
"Tenda camping, Yang," jawab Joe, kemudian terlihat berkhayal. "Kayaknya seru, bercinta di dalam tenda. Tapi tendanya di alam terbuka. Pasti sejuk udaranya."
"Maksud Aa di hutan?" tebak Syifa. Kemudian langsung menggeleng cepat. "Enggak ah, A! Nanti banyak hewan. Kita bisa jadi santapannya. Ngeriiiii!!" Baru membayangkannya saja bulu roma Syifa sudah berdiri. Dia tak akan senekat itu, hanya karena ingin bercinta.
"Enggak perlu ke hutan, Yang."
"Terus dimana? Kan tadi Aa bilang di alam terbuka."
"Alam terbuka bukan berarti di hutan. Di lapangan juga bisa. Nanti aku minta Sandi cari lapangan yang luas, biar kita bisa buat tenda."
"Ribet nggak sih, A? Mana tendannya dadak bikin lagi."
"Enggaklah. Bikinnya dari sekarang, nanti aku suruh Sandi. Jadi pas kita ke lokasi ... kita bisa langsung bercumbu, Yang. Udah bisa langsung ditempati."
"Nanti ada satpol PP nggak, A? Bisa-bisa kita kena razia lagi."
"Enggak mungkin lah, Yang. Kan kita suami istri. Aneh-aneh saja kamu ini." Joe terkekeh.
"Terus Robert gimana, A? Enggak mungkin kita ajak dia, kan?"
"Jangan diajak lah, Yang. Kita pergi pas Robert udah tidur. Kita titip ke Umi dan Abi sebentar."
Ucapan Joe bertepatan dengan Robert yang baru saja keluar dari kamar mandi, bersama Opa dan Omanya.
"Oke, A." Syifa mengangguk, kemudian membalik tubuhnya dan tersenyum menatap sang anak. "Udah gosok gigi anak Mommy? Ayok tidur sini sama Mommy, Nak." Dia lantas menepuk kasur.
Sedangkan Joe sendiri memilih beranjak dari sana. Kemudian keluar dari kamar inap Abi Hamdan karena berniat ingin menemui Sandi.
Pria itu diminta Joe untuk ikut menginap, karena takutnya dia butuh sesuatu dan harus dilakukan cepat. Ya mungkin seperti sekarang.
"San ... lagi apa kamu?" Joe menemui Sandi di parkiran rumah sakit, saat asistennya itu tengah membuka pintu mobil.
"Eh Pak, Joe!" Sandi sedikit terkejut, karena kehadiran majikannya itu sangat tiba-tiba. Dia pun langsung menoleh. "Saya baru saja selesai sholat isya, Pak. Bapak kenapa? Apa butuh sesuatu?"
"Carikan lapangan disekitar sini, tapi yang sepi, San."
"Buat apa, Pak?"
"Buat kamu bikin tenda."
"Saya enggak perlu tidur ditenda, Pak. Dimobil juga bisa." Sandi kira, tenda itu untuknya.
"Dih ... bukan untukmu, San! Tapi untukku dan Syifa."
__ADS_1
"Bapak dan Bu Syifa ngapain tidur ditenda? Kan ada kasur lipat di dalam."
"Bukan buat tidur. Intinya kamu buat sekarang saja, San! Cepat! Aku butuh sekarang soalnya." Joe malu untuk menjelaskannya, meskipun terkadang dia juga suka khilaf untuk menceritakannya sendiri.
"Oke deh, Pak." Sandi mengangguk. "Kalau di lapangan belakang rumah sakit Bapak mau nggak? Kalau mau saya bisa langsung buat di sana."
"Memang di belakang ada lapangan, San?"
"Ada. Didekat mushola, Pak. Tapi itu lapangan kuburan. Tapi luas juga sih."
"Gila aja kamu, San! Masa dikuburan!" Joe tampak syok mendengarnya. Refleks kedua matanya melotot.
"Ya katanya di lapangan."
"Iya, tapi jangan di lapangan kuburan juga kali, San! Nanti yang ada aku nggak bisa berkonsentrasi dalam bercinta!" Secara tidak sadar, Joe pun mengungkapkan niatnya ingin membuat tenda.
"Ya ampun ... jadi Bapak ingin buat tenda karena ingin bercinta? Yang benar saja, Pak?" Sandi membulat mata dengan sorot mata tak menyangka.
Wajah Joe seketika memerah. Refleks dia pun menampar bibirnya karena bisa-bisanya sudah keceplosan. "Udah, San. Sekarang cepat turuti saja kemauanku! Ini bukan aku doang kok yang pengen, tapi Syifa juga. Namanya bumil 'kan harus selalu dituruti. Nanti Adiknya Robert bisa-bisa ileran." Karena merasa malu, terpaksa Joe pun membawa-bawa calon anaknya yang dijadikan tameng. "Kalau sudah selesai kabari aku, San! Tapi GPL!" tambahnya, kemudian buru-buru masuk lagi ke dalam rumah sakit.
Sandi hanya bisa geleng-geleng kepala, lalu masuk ke dalam mobilnya. Dia betul-betul tak menyangka jika Joe makin konyol saja tingkahnya. "Ada-ada saja Pak Joe ini. Apakah ini sebagian dari ngidamnya? Agak lain juga kayaknya, ya? Perasaan pas dulu sama almarhum Bu Sonya ... dia nggak pernah minta yang aneh-aneh. Mungkin faktor kelamaan menduda kali, ya, dulunya itu."
*
*
Joe membuka pintu kamar inap sang mertua dengan perlahan. Semua orang di dalam sana terlihat sudah memejamkan mata, namun terkecuali dengan Robert yang sekarang berada di samping Abi Hamdan. Sedang berbaring sembari memeluknya.
Selain wajahnya yang cemberut, bocah itu juga tampak sedang menatapnya dengan tajam.
'Belum tidur ternyata si Robert. Dan masih marah dia kayaknya sama aku.' Joe memilih duduk di sofa sambil menunggu bocah itu tidur. Tapi dia langsung melemparkan sebuah senyuman kepadanya.
'Apa-apaan Daddy! Senyum-senyum segala!' Robert mendengkus kesal. Dia pun mencebik bibirnya kemudian menatap ke arah lain dan perlahan kedua matanya dia pejamkan.
'Cepat tidur, Rob. Daddy sama Mommymu mau cari suasana baru buat bercinta. Kasihan adik bayimu juga, pasti dia kangen sama Daddy. Kepengen ditengokin,' batin Joe yang tanpa sadar sudah mengelus miliknya dari balik celana bahan yang dipakai. Susah payah dia pun menelan saliva, karena menahan gejolak hasrat di dalam dada.
*
*
Hanya dalam waktu 40 menit, Sandi sudah langsung mengabari Joe. Mengatakan jika lapangan dan tendanya sudah siap untuk digunakan.
Dia memang betul-betul orang yang bisa Joe andalkan. Maka tak heran, gaji Sandi selalu naik perbulannya. Ditambah juga dengan sebuah bonus.
__ADS_1
"Yang ... ayok bangun! Kita harus pergi cepat!" bisik Joe dengan penekanan, seraya menggoyangkan tubuh Syifa. Perempuan itu ketiduran dan tak kunjung terbangun meskipun Joe berulang kali menggoyangkan tubuhnya, bahkan sesekali sudah menciumi bibir. "Ah ... langsung kubawa saja deh. Nggak ada waktu lagi."
Melihat suasananya sudah cukup bagus untuk dirinya pergi bersama Syifa, Joe pun tak ingin membuang kesempatan itu.
Buru-buru dia mengangkat tubuh istrinya. Kemudian melangkah cepat keluar dari kamar inap itu.
'Umi, Abi, aku titip Robert sebentar, ya!' pinta Joe yang membatin dalam hati.
Tepat di parkiran, Sandi sudah menunggu mereka. Dan saat melihat sang bos menuju mobilnya—gegas dia membukakan pintu mobil untuk dirinya masuk.
Setelah itu, dia pun masuk kembali ke dalam mobil dan menancapkan gasnya. Melaju pergi dari sana.
"Bukan lapangan kuburan 'kan, San?" tanya Joe memastikan.
"Bukan, Pak."
"Tendanya kamu dadakan beli atau gimana? Kok cepet banget perasaan."
"Pinjam, Pak, punya Om Yunus. Kalau beli mah ribet pasti nyarinya."
"Tapi kokoh 'kan, tendanya? Dan muat buat dua orang?"
"Iya, Pak." Sandi mengangguk. "Dulu aku dan Om Yunus pernah camping ke gunung dengan tenda itu."
Tak lama kemudian, mereka pun akhirnya sampai disebuah lapangan luas. Namun, letaknya dekat sekali dengan jalan. Sehingga bisa dipastikan—jika ada pejalan kaki yang lewat ia bisa melihat ada sebuah tenda.
Hanya saja untungnya sekarang dalam suasana sepi, jadi tidak ada siapa pun yang lewat. Mungkin karena sudah larut malam juga.
"Kayaknya terlalu dekat dengan jalan, ya, San. Bisa-bisa kalau ada yang lewat ... dia bisa ngelihat aku sama Syifa lagi enak-enak. Malu dong. Mana aku mau pakai gaya ubur-ubur lagi." Joe tampak ragu saat sudah turun dari mobil, lalu menatap sekeliling lapangan itu.
"Ngelihat juga paling tendanya doang, Pak. Bukan pas Bapak lagi enak-enaknya. Kan ketutup," jawab Sandi. "Habis saya juga bingung, Pak, nyari tempatnya. Cuma ini yang menurut saya cocok. Sedangkan Bapak bilang di hutan nggak mau, di kuburan apalagi. Takut katanya."
"Iya, sih." Joe mengangguk setuju, lalu masuk lagi ke dalam mobil untuk menggendong Syifa yang terlihat masih tertidur. "Ya sudah nggak apa-apa, San. Asalkan di alam terbuka dengan suasana baru. Tapi kamu jangan pulang. Tunggu di sini, ya! Sambil awasi ... takutnya ada hal yang akan menganggu waktuku bersama Syifa."
"Jadi maksudnya, saya nungguin Bapak dan Bu Syifa sampai selesai bercinta gitu? Di sini?"
"Iya. Nggak apa-apa, kan, San? Tapi kamu dilarang ngintip! Nanti kupecat kalau berani melakukannya!" ancam Joe kemudian melangkah menjauh menuju tenda berwarna biru navy.
Benda itu letaknya di tengah-tengah lapangan, sedangkan Sandi menghentikan mobilnya di pinggir jalan.
"Ya nggak apa-apa, sih, tapi agak sedih aja ... lihat nasib jomblo yang begini ...," keluh Sandi dengan raut sedih. Tapi sebisa mungkin dia tetap tersenyum melihat Joe yang sudah masuk ke dalam tenda bersama Syifa yang dia gendong. "Kapan, ya, giliran aku yang bercinta? Dan apa rasanya kira-kira?"
...Jangan lupa vote dan hadiahnya, Guys... Biar Author semangat update ☺️🙏...
__ADS_1