Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
129. Nonton film


__ADS_3

"Mi ... kenapa Mami cemberut terus dari tadi Papi perhatikan?" tanya Papi Paul yang baru saja menghentikan mobilnya pada parkiran rumah sakit.


Sejak keluar dari hotel, istrinya itu memang menampilkan wajah cemberut dan masam. Tapi dia sendiri bingung apa alasannya.


"Pakai nanya, memangnya pas di hotel Papi nggak nyadar?" Mami Yeri mendengkus, kemudian membuka pintu mobil dan turun lebih dulu.


"Nggak nyadar gimana?" Papi Paul segera turun dan menyusul, kemudian mengenggam tangan istrinya. Mereka pun melangkah bersama masuk ke dalam rumah sakit. "Kan kita udah bercinta tadi, Mi, Mami juga keluar, kan?"


"Mami memang udah keluar, tapi Papinya ngeselin!" Mami Yeri menepis tangan suaminya dengan raut kesal. "Kan Mami udah bilang, kepengen gaya kepiting, kenapa Papi malah melakukan gaya doggy!" geramnya tampak emosi.


"Kan Papi udah bilang nggak tau caranya. Nanti deh, Papi tanya langsung sama Joe, ya? Tapi Mami jangan marah, nanti cantiknya hilang," rayu Papi Paul seraya mengusap dagu istrinya.


"Ah Papi payah! Kalah sama anak!" cibir Mami Yeri sambil mencebik bibir.


"Bukan payah, tapi ini tentang nggak tau aja," kilah Papi Paul. "Kalau sudah tau ... Papi pasti bisa lebih jago dari Joe," tambahnya kemudian.


Sebetulnya bisa saja dia mencari informasi lewat internet, tapi masalahnya saat sampai hotel—Mami Yeri sudah langsung menyerangnya dengan nafsu yang membara. Sehingga tak ada celah baginya untuk mencari informasi. Alhasil, Papi Paul melakukan gaya sebisanya, yang penting mereka berdua bisa sama-sama puas.


"Tapi kalau beneran udah tau ... pokoknya Papi harus buat Mami kayak Syifa, ya!" tekan Mami Yeri mode galak.


"Maksudnya?" Alis mata Papi Paul tampak bertaut.


"Si Syifa sampai menjerit-jerit keenakan dikamar mandi, Pi. Pas bercinta sama Joe. Jadi Mami juga kepengen kayak gitu," rengek Mami Yeri yang akhirnya bergelayut manja di bahu kanan suaminya.


"Mami juga bukannya tadi menjerit-jerit, ya?" tanyanya bingung.


"Iya. Tapi kayaknya masih kurang kencang, dibanding Syifa," jawabnya dengan bibir yang mengerucut. "Dan Mami sekarang tau deh ... alasan Syifa nggak mau berpisah sama Joe."


"Karena mereka saling mencintai pasti, Mi," sahut Papi Paul.


"Bukan deh, kayaknya bukan karena itu." Mami Yeri menggelengkan kepalanya.


"Terus?"


"Karena tongkat bisbol Joe pasti, Pi, yang gagah perkasa. Si Syifa pasti kecanduan, dan minta lagi dan lagi. Itu juga alasan mereka bercintanya lama."


"Apa nggak kebalik, Mi?" tanya Papi Paul menatap heran.


"Kebalik bagaimana?"


"Si Joe kali yang minta lagi dan lagi, kan dia dulunya duda udah lama, Mi."


"Ah nggak mungkin. Pasti Syifa," bantah Mami Yeri dengan yakin. "Orang kelihatan banget kok, si Syifa yang kecintaan sama Joe. Masa Joe ngobrol sama Yumna dia sudah kelihatan cemburu? Iya, kan, Pi?"

__ADS_1


"Iya, sih." Papi Paul mengangguk menanggapi.


Ceklek~


Mereka pun akhirnya sampai di kamar inap Robert, serta baru saja Papi Paul membuka pintu kamarnya.


Namun, seketika mereka terheran-heran. Sebab kamar itu kosong dan sunyi tak ada siapa pun.


"Lho, Robert ke mana, Pi?" tanya Mami Yeri yang langsung melangkah masuk, kemudian menuju kamar mandi dan mengetuk pintunya. "Joe! Syifa! Apa kalian sudah selesai bercinta?"


Papi Paul pun merogoh kantong celananya untuk mengambil ponsel, kemudian mencoba menghubungi Joe. Dia juga baru sadar saat hendak masuk ke dalam kamar Robert, jika di depan kamar sudah tak ada Sandi mau pun satpam rumahnya.


"Halo, Joe, kamu dan Robert ada di mana?" tanyanya saat panggilannya sudah diangkat oleh seberang sana.


"Biar Mami yang ngomong, Pi." Sebelum Joe menjawab, ponsel tersebut sudah direbut oleh Mami Yeri, kemudian berkata, "Joe, Mami dan Papi ada di kamar inap Robert ... tapi kok kamu dan Robert nggak ada?"


"Oh iya, aku lupa ngasih tau, Mi ... kalau Robert sudah diperbolehkan pulang sama Dokter. Jadi aku, Syifa dan Robert sudah pulang dari rumah sakit," jawab Joe memberitahu.


"Apa ini artinya kalian juga udah pulang ke Indonesia?"


"Kalau pulang sih kayaknya besok, Mi."


"Terus, sekarang kalian ada di mana?"


"Ngapain nonton film di bioskop? Kan di rumah juga ada, Joe?"


"Biar sekalian ajak Syifa jalan-jalan, Mi, kan Syifa juga baru pertama kali ke Korea."


"Oh gitu. Di mall mana memangnya? Mami sama Papi ikut, ya?"


"Maaf, Mi, kayaknya Mami sama Papi nggak usah ikut deh," jawab Joe menolak secara halus.


"Lho, kenapa?" Raut wajah Mami Yeri seketika kecewa.


"Aku ingin menghabiskan waktu bersama Syifa dan Robert seharian. Bertiga. Aku juga sekalian mau mengajaknya main ke pantai, Mi. Pasti seru ... berenang bareng basah-basahan gitu. Aahh ... enak deh kayaknya." Bisa dibayangkan, jika otak Joe diseberang sana pasti sudah travelling.


"Ih pelit banget kamu, Joe! Masa Mami dan Papi nggak diajak? Mami dan Papi juga kepengen dong, main ke pantai," balas Mami Yeri dengan kesal.


"Ya main saja berdua, Mi, sama Papi, mengenang masa muda."


"Tapi Mami juga kepengen ikut kalian, sama Robert pasti jauh lebih se—"


"Mi ... udah dulu, ya, ini aku mau pilih film sama Robert," potong Joe cepat. "Banyak orang juga di sini, berisik. Assalamu'alaikum."

__ADS_1


"Joe, Mami ...." Ucapan Mami Yeri langsung terhenti, kala panggilannya susah dimatikan secara sepihak oleh anaknya.


"Apa kata Joe, Mi?" tanya Papi Paul.


Namun bukannya menjawab, Mami Yeri justru langsung menarik tangan suaminya. Kemudian membawanya keluar dari kamar inap Robert serta keluar dari rumah sakit hingga masuk ke dalam mobil.


"Ayok kita ke mall biasa, Pi," ajak Mami Yeri.


"Ngapain ke mall?" tanya Papi Paul seraya menoleh ke samping, kepada istrinya.


"Udah jalankan saja dulu mobilnya, Pi! Ayok!" pinta Mami Yeri sedikit memaksa.


Papi Paul pun mengangguk, segera dia menyalakan mesin mobilnya.


***


Sementara itu di sebuah bioskop pada salah satu mall besar di Korea, ada Joe, Syifa dan Robert tengah memilih film yang akan ditonton.


Namun terlihat, bocah itu seperti orang yang sedang bingung. Sambil menatap beberapa poster yang berjejeran menempel di dinding.


"Rob ... kok kamu malah bengong? Katanya mau nonton film?" tegur Joe seraya mengusap puncak kepala anaknya. "Cepat pilih, mau nonton apa. Takutnya Daddy kehabisan tiketnya."


Robert menoleh ke arah Syifa yang sejak tadi memerhatikan poster, perlahan dia pun meraih tangannya. "Mommy sendiri, suka film apa? Dan kepengen nonton apa?"


"Lho, kan kamu yang kepengen nonton film, Nak. Mommy mah ngikut saja," jawab Syifa dengan lembut. Kemudian mengelus dagu Robert.


"Kalau film horor, Mommy suka nggak? Mau nggak, kalau misalkan nonton itu?"


"Boleh." Syifa menganggukkan kepalanya. "Mommy suka film horor kok."


"Ih jangan nonton film horor, Rob!" bantah Joe yang terlihat tak setuju. Jelas karena dia penakut. "Kan kamu tau, Daddy penakut orangnya. Daddy nggak mau ah, kita nonton film horor."


"Sesekali lah, Dad, kita nonton film horor. Robert juga belum pernah ... mangkanya Robert kepengen lihat. Gimana sih film horor, serem apa nggak."


"Menurut Daddy sih mending jangan dicoba. Nanti takutnya, kamu kencing dicelana lagi," saran Joe yang mencoba menakut-nakuti.


"Hubungannya sama kencing dicelana itu apa?"


"Ya karena sangking takutnya, kan kaget. Jadi refleks kencing dicelana."


"Nggak mungkin ah. Robert 'kan pemberani," bantahnya sambil menggelengkan kepalanya. "Udah ... jadi kita nonton film horor saja, Dad," ujar Robert seraya menunjuk sebuah poster film horor yang baru rilis.


...Pemaksaan 🤣...

__ADS_1


__ADS_2