
"Mana bisa begitu, sih, Rob!" Joe mendengkus, jawaban anaknya itu benar-benar diluar nalar sekali.
"Ya bisa lah, Dad. Daddy saja 'kan sunatnya pas mau nikah sama Mommy ... jadi Robert juga sunatnya nanti pas mau nikah juga. Jadi 'kan adil."
"Daddy dan kamu itu berbeda, Nak. Jadi jangan disamakan," ucap Abi Hamdan.
"Bedanya apa, Opa?" Robert menatap Opanya dengan kening yang mengerenyit. "Kan Daddy sama Robert sedarah, jadi sama dong. Cuma beda umur doang, kan?"
"Yang jadi bedanya itu pas kalian masuk Islam. Kalian masuk Islam diumur yang berbeda, dan kewajiban masuk Islam itu salah satunya adalah disunat, Nak."
"Daddy juga pernah dengar dari Ustad Yunus ... kalau orang yang belum disunat itu sholatnya nggak saja atau nggak diterima. Memang kamu mau, ya ..., ibadahmu nggak diterima sama Allah? Sama saja sia-sia dong," ucap Joe.
"Masa sih?" Robert terlihat tak percaya, lalu menatap ke arah Abi Hamdan. "Apa benar itu, Opa? Daddy pasti bohong, kan?"
"Benar, Nak." Abi Hamdan mengangguk. Setuju dengan ucapan Joe yang memang benar adanya. "Bahkan Rasulullah pernah bersabda, untuk memerintahkan para anak-anak shalat ketika memasuki usia tujuh tahun. Sedangkan ketika sudah di usia 10 tahun, pukul jika melalaikan. Jadi otomatis, anak seumuran kamu itu musti sudah disunat," tambahnya menjelaskan.
"Kenapa Robert baru diberitahu tentang hal ini, Opa?" Mata Robert mendelik dengan mulut yang menganga. Mendengar penjelasan dari Abi Hamdan barulah dia percaya dan tampak syok sekarang.
"Opa kira kamu nggak akan asetakut ini pas diajak sunat, Nak. Kalau tau kamu begitu sampai nekat berbohong... Opa akan menjelaskan dari awal."
"Udah ... mending kamu sunat sekarang," saran Joe. "Mumpung banyak teman, Rob. Kamu pasti mau, kan, sholatmu diterima mulai hari sekarang?"
"Tapi bener, kan, sunat nggak sakit, Dad? Opa?" Robert memastikannya lagi, sembari menoleh ke arah Joe dan Abi Hamdan.
Keduanya itu langsung mengangguk cepat. "Bener!" sahutnya bersama.
"Ya udah, Robert mau deh disunat sekarang. Robert juga mau sholatnya sah dan diterima sama Allah."
"Alhamdulillah ...." Abi Hamdan langsung mengusap wajahnya dengan rasa syukur. Joe juga sampai berbinar mendengarnya.
"Nahhh ... begitu dong! Itu baru jagoannya Daddy!" serunya dengan senang lalu mengangkat tangan Robert ke udara.
Meskipun mereka cukup lama berulang kali membujuk, tapi akhirnya semua itu tak sia-sia. Robert luluh juga, mungkin memang karena dengan membawa-bawa nama Allah.
__ADS_1
Gegas, mereka bertiga pun pergi dari rumah sakit dan kembali ke rumah Abi Hamdan.
30 menit saat sudah sampai, suasana di sana ternyata sudah tak seramai tadi.
Lantaran penasaran, Joe akhirnya langsung pergi masjid. Robert yang sudah berganti pakaian pun ikut juga, begitu pun dengan Abi Hamdan.
"Ustad ... sunat massalnya udah selesai belum? Apa Robert ketinggalan, ya?" tanya Joe pada Ustad Yunus yang tengah duduk dikursi di depan sebuah meja. Di atas meja tersebut juga ada beberapa buku.
Mereka saat ini berada di halaman masjid.
"Robert memangnya jadi, ya, mau sunatnya? Saya kira nggak jadi."
"Jadi Ustad!" seru Robert dengan semangat. Tapi sejak tadi dia sibuk menatap sekeliling masjid itu, berniat mencari-cari keberadaan Atta.
"Kalau jadi berarti Robert peserta terakhir bersama Om Yohan. Tapi tunggu Om Yohannya dulu, karena dia lagi pamit ke toilet. Katanya kebelet," kata Ustad Yunus memberitahu.
"Eh, Joe! Kamu mau disunat juga? Bisa Mabar dong kita!" seru Papi Yohan yang baru saja datang menghampiri bersama Mami Soora. Dia pun langsung merangkul bahu Joe sembari mengelus puncak rambut Robert.
"Aku udah disunat Om, yang mau sunat si Robert," jawab Joe, lalu menatap ke arah Ustad Yunus. "Apa Om Yohan yang Ustad maksud adalah dia?" Lalu melirik ke arah Papi Yohan.
Tak lama, seorang perawat pria keluar dari masjid dan menghampiri mereka semua.
"Pak Yohanes apa sudah siap? Ayok silahkan masuk, Dokter sudah menunggu sejak tadi." Perawat itu menatap ke arah Papi Yohan, dan pria itu langsung mengangguk lalu mengandeng tangan istrinya.
"Pak ... Pak Yohan sunatnya bareng sama Robert. Kebetulan dia juga jadi peserta, cuma pas namanya disebut sempat belum datang anaknya," ucap Ustad Yunus memberitahu pada perawat.
"Oh gitu. Oke, Ustad." Perawat itu mengangguk, lalu menatap kepada Robert sambil menggerakkan tangan. "Ayok ikut masuk juga, Nak!" ajaknya.
Robert langsung mengangguk, Abi Hamdan pun segera mengendongnya lalu melangkah, begitu pun dengan Joe.
Namun, tiba-tiba langkah mereka tertahan karena dicegah oleh perawat itu. Sedangkan Papi Yohan dan Mami Soora sendiri sudah masuk lebih dulu.
"Kenapa ya, Pak?" tanya Joe bingung.
__ADS_1
"Yang menemani harus satu orang saja, Pak," ucapnya, lalu menatap Joe dan Abi Hamdan bergantian. "Jadi Bapak atau Bapak yang satunya?"
Keduanya itu langsung menatap Robert. Tak masalah, biar dia yang menentukan.
"Robert kepengen Opa yang nemenin. Maaf, ya, Dad," ucap Robert tak enak, dengan ragu-ragu dia pun menatap Joe.
"Enggak apa-apa kok, Sayang." Joe tersenyum, lalu mengelus puncak kepala anaknya. "Yang terpenting kamu mau disunat, itu sudah cukup menurut Daddy senang. Tolong jangan menangis, nanti, ya?" pintanya.
"Katanya nggak sakit, jadi kenapa harus menangis, Dad?"
"Bisa saja itu karena kamu ketakutan, jadi nangis."
"Oohh gitu. Robert akan coba, Dad. Biar nggak nangis."
Joe mengangguk, lalu melambaikan tangannya saat anaknya itu berlalu pergi bersama Abi Hamdan masuk ke dalam masjid.
"Opa ... nanti pas proses Robert disunat, Opa tolong videokan, ya? Opa pasti bawa hape, kan?"
"Bawa, Nak." Abi Hamdan mengangguk. "Tapi kenapa musti divideokan?" tanyanya bingung.
"Robert mau lihat prosesnya, soalnya 'kan Robert akan dibius, jadi otomatis Robert nggak sadarkan diri dong. Rugi Opa, masa tongkat sendiri dipotong nggak lihat."
"Oh ... oke, Nak." Abi Hamdan mengangguk setuju.
"Nanti ujung potongan tongkatnya itu kira-kira diapain sama dokternya, ya, Opa? Apa nanti dia goreng terus dimakan? Kan lumayan dapat banyak, kalau dijadiin satu sama potongan tongkat milik orang lain."
"Ya enggak dong, Nak. Masa dimakan? Ada-ada saja kamu ini." Abi Hamdan tertawa, lucu sekali memang pertanyaan dari Robert.
"Terus diapakan dong?"
"Ya dibuang lah. Lagian buat apa juga?"
"Kalau nanti Robert minta dibawa pulang ... boleh nggak?"
__ADS_1
"Mau buat apa? Nggak boleh dimakan itu, Nak. Itu 'kan kulit kita. Haram hukumnya."
...Tau noh si Robert emang gaješ¤£...