ini. Segini saja dia sudah cukup bahagia dan bersyukur. Karena mungkin saja, setelah cucu kedua mereka lahir—rasa sayang terhadapnya malah makin panjang dan tak terhingga.
Setidaknya untuk sekarang Syifa akan berpikir positif dulu.
"Kalau Syifa memang sudah kenyang, jangan dipaksa, Mi," sahut Joe yang tiba-tiba datang bersama Robert di sampingnya.
Bocah berkepala botak itu membawa sebuah nampan di tangannya yang berisi segelas susu putih.
"Iya, Oma, Opa, kasihan Mommynya. Mommy juga harus minum susu malam ini." Robert menimpali sambil menunjuk apa yang dia bawa.
"Itu susu Ibu hamil bukan?" tanya Mami Yeri.
"Dih ... kok kamu ngusir kami, Joe?" Papi Paul langsung menatap anaknya dengan sengit, tampaknya dia tersinggung. "Tega amat!"
"Iya, nggak boleh lho kamu ngomong kayak gitu," timpal Mami Yeri. "Mami sama Papi nggak pernah tuh ... ngusir kamu saat kamu ada di rumah kami. Kok kamu malah kayak gitu, sih, Joe?"
"Lho ... di sini aku nggak ngusir Mami sama Papi kok." Joe menggelengkan kepalanya. Rupanya orang tuanya itu salah paham dengan apa yang dia katakan. "Maksudku, ini 'kan memang sudah malam, Mi ... Pi. Memangnya kalian nggak mau istirahat, ya? Atau ngantuk gitu? Kalian juga 'kan belum mandi."
"Mami sama Papi mau menginap malam ini, Joe. Dan tolong kamu izinin Mami buat tidur bareng Syifa, ya?" pinta Mami Yeri.
"Kok gitu? Kenapa memangnya, tumben amat mau tidur bareng Syifa?" tanya Joe heran. Syifa juga begitu heran, hanya saja dia memilih untuk diam.
__ADS_1
"Ya nggak apa-apa. Sesekali tidur sama menantu sendiri 'kan nggak masalah. Iya, kan, Fa? Kamu mau tidur sama Mami juga, kan?" Mami Yeri menatap Syifa sambil mengelus perutnya, meminta jawaban darinya.
"Iya, Mi." Syifa mengangguk. Tentu dia tak akan menolaknya, karena tidak enak.
"Lho, terus ... kalau Mami tidur sama Syifa, Papi tidur sama siapa? Masa sama kami?" Joe menunjuk dirinya sendiri dan Robert.
"Papi juga ikutan tidur sama Syifa lah, Joe. Jadi nanti bertiga," sahut Papi Paul.
"Dih ... mana boleh begitu, Pi!" tegas Joe yang langsung melotot, lantaran kaget mendengar apa yang dikatakan Papinya dengan enteng.
"Kenapa memangnya? Papi juga mau tidur bareng sama cucu kedua Papi, Joe. Masa nggak boleh? Mami saja boleh kok." Papi Paul mengerucutkan bibirnya, lalu menyentuh perut menantunya.
"Tapi 'kan dia belum lahir, Pi. Masih ada di dalam perut. Papi nggak usah ngaco deh!" Joe perlahan menepis tangan Papinya.
"Ya nggak apa-apa. Sama saja intinya, yang penting dia 'kan udah hadir walaupun masih di dalam perut," sanggah Papi Paul.
"Enggak boleh, enak saja! Nanti Papi berbuat macam-macam lagi ke Syifa!" Joe terlihat curiga dan cemburu. Segera, dia pun mendekat ke arah Syifa dan menarik tangannya dengan perlahan untuk berdiri bersama.
"Papi nggak bakal ngapain-ngapin kok, Joe." Papi Paul langsung menahan tangan Syifa, ketika Joe baru saja hendak menariknya untuk pergi. "Lagian ada Mami juga. Nggak usah pelit kenapa, sih, sama orang tua. Syifa 'kan menantunya Papi, dan menantu 'kan sama saja seperti anak."
"Izinin saja, Joe," pinta Mami Yeri yang sepertinya mendukung permintaan suaminya. Karena dari awal dialah yang ingin menginap. "Nanti Papi tidurnya di bawah. Nggak bakal seranjang bareng sama Mami dan Syifa. Kamu nggak perlu khawatir, Papi masih inget batasannya kok."
"Tetap saja aku nggak mau! Aku mau tidur sama Syifa!" tegas Joe dengan penuh penekanan.
"Robert juga kepengen tidur sama Mommy, Dad," sahut Robert.
__ADS_1
...Bener, Om Joe, jangan mau. nanti Papi Paul nikung lagi 🤣🤣...