Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
57. Cobaan di depan mata


__ADS_3

Tak berselang lama, Sandi kembali dengan dua orang pria berseragam hitam. Mereka adalah satpam di hotel itu.


"Selamat sore, Pak, apa Anda yang bernama Pak Paulus? Yang meminta Bapak ini untuk menyuruh kami mendobrak pintu?" Salah satu satpam itu berbicara dengan Papi Paul, sambil menatap ke arah Sandi sebentar.


Pria tua berketurunan Chinese itu langsung mengangguk. "Iya, betul, Pak. Tolong dobrak pintunya biar aku bisa masuk untuk menemui anak dan menantuku."


"Tapi, Pak, apa ini tidak menganggu privasi orang? Ya meskipun di dalam adalah anak dan menantu Bapak ... tapi semua orang pasti punya privasi, kan?" Dia dan temannya bersedia, menuruti permintaan Sandi. Namun alangkah baiknya, dia terlebih dahulu memastikan. Tentang yakin tidaknya dengan tindakan yang akan Papi Paul lakukan.


"Mungkin memang benar menganggu. Tapi sudah nggak ada cara lain. Anakku susah dihubungi, sudah berulang kali memencet bel tak ada sahutan. Apalagi untuk berteriak memanggil namanya," keluh Papi Paul dengan wajah pusing, lalu membuang napasnya dengan gusar. "Sedangkan cucuku ... dia terus menangis di restoran karena ingin bertemu Mommynya. Sampai-sampai jam makan siangnya pun terlewat dan aku nggak mau kalau sampai dia sakit," tambahnya menjelaskan.


Papi Paul tahu, tindakan yang akan dia lakukan ini sangat salah. Tapi seperti apa yang dikatakan tadi, ini tak ada pilihan. Tak tega rasanya, dia kepada Robert yang terus bersedih.


Bukan hanya Joe saja yang butuh Syifa, tapi cucunya juga.


"Oke. Tapi saya dan pihak hotel nggak bertanggung jawab ya, Pak, ini murni keputusan Bapak."


"Iya." Papi Paul mengangguk. "Aku juga bersedia untuk ganti rugi. Silahkan Bapak bantu untuk mendobrak pintu."


"Kebetulan pihak hotel memberikan kunci cadangan, Pak. Jadi nggak perlu mendobraknya," jawab pria berseragam itu, kemudian merogoh kantong celana bahannya dan mengambil cardlock. Setelah menempelkan kartu itu ke tempatnya, pintu tersebut berhasil dibuka. "Silahkan, Pak." Menatap ke arah Papi Paul, mempersilahkan pria itu masuk.


Papi Paul perlahan menurunkan handle pintu, lalu mendorong pintu itu dan melangkah masuk ke dalam sana.


"Jonathan!" teriaknya.


Syifa yang tengah digendong oleh Joe di dalam kamar mandi sontak terkejut. Mendengar suara teriakan yang terdengar begitu dekat itu.


Dia yang masih menahan desahhan lantaran di bawah sana Joe tengah menggempurnya langsung menepuk kedua pipi suaminya. Demi menghentikan aktivitas dan menyadarkan.


Sebab sejak tadi, pria itu seperti orang yang kesurupan. Terus mencumbuinya tanpa jeda. Mungkin istirahatnya saat makan dan sholat saja.


"Joe! Syifa! Kalian ada di mana?!" teriak Papi Paul sekali lagi.


"Aa udah ... aahh!" Syifa menahan pinggul Joe. Sebab nyatanya pria itu masih sibuk dan seolah menutup telinga.

__ADS_1


"Kenapa Sayang? Ini 'kan sangat enak. Mmm?"


"Itu diluar ada orang, A. Sepertinya ...." Ucapan Syifa menggantung saat melihat handle pintu diputar hingga terbuka. Tapi sebelum pintu itu berhasil terdorong, Joe langsung berlari dan menahannya.


"Siapa kau? Kenapa masuk ke kamar sembarangan!" teriak Joe marah dan langsung mengunci pintu.


"Ini Papi, Joe. Di mana Syifa?"


"Papi?" Kening Joe tampak mengernyit. Suaranya memanglah dia kenal. Tapi bisa-bisanya pria itu masuk ke dalam kamarnya, yang hampir sedikit lagi berhasil memergokinya bercinta. Itulah yang terlintas dalam benak Joe saat ini. "Papi kok masuk ke kamar ini? Nggak sopan banget! Mau apa, sih?" omelnya berteriak.


"Papi minta maaf. Papi terpaksa. Papi minta sekarang ... kamu dan Syifa cepat keluar dari kamar. Papi tunggu diluar dalam waktu 5 menit, ya!" tekannya.


"Memangnya mau apa, sih?" berang Joe kesal. Namun tak ada sahutan sama sekali, sepertinya pria tua itu sudah berlalu pergi dari sana. "Ah nggak Abi, nggak Papi, mereka berdua sama saja. Sama-sama suka menganggu kenikmatan orang. Padahal mereka itu 'kan sama-sama pria sepertiku. Harusnya paham dong, nggak enaknya bercinta diganggu itu kayak apa." Joe menggerutu dengan dada yang bergemuruh dan terlihat naik turun.


"Mungkin ada sesuatu yang penting, A," tebak Syifa. Tidak seperti Joe yang terlihat emosi, dia justru biasa saja. Itu disebabkan karena dia memang telah mencapai pelepasan pada ronde ini. Berbeda dengan Joe yang belum. "Kita lanjutkan nanti saja, A. Lagian kita hari ini udah banyak bercinta. Milikku perih banget."


"Perih-perih enak, kan, tapi, Yang?" goda Joe yang langsung mengecup bibir istrinya. Rasa kesalnya seketika sirna lantaran mendapatkan tatapan penuh damba dari Syifa.


"Asal nanti malam kita lanjutkan lagi, ya, Yang? Kita belum melakukan gaya helikopter." Joe dengan perlahan menurunkan tubuh Syifa, tapi saat keduanya sudah berada di bawa shower.


"Memangnya ada, gaya helikopter? Kayak gimana, A?" tanya Syifa dengan polosnya.


"Ada. Nanti kamu juga tau dan nagih. Tapi sekarang cium dulu bentar sebelum kita keluar kamar mandi." Joe mendekat dan langsung menghimpit tubuh Syifa, setelah itu dia pun segera melummat bibir Syifa dengan kasar dan penuh nafsu.


Rasanya Joe sudah benar-benar kecanduan oleh tubuh istrinya. Jangankan bercinta, menciuminya saja sudah membuat pikirannya melayang. Tak rela juga rasanya, jika momen itu terhenti begitu saja.


***


"Joe, Joe. Kamu ini, ya, kayak baru pertama kali menikah saja. Bisa-bisanya mengurung berdua di kamar, sampai nggak mikirin Robert."


Papi Paul langsung mengomeli Joe ketika beberapa menit kemudian anak dan menantunya itu sudah keluar kamar untuk menemuinya.


Wajah Syifa tampak segar meskipun lelah, tapi berbanding terbalik dengan wajah Joe yang begitu masam. Tampak jelas juga kalau dia sepertinya memendam rasa kesal pada Papi Paul lantaran mengacaukan momennya.

__ADS_1


"Nggak mikirin Robert gimana, sih, Pi? Orang aku sudah menitipkannya ke Mami," jawab Joe sambil merengut. "Lagian Papi juga kayak nggak pernah muda deh. Meskipun aku menikah dua kali ... ya tetap saja ini momen yang pertama untukku sama Syifa. Jadi wajar dong kalau kami butuh waktu berduaan. Kan ini juga demi kebaikan Papi dan Mami juga," tambah Joe. Jadilah dia yang mengomel sebab meluapkan rasa kesal di dadanya.


"Apa hubungannya masalah ini untuk kebaikan Mami dan Papi? Jangan ngaco deh, kamu, Joe." Papi Paul mendengkus sambil bersedekap.


"Ya 'kan supaya Syifa cepat ham ... eemm ... maksudnya, supaya cucu kedua Papi dan Mami sehat. Mangkanya harus sering aku tengokin," ralat Joe cepat. Jangan sampai dia keceplosan tentang Syifa yang tidak sedang hamil. Bisa-bisa berabe.


"Nengok apa doyan? Kalau nengok aja sih paling sekali. Jangan minta seharian," cibirnya dengan bibir yang menggeriting.


"Jadi ini intinya Papi mau ngapain? Sampai berani mengganggu anak dan menantu lagi enak-enak. Apa cuma ingin mengomel?" Bukannya menanggapi cibiran Papinya, Joe justru langsung mengalihkan pembicaraan.


Dia juga tampak sudah lelah. Dan aslinya, dia saat ini merasakan sakit kepala, lantaran miliknya terus bergerak-gerak dibalik celananya.


"Si Robert nangis di restoran, dia kepengen makan disuapi Syifa. Sekarang kita langsung berangkat ke sana. Jangan sampai karena kamu ... Robert jadi sakit, Joe!" tekan Papi Paul dengan tegas. Lantas melangkah lebih dulu meninggalkan mereka, dan Sandi pun ikut menyusulnya lebih dulu.


Sedangkan Joe dan Syifa di belakang. Pria itu tengah merangkul bahu istrinya, sebab dari cara jalan saja dia begitu menga*ngkang dan tertatih-tatih. Wajahnya bahkan sejak tadi meringis seperti menahan sakit.


"Aku gendong, ya, Yang?" tawar Joe dan tanpa persetujuan dia langsung mengangkat tubuh istrinya.


"Ih Aa, aku malu," cicit Syifa dengan keterkejutannya, wajahnya seketika merona.


Mereka berdua, Sandi, dua satpam dan Papi Paul kini masuk ke dalam lift secara bersamaan. Menuju lantai dasar.


"Ngapain malu. Kita 'kan suami istri, Sayang," jawab Joe santai, lalu mengecup bibir Syifa dengan lembut. "Nanti kita mampir ke apotek, ya, buat beli salep pereda nyeri," tambahnya sambil berbisik dan mengigit kecil telinga Syifa yang terhalang oleh kerudungnya.


Sandi yang berada di belakang mereka sejak tadi memerhatikan. Bukan hanya melihat apa yang terjadi, tapi juga mendengar.


Namun, rasanya jiwa jomblo Sandi ikut meronta-ronta, dan ada ngenesnya juga lantaran meningkat diusianya yang sudah 30'an—dia tak kunjung mendapatkan pasangan.


'Ah Pak Joe bikin ngiri saja. Nggak tau apa perasaan jomblo itu kayak gimana. Sensitif tau, Pak,' batin Sandi sambil mengurut dada. Mencoba bersabar menerima cobaan di depan mata.


...Jangan lupa vote dan hadiahnya, Guys. Tanpa dukungan Author pasti ga akan ada semangat buat menulis....


...Dan untuk novel Om Rama sama Om Steven, yang nunggu updatenya—mohon untuk bersabar dulu, ya, nanti kalau target kata selesai Author akan update kembali. Terima kasih 🙏🙏...

__ADS_1


__ADS_2