
Syifa mengerjap-ngerjapkan matanya secara perlahan, karena merasakan sentuhan pada puncak dadanya.
"Aa ... Aahhh ...," desaahnya, saat mengetahui ternyata itu ulah suaminya. Bahkan tubuh keduanya kini sudah sama-sama bugil.
"Kamu udah bangun, Yang? Syukurlah ...." Joe melepaskan sesapan, lalu memandangi wajah Syifa yang terlihat kebingungan menatap sekeliling. "Apa yang kamu pikirkan, Yang?"
"Ini di mana, A?" Syifa menatap samar-samar. Karena minim sekali pencahayaan.
Sebetulnya ada lampu di dalam sana, hanya saja Joe memilih untuk mematikannya. Karena bercinta dengan suasana gelap jauh lebih menggairahkan.
"Ini ditenda. Kan aku udah bilang ... kalau kita akan bercinta dengan suana baru."
"Jadi serius? Aa jadi ngajak aku bercinta di sini?" Syifa terlihat tak menyangka, segera dia membuka jendela tenda untuk melihat ke arah luar.
Jendela tenda itu mirip seperti jaring, sehingga celah-celah kecilnya mampu memasukkan udara dari luar. Tapi nyamuk tak bisa masuk dari sana.
"Ya jadilah, Yang. Buktinya kita ada di sini." Joe beringsut turun dari tubuh Syifa, lalu membuka kedua paha istrinya dengan lebar seraya mengelus-elus bagian intinya.
"Tapi ini seperti di lapangan, A. Kalau ada yang lihat atau ngintip kita gimana?" Syifa mengigit bibir bawahnya. Dia berucap sambil menahan gejolak yang dirasakan akibat apa yang suaminya lakukan.
"Enggak bakal ada yang berani ngintip."
"Aa yakin?"
"Yakin lah, Yang."
"Apa jaminannya, A? Uuuhh ... hentikan dulu, A!" Syifa menahan tangan Joe. Pembicaraannya jadi tidak fokus karena pria itu terus menggoda miliknya.
__ADS_1
"Ada Sandi dari kejauhan, Yang, yang mengawasi. Aku yakin ... nggak akan ada yang mengintip atau pun menganggu kita."
"Tapi Pak Sandi sendiri nggak bakal bisa melihat aktivitas kita, kan, A? Aku malu rasanya."
"Enggak lah, Yang. Kamu tenang saja." Joe tersenyum, lalu mencium bibir Syifa. "Mulai sekarang pemanasannya, ya? Aku udah kepengen banget soalnya."
"Tapi kita pakai gaya apa, A? Di suasana baru seperti ini?"
"Gaya ubur-ubur, Yang. Nanti akan kuajari caranya."
"Oke." Syifa mengangguk.
Joe pun memulai pemanasannya dengan memainkan milik Syifa terlebih dahulu. Supaya membuatnya makin tera*ngsang dan menginginkan hal yang lebih dari ini.
Sementara itu di dalam mobil dengan kaca jendela yang terbuka, Sandi tengah duduk melamun memerhatikan tenda. Lama-lama bosan juga, ditambah jadi mengantuk. Ingin bermain ponsel pun saat ini baterainya habis.
"Lama juga ternyata, nungguin orang bercinta. Kira-kira di sini ada warung nggak, ya?" Sandi pun menatap sekeliling jalan, mencari-cari keberadaan warung yang mungkin bisa dia singahi untuk membeli kopi. Karena mungkin dengan ngopi—akan mengurangi rasa kantuknya. "Coba pergi ke depan sebentar deh, siapa tau ada warung."
"Eh, Vid! Berhenti dulu sebentar!"
Seorang laki-laki yang tengah membonceng motor metik langsung menepuk punggung temannya, yang mengemudi di depan. Saat di mana dia tak sengaja melihat ada sebuah tenda di tengah-tengah lapangan.
Selain aneh dengan adanya satu tenda, benda itu juga terlihat bergoyang-goyang. Padahal angin malam hari ini tidak terlalu kencang.
"Ada apa, sih? Udah malam tau, Din! Aku mau cepat pulang" Temannya itu mendengkus, tapi dia menghentikan motornya di sisi jalan.
"Lihat deh, Vid! Ada tenda ...," tunjuknya ke arah yang dimaksud. Temannya David langsung menatap ke sana.
__ADS_1
"Terus?"
"Itu tenda apa, ya, Vid? Dan kok goyang-goyang?" Kening laki-laki bergigi tonggos namun berbehel itu tampak mengerenyit.
"Paling tenda kemah," tebak David. Mengingat masih dalam bulan Agustus, dan memang setiap tahunnya selalu ada perkemahan di dekat-dekat sini.
"Kemah kok sendirian? Aneh." Udin menatap tak percaya.
"Ya udah sih, Din. Biarkan saja. Lagian nggak penting juga, kan, mau tenda kemah kek ... tenda camping kek. Kan bukan urusan kita." Ada benarnya apa yang dikatakan David. Namun si Udin temannya itu justru sudah turun dari motor, kemudian berjalan pelan untuk mengobati rasa penasaran.
"Mau ngapain si Udin? Segala dekati tenda segala lagi." David hanya memerhatikan gerak gerik temannya, yang kini sudah sangat dekat dengan tenda. Namun tak berlangsung lama, karena lelaki itu pun segera berlari menghampirinya lagi.
"Ada tontonan seru, Vid! Ayok turun!" Si Udin tiba-tiba menarik tangan David, sehingga temannya itu turun dari motor.
"Tontonan apa, sih?"
"Ternyata di dalam sana ada pasangan mesum, yang lagi enak-enak. Aku nggak sengaja mendengar suaranya tadi. Katanya Ah! Ah! Enak, Sayang!" Udin mengungkapkan apa yang sempat dia dengar tadi.
"Terus mau ngapain? Ngintip?" tanya David. Tapi jujur, mendengar apa yang teman katakan membuat dirinya penasaran.
Memang naluri seorang laki-laki tak bisa bohong, jika sudah berbau hal semacam itu. Maka tak jarang, banyak orang yang mengatakan itu adalah adegan pemersatu bangsa. Karena hampir semua kaum apalagi laki-laki, rata-rata sangat menyukainya.
"Iyalah. Jarang-jarang kita nonton adegan p*rno secara live. Kamu jangan lupa siapkan hapemu untuk membuat rekaman. Lumayan, Vid."
Tanpa membuang waktu, Udin sudah menarik tangan David untuk melangkah mengendap-endap bersamanya menuju tenda.
"Kenapa pakai direkam segala? Mau diviralkan?" bisik David. Segera dia merogoh ponselnya ke dalam kantong celana.
__ADS_1
"Kita masukkan ke dalam situs dulu, biar kita dapat uang. Habis itu kita viralkan, Vid. Kan lumayan ... buat nambah uang jajan," jawab Udin yang mendapatkan sebuah ide.
...Waahh bahaya ini Om Joe 🤣 ada yang mau ngintip 🙈...