Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
246. Aku malu


__ADS_3

"Terima kasih ya, Pak," ucap Sandi saat memberikan uang sepuluh ribuan pada pemilik warung. Dia membeli kopi hitam dan roti isi coklat.


"Sama-sama. Pas ya, Mas."


"Iya." Sandi mengangguk, lantas melangkah pergi dari warung kecil pinggir jalan itu, lalu masuk ke dalam mobil dan kembali ke lapangan.


"Lho, motor siapa itu?" Sandi mengerutkan dahi, setibanya di lokasi. Sebab mendapati ada sebuah motor asing yang terparkir di sana. "Astaga! Mereka siapa?" Dia sontak terkejut, ketika melihat dua laki-laki seperti tengah mengintip pada jendela tenda. Ditambah salah satu dari mereka memegang hape yang diarahkan ke dalam sana.


"Apa mereka sedang mengintip Pak Joe dan Bu Syifa?" Segera, Sandi pun turun dari mobil kemudian berlari menghampiri mereka berdua.


"Ada orang, Vid!" Melihat Sandi datang, Udin pun sontak panik. Begitu pun dengan David yang baru saja menoleh. Dan mereka pun langsung berlari menyebar dengan terbirit-birit pergi dari sana.


"Heh! Mau ke mana kalian?!" teriak Sandi, lalu berlari mengejar keduanya yang kini masuk lebih dalam area lapangan. Dan makin gelap saja suasana di sana.


"Aa! Itu bukannya suara Pak Sandi, ya?" Syifa yang sedang melayang tinggi seketika terkejut, mendengar kegaduhan yang terjadi diluar.


Aktivitasnya buyar seketika. Suara Sandi serta derap langkah itu cukup mengusik indera pendengarannya, dan membuat jantungnya ikut berdebar kencang.


"Iya, Yang." Joe juga ikut mendengar, tapi sejak tadi dia masih terus bergoyang.


"Udahan dulu, A!" pinta Syifa dengan panik, lalu menahan pinggang suaminya. "Coba cek keluar. Aku takut, A."


"Iya." Sejujurnya Joe tak ingin mengakhiri, karena belum mencapai puncak. Bahkan bisa dibilang, mereka baru memulai setelah beberapa menit pemanasan. Tapi melihat Syifa ketakutan, Joe jadi ikut resah. "Cepat pakai kembali pakaianmu, Yang," titahnya sebelum akhirnya Joe keluar tenda dengan hanya memakai kolor pendek.


Tak lama, Sandi pun berlari menghampiri Joe dan berhenti di hadapannya sambil mengatur napas yang terdengar tersenggal-senggal.


"Ada apa, sih, San? Kok kayak ribut-ribut gitu?" tanya Joe penasaran, lalu menatap sekitar. Dan sontak dia melotot, saat melihat motor matik berada di dekat mobil Sandi. "Itu motor siapa, San."


"Maafin saya, Pak. Saya kecolongan," ucap Sandi dengan wajah bersalah. Perlahan dia menyeka keringat di dahinya.


"Kecolongan?" Alis mata Joe tampak bertaut. "Maksudnya?"


"Tadi saya sempat pergi cari warung, Pak. Eh tau-tau pas balik lagi saya justru melihat dua laki-laki ada didekat tenda. Sepertinya mereka sedang mengintip Bapak. Ditambah saya juga sempat melihat mereka seperti tengah merekamnya."


"APA?!" Joe memekik karena sangking terkejutnya. Bola matanya makin terlihat ingin keluar saja. "Yang benar kamu, San? Terus ke mana mereka? Kenapa nggak kamu tangkap?!"

__ADS_1


"Mereka kabur entah ke mana, Pak. Ditambah minim pencahayaan, jadi saya kesulitan mencarinya."


"Kamu juga kenapa harus pergi cari warung?! Kan aku sudah katakan untuk menunggu di sini! Gimana, sih, San?!" Joe berteriak marah, meluapkan emosi yang tiba-tiba sudah mendidih naik ke ubun-ubun.


"Maafkan saya, Pak. Tadi saya ngantuk banget nggak kuat, jadi saya pergi ke warung buat beli kopi."


Joe meremmas jemarinya, lalu menunjuk ke arah motor. "Terus itu motor siapa? Motor mereka bukan?"


"Saya nggak tau, Pak." Sandi menggeleng. "Tapi bisa jadi itu motor mereka."


"Bawa ke kantor polisi itu motor, San! Biar ketahuan pelakunya! Dan jangan sampai rekaman itu viral, malu aku."


"Ini semua gara-gara Aa!" Syifa tiba-tiba keluar tenda dengan penuh amarah. Wajahnya merah padam. "Harusnya kita nggak perlu bercinta di alam terbuka seperti ini! Kan begini jadinya! Di mana coba harga diri kita? Aku malu, A!" tambahnya yang sudah menangis. Lantas berlari masuk ke dalam mobil.


"Yang ...!" Joe berlari mengejar istrinya, namun sebelum itu dia mengambil kaos dulu untuk dia pakai. Kemudian ikut masuk ke dalam mobil. "Maafin aku, Yang. Semuanya akan baik-baik saja. Kamu nggak perlu khawatir." Dia pun mencoba menenangkan dengan cara mengelus puncak kerudung Syifa. Namun sayangnya, perempuan itu langsung menepisnya dengan kasar.


"Bagaimana bisa aku nggak khawatir, sedangkan Aa tadi dengar sendiri dari Pak Sandi kalau selain mereka mengintip ... mereka juga merekam kita! Aku nggak bisa membayangkan jika video itu viral! Mau taruh dimana mukaku, A!!" teriak Syifa dengan tangis yang makin pecah.


Andai saja waktu bisa diputar, tak akan mau dia meminta ajakan Joe yang begitu konyol itu.


"Enggak sepenuhnya gelap, A! Itu remang-remang! Sama saja aku malu, ini seperti mempertontonkan tubuh kita untuk mereka, hiks!" Syifa menghentakkan tangannya supaya terlepas dari tangan sang suami. Setelahnya dia langsung menutup wajah sembari menangis tersedu-sedu.


Joe memijat dahinya yang mendadak terasa pening bercampur sakit. Dan bukan hanya kepala atas, kepada bawah pun ikut merasakan sakit.


Bukannya kepuasan yang dia dapat karena bisa mendapatkan suasana baru dalam bercinta, Joe justru mendapatkan musibah yang berakhir amarah dari Syifa.


'Ya Allah maafkan aku. Apa mungkin apa yang aku lakukan adalah salah?' batinnya dengan penuh penyesalan.


***


Hari pun berganti.


Hari ini, tepat dimana Abi Hamdan sudah diperbolehkan pulang oleh pihak rumah sakit.


Syifa, Joe dan Robert mengantar kepulangannya sampai ke rumah sekaligus ingin main.

__ADS_1


Namun, sejak tadi diperhatikan—ada yang aneh dengan sikap antara Joe dan Syifa.


Keduanya terlihat menjaga jarak, apalagi berulang kali saat didalam mobil—Abi Hamdan melihat anaknya itu terus menepis tangan Joe yang menyentuh kerudungnya.


Padahal jelas kalau Joe sesekali mencoba untuk merayunya, tapi sikap Syifa begitu acuh tak acuh.


Tentu hal tersebut membuat Abi Hamdan bertanya-tanya. Dan bingung dengan apa yang terjadi.


"Kamu dan Syifa nggak lagi berantem 'kan, Jon?" tanya Abi Hamdan yang kini duduk di teras rumah, bersama Joe di sampingnya. Keduanya ditemani dua cangkir kopi hitam yang terlihat masih beruap di atas meja plastik.


"Enggak kok, Bi," jawab Joe berbohong.


Tak mungkin juga dia jujur kalau Syifa masih marah padanya akibat kejadian semalam. Bisa-bisa dia kena semprot Abi mertua.


"Tapi Abi perhatikan ... kok kalian seperti jaga jarak gitu, Jon? Syifa juga terlihat cemberut mulu. Nggak ceria seperti biasanya."


"Hanya perasaan Abi saja kali." Joe tersenyum dengan kekehan kecil. Sengaja dia bersikap seperti itu demi menutupi semuanya. Padahal kalau boleh jujur, jantungnya sekarang sudah berdebar kencang. Karena takut akan ketahuan. 'Maafin aku, Bi. Aku nggak bermaksud membohongi Abi. Tapi memang sepertinya Abi nggak perlu tau, sebelum masalah ini selesai sendiri,' batinnya.


"Masa sih, Jon?" Abi Hamdan terlihat tak percaya. Bahkan kedua matanya kini memicing, menatap curiga sang menantu.


"Iya." Joe mengangguk. "Namanya lagi hamil, Bi. Kadang 'kan suka begitu. Moodnya berubah-ubah. Harap dimaklumi saja."


"Nak ...." Syifa tiba-tiba keluar dari rumah, lalu menghampiri Robert yang berada di halaman. Bocah itu tengah duduk sambil main kelereng bersama Leon, yang kebetulan memang sedang main. "Ayok kalian masuk terus cuci tangan. Kalian pasti lapar, kan? Ayok makan," ajaknya sambil menatap keduanya.


"Robert kepengen makan sama telor ceplok campur kecap, Mom," rengek Robert yang terlihat manja.


"Leon juga mau, Bu. Apa Leon boleh makan juga di sini?" Leon menyentuh perutnya yang tiba-tiba berbunyi suara cacing.


Syifa mengangguk, lalu tersenyum. "Kalian masuk dulu. Nanti Ibu akan buatkan telor ceplok."


"Hore!!" Keduanya menyeru dan langsung berdiri, lantas berlari masuk ke dalam rumah. Syifa pun menyusul, tanpa menoleh kepada Abi Hamdan atau suaminya.


Joe yang memang merasa Syifa masih marah hanya bisa menghela napas. Tapi jujur saja, diacuhkan begitu sangatlah menyakitkan. 'Maafin aku, Yang. Jangan marah terus dong, Yang ...,' batinnya dengan sorot mata sendu.


...Kasihan 🤣🤣...

__ADS_1


__ADS_2