Ketulusan Cinta JONATHAN

Ketulusan Cinta JONATHAN
46. Sebuah do'a


__ADS_3

...Bab 44 dan 45 udah direvisi ya, Guys, yang belum baca ulang silahkan baca ulang supaya nggak bingung ❤️...


...Maafin juga atas kekhilafan Author, karena Author nulis sehari bukan hanya novel ini aja, Jadi harap dimaklumi kalau kadang suka ada kesalahan teknis 🙏...


"Mi, aku mau ngobrol sama Mami sebentar," ucap Joe yang menghampiri Mami Yeri, ketika wanita itu tengah asik mengobrol dengan teman-teman arisannya.


"Ya, Joe?" Mami Yeri langsung menoleh ke arah anaknya. "Ngobrol apaan?"


"Di sana saja, Mi. Biar enak." Joe menunjuk dua kursi yang kosong, yang jaraknya agak jauh dari teman-teman arisan Mami Yeri. Sengaja dia melakukan hal itu sebab memang ingin mengobrol 4 mata saja dengan Maminya.


"Oke." Mami Yeri mengangguk. Dia lantas berdiri dan mengikuti langkah kaki Joe dari belakang. Setelah sampai pada kursi kosong tersebut, keduanya langsung duduk. "Apa kamu ada masalah? Dan di mana, Syifa?" Mami Yeri menatap ke arah pelaminan. Mencari menantunya. Akan tetapi gadis itu tak ada di sana.


"Syifa lagi kencing, diantar Uminya."


"Oohh. Terus, kamu mau ngobrolin masalah apa?" Mami Yeri melipat kakinya, lalu menatap sang anak.


"Aku 'kan sudah pesan 3 kamar di hotel ini untuk kita menginap. Mami, Papi, Umi dan Abi Hamdan. Tapi ... aku mau Robert nanti malam tidurnya sama Mami dan Papi saja, ya?" pinta Joe.


Dia memang benar-benar belum menyerah. Bahkan mungkin tidak akan, jika belum berhasil membuat Syifa sepenuhnya menjadi miliknya.


Jika kemarin Robert dititipkan kepada Abi Hamdan dan Umi Maryam tapi gagal, sekarang giliran kepada Mami Yeri dan Papi Paul. Tentunya dengan harapan semuanya berjalan sukses seperti kemauannya.


"Lho, kenapa Robert tidur sama Papi dan Mami? Memang di kamarmu kenapa?" tanya Mami Yeri heran.


"Bukan kenapa, tapi aku juga mau melakukan malam pertama sama Syifa, Mi. Nggak mungkinlah Robert melihatnya, dan nggak akan konsen juga nanti akunya." Joe menjawabnya jujur tanpa basa-basi.


"Malam pertama?!" Kening Mami Yeri tampak mengernyit. Dan tiba-tiba saja dia pun terkekeh, merasa lucu dengan apa yang diucapkan anaknya. "Mana ada kamu malam pertama, Joe. Syifanya saja sudah hamil. Ada-ada saja kamu ini." Kembali terkekeh sampai geleng-geleng kepala.


"Maksudku malam pengantin, Mi," ralat Joe. "Tapi intinya sama saja, dan cuma Mami yang bisa menolongku sekarang." Dia perlahan meraih tangan kanan Mami Yeri, lalu menggenggamnya dengan kedua tangan. Manik matanya melekat kuat pada wanita yang melahirkannya itu. "Ya, Mi, please ... aku mau Robert tidur sama Mami dan Papi malam ini. Pokoknya kalian jangan sampai menggangguku dan Syifa, apalagi sampai memencet bel kamar."

__ADS_1


"Kamu ini, ya, Joe, sudah punya anak dan istri lagi bunting masih sempat-sempatnya mikirin hal itu." Bukannya menyetujui permintaan dari sang anak, Mami Yeri justru menasehatinya. "Memangnya kamu nggak kasihan apa sama Syifa? Pasti dia capek lah. Jangan pas selesai pesta langsung diajak dong, kan masih banyak waktu. Bisa besok atau lusa."


"Nggak mau. Aku maunya sekarang, Mi," tolak Joe tak setuju. Jelas memang sebab dia sudah sangat tidak tahan. "Udah lama tau, Mi, semenjak Syifa hamil ... aku nggak bercinta sama dia. Ya aku kepengen lagi lah."


"Ah masa? Mami nggak percaya tuh."


"Serius. Ngapain sih aku bohong," jawab Joe dengan raut meyakinkan. "Mami sama Papi juga semenjak balik lagi ke Indonesia belum pernah mengajak Robert tidur bersama. Katanya pas di Korea kalian kangen sama Robert. Oh apa bohong kali, ya?"


"Kamu ini bicara apa. Mami sama Papi serius kangenlah sama Robert. Dia 'kan cucu kesayangan kami."


"Ya sudah, mangkanya malam ini rayu Robert supaya mau tidur sama kalian. Cucu kedua kalian juga mau ditengok sama Daddynya, biar sehat, Mi."


"Ah lebay kamu, Joe. Udah lama menduda sekalinya sudah menikah dan cuma beberapa Minggu nggak bercinta udah seperti nggak tahan," cicit Mami Yeri, lalu menatap ke arah cucunya yang sedang tertawa cekikikan bersama Atta, Baim, Juna dan Leon.


Entah mereka sedang membahas hal apa, tapi terlihat sangat asyik dan seru.


"Biarin saja sih, Mi. Harusnya 'kan Mami bahagia, lihat aku sekarang. Aku juga kepengen lah tidur ada yang ngelonin. Pengen nyusu ada yang nyusuin, terus pengen ...." Belum sempat Joe menyelesaikan ucapannya, tapi sang Mami sudah mengusap kasar wajahnya.


"Setan cinta. Mangkanya turutin dong, Mi. Kalau nggak diturutin mah aku mau nangis aja deh." Joe merengut lesu, lalu menyandarkan punggungnya pada penyangga kursi.


"Ya sudah, tapi tanya Robert dulu mau apa nggaknya dia. Soalnya 'kan dia dekat banget sama Syifa, kayak prangko. Apalagi dalam hal tidur. Anakmu juga kepengen dikelonin."


"Nggak usah ditanyain. Mami rayu saja si Robertnya. Diiming-imingi mainan atau apa kek, Mami 'kan sudah lama jadi orang tua ... pasti lah lebih jago dari aku," ujar Joe memberitahu. "Tapi ... jangan bawa-bawa aku, ya, jangan juga mengatakan kalau Mami disuruh aku. Nanti takutnya dia marah, Mi."


"Ya sudah, iya. Nanti Mami coba bujuk. Kamu tenang saja." Mami Yeri mengangguk, akhirnya dia setuju dan menurut.


"Terima kasih ya, Mi." Joe langsung mencium punggung tangan Maminya, juga memeluk tubuhnya sebab merasa sangat senang. "Aku sayang banget sama Mami. Do'akan juga biar aku sukses, bisa bercinta dengan Syifa."


"Iya, Mami do'akan, Sayang." Mami Yeri mengelus punggung Joe. Dan setelah pelukan itu terurai, dia mengusap puncak rambut anaknya sambil tersenyum. 'Dasar lebay memang si Joe ini. Mau bercinta saja sampai minta restu kepada orang tua.'

__ADS_1


"Ya sudah, Mi. Aku mau ke Ustad Yunus dulu. Ada urusan sama dia." Joe pamit pergi. Dia meninggalkan Mami Yeri kemudian menghampiri Ustad Yunus yang baru saja duduk di salah satu kursi bersama Pak RT. "Ustad, aku ingin mengobrol berdua dengan Ustad. Apa bisa?" tanyanya.


Ustad Yunus menoleh, lalu menganggukkan kepalanya. "Bisa. Ngobrol di mana ya, Pak?"


"Di sana saja, Tad." Joe menunjuk pada area pojok di dekat pelaminan. Sebab di sana sepi.


"Baik. Ayok, Pak." Ustad Yunus langsung setuju, dia pun lantas berjalan beriringan dengan Joe sampai tiba di pojokkan sana. "Mau ngobrol tentang apa, Pak?"


"Apa ada do'a, supaya nggak diganggu oleh orang, Tad?" tanya Joe penasaran.


Dia berniat membaca do'a supaya acara bercintanya sukses tanpa diganggu hal apa pun termasuk Robert dan Abi Hamdan. Maka dari itu, bertanya pada orang yang lebih ahli ilmunya dibanding dirinya yang masih awam.


"Nggak diganggu oleh orang?" Kening Ustad Yunus tampak mengernyit. Pertanyaan Joe terdengar ambigu dan membuatnya bingung. "Memangnya Bapak diganggu sama siapa? Apa orang jahat."


"Enggak jahat. Tapi maksudnya buat penangkal saja, supaya nantinya rencanaku sukses tanpa gangguan orang lain."


"Setahu saya, ada sih do'a supaya terhindar dari gangguan orang. Tapi seperti untuk orang jahat saja, Pak. Dan bacaannya adalah; "Rabbi najjini minal qaumidhalimin."


"Artinya itu apa, Tad?"


"Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zalim."


"Zalim itu seperti perbuatan tercela, kan Tad, seperti menyakiti hati dan perasaan orang lain?"


"Betul, Pak." Ustad Yunus mengangguk cepat. "Bapak baca do'a itu saja, Insya Allah akan terhindar dan dilindungi oleh Allah."


"Tapi kayaknya ini beda konsep deh, Tad." Joe menggaruk rambutnya, jadi ikut pusing sendiri.


"Beda konsep gimana maksudnya?" Ustad Yunus makin terlihat bingung.

__ADS_1


...Jelasin intinya aja, Om, biar Ustad Yunus ngerti 🤣...


__ADS_2