Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
157. Masa Robert kalah dari Daddy


__ADS_3

"Itu karena aku sedang ...." Joe menggantung ucapannya sendiri, lantaran ragu untuk mengungkapkannya. Selain itu, dia juga malu. Tentu saja hal tersebut merupakan aib, meskipun dia yakin—Abi Hamdan pun pasti melakukan hal yang sama kepada Umi Maryam, seperti apa yang Joe lakukan kepada Syifa.


"Sedang apa, Jon?" tanya Abi Hamdan penasaran.


"Sedang itu, Bi ...."


"Itu apa? Cepat katakan!" tekannya yang terlihat tak sabar.


"Aku sedang ne—"


"Mommy!"


Ucapan Joe kembali terhenti, tapi kali ini karena suara pekikan seseorang yang terdengar dari dalam kamar Syifa. Yang pastinya suara itu milik Robert.


"Mommy ada di mana?!" teriaknya sekali lagi.


"Duh, Bi, itu Robert! Aku pergi dulu kalau begitu!" Merasa panik, Joe pun akhirnya langsung berlari terbirit-birit keluar dari rumah kemudian masuk ke dalam mobil. Sangking terburu-burunya dan takut ketahuan sang anak, dia sampai melupakan salamnya serta salim terlebih dahulu kepada sang mertua.


"Ada apa, sih, sebenarnya? Aneh banget." Abi Hamdan hanya bisa menerka-nerka, sambil melihat mobil Joe yang sudah berlalu dari rumah. Tapi sungguh, tingkah menantunya itu terlihat konyol sekali.


Ceklek~


Tak lama, pintu kamar Syifa dibuka secara perlahan, dan keluarlah Robert sambil mengucek sebelah matanya.


"Eh ... Nak, kamu sudah bangun?" tanya Abi Hamdan sambil tersenyum, lalu meraih tubuh sang cucu untuk dia gendong. Tidak lupa untuk mencium keningnya juga.


Robert mengangguk. "Iya, Opa. Tapi Opa lihat Mommy nggak? Kok Robert cari Mommy ... dia nggak ada, Daddy juga nggak ada."


Robert memang terbangun awalnya karena ingin buang air kecil. Tapi karena melihat tak ada Syifa dan Joe di atas kasur, jadilah dia mencarinya. Namun tentu saja, orang pertama yang dia cari adalah Syifa.


"Tadi Daddy pamit pergi, Nak, katanya mau ajak pergi Mommy," jawab Abi Hamdan jujur, kemudian menuju salah satu sofa dan duduk di sana.


"Pergi?!" Kedua bola mata Robert sontak membulat sempurna. Sepertinya dia terkejut mendengar jawaban dari Abi Hamdan. "Pergi ke mana, Opa? Dan kenapa Robert nggak diajak?"


"Opa nggak tau, mereka mau ke mana, Nak."

__ADS_1


"Dih ... kok bisa nggak tau? Dan kenapa Robert nggak diajak? Kok Daddy tega, sih, sama Robert?" rengeknya dengan bola mata yang sudah berkaca-kaca.


"Nanti Opa telepon Daddymu. Tapi sebelumnya, boleh nggak ... Opa tanya sesuatu dulu, Nak, sama kamu?"


"Tanya apa? Tapi Robert kepengen nyusul Mommy sekarang, Opa, Robert kepengen ikut!" Kedua kaki Robert sudah bergerak-gerak di atas pangkuan Abi Hamdan, berniat ingin turun. Tapi pria itu menahan pinggangnya.


"Sebentar ... jawab dulu pertanyaan Opa. Nanti setelah itu Opa akan mengantarmu menyusul Daddy."


"Katakan saja, Opa mau tanya apa? Apa tentang nama?" tebak Robert. "Robert nggak jadi mengganti nama, Opa, tapi menambah nama."


"Maksudnya gimana?"


"Kan Opa bilang Robert nggak boleh ganti nama. Terus Mommy kemarin menyarankan Robert untuk menambah nama saja, jadi didepannya ada nama Nabi Muhammad," jelasnya. Padahal pertanyaan Abi Hamdan bukan tentang itu.


"Oh ... jadi nanti nama panjangmu Muhammad Robert Anderson, ya, Nak?"


"Iya." Robert mengangguk cepat. "Udah ayok, sekarang kita susul mereka, Opa," ajaknya kemudian, seraya turun dari pangkuan Abi Hamdan.


"Tunggu dulu!" Pria tua itu menahan lengan kanan Robert, saat dimana dia hendak melangkah. Sorotan matanya saja bahkan sudah ke arah luar, memerhatikan pintu utama rumah yang terbuka lebar.


"Tunggu apa lagi, Opa? Ayok pergi sekarang! Robert kepengen susul Mommy!" rengeknya kesal.


"Terus apa dong?" Robert menoleh dengan ekspresi merengut.


"Opa dengar dari Daddymu ... katanya kamu mau nyusu sama Mommy Syifa. Apa itu benar, Nak?" tanya Abi Hamdan penasaran.


"Iya." Robert mengangguk cepat. "Robert juga mau dong, Opa, merasakan enaknya minum ASI. Masa Robert kalah ... dari Daddy."


"Tapi Mommymu itu nggak ada ASI-nya, Nak." Abi Hamdan mencoba meluruskan, sepengatahuan yang dia tahu.


"Kata Daddy ada."


"Kapan Daddy bilang kayak gitu?"


"Semalam. Habis nyusu sama Mommy."

__ADS_1


"Apa?!" Abi Hamdan memekik dengan keterkejutannya. Sampai-sampai kedua matanya itu melotot sempurna.


"Ada apa, sih, Bi? Kok berisik banget?" Umi Maryam baru saja keluar dari kamarnya dengan sudah berpakaian lengkap. Bahkan tercium aroma wangi seperti sudah mandi.


"Coba katakan sekali lagi sama Opa. Semalam itu apa, Nak? Daddymu ngapain?" Abi Hamdan mencoba memastikannya lagi.


"Nyusu atau nennen, ke Mommy, Opa." Robert memperjelas.


"Astaghfirullahallazim ...." Bukan hanya Abi Hamdan saja yang beristigfar, tapi Umi Maryam juga. Wanita itu pun sampai sempat terperanjat karena sangking kaget mendengarnya.


"Jadi kamu melihat ... saat Daddymu melakukan hal itu kepada Mommymu?" Meskipun sudah diberitahu, nyatanya Abi Hamdan masih belum percaya seratus persen. Karena hal tersebut sangatnya mengarah pada keinti*man, yang dia pikir tak mungkin mereka melakukannya di depan Robert.


"Iya." Robert mengangguk. "Daddy juga kelihatan sangat bersemangat dan katanya ... ASI Mommy Syifa enak, Opa."


"Dasar Jojon nggak punya adab!!" geram Abi Hamdan dengan murka. Kedua tangannya yang sudah mengepal itu langsung menonjok kasar dudukan sofa.


"Kapan kejadian kamu melihatnya, Nak?" tanya Umi Maryam penasaran. Dia ikut duduk, di samping suaminya.


"Semalam, Oma," jawab Robert menatap sang Oma.


"Bisa-bisanya si Jojon segila itu! Nyusu di depan anak yang masih polos ... apa otaknya masih beres!" Abi Hamdan dengan emosi lantas berdiri sambil menggendong tubuh cucunya, kemudian melangkah cepat keluar dari rumah.


Melihat itu, Umi Maryam yang tampak bingung langsung berlari mengejar suaminya. "Abi mau ke mana, Bi?"


"Abi akan menyusul Jojon bareng Robert, Mi," jawab Abi Hamdan yang menghentikan langkahnya untuk menoleh ke arah sang istri. "Abi juga akan memberikan Jojon hukuman, karena dengan kesadarannya dia telah menodai mata anaknya. Robert masih kecil, lho, kok bisa si Jojon itu gila? Nyusu di depan anak polos?"


"Umi ikut dong, Bi," pinta Umi Maryam yang sudah menggandeng tangan kanan Abi Hamdan.


"Boleh." Abi Hamdan mengangguk setuju. "Tapi Umi masuk dulu buat ambilkan dompet dan hape Abi."


"Iya, sebentar, Bi ...." Umi Maryam menganggukkan kepalanya, kemudian berlari masuk ke dalam rumah.


"Tapi kata Opa, Opa nggak tau Daddy bawa Mommy pergi ke mana. Terus sekarang ... kita mau ke mana, Opa?" tanya Robert menatap Abi Hamdan. Urat-urat di wajah pria tua itu tampak begitu kencang.


"Kita ke rumah Daddymu. Pasti Daddymu yang messum itu bawa Mommy ke sana, Rob," jawab Abi Hamdan dengan yakin.

__ADS_1


Setelah Umi Maryam kembali dengan membawa dompet dan hape, serta mengunci pintu rumahnya, mereka bertiga pun pergi bersama naik angkutan umum yang baru saja lewat.


...Kasihan deh, Daddy Joe 🤣 Abi ada dikubu Robert sekarang 😆...


__ADS_2