
"Sekarang ... kita sama-sama akan mendengar langsung dari juri. Grup manakah yang telah berhasil mendapatkan juara," ucap Syifa saat perlombaan tarik tambang itu telah selesai.
Babak terakhir tadi adalah grup Umi Maryam VS grup Bu Olla, yang merupakan grup guru.
Dan sekarang, 10 peserta itu pun sudah ada ditengah-tengah lapangan. Akan mendengarkan secara langsung siapakah yang menjadi pemenangnya.
Pak Bambang lantas berdiri sambil memegang mic, lalu memerhatikan peserta di depannya. "Dari hasil penilaian saya dan kedua juri lainnya, kami semua sepakat jika grup ...."
Pak Bambang seperti sengaja menjeda ucapannya, supaya membuat para ibu-ibu itu deg-degan menunggu keputusan.
'Ya Allah ... semoga menang. Aku ingin motor listrik ya, Allah,' batin Umi Maryam yang terus berdoa.
Robert dari kejauhan pun ikut mendoakannya bersama Abi Hamdan. Sedangkan Joe sendiri sibuk mondar-mandir karena gelisah dengan tongkatnya yang makin menegang.
'Semoga saja habis pengumuman ini dikasih waktu istirahat. Biar aku bisa bercinta dengan Syifa dulu,' batin Joe berharap.
"Selamat untuk grupnya .... Umi Maryam!" seru Pak Bambang yang meneruskan ucapannya tadi. "Semua anggota berhak mendapatkan masing-masing sebuah motor listrik!"
"Hore!!" Orang tua dari teman-teman Robert langsung melompat-lompat, dan memeluk tubuh suaminya masing-masing. Terlihat jelas jika mereka sangat senang.
"Abi! Umi menang, Bi!" Umi Maryam pun melakukan hal yang sama ketika suami datang menghampiri bersama Robert, dia langsung memeluk tubuh keduanya.
"Alhamdulillah, Mi. Ini memang rezekinya Umi." Pelukan itu tak lama Abi Hamdan relai, lalu mengajak istrinya untuk sujud syukur. Tanda mereka begitu bersyukur mendapatkan hadiah fantastis itu.
"Yang ...," panggil Joe yang datang menghampiri istrinya, lalu memegang tangan kanan dan membuat perempuan itu menoleh.
"Ya, A?"
"Habis penyerahan hadiah, bakal ada istirahat dulu nggak, Yang?" tanya Joe sembari mencuri-curi kesempatan untuk bisa mengecup istrinya, meskipun dilakukan singkat dan hanya sebuah pipi.
"Kayaknya enggak, A. Langsung lanjut lomba panjat pinang," jawab Syifa.
"Istirahat dulu saja sebentar, Yang. Kamu bilang sama Pak Bambang," pinta Joe yang terlihat memohon. Kedua kakinya juga sejak tadi hampir tak bisa diam, terus bergerak jalan ditempat.
"Kenapa memangnya?"
"Aku kepengen minta antar kamu ke toilet."
"Ngapain minta anter? Pergi sendirian aja 'kan bisa, A."
__ADS_1
"Ih ... aku kepengennya minta anter, Yang." Joe sudah menarik sedikit tangan Syifa, dengan genggaman agak kuat. "Kalau enggak, kamu ikut aku saja sebentar, ya? Kita ke toilet sekarang!" tambahnya yang terlihat memaksa. Bahkan kini Joe sudah menarik tangan Syifa dan mengajaknya berlari meninggalkan lapangan.
"Aa!" Syifa terlihat panik sendiri, dan kesal melihat apa yang Joe lakukan padanya.
Sebagai seorang host, tentu dia merasa bertanggung jawab jika acara yang dia pandu itu belum berakhir. Dan tidak semestinya dirinya pergi dari lapangan, apalagi tanpa izin dari panitia lomba.
"Kenapa Aa begitu maksa dan sebenarnya mau ngapain kita ke toilet?!"
"Aku kebelet banget, Yang! Nggak kuat rasanya!" Wajah Joe terlihat memerah, napasnya pun terdengar memburu.
"Kebelet apa? Kencing? Apa berak?" tebak Syifa sambil mengurut wajahnya yang terasa tegang. Masih berusaha mengontrol diri supaya tak terlalu emosi.
Joe terlihat seperti cacing yang sudah kepanasan. Setelah mengajak Syifa masuk bersama pada salah satu toilet yang ada di sana, segera dia pun menutup pintu dan menguncinya rapat-rapat.
"Tapi 'kan Aa bisa minta anter sama Abi, atau Papi kalau semisalnya takut ke toilet. Jadi nggak perlu aku yang ....." Ucapannya Syifa seketika terhenti diujung bibir, bersamaan dengan matanya yang membulat sempurna. Lantaran terkejut melihat suaminya sudah membuka celana dan memperlihatkan tongkat bisbolku yang berdiri bagaikan tiang listrik. "Astaghfirullah, Aa! Kenapa—"
"Ssstttt ...." Joe mendesis sembari menghimpit tubuh keduanya. Telunjuk kanannya sudah menempel pada bibir Syifa, demi menghentikan apa yang akan perempuan itu katakan. "Kamu dilarang protes dan jangan banyak ngomong dulu, Yang. Lebih baik kamu bantu aku dulu biar tongkatku tidur. Karena aku nggak bisa ikut lomba kalau dia terus merengek minta goyang."
Joe langsung mengendong tubuh istrinya, lalu mendudukkannya pada kloset duduk yang tertutup.
"Maksudnya, Aa mau mengajakku bercinta? Di sini?" tebak Syifa. Segera dia pun menahan tangan Joe, yang baru saja hendak menarik celana katun yang dia kenakan.
"Ya Allah Aa ... tapi masa di toilet, sih? Dan ini toilet sekolah soalnya. Kalau misalkan ada yang ... Aaaahhh!" Kalimat Syifa tak berhasil selesai diucapkan, lantaran sudah terlanjur mendesah saat dimana lidah Joe sudah mendarat pada miliknya.
Apa yang dilakukan suaminya itu sangat cepat sekali, dan tampak jelas birahinya begitu menggebu-gebu.
Pria itu dengan ganasnya sudah berjongkok di bawah istrinya. Menenggelamkan wajahnya di sana demi mengendalikan Syifa.
"Aa ... jangan lakukan di sini, A! Aku takut ... ah! Ah! Ah! Aaaa ...." Syifa masih berusaha untuk menghentikan aksi suaminya yang mesum itu, namun sayangnya—apa yang Joe lakukan benar-benar membuat dirinya susah bergerak. Karena mendapat serangan pada titik kenikmatannya.
Alhasil, tak ada pilihan lain. Meskipun bibirnya terus menolak, tapi tubuhnya tidak. Bahkan rangsangan yang dilakukan suaminya membuat birahinya ikut memuncak.
*
Kembali ke lapangan.
Seusai 5 peserta lomba tarik tambang itu mendapatkan hadiahnya masing-masing, kini lomba langsung berlanjut pada lomba panjat pinang. Yang merupakan lomba penutupan.
Sebelum memulai, tentu seorang host akan memberikan instruksi terlebih dahulu. Supaya para peserta paham dengan aturan lomba.
__ADS_1
Namun, Gisel yang merupakan partner host Syifa merasa kebingungan di lapangan. Lantaran tak melihat rekannya, yang biasa ada di sampingnya.
"Pak Bambang, Bu Syifa ke mana, ya, Pak? Ini 'kan acara lomba panjat pinang mau dimulai." Karena tak mau bingung sendirian, Gisel pun memutuskan untuk bertanya pada Pak Bambang. Barangkali memang pria itu sempat melihatnya.
"Saya kurang tau, Bu." Pak Bambang menggeleng, lalu menatap sekeliling lapangan dan pandangan matanya pun terhenti pada Robert.
Bocah itu sedang berdiri bersama Opa-Opa dan Oma-Omanya. Tapi selain tak ada Syifa di sana, Joe juga rupanya tidak ada.
"Terus bagaimana dong, Pak? Itu Bapak-bapak peserta banyak yang dah nunggu." Gisel terlihat gelisah, sebab memang sejak tadi diperhatikan oleh para ayah dari anak muridnya. Yang terlihat sudah siap ingin berjuang dalam lomba panjat pinang.
"Ibu ngehost sendiri saja dulu. Nanti Bu Syifa pasti nyusul, karena bisa jadi dia kebelet ke toilet. Mangkanya nggak ada di lapangan."
"Oke, Pak." Gisel mengangguk setuju, kemudian melangkah menuju lapangan volly dan terlihat bambu panjang itu kini tengah disemprot oli oleh beberapa panitia.
Itu dilakukan supaya lomba tersebut semakin sulit dan tentu membuat perlombaannya menjadi semakit sengit.
"Baik Bapak-bapak. Sama halnya seperti lomba Ibu-ibu. Lomba panjat pinang ini juga dibagi menjadi beberapa grup yang berjumlah 5 orang," ucap Gisel memberitahu sembari membaca kertas yang dia bawa. "Total grup ada 5. Dan masing-masing memiliki ketua grup. Yang pertama dan kedua adalah grup Pak Rully dan Pak Deri yang merupakan grup guru, ketiga grup Pak Joe, keempat Pak Paul dan terakhir yakni grup kelima Pak Reymond."
Dari hasil perdebatan Joe dengan Papi Paul tadi memang akhirnya membuat Papi Paul yang mengalah, karena pria itu begitu bersikukuh ingin ikut.
Joe lah sekarang yang bergabung dengan grup para Bapak temannya Robert, sedangkan Papi Paul yang kebetulan sudah mendaftar akhirnya berpindah mencari grup lain.
"Jika ada salah satu dari anggota grup yang gugur, kami menyiapkan peserta cadangan. Yakni Pak Hamdan dan Pak Sofyan."
"Untuk peraturan pertamanya, masing-masing dari ketua grup akan berhompipah terlebih dahulu. Demi menentukan grup siapakah yang berjuang lebih dulu untuk mulai memanjat."
"Sekarang ... dipersilahkan untuk ketua grup, untuk masuk ke area lapangan volly."
Masing-masing dari ketua grup itu menuju lapangan, menghampiri Gisel. Hanya saja, grup Joe yang tidak. Lantaran Joe yang merupakan ketua dari grup tersebut—justru tidak ada.
"Ke mana Pak Joe ini? Kok menghilang dia?" tanya Tian sambil menatap kesana-kemari.
"Iya. Padahal dia yang merengek ikut masuk ke grup kita," ucap Ammar yang ikut menatap sekitar.
"Coba aku tanya anak dan keluarganya dulu deh, Guys." Jaccob berinisiatif, kemudian melangkah menghampiri Robert yang tengah berdiri bersama Opa dan Omanya. "Robert ... Daddymu ke mana, Sayang?"
"Enggak tau, Om." Robert menggeleng. Jujur saja, semenjak host mengatakan akan memulai lomba panjat pinang—dia sudah menatap sekeliling lapangan. Mencari keberadaan Joe yang tak ditemukan dimana-mana. "Robert juga sejak tadi nyariin Daddy. Tapi enggak ketemu."
"Untuk grupnya Pak Joe ...," ucap Gisel. "Saya minta Pak Joenya segera ke lapangan volly. Karena para ketua grup lain sudah menunggu untuk berhompipah," tambahnya kemudian.
__ADS_1
^^^Bersambung.....^^^