Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
225. Dompres


__ADS_3

"Coba nanti Abi nanya Syifa atau ke Pak Bambang, boleh nggak daftar dadakan," saran Joe yang ada di dekat kedua mertuanya. Dan mendengar percakapan mereka.


"Iya, Opa. Barang kali bisa dan kalian bisa ikut lomba," tambah Robert yang duduk pada pangkuan Joe sambil memegang kotak hadiahnya. Dia juga terus membolak-balikkan benda itu, sebab merasa penasaran.


Ingin langsung dibuka sebenarnya, tapi rasanya akan lebih bagus jika dibuka bareng Syifa saat di rumah.


"Iya, nanti Opa coba tanya." Abi Hamdan mengangguk, setuju dengan saran mereka.


"Untuk para Bapak-bapak, lombanya adalah panjat pinang," ucap Syifa lalu menunjuk sebuah bambu besar yang membentang ke atas. Letaknya di lapangan volly, yakni di samping lapangan utama itu.


Hanya saja panjat pinang itu cuma ada satu, dan kebetulan baru dipasang pas sejam yang lalu saat istirahat tadi.


"Sama seperti para Ibu-ibu. Para Bapak-bapak juga dibagi menjadi beberapa grup, dengan masing-masing jumlahnya lima orang," ucap Gisel. "Para guru pun ikut serta, karena untuk meramaikannya."


"Hadiahnya kalian bisa melihat sendiri, yakni beberapa kaos dan lima smartphone," ucap Syifa sambil melangkah menuju lapangan volly dan menunjuk ke arah yang dimaksud. Memang ada lima buah kaos dan ponsel yang bergelantungan di sana, tapi ditengah-tengah ada bendera merah putih yang diikat dengan sebuah kunci. "Dan ada hadiah utamanya berupa dompres, yakni sebuah mobil sedan," tambahnya. Dan sontak, membuat mata para orang tua dan keluarga muridnya itu membulat sempurna.


"Apa? Mobil?!"


"Mobil?!"

__ADS_1


Hampir semuanya menyeru lantaran terkejut mendengarnya.


"Wihh ... ternyata mobil, Mi!" Papi Paul adalah salah satu-satunya orang yang berjingkrak duluan, karena senang sekali mendengar hadiah itu. Tentu hadiah mobil adalah hadiah utama yang memang dia inginkan.


"Iya, untung Papi ikutan, ya, Pi!!" sahut Mami Yeri yang ikut senang. Lalu memeluk tubuh suaminya sambil melompat-lompat.


Umi Maryam pun kian kalut saja, mendengar hadiah lomba yang lain. Yang tentu suaminya juga tidak bisa mengikuti karena tidak terdaftar. 'Sayang banget ... kapan lagi dapat mobil dan motor pas menang lomba. Apa ini yang dinamakan bukan rezeki? Tapi sedih rasanya ya, Allah,' batinnya dengan sendu.


"Bu! Bu Syifa!" Jaccob—Daddynya Leon memanggil, sambil melambaikan tangan ke arah Syifa.


Syifa pun menoleh dan langsung menatapnya. "Iya, Pak? Kenapa?"


"Biar Pak Bambang saja yang menjelaskannya, ya, Pak." Syifa melemparkan pertanyaan itu kepada Pak Bambang yang merupakan ketua juri. Dan memang kebetulan dia tidak tahu jawabannya.


Pria berkumis tebal itu lantas mengambil mic, lalu berbicara. "Untuk hadiah mobil, mobilnya hanya satu, Pak."


"Terus kalau menang ... gimana, Pak?" tanya Burhan—Papanya Baim. "Masa dibelah? Kan nggak lucu."


"Kita jual saja Pak Burhan, nanti uangnya dibagi jadi lima," saran Tian—Papinya Juna, yang kebetulan sudah sepakat ingin segrup dengannya.

__ADS_1


"Mobilnya tidak perlu dibelah atau dijual Bapak-bapak," ucap Pak Bambang. "Kalau misalkan grup kalian menang, kalian tinggal hompipah saja. Karena itu akan adil nantinya."


"Bener juga, mending hompipah." Ammar—Papanya Atta terlihat setuju. Dia pun langsung menghampiri Jaccob, Tian dan Burhan yang kebetulan berdiri berdekatan. "Aku ikut gabung sama grup kalian, ya? Aku pintar lho dalam hal panjat memanjat."


"Oke!" Jaccob, Tian dan Burhan menyahut bareng tanda setuju. "Tapi kita perlu satu anggota lagi, biar jadi lima orang, Guys," tambah Jaccob melanjutkan.


"Aku! Aku saja, Pak!" Tiba-tiba Joe berlari menghampiri mereka dan langsung mengajukan diri.


Namun, Papi Paul justru ikutan. Sebab dia merasa tergiur ingin ikut bergabung dengan orang tua dari teman cucunya.


Karena menurutnya, jika anggotanya banyak yang lebih muda, kemungkinan mendapatkan juara akan lebih tinggi.


"Mending aku saja yang ikut gabung, jangan Joe. Dia mah orangnya lemah, takut sama ketinggian," ujarnya sambil menunjuk ke arah Joe.


"Papi apaan sih, malah ikut-ikutan! Aku nggak takut ketinggian, ya!" sangkal Joe marah.


"Kamu nggak perlu berpura-pura deh, Joe. Nanti yang ada mereka kalah kalau kamu ikut."


...Kali ini aku lebih setuju sama Papi Paul, Om 🤣🤣...

__ADS_1


__ADS_2