
"Aku menantunya Ustad Hamdan, Pak." Joe langsung menunjuk dirinya sendiri. "Tapi namaku Jonathan, bukan Jojon."
"Om Polisi salah alamat kali," tebak Robert.
"Mungkin menantu Pak Ustad Hamdan yang lain, Pak," jawab Pak Polisi menatap Joe.
"Menantunya hanya aku, Pak. Nggak ada yang lain."
Ceklek~
Pintu rumah Abi Hamdan itu perlahan dibuka, dan Umi Maryam lah yang membukanya.
"Lho, kalian sudah pulang? Dan kenapa ada polisi di sini?" tanya Umi Maryam heran.
"Assalamualaikum, Umi," ucap Syifa lalu meraih tangan Umi Maryam dan mencium punggung tangannya. Robert pun melakukan hal yang sama berikut dengan Joe.
"Walaikum salam," jawab Umi Maryam, lalu melebarkan pintu sambil menatap ke arah dua polisi yang kini berdiri di dekat Joe. "Ayok silahkan masuk."
"Maaf sebelumnya, Bu. Saya dan rekan saya hanya mencari saudara Jojon, menantu dari Pak Ustad Hamdan. Dan kalau bisa, beserta anak laki-lakinya juga," ucap Pak Polisi yang berbicara kepada Umi Maryam.
"Berarti Bapak cari saya dan Robert," kata Joe menoleh kepada Pak Polisi. Keningnya pun tampak mengernyit. "Tapi, ada hal apa, ya, Pak? Sehingga Bapak mencariku dan Robert?"
"Bisa Bapak dan anak Bapak ikut kami ke kantor polisi?" tanya rekan polisi. "Nanti biar kami jelaskan di sana saja, Pak," tambahnya memberitahu.
"Robert nggak mau ikut Om Polisi!" tolak Robert sambil menggelengkan kepalanya, lalu menurunkan tubuhnya dari gendongan Syifa dan langsung berlari untuk memeluk Joe. "Om Polisi juga nggak boleh membawa Daddy! Kami ingin tidur, mengantuk!" tambahnya dengan tegas.
"Sebentar saja, Dek," kata Pak Polisi, lalu mengelus puncak rambut Robert. Tapi bocah itu langsung menepisnya dengan kasar. "Om Polisi butuh keterangan Adek dan Daddy Adek."
"Keterangan apa, Pak? Bisa Bapak bicarakan saja secara langsung?" tanya Joe penasaran.
Syifa mendekat, lalu menggenggam tangan kanan Joe dengan erat. "Jangan bawa suami dan anakku, Pak. Mereka berdua orang baik," larangnya.
"Saya hanya minta suami dan anak Anda ikut, Nona. Hanya untuk meminta keterangan, bukan untuk memasukkannya ke dalam penjara," ucap rekan polisi.
Sebelum mereka menangkap seseorang, semuanya harus dipastikan terlebih dahulu. Jadi mereka tak akan asal menangkap.
"Ya sudah kalau begitu, ayok kita ke kantor polisi, Pak," kata Joe yang tampak setuju. Kepalanya mengangguk.
"Jangan, A!"
"Jangan, Dad!"
Syifa dan Robert berucap secara bersamaan, dan keduanya sama-sama tak setuju jika Joe ikut bersama mereka.
__ADS_1
"Abi! Cepat keluar, Bi!" teriak Umi Maryam yang menggedor-gedor kamar mandi di dapur. Di dalam sana ada suaminya yang tengah membuang hajat.
Dia sengaja masuk lagi ke dalam rumah dan datang untuk mengadu, supaya nantinya suaminya itu membantu Joe dan Robert untuk tidak ikut ke kantor polisi.
"Mau apa, Umi?! Abi nang ... Eeuughhh!" Abi Hamdan mulai mengejan dengan mata melotot. Mengeluarkan pisang gorengnya yang terasa keras seperti batu.
"Diluar ada dua polisi, dia meminta Joe dan Robert untuk ikut dengannya ke kantor polisi, Bi!" sahut Umi Maryam berteriak.
"Kantor polisi?!" Kedua bola mata Abi Hamdan sontak melotot. Merasa terkejut dengan apa yang diucapkan istrinya.
Pisang gorengnya pun tak jadi keluar, malah masuk lagi ke dalam. Gegas, dia pun membersihkan dirinya lalu mencuci tangan dengan sabun.
"Mau apa polisi ingin meminta Jojon dan Robert ikut, Mi?" tanya Abi Handan.
Umi Maryam menggelengkan kepalanya. "Umi nggak tau. Mangkanya Abi cepat keluar dan temui mereka diluar."
Abi Hamdan yang terlihat panik itu langsung memakai kembali sarungnya, melilitkannya di atas pinggang. Tanpa sadar dia meninggalkan celanna dalamnya di kamar mandi untuk dipakai, sebab sudah buru-buru keluar dari kamar mandi dan berlari keluar rumah.
"Tunggu!" teriaknya dengan lantang, saat dimana dia melihat Joe yang tengah menggendong Robert hendak masuk ke dalam mobil polisi pada pintu belakang. Dan pintu tersebut dibukakan olah salah satu perwira polisi itu.
Dilihat mata Syifa sudah berkaca-kaca, dia tampaknya sedih sekaligus takut dengan apa yang akan terjadi pada Joe dan Robert.
"Opa!! Robert nggak mau ikut Om Polisi, Daddy juga nggak boleh ikut!" pinta Robert sambil menatap Opanya.
"Kenapa Bapak ingin membawa cucu dan menantuku? Apa yang terjadi?" tanya Abi Hamdan penasaran yang melangkah cepat menghampiri mobil polisi.
"Apa Bapak yang bernama Ustad Hamdan Sonjaya?" tanya salah satu polisi itu menatap Abi Hamdan.
"Benar, Pak." Abi Hamdan mengangguk. "Tapi kenapa Bapak ingin membawa menantu dan cucuku? Mereka salah apa, Pak?"
"Kami hanya ingin minta keterangan dari mereka, Pak. Dan Pak Ustad tidak masalah jika ingin ikut menemani." Salah satu Pak Polisi itu menawarkan, lantas membukakan pintu depan mobil di samping kursi kemudi untuk Abi Hamdan.
"Aku juga mau ikut, Pak," pinta Syifa yang ikut mendekat.
"Maaf, Nona, Nona sebaiknya di rumah saja. Ini hanya sebentar," tolak Pak Polisi, lalu kembali menatap Abi Hamdan. "Mari, Pak."
Pria tua itu mengangguk, kemudian langsung masuk ke dalam sana.
"Mommy!" rengek Robert dengan kedua mata yang sudah berkaca-kaca. Dia tampak sedih sekali harus pergi tanpa Syifa.
"Kamu tenang saja, Yang, semuanya akan baik-baik saja," ucap Joe sambil tersenyum hangat menatap istrinya. Berbeda dengan yang lain yang terlihat panik serta khawatir, dia justru biasa saja.
Wajar juga, sebab Joe berpikir selama ini dirinya tak ada kesalahan yang berbau-bau kriminal. Jadi—apa yang perlu dia khawatirkan, benar, kan?
__ADS_1
"Hati-hati, A. Kalau ada apa-apa tolong cepat hubungi aku," pinta Syifa sambil menyentuh dadanya yang terasa berdebar kencang. Umi Maryam yang baru saja datang langsung menghampiri anaknya, lalu merangkul bahunya.
"Pasti." Joe mengangguk cepat. "Assalamu'alaikum." Setelah mengatakan hal itu, dia pun masuk ke dalam mobil dengan Robert. Polisi yang satunya pun ikut masuk dan duduk di sampingnya.
"Walaikum salam," jawab Syifa. Melihat anaknya melambaikan tangan dari jendela yang terbuka, dia pun ikut melakukannya. 'Ya Allah ... tolong lindungi anak dan suamiku. Semoga semuanya baik-baik saja,' batinnya penuh harap.
"Kamu tenang, ya, Fa, Umi juga bingung dan sama khawatirnya seperti kamu." Umi Maryam menasehati sambil mengelus lembut punggung anaknya. "Sekarang kita masuk ke dalam rumah, kita tunggu mereka semua pulang di dalam saja. Dan Umi yakin ... nggak akan ada hal buruk yang terjadi. Semuanya akan baik-baik saja."
"Amin, Umi." Syifa mengangguk, kemudian mengikuti langkah Uminya yang mengajaknya masuk ke dalam rumah.
***
Di kantor polisi.
Mereka semua kini sudah berada di 'Ruang Keluhan'
Joe dan Abi Hamdan duduk bersebelahan, sedangkan Robert duduk di atas pangkuan Joe. Kedua polisi tadi pun ada di sana. Duduk dikursi di depan mereka yang terhalang oleh meja persegi.
'Duh, kok daritadi jantung Robert deg-degan ya?' batin Robert sambil menyentuh dadanya. Dia juga merasakan kedua telapak tangannya berkeringat. 'Semoga nggak akan terjadi apa-apa. Dan semoga aja apa yang Om Polisi tadi katakan adalah benar ... kami hanya diminta keterangan. Eh tapi ngomong-ngomong ... keterangan apa, ya? Apakah seperti keterangan pada buku absen, tentang kita nggak masuk sekolah karena sakit?' tambahnya yang masih bertanya-tanya. Dan mendadak perutnya pun menjadi melilit, serta mules seperti ingin berak.
"Kamu kenapa, Nak?" tanya Abi Hamdan yang menatap heran cucunya. Bocah itu kini sudah menyentuh perutnya sambil meringis dengan wajah yang tampak merah.
"Perutku mendadak mules, Opa, kayak pengen berak."
"Tahan dulu sebentar ya, Dek," saran Pak Polisi yang mengetik keyboard laptopnya. Dia akan menunjukkan rekaman CCTV itu ke depan mereka semua.
"Duh ... nggak bisa, Om. Kayaknya Robert beneran mau be ...." Ucapan bocah itu seketika terputus diujung bibirnya, kala bibir keriput di bawah sana mengeluarkan suara yang cukup nyaring.
Duttttt!!
"Ya ampun, Daddy!" Robert terlihat syok, kedua matanya terbelalak dan dia pun langsung turun dari pangkuan Joe sambil menyentuh celana bagian bok*ngnya yang terasa seperti basah.
"Maafkan anakku yang keceplosan, ya, Pak," ucap Joe tak enak hati sambil menatap kedua Pak Polisi silih berganti. "Dia memang kalau kentut nggak bisa direm, berikut dengan suaranya."
"Iya, Pak, nggak apa-apa." Pak Polisi di depan Joe menjawab sambil menganggukkan kepalanya.
"Daddy gimana ini, Dad?" tanya Robert yang wajahnya seketika menjadi pucat. Kedua tangannya masih menyentuh bok*ng.
"Nggak apa-apa, Nak. Jangan ditahan. Nanti yang ada penyakit," sahut Abi Hamdan yang terlihat tak mempermasalahkan tentang kentut itu. Sebab dia juga pernah kentut.
"Bukan masalah nahannya, Opa." Robert melangkah dengan kaki yang diseret ke arah Abi Hamdan, sebab takut jika ada yang keluar dari celananya. Setelah mendekat, dia lantas berbisik ke telinga kanan Abi Hamdan. "Tapi ada yang udah keluar sedikit di dalam celana."
Abi Hamdan sontak terbelalak, merasa terkejut. "Maksudnya, kamu kacipirit, Rob?"
__ADS_1
...Ngasih keterangan aja belum, udah kacipirit aja kamu, Rob 🤣 dasar jorok bocah!...