Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
90. Jangan pisahkan aku dan Syifa


__ADS_3

"Ada apa sebenarnya, Jon?" tanya Abi Hamdan dengan mata melotot.


"A-aku ...." Lidah Joe terasa begitu kelu untuk berbicara.


Tidak! Rasanya dia sulit untuk jujur, juga takut dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.


Tapi kalau tetap tidak jujur mau bagaimana? Alasan apalagi yang mau Joe katakan? Sekarang saja dia benar-benar sudah kehabisan kata-kata, dadanya pun ikut sesak karena napasnya sendiri.


'Apa kebohongan ini akan segera terbongkar?' batin Syifa dengan sekujur tubuh yang bergetar. Sejak Joe datang, dia menyaksikannya di ambang pintu rumah.


Sejujurnya, Syifa tak mau menampakkan diri. Sebab takut kepada Mami Yeri. Tapi mendengar kegaduhan dengan menyebut-nyebut nama suaminya—akhirnya dia pun memutuskan untuk keluar demi melihatnya secara langsung.


'Aa juga kenapa sih, kasih alasannya nelen kunci? Aneh-aneh saja. Padahal yang lain 'kan bisa. Minimal yang masuk ke akal sehatlah.' Ada rasa kesal juga sebenarnya, dengan tindakan Joe. Bukan masalahnya selesai, tapi malah akan terbongkar. Ini mah sama saja pria itu tak bisa membantunya.


"Kenapa kau diam, Jon? Cepat katakan!" tekan Abi Hamdan agak keras. Rasa penasaran serta bingung kini mengisi ruang otaknya. Dan sikap Joe ini benar-benar aneh sekali menurutnya.


"Aku minta maaf, Bi ...." Joe secara tiba-tiba menjatuhkan tubuhnya, dia berlutut dikaki mertuanya sambil menundukkan wajahnya.


"Joe, apa yang kamu lakukan?!" Mata Mami Yeri sontak terbelalak, lantaran kaget dengan apa yang anak semata wayangnya itu lakukan. Seumur-umur ... Joe belum pernah bersujud dikakinya dan dikaki Papinya. Tapi bisa-bisanya kali ini, dia melihat Joe bersujud dikaki mertuanya. "Cepat bangun, Joe!" titahnya seraya menarik lengan sang anak.


Tapi bukannya berdiri, pria itu justru kini malah memeluk lututnya dengan erat.


"Mami ... maafin, Joe, Mi ...," pintanya pelan.


"Bicaralah yang jelas, Jon!" geram Abi Hamdan yang begitu emosi. Tatapannya begitu nyalang menatap menantu semata wayangnya.


"Aku telah berbohong kepada Mami, Papi, Umi dan Abi. Tolong maafkan aku ...."


"Bohong apa dulu? Cepat katakan yang jelas!" Abi Hamdan yang terlihat tak sabar itu langsung menjambak rambut Joe, lalu menarik-nariknya hingga membuat kepala Joe terasa ingin lepas.

__ADS_1


Melihat itu, tentu Mami Yeri tak terima. Segera dia menepis kasar tangan pria itu. "Bohong apa maksudmu, Joe? Katakan dengan jelas!" tekan Mami Yeri.


"Syifa ... sebenarnya dia belum hamil, Mi, dia belum hamil," ucap Joe lirih. Dia pun menjeda ucapannya sebentar untuk menelan ludah, lalu melanjutkan. "Maafkan aku, aku terpaksa melakukannya."


"Belum hamil?!" Mami Yeri dan Abi Hamdan menyeru secara bersamaan, juga langsung beradu pandang sambil mengerutkan keningnya. "Jadi maksudnya, kamu bohong, kalau Syifa hamil, selama ini?" tanya Mami Yeri. Dadanya seketika bergemuruh dan kedua tangannya itu mengepal kuat.


"Iya." Joe mengangguk lemah. "Aku melakukan hal itu supaya Mami dan Papi merestuiku untuk bisa menikah dengan Syifa. Aku bingung musti gimana dan hanya ide itu yang aku punya. Tolong maafkan aku, Mi, Bi, Umi. Aku sangat menyesal."


"Keterlaluan sekali kau, Jon!" geram Abi Hamdan.


Dengan penuh kemurkaan, dia pun langsung mendorong kuat tubuh Joe hingga membuat pria tampan bermata sipit itu tersungkur jatuh. Kemudian sebuah bogem mentah dia layangkan dengan cepat ke hidungnya.


Bugh!


"Aaww!" ringis Joe kesakitan. Dia menyentuh hidungnya dan keluarlah darah segar dari salah satu lubang.


Namun seperti belum puas, sekarang giliran Mami Yeri yang menampar pipi kanan anaknya dengan sekali hentakan keras.


Joe sontak membulatkan matanya lantaran terkejut. Untuk pertama kali, wanita yang melahirkannya itu menamparnya. Dan bisa disimpulkan jika hal itu terjadi karena Mami Yeri begitu sakit hati.


"Mami kecewa sama kamu, Joe!" jerit Mami Yeri yang sudah menangis.


Syifa yang sejak tadi menonton kini berlari menghampiri Joe lalu berjongkok dan menyentuh kedua pipi suaminya dengan tangan yang bergetar. Sedih dan kasihan sekali melihat kondisinya, pipinya juga lebam bekas tamparan. "Aa nggak apa-apa, kan?" tanyanya dengan khawatir. Bola mata Syifa tampak berkaca-kaca.


Perlahan, dia pun menarik tubuh Joe, membantunya untuk berdiri. Tapi belum sempat berhasil keduanya berdiri, Abi Hamdan pun tiba-tiba mencekal pergelangan tangan kanan Syifa dan mendorong tubuh Joe.


Alhasil, pria itu kembali tersungkur jatuh dan sekarang giliran Robert yang membantunya.


"Abi, tolong maafkan Aa. Aku juga ...." Belum sempat ucapan Syifa selesai, tapi tubuhnya sudah berhasil ditarik paksa oleh Abi Hamdan. Pria itu menyeretnya untuk masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


"Umi juga masuk!" perintah Abi Hamdan kepada istrinya dan langsung dianggukan. Umi Maryam segera menyusul masuk ke dalam rumah.


"Abi! Tolong maafkan aku, Bi!" Joe dengan bersusah payah berdiri dibantu anaknya. Lantas dia pun berlari menuju rumah mertuanya. Tapi belum sempat berhasil masuk, pintu itu sudah terlanjur dibanting kasar oleh Abi Hamdan.


Brak!!


"Abi! Maafkan aku, Bi! Jangan pisahkan aku sama Syifa!" teriak Joe seraya menggedor-gedor pintu, juga menarik turunkan handle-nya. Tapi pintu itu sepertinya sudah dikunci dari dalam.


Robert yang baru saja melangkah hendak menghampiri Joe, Tiba-tiba ditahan oleh Mami Yeri. Dan wanita tua itu segera menggendongnya. Kemudian membawanya masuk ke dalam mobil Joe yang sejak tadi terbuka pintu depannya.


"Masuk ke dalam mobil sekarang, Joe!" perintah Mami Yeri yang sudah duduk dikursi kemudi. Robert juga berada di sampingnya, dan sudah sama-sama memakai sabuk pengaman.


"Mau ke mana, Mi?" tanya Joe lemah dengan napas yang tersengal-sengal. Bahkan tubuhnya sekarang sudah setengah berbaring di depan pintu, akibat lemas menahan sakit di hidungnya yang masih mengeluarkan darah.


Beberapa warga yang masih berkerumunan itu hanya bisa diam mematung. Bukan mereka tak ingin membantu Joe, hanya saja mereka takut jika nantinya tindakannya akan membuat masalah baru.


Sebab hanya menyaksikannya saja, semuanya sudah tahu jika Abi Hamdan dan Mami Yeri benar-benar terlihat sama-sama murka kepada Joe. Jadi mereka semua tak mengambil resiko.


"Cepat masuk ke dalam mobil kalau kamu nggak mau Mami kutuk jadi kunci!" ancam Mami Yeri sambil melotot.


Joe tahu, surga itu dibawah telapak kaki ibu. Jadi akhirnya dia pun menurut. Dengan bersusah payah dia lantas berdiri sambil berpegangan dengan tembok.


Langkahnya terseok-seok, tapi akhirnya dia berhasil masuk ke dalam mobil pada kursi belakang. Dan membaringkan tubuhnya di sana sebab kepalanya mendadak terasa kunang-kunang.


"Mau ke mana, Mi?" tanya Joe pelan seraya menyentuh dahi. Mobilnya itu kini sudah melaju, Mami Yeri lah yang mengemudikannya.


"Nanti juga kamu akan tau," balas Mami Yeri dengan suara datar.


...----------------...

__ADS_1


...Gimana? Tambah rame 'kan Guys?🤭🤣...


__ADS_2