Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
127. Biar aku bisa merebutnya


__ADS_3

"Mami tau juga dari Joe, dan masa Papi nggak tau gaya kepiting?" Mami Yeri terlihat mendengkus, dengan bibir yang mengerucut.


"Dari Joe?" Papi Paul perlahan duduk, kemudian menatap sekitar kamar inap Robert mencari-cari keberadaan anaknya.


"Ah! Ah! Ah!"


"Suara apaan itu?" Mata Papi Paul sontak melotot, lantaran terkejut mendengar suara desaahan nyaring ditelinganya secara tiba-tiba.


Sepertinya, gaya kepiting itu memang belum usai juga di dalam kamar mandi. Dan suara Joe yang paling dominan terdengar.


"Itu suara Joe sama Syifa di kamar mandi, Pi, mereka sedang bercinta dengan gaya kepiting," ucap Mami Yeri memberitahu, lalu memegang lengan suaminya. "Mami juga mau dong, Pi, kayak mereka. Masa Papi kalah? Kan Papi juga masih hot di ranjang."


"Tapi kenapa mereka bercinta di kamar mandi, Mi? Dan kalau sampai Robert dengar bagaimana? Kok nggak punya aturan sih mereka? Malu-maluin." Papi Paul menggerutu. Dia pun berdiri dan langsung menatap ke arah kasur untuk melihat keadaan cucunya sambil membereskan celananya.


"Masalah itu nggak penting sekarang, yang terpenting adalah Mami pengen! Ayok dong!" rengek Mami Yeri yang menarik-narik lengan suaminya. Terlihat juga dia seperti sudah tidak sabar.


"Masalahnya, kita bercinta di mana, Mi? Nggak mungkin juga di sini." Papi Paul sih siap-siap saja, tapi memang tempatnya yang dia sendiri bingung. "Apa kita tunggu Joe sama Syifa selesai? Terus Papi juga sekalian mau nanya sama Joe, gimana cara gaya kepiting."


"Ih jangan!" larang Mami Yeri yang tampak tak setuju. "Masa kita nunggu mereka kelar? Memangnya Papi yakin ... bakal cepet? Mami sih nggak yakin, orang kelihatan masih semangat gitu."


Bukan hanya itu, Mami Yeri juga sudah sangat tidak tahan. Dan begitu iri ingin melakukan gaya seperti apa yang mereka lakukan di dalam sana.


"Ya terus Mami maunya di mana? Di sofa? Yakin?" Papi Paul menunjuk ke arah sofa dengan wajah tidak yakin.


"Kita cari hotel terdekat sini saja, Pi," saran Mami Yeri yang sudah bergelayut manja dibahu suaminya. Juga mengecup bibirnya singkat.


"Robertnya gimana? Masa ditinggal? Kasihan dong dia." Papi Paul kembali menatap cucunya, yang terlihat begitu lelap dari tidurnya.


"Titipin sebentar sama Sandi. Lagian Joe dan Syifa 'kan ada di kamar mandi, Pi." Mami Yeri langsung menarik tangan suaminya, membawanya keluar dari kamar inap Robert pelan-pelan. "Sandi, aku titip Robert," ucapnya kemudian saat melihat Sandi duduk di kursi dekat pintu.


Pria itu langsung berdiri dan menganggukkan kepalanya. "Iya, Bu."


"Kamu cukup berdiri di sini saja sambil lihatin Robert dari kaca." Mami Yeri menunjuk kaca pintu kamar Robert. "Soalnya kalau kamu masuk ... itu bisa bahaya bagi jiwa jomblomu, San."


"Lho, memangnya apa hubungannya dengan jiwa jomblo saya, Bu?" tanya Sandi dengan raut bingung.


"Udah, nggak usah banyak tanya. Cukup turuti saja permintaanku!" tegas Mami Yeri yang malas untuk menjelaskan.


Sebab menurutnya itu akan membuat waktu. Lebih baik waktunya dihabiskan untuk bercinta, karena itu sangatlah bermanfaat baginya.

__ADS_1


Segera, Mami Yeri pun kembali menarik lengan Papi Paul. Dengan setengah berlari, mereka pun berlalu pergi meninggalkan Sandi.


"Aneh banget Bu Yeri," gumam Sandi sambil geleng-geleng kepala, kemudian menatap ke arah kaca.


***


Jakarta, Indonesia.


Disebuah kamar, terdengar suara desaahan nyaring saling bersahutan oleh dua insan yang sudah berumur.


Mereka berdua adalah Abi Hamdan dan Umi Maryam, yang tengah memadu kasih di atas ranjang.


Sebetulnya, sehabis Magrib, setelah berbuka puasa mereka sudah melakukannya. Tapi Abi Hamdan pagi-pagi buta sudah mengajak istrinya lagi. Dia beralasan ingin melakukan ronde kedua.


"Abi ... udah, Bi, Umi udah keluar," pinta Umi Maryam seraya mendorong dada suaminya, padahal Abi Hamdan terlihat masih semangat bergerak di atasnya.


"Kok udahan? Baru juga 15 menit, Mi." Abi Hamdan berusaha menahan tubuhnya, supaya tongkatnya tak keluar pada inti tubuh Umi Maryam.


"Bukannya Abi juga udah keluar, kan?"


"Udah. Tapi Abi mau lagi." Abi Hamdan sudah berancang-ancang, hendak kembali bergoyang. Tapi tangan Umi Maryam langsung menahan perut buncitnya.


"Enak saja sakit pinggang. Umi pikir Abi selemah itu?" Wajah Abi Hamdan seketika memerah. Tapi bukan karena kabut gairah, melainkan kesal sebab secara tidak langsung Umi Maryam seperti meremehkannya. "Si Joe saja kuat kok, bercinta berjam-jam. Masa Abi kalah sama dia, sih!" tambahnya yang langsung bergoyang. Dan kali ini sedikit kencang sampai-sampai membuat Umi Maryam menjerit keenakan.


"Ah ... Abi!!"


Tapi sebetulnya, apa yang Umi Maryam katakan memang benar adanya. Abi Hamdan sering mengeluh sakit pinggang setiap kali bercinta setiap harinya, meskipun hanya satu ronde. Jadi ini bukan berarti Umi Maryam meremehkannya.


***


Seoul, Korea Selatan.


"Kamu sudah pulang, Yum?" tanya seorang wanita seumuran Mami Yeri. Dia bernama Kim Soora, Mami kandung dari Yumna. Wajahnya juga begitu mirip, hanya saja bedanya dia memakai make up lebih menor dengan lipstik berwarna birunya.


"Iya," jawab Yumna dengan wajah ditekuk, kemudian berlalu melewati Bu Soora yang duduk di sofa ruang keluarga. Tengah menonton televisi.


"Mana Joe? Kok kamu nggak bareng sama Joe?" Bu Soora berdiri, lantas melangkah cepat mengejar anaknya dan membuat perempuan itu menghentikan langkah.


Yumna menoleh dengan bibir yang mengerucut. "Kak Joe nggak mau nganterin aku, Mi!" jawabnya kesal.

__ADS_1


"Kok nggak mau? Kenapa?"


"Ini semua gara-gara istrinya!"


"Istrinya?" Kedua alis mata Bu Soora tampak bertaut. Terlihat dia seperti orang yang sedang keheranan. "Lho, bukannya kata Yeri ... Joe akan jadi duda lagi? Kok malah masih sama istrinya? Dan istrinya dibawa ke Korea, Yum?"


"Iya. Dia ke sini karena Robert masuk rumah sakit, Mi. Dan kayaknya ... Kak Joe dan istrinya itu nggak jadi bercerai deh."


"Kok begitu? Alasannya apa?"


"Si Robertnya nggak setuju, Mi, dia nggak mau aku jadi pengganti Mommy sambungnya. Dia juga terus membela si Syifa."


"Oohh ... Ya sudah kalau begitu, besok-besok kalau Tante Yeri mengajakmu ketemu ... udah kamu nggak usah mau. Fokus saja sama kerjaan kamu, Yum," saran Bu Soora seraya mengusap bahu kanan anaknya dengan lembut.


"Kenapa memangnya? Orang Tante Yeri mau bantuku biar masuk kerja di perusahaan Kak Joe kok, Mi."


"Maksudnya, kamu mau jadi model di perusahaan si Joe?"


Yumna menganggukkan kepalanya.


"Mau ngapain? Udah nggak usah!" Bu Soora menggelengkan kepalanya. Dia terlihat tak setuju.


"Kok nggak usah, kan biar aku bisa deket sama Kak Joe, Mi."


"Kan tadi kamu bilang sendiri, kalau si Joe itu nggak jadi cerai sama istrinya. Jadi buat apa kamu deketin Joe, Yum? Nggak ada gunanya."


"Ya biar aku bisa merebutnya lah, Mi, masa Mami begitu saja ngerti,?" jawab Yumna dengan santai yang langsung melanjutkan langkahnya.


"Apa kamu bilang?" pekik Bu Soora yang tampak terkejut. Kedua bola matanya itu langsung membulat. "Kamu nggak usah aneh-aneh deh, Yum, nggak perlu pakai merebut Joe segala!" tekannya seraya berlari mengejar Yumna, saat perempuan itu sudah naik ke lantai atas rumahnya. Juga langsung mencekal lengan kanannya, sehingga langkah perempuan itu kembali terhenti.


"Ya masa aku nyerah gitu aja, sih, Mi? Sedangkan seharian aku nungguin Kak Joe supaya bisa ketemu sama dia. Nggak bisa begitu dong!" geramnya yang terlihat mulai emosi.


"Tapi 'kan Joe sama istrinya masih bersama, Yum. Mami nggak mau kamu jadi pelakor dalam rumah tangganya!" tegas Bu Soora.


...----------------...


...Hari Senin, nih, seperti biasa ... jangan bosen buat kasih dukungan biar Author semangat. Vote, dan hadiahnya berupa nonton iklan, mawar dan kopi, Author tunggu, ya ☺️🙏 Terima kasih ❤️...


__ADS_1



__ADS_2