
Beberapa menit menggosokkan minyak angin, akhirnya Abi Hamdan siuman. Dia membuka matanya dengan perlahan, kemudian menatap wajah istrinya yang terlihat begitu khawatir memandanginya.
"Abi nggak apa-apa? Apa ada yang sakit?" Umi Maryam langsung menangkup kedua pipi suaminya, menatapnya dengan lekat.
"Minum dulu, Ustad." Ustad Yunus mengulurkan sebuah botol air mineral ke arah Abi Hamdan, yang sudah dia buka tutupnya.
Pak RT dan yang lain membantu Abi Hamdan untuk duduk, kemudian pria itu menenggak air minum.
"Abi nggak apa-apa kok, Umi," jawab Abi Hamdan sambil menghela napasnya. Lalu mengulas sisa air di bibirnya.
"Kok bisa pingsan? Masa pingsan nggak ada sebabnya." Umi Maryam tampak keheranan.
"Abi hanya kaget, sama harga 6 unta itu. Banyak banget kayaknya. Abi kira ... harga unta nggak semahal itu, Umi."
"Iya, Umi juga sempat kaget." Umi Maryam menganggukkan kepalanya. "Harusnya Joe beli satu ekor aja cukup, ya, Bi, Umi khawatir dompetnya jebol."
"Iya, Abi juga khawatir. Tapi Abi kok jadi kangen Jojon ya, Mi."
"Kenapa kangen Joe? Dia 'kan lagi di Korea sama Syifa."
"Iya, tapi kemarin-kemarin dia bilang kepengen ikut lebaran haji, Mi. Robert juga ngomong pengen makan daging unta bersama pas hari rayanya ... tapi kok mereka belum pulang, ya? Apa betah di Korea?"
"Coba nanti Abi telepon Syifa atau Joe. Tapi tanya kabar saja, jangan tanya kapan pulang. Takutnya mereka lagi bersenang-senang di sana. Jadi jangan diganggu."
"Abi telepon sekarang saja deh." Abi Hamdan merogoh kantong celana kolornya dibalik sarung, kemudian mencoba menelepon Joe.
*
*
__ADS_1
*
"Papa! Kita benar-benar kalah saing, Pa!" Bu Hajah Dijah berlari tergesa-gesa masuk ke dalam rumahnya, kemudian menghampiri suaminya yang duduk di sofa ruang tamu. Tengah bermain slot online pada ponselnya.
"Kalah saing gimana, Ma?" Pak Haji Samsul melirik istrinya sebentar, yang kini duduk di sampingnya.
"DiRT sebelah, lagi heboh banget, Pa!"
"Heboh apaan?"
"Ada yang kurban 6 ekor unta, mana dibeli dari Arab."
"APA?!" Pak Haji Samsul sontak terkejut dengan mata melotot. Dia pun langsung mengakhiri permainannya. Kemudian mengantongi ponselnya ke dalam kantong celana bahan yang saat ini dia pakai. "Siapa? Siapa yang bisa menyaingi kita yang kurban sapi, Ma?"
"Mama dengar dari Ibu-ibu arisan sih katanya Ustad Hamdan, Pa."
"Nggak mungkin ah." Pak Haji Samsul menggeleng tak percaya. "Orang miskin seperti dia mana bisa kurban unta? Tahun kemarin aja cuma kambing, itu pun dia jarang kurban setiap tahunnya."
"Si Jojon? Pria kurang ajar itu?" Pak Haji Samsul terlihat mengerang, mengingat pria itu. Pria yang membuat anaknya masuk buih.
"Iya." Bu Hajah Dijah mengangguk. "Sebaiknya, kita batalkan saja kurban sapinya, Pa, kita ganti sama unta. Masa kita kalah saing sama mantunya Ustad yang mualaf? Kita 'kan keluarga haji."
"Mana bisa begitu. Orang lebaran hajinya saja besok kok, Ma." Pak Haji Samsul tampak tak setuju. Bukan masalah uang untuk membelinya, tapi kalau dalam keadaan mepet itu sangat sulit mencari hewan kurban. Apalagi seekor unta yang jarang ada di Indonesia.
"Tapi Mama malu, Pa, sama tetangga dan ibu-ibu komplek."
"Memangnya mereka-mereka ngomong apa sama Mama?"
"Nggak ngomong langsung ke Mama, tapi pas kumpul arisan ... Mama denger mereka semua ngomongin Ustad Hamdan. Yang katanya beruntung punya menantu si Jojon, jadi nggak salah pilih karena dulu menolak lamarannya Fahmi. Udah gitu mereka bahas masalah Fahmi yang dimasukkan ke penjara gara-gara Jojon lagi. Wajah Mama rasanya seperti dicepretin taik, tau, Pa! Kesel dan malu!" Bu Hajah Dijah terlihat gemas sendiri dengan kedua tangan yang mengepal kuat. Dadanya pun naik turun karena emosinya yang membuncah.
__ADS_1
"Mama diem aja, mereka ngomong kayak gitu? Harusnya dilawan dong!" Pak Haji Samsul ikut gemas juga dan sama-sama mengepalkan kedua tangan.
Jika ada yang menghina keluarganya apa lagi Fahmi, dia yang akan turun tangan datang pada garda terdepan.
"Mama udah lawan kok. Tapi mereka bukannya diem, tapi malah nambah nyerocoh. Malah nambah muji-muji si Jojon yang katanya ganteng dan nggak sombong. Kan makin kesel!"
"Papa mau lihat unta-untanya dulu deh, mau mastiin." Pak Haji Samsul berdiri dari duduknya, kemudian melangkah keluar dari rumah tanpa mengucapkan salam.
Melihat itu, Bu Hajah Dijah pun langsung berlari menyusul. Lalu ikut masuk ke dalam mobil ketika sang suami sudah masuk lebih dulu ke dalam sana.
"Kalau nanti Papa sudah melihat untanya ... terus Papa mau ngelakuin apa?"
"Ngelakuin apa, apanya?" tanya Pak Haji Samsul yang tampak tak mengerti. Dia sudah mengemudikan mobilnya.
Padahal jarak rumahnya dan rumah Abi Hamdan dekat. Hanya beda satu RT. Tapi memang wajib sekali baginya untuk naik mobil, supaya wibawanya tak hilang menjadi orang kaya.
"Ya masa Papa diem aja, mengetahui Ustad Hamdan kurban unta? Pasti ibu-ibu yang mendapatkan daging unta makin merajalela menyanjungnya, Pa. Yang ada kita makin terlihat nggak ada harga diri."
"Iya juga, sih." Pak Haji Samsul mengangguk, setuju dengan pendapat istrinya.
Jujur saja selama Fahmi dipenjara, teman-temannya seperti menjauhinya. Tapi untungnya tak pernah ada yang mengomentari Fahmi yang sampai terdengar ke telinganya.
"Terus, kita musti bagaimana, Ma? Apa ide Mama?" tambah Pak Haji Samsul yang meminta pendapat.
"Racun saja unta-untanya, Pa. Biar satu keluarga itu nangis karena nggak jadi berkurban." Sebuah ide jahat langsung Bu Hajah Dijah lontarkan, sambil tersenyum menyeringai. Tak akan dia membiarkan, satu keluarga itu disanjung oleh orang-orang.
...Ga boleh jahat, nanti kena batunya sendiri lho 🤣...
...----------------...
__ADS_1
Sekedar mengingatkan, kalau cerita ini hanya fiksi. Tapi di dunia nyata pun banyak yang seperti keluarga Pak Haji Samsul. Jadi di sini Author ga ada maksud untuk menyinggung gelarnya yang sudah jadi haji. Karena balik lagi, semua manusia tempatnya dosa. Dan manusia nggak ada yang semuanya baik, ada juga yang jahat.
Takutnya ada yang salah paham lagi kaya kemarin~