Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
33. Ini hanya salah paham


__ADS_3

"Apa, Rob? Kamu mau disembelih?!" Sekarang, Papi Paul yang menyeru. Pria itu juga sama seperti Robert yang baru saja datang dengan sebuah mobil. Dan dia datang bersama Mami Yeri, Umi Maryam serta Abi Hamdan.


"Keterlaluan sekali kamu, Jon!" Abi Hamdan berteriak dengan kencang. Dia langsung turun dari mobil dengan mata melotot kemudian berlari menghampiri Joe. Kedua tangannya itu tampak mengepal kuat, seperti bersiap ingin menghajar menantunya. "Mentang-mentang Robert sebentar lagi mau punya adik, kamu dengan teganya ingin menyebelihnya?!" tambahnya dengan geram dan langsung saja, sebuah bogem mentah melayang pada pipi kiri Joe.


Bugh!


"Astaghfirullah! Abi!" Syifa yang datang dengan membawa nampan berisi tiga cangkir kopi langsung menjerit histeris, mendapati suaminya ditonjok oleh Abinya.


Benda yang dia bawa itu langsung ditaruh ke atas meja plastik, lalu menarik tangan Abi Hamdan yang hendak menikam leher suaminya.


"Abi, hentikan, Bi!" teriak Syifa memohon.


"Ustad! Ini hanya salah paham, Tad!" seru Ustad Yunus yang baru saja berdiri berbarengan dengan Pak RT. Dan keduanya pun langsung menghentikan aksi kesalahpahaman yang terjadi oleh Abi Hamdan, dengan cara mencekal kedua lengannya.


Pria itu memang sangat bengis sekali ketika sedang emosi. Jadi semua orang ikut mengkhawatirkannya, apalagi Syifa yang sebagai seorang anak.


"Ustad jangan emosi dulu, tenanglah," pinta Pak RT yang juga mengelus punggung Abi Hamdan. Dilihat pria itu tengah menarik napasnya naik turun, dengan mata yang masih melototi Joe.


"Apa yang Pak Joe katakan tadi salah kaprah. Bapak nggak perlu menyembelih Robert segala, apalagi dijadikan kurban," jelas Ustad Yunus kepada Joe. Pria itu tengah menyentuh pipi kanannya sekarang, yang terasa kebas dan sakit akibat tonjokkan Abi Hamdan.


"Biar aku ambilkan air es untuk mengompresnya, A," ucap Syifa. Sebelum masuk kembali ke dalam rumah, dia lebih dulu menghampiri Mami Yeri dan Papi Paul, untuk mencium punggung tangannya. Kemudian yang terakhir adalah kepada Umi Maryam. "Papi dan Mami ayok masuk, Syifa akan buatkan jus untuk kalian," ajak Syifa sambil tersenyum.


"Iya." Mami Yeri mengangguk. Dia meraih tubuh Robert terlebih dahulu untuk digendong, setelah itu melangkah bersama untuk masuk ke dalam rumah.


"Oma ... Robert takut disembelih Daddy," ucap Robert lirih dan masih menyentuh lehernya. Dia terlihat ketakutan.


"Itu nggak akan terjadi, Sayang," sahut Mami Yeri kemudian mendudukkan Robert di atas pangkuannya. Pada sofa yang baru saja dia duduki.

__ADS_1


"Sebelum kamu disembelih, biar Opa dulu yang menyembelih Daddymu!" berang Papi Paul yang masih emosi. Dia mengepalkan kedua tangannya dengan mata yang menyorot tajam ke arah jendela.


"Jangan, Pi, nanti Syifa jadi janda." Syifa menyahuti, sebelum dirinya beranjak menuju dapur. "Ini hanya salah paham kok, dan nggak akan ada yang disembelih di antara kita," tambahnya lalu mengelus puncak rambut anak sambungnya.


Kembali lagi ke teras~


"Ayok duduk lagi, Tad, Pak Joe ... saya akan menjelaskan kesalahan pahaman tadi," pinta Ustad Yunus.


Joe dan Abi Hamdan pun lantas menurut padanya, kemudian langsung duduk. Pak RT juga ikut duduk dan hanya Ustad Yunus saja yang tidak, sebab tak cukup kursi.


"Maafkan aku Abi, aku nggak ada maksud ingin mencelakai Robert. Tapi apa yang aku tanyakan kepada Ustad Yunus ... adalah apa yang tadi kami bahas." Joe membuka suara, menjelaskannya terlebih dahulu.


Jujur dari lubuk hati terdalam—sama sekali dia tak mau jika mengorbankan anaknya untuk disembelih, apa pun itu alasannya.


Sebab rasa sayang Joe terhadap Robert melebihi apa pun, bahkan nyawanya sekali pun kalau diminta untuk ditukar—pasti akan dia tukar dengan lapang dada.


"Tentang berkurban, Pak," jawab Ustad Yunus, kemudian melanjutkan, "Awalnya saya hanya menyarankan Pak Joe untuk melakukan kurban, karena dia sendiri orang mampu. Terus pembahasan kami sampai pada kisahnya Nabi Ibrahim."


"Yang tentang menyembelih Nabi Ismail?" tebak Abi Hamdan dan langsung dianggukan oleh Ustad Yunus.


"Benar, Pak. Kemudian Pak Joe mengira ... dia juga harus mengurbankan Robert." Ustad Yunus lalu menoleh kepada Joe. "Padahal nggak perlu, karena kisah Nabi Ibrahim dilakukan atas perintah Allah. Sedangkan kita di sini yang menjadi umatnya hanya diminta untuk mengurbankan hewan ternak. Bukan anak atau sanak keluarga yang lain."


"Jadi sudah jelas 'kan, Pak, Joe, jika Bapak nggak perlu menyembelih Robert. Tapi hewan ternak saja." Pak RT ikut menimpali, memberikan penjelasan kepada Joe yang begitu awam pada agama barunya.


"Maaf, Pak, Ustad ... kalau aku salah menangkap informasi," ucap Joe dengan perasaan tidak enak. Senyuman tipis perlahan mengukir diwajah tampannya. "Aku kira, demi menjadi umat yang taat kepada Allah ... aku juga harus mengikuti apa yang Nabi Ibrahim lakukan."


"Nggak perlu, Pak, karena Allah sendiri nggak memintanya," balas Ustad Yunus sambil menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Sekarang sudah jelas, kan?" tanya Pak RT seraya menatap Joe dan Abi Hamdan bergantian. "Jadi nggak perlu salah paham lagi."


"Iya, Pak." Joe dan Abi Hamdan menyahut secara bersamaan, juga menganggukkan kepalanya.


"Jadi Pak Joe mau kurban apa? Biar sekalian saya catat." Ustad Yunus langsung melangkah menuju motor metik yang terparkir di depan halaman rumah, kemudian dia membuka jok dan mengambil sebuah buku serta pulpen di dalamnya. Barulah setelah itu, dia melangkah menghampiri ketiga pria itu lagi.


Sandi yang baru saja turun dari mobilnya ikut juga menghampiri mereka. Merasa penasaran dengan apa yang mereka bahas.


"Kalau ayam bagaimana, Bi?" Joe meminta pendapat dari sang mertua, seraya menoleh kepadanya. "Mungkin dua ekor ayam aja kali, ya, buat aku sama Robert? Eh, tiga sama Syifa. Eh ... jadi lima deh buat Abi sama Umi juga. Biar sekalian. Oh ya, Sandi juga ...." Joe baru sadar ada Sandi dan dia langsung menatap pria itu. "Jadi enam ekor ayam sekalian sama Sandi," tambahnya kemudian.


"Hewan kurban itu yang berkaki empat, Jon!" terang Abi Hamdan.


"Oh gitu. Ya sudah ... babi saja bagaimana? Nanti dibikin gulai enak tau, Bi," saran Joe sambil menelan ludah. Membayangkan enaknya makan gulai babi.


"Babi haram, Jon! Ngaco aja kamu!" berang Abi Hamdan marah dan langsung menoyor kepala menantunya.


"Oh iya, ya." Joe mengangguk-nganggukan kepalanya saat teringat. Terkadang dia memang pelupa. "Aku lupa, Bi, kalau babi haram untuk umat Islam. Maaf ...."


"Unta saja bagaimana Pak Joe?" usul Sandi yang baru saja membuka suara. "Saya juga belum pernah makan daging unta, jadi penasaran sama rasanya."


"Memangnya, unta termasuk hewan ternak juga, ya?" tanya Joe bingung.


"Iyalah," balas Sandi dengan semangat.


"Ya sudah, kamu pesankan enam unta untuk kita berkurban, San," ucap Joe dengan entengnya. Dan sontak, membuat semua orang disana terbelalak. Apalagi Abi Hamdan yang terlihat lebih terkejut dari yang lain, sebab harga seekor unta sangatlah fantastis menurutnya.


...Sultan amat, Om, kurbannya sampai unta 🐫 🤭...

__ADS_1


__ADS_2