
"Aminin aja dulu, Mi. Biar aku cepat-cepat dapat calon gitu," pinta Ustad Yunus dengan bibir yang terlihat sedikit mengerucut. Tampaknya dia tak menyukai, dengan ekspresi wajah yang Uminya tampilkan. Apalagi ditambah dengan kekehan, seperti sedang meledek.
"Ya kalau itu tentu saja dong." Umi Mae langsung menyentuh bahu kanan anaknya, lalu mengelusnya dengan lembut. "Pasti Umi akan doakan. Kan itu salah satu keinginan Umi dari dulu ... yaitu memiliki cucu darimu."
"Nah ... itu baru bagus." Ustad Yunus langsung menyunggingkan senyum.
*
*
*
[Assalamualaikum ... Nona Naya, ini saya Yunus.]
[Maaf, apakah saya menganggu Nona?]
Dua chat sudah berhasil Ustad Yunus kirimkan. Dan dia saat ini tengah duduk di depan teras masjid sambil ngopi menunggu balasan.
Ting!
30 menit, akhirnya chat tersebut berhasil terbalaskan oleh Naya.
[Walaikum salam. Maaf baru dibales, tadi aku habis makan malam, Pak.]
[Apa Bapak sendiri sudah makan?]
Sekali dibalas ternyata langsung dua, dan itu sukses membuat Ustad Yunus tersenyum manis disertai kedua pipi yang tampak merah merona.
[Sudah, Nona. Dan apakah sekarang saya menganggu Anda?]
[Nggak, Pak. Tapi panggil saja aku Naya, nggak perlu dengan sebutan Nona.] Naya membalas.
[Baiklah, terima kasih. Tapi kamu juga nggak perlu panggil saya Bapak. Mungkin yang lain, ya meskipun saya ini terlihat sudah tua.]
[Eemm ... terus apa, ya? π€]
[Kalau Abi bagaimana? π€]
[Abi?] Ustad Yunus membalasnya dengan wajah yang tampak sedang bertanya-tanya. [Abi ini dalam artian seperti memanggil anak ke Bapaknya, atau sebagai istri yang memanggil suaminya, Nay?]
[Lebih bagus sih istri ke suami. Eh tapi kita 'kan bukan suami istri π€.]
Wajah Ustad Yunus makin merah saja. Meskipun dia tahu kalau Naya paling hanya sedang bercanda, tapi tak dipungkiri kalau dia merasa senang dengan isi chat tersebut. Dan jantungnya pun ikut berdebar juga. 'Ternyata asik juga anaknya. Kukira bakal jutek, kalau lewat chat.'
[Eemm ... gimana kalau Abang saja deh? Kayaknya lebih bagus. Setuju nggak?] Naya mengirimkan balasannya lagi.
[Boleh.]
[Oh ya, Nay. Maaf ... apa saya boleh tanya sesuatu padamu?]
[Boleh, Bang.]
[Maaf, kalau misalkan ini terdengar sensitif. Tapi saya sepertinya harus tau, apakah kamu sudah memiliki pasangan atau belum? Soalnya saya takut ... jika nantinya ada yang marah, kalau saya menghubungi kamu dan mengajakmu ketemuan untuk memberikan sovenir.]
[Santai saja, Bang. Aku masih sendiri.]
__ADS_1
[Alhamdulillah ....] Ustad Yunus menulis kata itu sambil menghela napas dengan lega dan bersorak dalam hati. 'Apakah ini yang dinamakan pucuk dicinta ulan pun tiba? Tapi, apakah aku boleh berharap duluan?'
[Alhamdulillah? π€π]
[Kok gitu balesnya, Bang? Apa Abang seneng ... tau aku jomblo?]
[Duh ... keliatan, ya? Kalau saya seneng.]
[Iya. Bahkan sepertinya kedua pipi Abang sudah merah sekarang ππ]
Ustad Yunus langsung menatap sekeliling teras masjid. Padahal tidak ada siapa-siapa di sana, tapi dia membayangkan jika Naya ada disekitarnya. Sebab dirinya seolah tau, bagaimana merahnya kedua pipinya sekarang.
[Kamu ini peramal, ya? Atau dukun?] Ustad Yunus membalas.
[Enggak dua-duanya tuhπ. Tapi memang aku punya indera keenam, Bang.]
[Masa, sih?]
[Bener ... buktinya aku bisa nebak Abang tadi.]
[Coba tebak sekarang, saya pakai baju warna apa?] Tantang Ustad Yunus.
[Sebentar ... aku terawang dulu π....]
[Kemeja merah maroon lengan pendek. Bener nggak?] Dua chat sekaligus Naya balas, hanya beda 5 menit saja.
Ustad Yunus langsung membulatkan mata, lantaran takjub ternyata tebakan perempuan itu benar. Entah hanya kebetulan, atau justru memang benar dia memiliki penerawangan. Tapi sukses, membuatnya terkekeh.
[Wah ... hebat! Tebakanmu sangat tepat, Nay.]
[Tuuuuhh kan, apa aku bilang, Bang. Aku memang punya penerawangan π€£π€£.]
[Nggak bakal, Bang. Tenang aja. Paling sesekali buat ngintipin orang mandi π]
[Dih ... jangan dong, Nay. Nggak boleh ngintipin orang mandi. Zinah mata nanti.]
[Becanda, Bang πβοΈ.]
[Besok kamu sibuk nggak, Nay? Saya ada rencana ngajak ketemu.]
[Nggak, Bang. Ayok kita ketemu, tapi dimana?]
[Tempatnya terserah kamu yang pilih. Tapi sekalian kita makan siang saja, Nay.]
[Oh gitu. Ya sudah, besok saja deh ... aku kabari tempatnya, ya? Sekalian pilih juga mana yang tepat.]
[Oke, Nay. Nanti langsung kabari saya, ya?"]
[Siap, Bang.]
***
Sementara itu di rumah Joe.
Syifa mendusin dari tidur lelapnya, ketika mendengar suara pintu kamar yang terbuka. Dan ternyata itu ulah Joe yang baru saja masuk.
__ADS_1
"Aa habis dari mana?" tanya Syifa saat Joe telah duduk di atas kasur, di sampingnya berbaring. Wajah pria itu terlihat ditekuk, entah karena apa.
"Dari dapur, Yang," jawab Joe yang dengan lesu.
"Ngapain? Laper?"
"Iya. Tapi aku kepengen nasi goreng kayaknya, Yang." Joe mengusap perutnya sendiri yang tiba-tiba bunyi suara cacing.
"Mau aku buatin?" tawar Syifa dan langsung menarik tubuhnya hingga duduk. "Aku buatin ya, A?"
"Nggak usah, Yang!" tolak Joe. Dia juga menahan Syifa yang hendak turun dari kasur.
"Kenapa?"
"Tadi sebenarnya Bibi udah buatin aku nasi goreng."
"Lho, kenapa Aa nggak bangunin aku saja? Biar aku yang buatkan. Kenapa musti bangunin Bibi? Kan aku yang istrinya Aa. Oh ... apa nasi goreng buatanku nggak enak, ya? Jadi Aa milih Bibi saja yang buatkan, karena menurut Aa bikinan dia jauh enak?" cerocos Syifa dengan napas memburu. Wajahnya terlihat kesal, dan sepertinya dia mulai emosi.
Sepertinya Joe salah bicara.
"Dih, Yang, bukan begitu!" bantah Joe dengan gelengan kepala, lalu merangkul bahu sang istri dan mencium keningnya. "Ini nggak ada hubungannya dengan membandingkan nasi goreng buatanmu dan buatan Bibi."
"Terus apa?" ketus Syifa sambil mencebik bibir.
"Sebenarnya, aku itu kepengennya makan nasi goreng buatan Abang-Abang pinggir jalan, Yang."
"Lho... ya tinggal beli aja, A. Pesan lewat online 'kan bisa. Terus kenapa Aa justru minta Bibi yang buatin?" Kening Syifa seketika mengerenyit, lantaran merasa bingung sendiri.
"Masalahnya ... aku kepengennya makan nasi gorengnya itu langsung di wajannya, Yang. Terus makannya bertujuh."
"Bertujuh? Sama siapa, A?"
"Sama kamu, Robert, Abi, Umi, Papi, Mami dan aku. Jadi 'kan tujuh." Joe memamerkan jari tangannya yang menunjukkan angka 7.
"Makan langsung diwajan terus bertujuh?" Syifa mengulang lagi, apa yang Joe katakan. Dan pria itu mengangguk cepat. "Tapi kenapa musti langsung dari wajan? Dan kenapa juga Aa musti mengajak aku, Robert, Papi, Mami, Abi dan Umi segala? Ini 'kan sudah malam, A. Pasti mereka sedang tidur."
"Kan bisa dibangunin, Yang. Kalau kamu siap, kita berangkat sekarang."
"Kita ke rumah mereka, buat bangunin satu-satu?"
"Iya." Joe mengangguk.
"Takut ganggu nggak, sih, A. Udah malem lho ini ...." Syifa pun menatap ke arah jam weker di atas nakas. Di sana menunjukkan pukul 23.40. "Udah tengah 12, A."
"Coba dulu ke sana, barang kali mereka belum tidur. Abi 'kan sering nonton sinetron sampai malam," ucap Joe.
"Tapi kasih dulu alasannya, kenapa Aa mau kita makan rame-rame di wajan tukang nasi goreng? Kelihatan aneh, sih, A?" Syifa menggaruk puncak rambut panjangnya, yang mendadak terasa gatal.
"Kan kamu udah tau, Yang, alasanku."
"Apa?"
"Ya karena kepengen. Aku laper." Joe mengusap kembali perutnya.
"Yang laper 'kan Aa sendiri, sedangkan aku enggak dan belum tentu yang lain juga ikut laper. Terus kenapa kita harus ikutan makan?"
__ADS_1
"Ya kalian musti temenin aku. Udah sih, Yang. Cepat turuti saja, kamu memangnya mau, ya, aku nggak tidur sampai pagi?" rengek Joe yang terlihat seperti anak kecil minta permen, tangannya pun lantas menarik Syifa hingga membuat tubuh perempuan itu berdiri.
...Nggak yakin, yang lainnya pada mauππ€£...