Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
267. Perasaan Robert kok nggak enak


__ADS_3

"Kamu masih kecil dan masih kuliah, Ayah nggak mengizinkan!" tegas Ayah Cakra.


"21 satu itu bukan anak kecil lagi, Yah. Udah gede. Dan setelah menikah pun aku tetap bisa lanjut kuliah kok."


"Nggak! Nggak boleh!" Ayah Cakra menggeleng tak setuju.


"Memang siapa, laki-laki yang akan datang melamarmu, Nay? Apa kami mengenalnya?" tanya Bunda Noni penasaran, lalu memegang tangan suaminya. Menahannya saat pria itu hendak berdiri. "Nanti dulu, Yah, kita dengarkan cerita Naya dengan detail."


"Aku nggak tau, kalian kenal dia atau nggak. Tapi namanya Yunus, Bun. Dan aku punya fotonya, barangkali kalian ingin melihat wajahnya. Ganteng kok orangnya, putih juga dan insya Allah rajin ibadah." Naya merogoh kantong celana tidurnya untuk mengambil ponsel, kebetulan saat di mall—dia dan Ustad Yunus sempat berfoto bersama untuk pertama kali. Dan Naya lah yang mengajaknya duluan meskipun dengan malu-malu.


"Iya, ganteng ternyata orangnya, Yah ... cukup dewasa juga." Bunda Noni memerhatikan, begitu pun dengan Ayah Cakra. "Berapa umurnya, Nay?"


"37, Bun."


"Pasti udah mapan," balas Bunda Noni, lalu menatap ke arah suaminya. "Izinkan saja dulu, Yah ... Yunus ini untuk datang. Bunda ingin melihatnya secara langsung."


"Tapi Ayah nggak setuju, kalau Naya itu menikah untuk sekarang-sekarang, Bun!" tegas Ayah Cakra marah, lalu melirik anaknya. "Ayah mau dia meraih cita-cita dulu! Kan Naya yang bilang sendiri kalau mau jadi dokter, gimana sih?"


"Kalau si Yunus menunggumu sampai lulus kuliah bagaimana, Nay? Mau nggak dia? Dan berapa lama memang ... kalian saling mengenal? Ada setahun pacaran?" Bunda Noni menatap sang anak.


"Aku dan Bang Yunus mengenal dekat baru sebulan, Bun. Dan kami nggak pacaran, melainkan ta'aruf," jawab Naya menjelaskan. "Aku juga nggak tau, Bun ... Bang Yunus mau enggaknya menungguku sampai lulus kuliah. Pasti itu akan sangat lama, dan dia sendiri sepertinya ingin menikah sekarang-sekarang. Karena dia sendiri pernah bilang ... kalau dia sedang mencari pendamping hidup."


"Cari saja perempuan lain, jangan sama kamu!" tegas Ayah Cakra.


"Kalai begitu kamu coba tanya dulu saja sama Yunusnya, Nay. Mau nggak dia menunggumu," saran Bunda Noni yang terdengar menghargai permintaan anaknya, ketimbang suaminya yang sudah emosi duluan.


"Bunda udah deh, nggak perlu berharap gitu." Ayah Cakra terlihat tak suka dengan respon sang istri. Harusnya, dia sependapat dengannya. "Lagian kita juga harus pilih-pilih kalau mencari calon menantu. Naya itu anak perempuan kita satu-satunya. Harus pria yang sangat sempurna yang bisa bersamanya. Kalau cuma model ganteng ... diluar sana itu banyak!"


"Tapi, Yah ... Naya itu anak gadis. Wajar kalau ada laki-laki yang ingin melamarnya, jadi kita harusnya izinkan laki-laki itu datang dalam bentuk menghargai."


"Buat apa datang kalau ujungnya kita tolak? Itu buang-buang waktu namanya, Bun. Pokoknya Ayah nggak setuju! Titik!" tegasnya marah, lantas berdiri dan berlalu pergi meninggalkan keduanya.


Bunda Noni menghela napas, sedangkan Naya sendiri menampilkan wajah sedih bercampur kecewa.

__ADS_1


"Kamu jangan sedih, Nay." Bunda Noni perlahan meraih tangan sang anak, lalu mengelusnya dengan lembut. "Nanti Bunda akan bujuk Ayah, supaya dia mengizinkan Yunus untuk melamarmu."


"Tapi kalau sudah melamar terus ditolak bagaimana, Bun?" Naya terlihat makin sedih. "Itu 'kan sama menyakiti hati Bang Yunus. Aku nggak mau," tambahnya menggelengkan kepala.


"Dicoba saja dulu, Nay, barangkali Ayah berubah pikiran. Namanya cinta 'kan memang butuh pengorbanan, jadi nggak masalah menurut Bunda."


"Bunda sendiri setuju, kan, sama Bang Yunus? Kalau misalkan dia jadi suamiku?"


"Asalkan dia baik dan mapan, Bunda sih setuju. Apalagi kalau kalian sudah saling mencintai," jawab Bunda Noni.


"Mapan yang Bunda maksud itu punya pekerjaan, kan?"


"Iya." Bunda Noni mengangguk. "Punya pekerjaan tetap dengan gaji yang besar, Nay."


"Gaji yang besar?!" Naya membulatkan mata, dan langsung teringat tentang pekerjaan Ustad Yunus.


Bukan maksud meremehkan gaji seorang marbot masjid, namun dia sendiri tidak yakin kalau gajinya bisa dibilang besar seperti seorang yang sudah mapan.


'Kira-kira... kalau Bunda tau pekerjaan Bang Yunus seorang marbot masjid, dia akan setuju nggak, ya, dan apakah seorang marbot bisa dikatakan sebagai orang yang memiliki pekerjaan mapan? Entahlah,' batin Naya ragu.


"Masalah tadi yang mana, Bun?" Naya terlihat tak paham.


"Yang tentang dia mau menunggumu atau nggak. Kalau dia memang mau ... langsung kasih tau Bunda, biar Bunda membujuk Ayahmu."


"Iya, Bun." Naya mengangguk pelan. Bunda Noni pun melangkah pergi meninggalkannya dan menuju lantai atas, letak dimana kamarnya berada.


'Besok aku minta ketemu sama Bang Yunus lagi deh, buat membicarakan hal ini,' batin Naya, lalu membuka ponselnya dan mengirimkan sebuah chat untuk Ustad Yunus. Hanya saja chat tersebut cuma centang satu.


"Sepertinya Bang Yunus udah tidur."


***


Keesokan harinya.

__ADS_1


Seusai mandi dan melaksanakan sholat Subuh berjamaah dengan sang Umi, Ustad Yunus pun menyalakan ponselnya. Kemudian menyalakan juga data seluler sehingga dia pun mendapatkan beberapa chat yang masuk.


Ada tiga chat dan dari orang berbeda. Pak RT, Papi Yohan dan Naya. Dan orang pertama yang dia buka chatnya tentulah Naya, karena menurut Ustad Yunus dialah yang paling penting.


[Bang ... kalau ada waktu, besok aku mau ketemu sama Abang. Apa bisa?] Ini chat semalam, tapi baru dibuka sekarang.


[Maaf, Nay, sepertinya hari ini kita nggak bisa ketemu. Karena kebetulan ada sunat massal di masjid, dan saya ditunjuk oleh Pak RT untuk menjadi panitianya.]


[Besok saja, ya, nanti seharian kita bisa ketemu.]


Ustad Yunus membalas sekaligus dua. Kemudian beralih membuka chat dari Pak RT.


[Ustad, nanti setelah sarapan ... ke rumah saya dulu, ya, bantu bawakan hadiah untuk anak-anak yang sunat.]


[Baik, Pak.] Ustad Yunus membalas.


Terakhir, chat dari Papi Yohan yang dibuka.


[Selamat pagi Boy ganteng ... sampai ketemu jam 8, ya!]


[Selamat pagi juga, Om. Siap ... aku tunggu Om. Jangan lupa pakai sarung dan baju Koko ya, Om.] Ustad Yunus membalas.


[Okkeee ganteng 😚.]


***


Jam 7 seusai sarapan... Joe, Syifa dan Robert kini sama-sama sudah berada di dalam mobil yang mereka tunggani. Ketiganya hendak main ke rumah Abi Hamdan, seperti permintaanya kemarin kepada Syifa.


"Mom ... kita ke rumah Opa Hamdan dan Oma Maryam mau apa?" tanya Robert yang entah mengapa mendadak perasaannya tidak enak. Jantungnya pun berdebar tidak karuan rasanya.


"Kan kemarin Mommy udah bilang, Nak ... kalau Opamu itu kangen. Memang kamu sendiri nggak kangen, ya, sama Opa Hamdan?" Syifa mengusap puncak kepada Robert. Kini bocah berada di atas pangkuannya.


"Kangen sih, Mom. Tapi entah kenapa, mendadak perasaan Robert kok nggak enak, ya? Aneh."

__ADS_1


...Firasat mau disunat kayaknya, Rob, 🤣...


__ADS_2